Lakukan Semampunya
Jangan muluk-muluk lakukan saja yang bisa. Daripada nyangkut di pikiran tanpa aksi, lebih baik bergeraklah. Mulai dari yang mudah dilakukan. Berbahaya jika antara pikiran dan perbuatan ada gap.
Jangan muluk-muluk lakukan saja yang bisa. Daripada nyangkut di pikiran tanpa aksi, lebih baik bergeraklah. Mulai dari yang mudah dilakukan. Berbahaya jika antara pikiran dan perbuatan ada gap.
Fenotipe adalah suatu karakteristik baik yang bersifat struktural, biokimiawi, fisiologis dan perilaku yang dapat diamati dari suatu organisme yang diatur oleh genotipe dan lingkungan bahkan interaksi keduanya.More

Wellness Energy
Sehat merupakan hal yg sering terlupakan pada saat tidak ada keluhan kesehatan. Tapi sehat menjadi hal yg mahal dan sangat berharga manakala kita sakit.
Dapatkah kita menjaga kondisi tubuh supaya tetap sehat, tanpa mengkonsumsi vitamin, food suplemen baik sintetik maupun herbal?
Jawabnya Tentu Bisa jika kita tahu caranya.
Kita bisa menjadi stimulator aliran wellness energy utk penyembuhan dan kesehatan diri kita sendiri dan org lain.
Mengenali diri akan membantu kita memahami potensi genetik termasuk potensi wellness energy yg kita miliki.
Wellness energy sebenarnya ada pd semua orang. Allah sdh memberikan anugerah wellness energy saat karakter seseorang diciptakan.
Salah satu fenomena menarik yang saya perhatikan selama praktek sebagai seorang
dokter: seseorang mudah sembuh jika ditangani oleh dokter A, sedangkan jika berobat dengan dokter B sebaliknya – butuh waktu lebih lama untuk sehat kembali; apakah ini sugesti semata?
Jika sakit, sebenarnya sel-sel tubuh kita diberikan kemampuan untuk dapat menyembuhkan diri sendiri (self-healing). Namun belum banyak yang menyadari bagaimana pentingnya mengoptimalkan tubuh sendiri, bahkan ‘memanfaatkan’ orang lain agar kita tetap sehat. Ya, interaksi dengan orang lain ternyata mampu mempercepat, atau memperlambat proses penyembuhan.
Dengan mengenali MK diri maka kita akan lebih mudah menstimulasi dan mengalirkan wellness energy.
Selain menjaga kesehatan dari dalam melalui wellness energy, kita jg perlu mengoptimalkan pilihan makanan dan olah raga yg teratur.
Menikmati Pensiun sejatinya adalah hal yang paling diidamkan oleh mereka yang usianya sudah tidak lagi muda. Menikmati pensiun bukan hanya soal harta, namun lebih pada kebahagiaan yang Anda rasakan selama menjalaninya. Anda bisa bercengkerama setiap hari dengan anak cucu tercinta yang belum tentu bisa Anda nikmati sewaktu masih bekerja.
Berbagai aktivitas lain juga bisa dilakukan di sela-sela waktu Anda menikmati pensiun, salah satunya dengan berbisnis. Hilangkan pikiran bahwa bisnis harus dengan modal yang besar. Saat ini banyak sekali bisnis online yang dirintis dengan modal seadanya namun menghasilkan keuntungan yang luar biasa. Namun, agar bisnis yang Anda jalankan dapat berjalan maksimal, ada baiknya Anda mengikuti tips berbisnis berdasarkan mesin kecerdasan.
Apakah itu mesin kecerdasan? Ia adalah belahan otak dominan yang ada pada diri kita. Berdasarkan belahan otak yang dominan tersebut, STIFIn mengelompokkan mesin kecerdasan manusia menjadi 5, yaitu: Sensing, Thinking, Intuiting, Feeling, dan Instinct. Masing-masing mesin kecerdasan memiliki kelebihan tersendiri. Lantas, bagaimana tips berbisnis yang baik jika dihubungkan dengan mesin kecerdasan Anda? Simak penjelasannya berikut ini.
