Cara Efektif Memajukan Sekolah dengan Metode STIFIn
UNTUK memajukan sebuah lembaga pendidikan diawali dengan menciptakan kondisi yang nyaman kepada anak. Kondisi ini bisa tercipta dengan pola asuh yang tepat. Ketika pola asuh sudah berjalan sebagaimana mestinya, maka anak akan nyaman.
Itu akan berdampak anak mu – dah diarahkan menuju akhlak yang baik, yang otomatis kualitas belajarnyapun meningkat. Ada banyak metode untuk mengasuh anak, salah satunya adalah dengan metode STIFIn. STIFIn (Sensing, Thinking, Intuiting, Feeling dan Insting) merupakan ilmu personalitas genetik (kepribadian genetik/bakat alami) yang ditemukan oleh Farid Poniman, kompilasi dari teori 3 ilmuwan yaitu Carl Gustav Jung, Ned Herman, dan Paul Mc Lean.
STIFIn membagi manusia menjadi 5 tipe. Tipe ini dipicu dari sistem operasi 5 belahan otak manusia yakni, Pertama, limbik kiri akan menghasilkan karakter terkait kerja fisik, suka sesuatu yang riil, dan bagus dalam menghapal. Tipe ini diberi nama Sensing. Kedua, neokorteks kiri akan menghasilkan karakter yang terkait dengan berpikir logis.
Tipe ini diberi nama Thinking. Ketiga, neokorteks kanan menghasilkan karakter yang kreatif, dan diberi nama Intuiting. Keempat, limbik kanan menghasilkan karakter yang perasa dan jiwa sosial yang bagus. Tipe ini disebut Feeling, dan kelima batang otak menghasilkan tipe yang serba bisa dan suka bekerja dengan spontan, disebut Insting.
Kelima karakter ini bisa diturunkan menjadi pola asuh anak. Pertama, sensing; anak tipe ini diasuh dengan kalimat menekan dan bersyarat. Untuk mencapai prestasi, anak ini sebaiknya dite – kan (ditarget), dan diberi hadiah setelah berhasil.
Kedua, thinking; anak ini akan bersemangat da – lam belajar ketika nasehat yang diberikan kepadanya menggunakan kalimat yang logis (masuk akal). Lalu intuiting; yang nyaman apabila nasehat yang diberikan kepadanya dengan menggunakan kalimat inspiratif yaitu yang mengandung hikmah dan bernuansa masa depan.
Keempat, feeling; akan terkondisi dengan baik apabila dinasehati dengan kalimat yang lemah lembut, sambil dielus pundaknya. Terakhir, insting; tipe ini suka dinasehati dengan kalimat pendek, spontan, dan disalurkan dalam berbagai kegiatan.
■ Perubahan Kualitatif Untuk menerapkan pola asuh di atas, maka guru harus diberi pelatihan tentang konsep dan pola asuh berbasis STIFIn. Lalu, secara bertahap mereka diminta mempraktekkan pola asuh berbasis STIFIn tersebut.
Untuk lebih memfokuskan peningkatan kualitas kegiatan belajar mengajar, perlu dipilih 2 anak yang paling bermasalah dan 2 anak yang paling bagus prestasinya (anak yang lain belum dikenai program ini). Targetnya anak yang paling bermasalah agar menjadi normal kondisinya, sedangkan yang paling bagus semakin meningkat prestasinya.
Guru harus mengevaluasi kondisi anak didik sebelum dan sesudah dilakukan pola asuh tersebut. Apabila ada yang belum terkondisi dengan baik, biasanya orang tuanya yang bermasalah. Untuk kasus seperti ini maka guru diminta home visit, untuk memberi – kan konseling kepada mereka.
Dan setelah program di atas menunjukkan perkembangan yang signifikan, baru program ini dikenakan ke semua anak. Pelaksanaan program di atas bisa dikatakan sebagai kiat yang efektif. Efektif dalam arti metode ini sudah terbukti cukup mudah dipelajari dan dipraktekkan serta dalam waktu singkat bisa mengendalikan anak dengan baik.
Selain itu juga efisien, artinya ketika guru sudah paham ilmu ini ( sampai tingkat praktek ), maka selamanya yang bersang – kutan bisa mendidik anak dengan baik. Dengan kata lain inves – tasi sekali untuk selamanya.
Salah satu lembaga pendidikan yang sudah menerapkan metode ini adalah Pondok Pesantren Lukmanul Hakim Kaliangkrik Magelang (tingkat SMP). Dan hasilnya, secara kualitatif setelah menggunakan metode ini, anak menjadi nyaman dan kualitas belajarnya meningkat, tidak ada lagi yang kabur dari pondok.
Orang tua pun puas dengan kondisi ini Secara kuantitatif; sampai tahun 2013 jumlah peserta didik hanya sekitar 100 anak. Setelah menerapkan metode ini, di tahun 2018 jumlah peserta didik menjadi 175 anak.