Bagi orang sensing, modal utama mereka dalam berbisnis adalah momentum. Perbanyaklah frekuensi pertemuan dengan mitra bisnis Anda. Buatlah mereka kagum dengan keuletan dan kedermawanan Anda. Jangan lupa untuk memperlihatkan keuntungan konkrit dari bisnis yang Anda jalani.
Bagi orang thinking, modal utama mereka dalam berbisnis adalah ketajaman. Buat analisa mengapa konsumen perlu membeli produk Anda dan paparkan dengan jelas di depan mitra bisnis dan konsumen. Buat mereka kagum dengan kepandaian dan integritas Anda. Paparkan pula cerita sukses bahwa yang berbisnis dengan diri Anda semuanya sukses.
Bagi orang intuiting, modal utama mereka dalam berbisnis adalah gagasan. Ekspresikan kemampuan presentasi Anda yang mengagumkan. Buat mitra bisnis kagum dengan kesempurnaan Anda. Munculkan hasrat sehingga mereka mau berbisnis dengan Anda. Paparkan prospek cerah bisnis yang ditawarkan dikaitkan dengan trend masa depan dan peningkatan kualitas hidup.
Bagi orang feeling, modal utama mereka dalam berbisnis adalah konektivitas. Yakinkan mitra bisnis dengan kharisma dan popularitas Anda. Buatlah mereka kagum dengan pesona dan keakraban Anda. Sentuhlah hati dan jadilah mentor kehidupan bagi mereka.
Bagi orang instinct, modal utama mereka dalam berbisnis adalah akses. Jadikan bisnis Anda sebagai ibadah untuk menolong orang lain. Dedikasikan kesuksesan Anda untuk menolong bisnis orang lain. Buatlah mitra bisnis kagum dengan pengorbanan Anda.
Ingatlah selalu bahwa mesin kecerdasan tidak menentukan kesuksesan Anda. Sukses atau tidaknya seseorang dalam berbisnis, bergantung pada kerja keras mereka. Namun, mesin kecerdasan dapat membantu untuk memetakan pola mana yang sebaiknya Anda lakukan dengan menggunakan otak dominan Anda. Jadi, dari 5 kelompok mesin kecerdasan di atas, termasuk yang manakah Anda? Share di kolom komentar ya!
Perjalanan menuju lahirnya konsep STIFIn dimulai sejak Farid Poniman tahun 1999, beliau bersama dua orang kawannya yang kini menjadi tokoh terkemuka di Indonesia, Indrawan Nugroho dan Jamil Azzaini, mendirikan perusahaan bernama Kubik Leadership yang kini menjadi Top 10 Training & Consultancy Provider terbaik di Indonesia. Mereka memulai dengan menulis buku dan menyusun modul pelatihan yang berbasiskan kepada karakter personaliti pesertanya. Konsep inilah yang lalu diberi nama STIFIn. Di Kubik inilah awal mula dari proses risetnya untuk membuktikan konsep dan pemikirannya tentang STIFIn.
Kesadaran menemukan keberadaan kepribadian In itu datang dari hasil observasinya khususnya terhadap istrinya yang memiliki kepribadian ternyata bukan termasuk di antara S-T-I-F. Sejak itulah kemudian konsep pemikirannya dianggap sudah utuh menjadi STIFIn tanpa memerlukan penyempurnaan lagi. Memang kemudian masih banyak yang skeptis.Maka hingga buku tersebut diterbitkan, FP menegaskan bahwa konsep Lima Mesin Kecerdasan dan Sembilan Personaliti STIFIn dianggap telah final.
Dibalik proses risetnya itu, Ia mengumpulkan teori-teori yang membangun teori STIFIn, yaitu: teori Fungsi Dasar S-T-I-F dari C.G. Jung (1875-1959), teori belahan otak atau The Whole Brain Concept dari Ned Hermann, teori Triune Brain dari Paul MacLean (1976).
Bagaimana dengan kecerdasan kelima pada STIFIn yaitu tipe Insting (In)? pada teori Triune Brain Paul MacLean di mana ada reptilian brain. Lebih lanjut menjelaskan, kecerdasan kelima ini terletak pada fungsi Hindbrain atau Otak Tengah (cerebellum, medulla, midbrain, pons, dan brain stem.Dari perjalanan panjang mengkompilasi teori-teori tersebut, sudahlah final teori STIFIn. Ada lima belahan otak dengan paket fungsi otak masing-masing yang kelak akan mempengaruhi tindak-tanduk manusia sesuai fungsi-fungsi otak yang paling mempengaruhinya dan kesemuanya setara.
Setiap belahan otak, memiliki orientasi atau cara kemudi (drive) yang berbeda. Yang satu berorientasi dari dalam ke luar, terstimuli dari dalam ke luar, yang ini lebih bisa fokus, introvert. Yang satu berorientasi dari luar ke dalam, menerima stimuli dari luar yang kemudian mengemudikan dirinya untuk lebih mudah terpengaruh dan terbuka pada respon luar, yang ini lebih mudah tergoda fokusnya, ekstrovert.secara genetik, ternyata berasal dari cara kerja lapisan putih dan lapisan kelabu pada otak.Kedua lapisan ini ditemukan pada otak limbik dan neokortek, sedangkan pada otak tengah tidak. Maka, masing-masing S-T-I-F menjadi dua kepribadian genetik (Si, Se, Ti, Te, Ii, Ie, Fi, Fe) sedangkan tipe In berlaku sebagai Mesin Kecerdasan sekaligus Personaliti Genetik. Itulah mengapa jumlah Personaliti Genetik adalah 9.
~Sumber: http://stifin.com:8181/home/article/42.~
Banyak yang masih belum tajam membedakan antara watak, karakter, personaliti, dan perilaku. Jika dilihat dari strata yang paling rendah, stratanya sebagai berikut :
1.Perilaku (behavior) : yaitu tindak tanduk manusia yang belum menjadi traits (ciri atau sifat).
2.Personaliti (kepribadian) : yaitu kecenderungan manusia yang sudah menjadi traits.
3.Karakter : yaitu traits yang terjadi berulang karena sudah menjadi kebiasaan atau sudah menjadi myelin. Contohnya, Indra Bekti dan Indi Barends keduanya tipe T, tetapi mengapa mereka “ceriwis”? Karena tuntutan profesi mereka sebagai MC, presenter, dan “tukang ngomong” yang telah menjadi traits berulang sehingga terbentuklah karakter “ceriwis” pada diri mereka.
4.Watak : yaitu traits yang sudah melekat pada diri seseorang dan mendalam selevel dengan genetik (mirip dengan Personaliti Genetik pada STIFIn), tapi bisa saja watak ini hasil dari penggemblengan masif sehingga melebihi myelin karena ada value tambahan seperti fanatisme keberpihakan yang kuat atau ada sinergi kesungguhan dan kebiasaan. Misal, “disiplin” adalah kelemahan tipe I. Namun jika tipe I memiliki watak disiplin yang sudah kuat dan konsisten, bisa jadi datang dari program KKM-nya (Kesungguhan dan Kebiasaan sesuai Makaanat)
Di luar keempat hal tersebut, terdapat Personaliti Genetik, yaitu kepribadian yang datangnya dari faktor genetik. Tanpa dibentuk oleh lingkungan, dibiasakan, diulang-ulang, dan dilatih pun kepribadian genetik ini sudah ada sejak lahir. Hanya memang untuk membuatnya benar-benar muncul, optimal, dan makin kelihatan tajam, perlu ada latihan penggemblengan yang fokus.