Kenaikan ini terkait dengan kualitas pola asuh yang bagus (berbasis STIFIn , yang ini berdampak anak menjadi nyaman sehingga akhlaknya membaik dan prestasinya me – ningkat. Dengan kondisi ini ma – ka banyak calon wali peserta di dik yang berebut memasukkan putranya di pondok pesantren.
Tahun 2013 sebelum menggunakan metode ini, target setoran hapalan Al Quran dalam 3 tahun hanya 10 juz. Tahun 2018 sudah bisa ditargetkan 30 juz dalam 3 tahun. Tahun 2016 telah mampu mendirikan pondok pesantran tahfidz tingkat SMA.
Di tahun 2016 pondok pesantren ini bisa membangun sarpras senilai 3 Miliar (tahun 2013 sama sekali belum mempunyai bangunan, untuk pelaksanaan KBM masih meminjam fasilitas kelurahan).
Dengan banyaknya empati dari masyarakat tersebut, maka pondok pesantren ini tidak membebankan semua biaya operasional kepada wali peserta didik.
Biaya SPP dan uang pangkal bisa dijangkau oleh masyarakat menegah ke bawah. Dari paparan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa untuk memajukan sebuah lembaga pendidikan tidak harus menggunakan cara formal. Bisa dicoba menggunakan cara nonformal, sebagaimana penggunaan ilmu STIFIn di atas.■
Mengelola Sekolah dengan ‘Kurir Rantai Baja’
PRESTASI adalah hasil dari usaha, dan harapan. Dalam penyelenggaraan pendidikan sering menjadi tolok ukur kualitas sebuah satuan pendidikan.Sekolah berprestasi akan menjadi teladan dan inspirasi bagi sekolah lain.
Bagi wali murid suatu impian jika dapat menyekolahkan anaknya di sekolah yang berprestasi, dengan harapan kelak akan menjadi anak berprestasi juga . Pada zaman sekarang ini orangtua sudah melihat kualitas mutu, tidak lagi terpikir mahal dan jauh untuk memilih tempat menyekolahkan putra – putrinya .
Untuk menciptakan sebuah prestasi tak lepas dari kata proses , yang merupakan alur dari kondisi awal apa adanya berikutnya dikenakan treatment secara tepat dalam jangka waktu tertentu baru menghasilkan sesuatu yang baru dan sesuai diharapkan .
Kepala sekolah dengan tugas manajerialnya harus bisa mengelola delapan standar pendidikan secara tepat, terutama standar pendidik dan tenaga kependidikan.Di dalamya terdiri atas kepala sekolah, guru dan tenaga kependidikan dalam satu lingkungan sekolah tersebut.
Mereka sebagai kekuatan dalam rangka membentuk karakter, hasil belajar dan prestasi . Selanjutnya kepala sekolah membuat program pembinaan prestasi baik akademik maupun non akademik, tentang waktu, pelaksanaan event, target, materi dan individu yang akan mengampu sesuai kompetensi masing-masing.
Termasuk imbas pada penyusunan rencana anggaran yang tentu akan muncul sebagai konsekuensi dalam pelaksanaan program yang telah direncanakan dengan tertib dan seksama . Sekolah yang memiliki siswa dalam jumlah banyak akan lebih mudah untuk menjaring mereka menjadi kelompok dalam jumlah kecil sesuai kemampuan minat dan bakat yang ada.
Mengapa kadang sekolah besar tidak dapat mencetak peserta didik yang dapat berprestasi? Dalam kesempatan ini penulis akan bagi strategi selain keterangan saya di atas yaitu dengan strategi ‘’Kurir Rantai Baja‘’. Ada tiga kata kunci yaitu Kurir-Rantai-Baja .
Ini adalah sebuah perumpamaan saja dalam siklus pembelajaran di jenjang sekolah dasar yang terdiri dari kelas satu hingga kelas enam . Setiap siswa akan menempuh tingkatan tahap demi tahap sesuai kemampuannya. Kegiatan terbagi menjadi awal tahun, tengah semester, akhir semester dan akhir tahun.
Kurir yang dimaksud adalah guru kelas / wali kelas yang bertugas mendidik mengajar di kelas, bertanggung jawab untuk menjaring peserta didik sesuai prestasi hasil belajarnya di kelasnya secara objektif, transparan, kontinyu dan akuntabel.
Selanjutnya melaporkan dengan data valid berjenjang kepada guru kelas di atasnya begitu seterusnya . ■ Bersinergi Sedangkan Rantai digambarkan sebagai suatu yang bersifat melingkar bergerak tidak ada putusnya dan berfungsi menggerakkan sebuah benda agar dapat bergerak maju dan melingkar.
Rantai terdiri atas sambungan-sambungan yang sangat erat dan jarang sekali terputus. Artinya wali kelas dan pembimbing bersinergi untuk terus menerus saling bekerja sama untuk sebuah tujuan termasuk juga dengan pembimbing / pembina prestasi sesuai bidang tugasnya, sehingga peserta didik telah terdeteksi secara dini tentang potensi yang ada dan diraih dengan bukti-bukti kongkret melalui hasil pembelajaran sehari-hari.