Strata Genetik
Strata Genetik adalah tingkatan faktor genetik yang ada pada diri manusia. Jika diurut dari strata tertinggi, maka tingkatannya sebagai berikut :
1. Gender (jenis kelamin)
2. Mesin Kecerdasan (MK)
3. Drive
4. Kapasitas Otak (kaitannya dengan IQ)
5. Golongan Darah
Dengan memahami tingkatan strata genetik di atas, maka program pembinaan diri akan lebih optimal jika dilakukan di strata yang lebih tinggi. Semakin tinggi, semakin berdampak. Misalnya dalam hal diet, teori Golongan Darah telah mengeluarkan tips diet sesuai golongan darah.
Menggarap drive i dan e berbeda dengan menggarap MK, juga berbeda dengan menggarap Kapasitas Otak. Olahraga renang bagus untuk
meningkatkan kapasitas otak. Dzikir juga bagus untuk meningkatkan kapasitas otak, namun sekaligus juga memberikan manfaat pada strata genetik yang lebih tinggi. Laki-laki perlu terus dilatih perannya sebagai laki-laki, begitupun perempuan. Melakukan pembinaan diri pada strata genetik yang lebih tinggi, maka dampaknya akan lebih optimal.
Matra Diri
Kecerdasan STIFIn yang “given” dan belum diapa-apakan terletak di matra terbawah yang disebut Matra Personalitas. Di atasnya ada Matra Mentalitas yang menjadi ukuran baik-buruk bagi dirinya sebagai makhluk individu. Matra mentalitas bicara tentang “aku”, aku yang tergembleng. Di atasnya lagi ada Matra Moralitas yang menjadi ukuran baik-buruk dirinya terhadap orang lain dan masyarakat sosialnya. Matra moralitas bicara tentang “kita”, saat kepentingan masyarakat sosial yang lebih besar lebih didahulukan daripada kepentingan pribadi, keluarga, ataupun kroni. Sedangkan di strata tertinggi barulah terdapat Matra Spiritualitas yang menjadi ukuran baik-buruk dirinya di hadapan Tuhannya.
Proses perjalanan menuju matra atau level kecerdasan Spiritualitas sebaiknya melalui tahapan matra dan tidak diloncati. STIFIn merupakan pintu gerbang sekaligus jalan terbaik yang dapat digunakan manusia untuk menapaki setiap tingkatan hingga mencapai spiritualitas.
Frekuensi
Manusia harus banyak melatih diri berada pada frekuensi alfa, sebab alfa adalah frekuensi terbaik. Shalat yang baik dan benar semestinya berada di frekuensi alfa, sebab frekuensi alfa akan muncul jika shalat itu khusyuk. Shalat konsentrasi atau fokus belumlah pada level khusyuk, sebab konsentrasi ada di beta. Proses induksi dengan mantera, guna-guna, gendam, sugesti hipnosis (meskipun kalangan hipnosis bersikeras berada di alfa) lebih banyak di theta. Oleh karena itu frekuensi theta merupakan frekuensi favorit jin untuk masuk ke dalam frekuensi manusia. Tidur nyenyak (deepsleep) harus berada pada delta dalam.
~Sumber: www.stifin.com.~
Struktur Otak
Komposisi otak tengah terdiri dari Corpus Collosum (berfungsi sebagai penyangga otak; serat terbesar), Midbrain (penghubung keseluruhan otak; terdiri dari dua batang yang menyatu sebagai penyambung Thalamus dan Ganglia Basal), Pons (menjadi “jalan tol”/penghubung antar belahan otak), Medulla (pusat/sumber gerakan, jalur komunikasi), Cerebellum (pusat keseimbangan tubuh), Spinal atau Batang Otak (mengatur denyut jantung dan pernafasan). Selain itu dilengkapi dengan Sumsum tulang belakang (sebagai pengatur reflek gerakan). Untuk mengingat komposisi otak tengah ini, maka disingkat CMPM CS (Corpus Collosum, Midbrain, Ponds, Medulla, Cerebellum, Spinal)
Komposisi otak limbik atau sistem limbik terdiri dari Girus Singuli (pengendali dan pemimpin sistem limbik), Ventrikel Lateral (rongga cairan otak), Ganglia Basal (integrator gerakan), Putamen (meregulasi gerakan), Amigdala (pusat emosi), Hipokampus (pembentukan memori jangka panjang), Thalamus (pusat pengaturan indrawi), Hipothalamus (pengendali homeostasi seperti suhu, lapar, haus, bau, takut, dan seks), Kelenjar Hipofisis (produsen hormon tubuh). Untuk mengingat komposisi otak limbik ini, maka disingkat GIVE GANGPUTAM HITAHIHI (Girus Singuli, Ventrikel Lateral, Ganglia Basal, Putamen, Amigdala, Thalamus, Hipothalamus, Hipofisis).
Komposisi otak neokortek terdiri dari Lobus Frontal (fungsi intelektual0, Lobus Oxipetal (interpretasi visi), Lobus Parietal (Kesadaran Sensorik dan Asosiasi), Lobus Temporal (fungsi memori dan auditori). Untuk mengingat komposisi otak limbik ini, maka disingkat FROX PARTEM (Frontal, Oxipetal, Parietal, Temporal).
Kapasitas Hardware
Kapasitas hardware atau kapasitas otak merupakan kapasitas yang diukur berdasarkan jumlah sel otak dan dendrit otak yang tersambung sehingga memungkinkan perjalanan impulse di otak semakin baik. Kapasitas hardware akan menentukan IQ seseorang, maka kapasitas hardware dapat diukur seberapa kapasitasnya melalui tes IQ.
Selain melalui tes IQ, kapasitas hardware juga dapat ditaksir dengan mengukur volume besar kepala. Setidaknya bisa dengan mengukur lingkar kepala. Jika lingkar kepala di bawah 65 cm, bisa dikatakan IQ-nya di bawah rata-rata. Sedangkan jika di atas 65 cm, bisa dikatakan IQ-nya di atas rata-rata. Jadi sebetulnya, anak normal dengan ukuran kepala yang besar, berpeluang memiliki nilai IQ yang tinggi, pengukuran seperti ini hanya taksiran dan akurasinya bisa saja kurang.
Cara lain lagi untuk mengukur kapasitas hardware adalah dengan menghitung ridge counting pada sidik jari kesepuluh jari subjek. Yang membedakan STIFIn dengan alat tes bakat berbasis fingerprint lainnya adalah, STIFIn melalui sidik jari mengukur Operating System (software) otak, sedangkan alat tes sidik jari lain malah mengukur Hardware otak dengan cara melakukan ridge counting pada guratan-guratan sidik jari.
Kapasitas Hardware adalah genetik hereditary (diturunkan). Jadi bisa dibilang IQ anak kita diturunkan dari IQ orangtuanya atau kakek neneknya. Selain itu, kapasitas hardware adalah genetik yang menempati urutan keempat, artinya kontribusi kapasitas hardware terhadap prestasi seseorang, itu berada pada posisi keempat di bawah drive, MK dan gender.
~Sumber : http://stifin.com:8181/home.~
STIFIn sering merujuk pada teori-teori Al-Ghazali, termasuk tentang teori otak. Triune Brain menurut Al-Ghazali (1058 – 1111 M) terdiri dari :
1. Otak Iradah (Kehendak)
2. Otak Qudrah (Kuasa)
3. Otak Idrak (Pemahaman)
Otak Iradah adalah otak yang berstrategi, yaitu Thinking dan Intuiting. Otak Qudrah adalah otak Sensing dan Feeling yang mampu mengeksekusi dan mampu mengoperasionalkan. Otak Idrak adalah otak Insting. Seharusnya orang Insting cepat memahami apapun, karena ia mampu langsung memahami sesuatu secara lebih utuh (holistik).