Pengartian Baja digambarkan sebagai salah satu jenis logam yang paling kuat dan tak pernah akan putus sedahsyat apapun goncangan dan tarikannya .
Ini merupakan kiasan dari fungsi guru pembimbing prestasi yang penuh dedikasi dengan potensi lebih dengan kapasitasnya sesuai bidang tugasnya tiada kenal waktu dan tiada kenal lelah secara proporsional etos kerja tidak akan pernah kena godaan, melirik pulang gasik ataupun melaku kan hal yang tidak manfaat.
Tim pembimbing bina prestasi siap sedia secara kontinyu tanpa harus diperintah sudah mengerti apa yang harus dilaksanakannya. Dedikasi dan kredibilitas sangat dipertaruhkan.
Seandainya tiga kata perumpamaan tersebut disatukan dalam bentuk kinerja maka sangat mungkin keberhasilan prestasi akan diraih.■
Saatnya Mengacuhkan Bahasa Indonesia
PERSOALAN salah kaprah dalam bahasa Indonesia dari dulu sampai sekarang belum juga terselesaikan. Makna kata yang seharusnya benar menurut kaidah justru tidak pernah dipakai. Sebaliknya katakata yang salah dan melanggar kaidah justru selalu digunakan.
Sebagian orang menggunakan pilihan kata berdasarkan pemahamannya sendiri. Mereka tidak pernah mencocokkan kata-kata yang digunakan dengan makna kata di dalam kamus. Salah satu alasan yang klasik adalah malas membuka kamus.
Mereka memaknai kata berdasarkan penafsirannya sendiri-sendiri sehingga munculah kesalahan bahasa yang disebut salah kaprah . Salah kaprah di sini diartikan sebagai ‘salah satu kesalahan yang sudah umum dan sudah terbiasa.
Karena sudah terbiasa Pengguna bahasa tidak lagi menganggap hal itu salah. Parahnya kesalahan itu tidak terjadi sekali dua kali, melainkan berkali-kali sehingga lama-lama orang menganggap Salah kaprah ini terbentuk tidak hanya pada kata-kata asli bahasa Indonesia tetapi terbentuk pula pada kata-kata serapan yang berasal dari bahasa asing.
Kata-kata yang maknanya salah tetapi sering digunakan pemakai bahasa antara lain kata tegar, acuh, geming, nuansa, garang, seronok.
Sedangkan yang dari kata serapan antara lain absen, galon, samurai, busway, kolaborasi. Kata ‘tegar’ dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia bermakna keras kepala, kepala batu dan ngeyel. Namun sekarang kata ini dimaknai tabah; kuat; sabar. Padahal jelas makna kedua ini bertolak belakang dengan yang pertama.
Dan tragisnya dalam keseharian makna yang dipahami masyarakat adalah makna yang kedua, yaitu tabah; kuat; sabar. Begitu juga kata acuh. Kata ini merupakan kata yang paling sering disalahartikan.
Bagi sebagian penutur, kata ‘acuh’ ini mempunyai makna cuek dan tidak perhatian. Padahal menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata ‘acuh’ itu berarti peduli; hirau; ingat; indah.
Geming bermakna ‘ diam; tidak bergerak’ Namun dalam keseharian kata ini digabungkan dengan kata tidak sehingga menjadi frasa ‘tidak bergeming’ yang di maknai tidak bergerak sehingga maknanya tidak sesuai dengan makna dalam kamus.
■ Dimaknai Sama Sekilas kata ‘garang’ dan ‘gahar’ memiliki makna yang berdekatan, yakni berhubungan dengan karakter yang seram dan galak. Ternyata dalam KBBI, “garang” bermakna ‘pemarah lagi bengis; galak; ganas’ sedangkan gahar bermakna ‘gosok kuat-kuat’, dan “menggahar” bermakna ‘menggosok kuat-kuat supaya bersih’.
Nah, ini kan sangat berbeda jauh. Kata ‘nuansa’ dan ‘suasana’ juga dimaknai sama. Padahal nuansa artinya adalah variasi atau perbedaan yang sangat halus atau kecil sekali (tentang warna, suara, kualitas, dan sebagainya) sedangkan suasana artinya keadaan sekitar sesuatu atau dalam lingkungan sesuatu.
Namun kita masih sering mendengar kedua kata ini dimaknai sama. Sedangkan salah kaprah yang berasal dari kata-kata serapan yang sering digunakan pemakai bahasa antara lain kata absen, galon, takjil, samurai.
Kata absen dipungut dari bahasa Belanda (absent), yang mempunyai makna tidak hadir atau tidak masuk. Namun dalam keseharian kata absen ini jusru diartikan kehadiran. Istilah Galon yang ternyata artinya ternyata bukan benda, tapi ukuran.
Penulis berharap dengan artikel ini dapat mengajak pembaca untuk mencermati kembali makna bahasa Indonesia yang baik dan benar. Mari kita acuhkan bahasa Indonesia, kalau bukan kita siapa lagi?■