Dalam Kitab yang ditulisnya, Ar-Rasa’il, Al-Ghazali juga menyebutkan kemudian otak terbagi lima tempat, yaitu :
1. Permulaan Dasar
2. Permulaan Berlubang
3. Pangkal Berlubang
4. Pangkal Dasar
5. Dimmagh
Otak Permulaan adalah otak kiri, dan otak Pangkal adalah otak kanan, sedangkan Dimmagh adalah otak tengah. Al-Ghazali menyebut bagian kiri sebagai otak permulaan karena jika kita membicarakan aset, potensi, barang dan benda, itu dari ke kanan. Tapi jika mengeksekusinya, dimulai dari kanan ke kiri. Jika untuk penggemblengan potensi dan meningkatkan resources (Molar Aktivasi), maka dari kiri ke kanan, dan jika untuk meningkatkan valensi dan amal shaleh (Molar Profesi), dari kanan ke kiri.
Maka dari situ, Permulaan Dasar adalah Limbik Kiri yang merupakan otaknya Sensing, Permulaan Berlubang/Neokortek Kiri adalah Thinking, Pangkal Berlubang/Neokortek Kanan adalah Intuiting, Pangkal Dasar/Limbik Kanan adalah Feeling, dan Dimmagh adalah Insting.
~Sumber : Web. STIFIn.com.~
http://stifin.com:8181/home/article/47
Anak Sudah Lebih Besar tapi Masih Sering Menunjukkan Emosi Ekstrim, Bagaimana Cara Menghadapinya?
Oleh : Kiki Barkiah
Setiap Anak berusia balita pasti mengalami masa dimana ia sering menunjukkan emosi negatif yang ektrim. Meskipun kadar Dan intensitas mereka berbeda-beda. Namun sejalan dengan usia, emosi ekstrim ini biasanya jauh berkurang. Namun pada beberapa anak dengan tempramen dasar tertentu, tantangan orang tua dalam menghadapi emosi ekstrim anak masih terus berkepanjangan. Dalam teori personal genetik STIFin biasanya yang sangat berpotensi memiliki masalah kesulitan mengelola emosi adalah ananda yang bermesin kecerdasan Feeling, Insting dan Thinking.
Anak Feeling lebih banyak merespon dunia dengan perasaan dibanding logika mereka. Sehingga mereka terkadang kurang logis dalam melihat permasalahan. Kadang mereka lebih banyak mempertimbangkan segala sesuatu dengan subjektif. Akhirnya mendorong diri mereka untuk meluapkan emosi dengan cara yang tidak diharapkan oleh orang dewasa di sekitar mereka.
Dalam teori personal genetik STIFIn, anak yang bermesin kecerdasan Feeling, tidak boleh kekurangan cinta dan perhatian. Maka banyak diantara mereka yang tidak cerdas dalam mengelola emosi berawal dari kurangnya perhatian. Bahasa cinta mereka adalah kedekatan Sehingga apabila bahasa cinta ini tidak terpenuhi sering sekali mereka mencari perhatian dengan menunjukkan emosi negatif. Meskipun begitu, dengan kesabaran dan bimbingan yang baik, anak bermesin kecerdasan Feeling sesungguhnya memiliki potensi kecerdasan emosi yang paling menonjol diantara tipe lainnya
Selanjutnya anak yang berpotensi mudah mengamuk adalah anak yang bermesin kecerdasan Insting. Belahan otak yang memimpin anak insting adalah otak tengah atau yang sering disebut dengan otak reptil. Sebagaimana reptil, dalam keadaan normal ia adalah orang yang sangat tenang dan mencari kedamaian. Namun apabila ia diganggu dan merasa tidak nyaman, ia sangat responsif sehingga mudah marah. Oleh karena itu anak-anak insting harus di jaga kondisinya agar tetap berada di lingkungan yang tenang damai dan tidak rawan konflik. Biasanya anak-anak Insting menjadi lebih mudah marah ketika ia berada dalam tekanan atau pola asuh yang juga penuh emosi. Tetapi terhadap orang yang tenang dan lemah lembut ia pun akan berlaku demikian.
Selanjutnya anak yang berpotensi mudah marah adalah yang bermesin kecerdasan Thinking. Anak-anak dengan mesin kecerdasan thinking biasanya sangat keras kepala. Mereka merasa bahwa pengalaman, pandangan dan pendapatnya yang paling benar. Sehingga terkadang mereka punya keinginan yang kuat dan tidak mau berkompromi dengan orang lain atau keadaan. Sehingga hal ini bisa memicu emosi negatif mereka. Mereka cenderung raja tega dan kurang mempertimbangkan segala sesuatu dengan perasaan. Namun berbeda dengan anak Feeling, mereka lebih mudah untuk kita beri pengertian karena cenderung mempertimbangkan dan merespon dunia dengan logika mereka. Sementara anak yang bermesin kecerdasan Feeling biasanya kurang logis. Mereka sangat moody dalam bersikap, tergantung kondisi perasaan mereka. Oleh karena itu mereka lebih mudah tersulut emosi.
Secara umum, upaya yang dapat kita lalukan agar anak-anak semakin memiliki kecerdasan emosi adalah sbb:
1. Latihlah anak memeiliki emosi yang wajar dengan melibatkan kisah-kisah teladan baik dari Kisah nabi, Sirah, maupun hal-hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Tujuannya tidak hanya mengenalkan apa yang tidak wajar namun sekaligus memotivasi mereka untuk berbuat apa yang seharusnya dilakukan serta meneladani kebaikan.
2. Kita bisa menunda memberi pengertian dalam suasana yang lebih santai dan serius agar hikmah yang diperoleh bisa lebih dalam, hindari menasihati dalam keadaan emosi memuncak serta pada saat anak-anak masih dalam suasana perasaan yang enggan untuk diberi nasihat.
3. Beri anak ruang dan waktu sebagai kesempatan untuk menenangkan diri pada saat emosi yang ekstrim sedang berlangsung.
4. Istikomahlah dalam membangun komunikasi tentang nilai dan aturan, manfaat dari nilai dan aturan, serta konsekuensi logis dan natural dari pelanggaan nilai dan aturan, sehingga pada saat anak-anak menunjukkan emosi yang ekstrim, maka kita tinggal mengingatkan kembali nilai dan aturan yang kita anut
Secara khusus komunikasi pendekatan terhadap anak Feeling untuk meminimalisir munculnya emosi ekstrim adalah sebagai berikut:
1. Anak FEELING lebih menggunakan perasaan. Maka hargai perasaannya termasuk kekesalan dan kemarahannya. Sampaikan pula perasaan kita saat menasihatinya.
2. Anak FEELING mencari keharmonisan. Jangan melakukan atau mengatakan hal yang bisa merusak hubungan. Keharmonisan adalah jembatan dalam mempengaruhi mereka. Banyak anak Feeling mudah mengamuk terhadap orang yang memiliki hubungan yang kurang harmonis
3. Anak FEELING mempertimbangkan sesuatu berdasarkan kasih sayang. Bangunlah jembatan kasih sayang antara kita dengan mereka dan buatlah mereka menyayangi kita. Frekuensi munculnya emosi negatif bisa diminimalisir bila anak Feeling berada dalam lingkungan yang penuh kasih sayang. Hadapilah gejolak emosinya dengan kasih sayang, bukan dengan membalas amukan dengan amukan.
4. Anak FEELING mengambil keputusan dengan mempertimbangkan akibatnya pada orang lain. Manfaatkan hal itu dalam meluruskan perilakunya. Buatlah ia paham tentang akibat yang ditimbulkan bagi orang lain saat is tidak cerdas mengelola emosinya.
5. Anak FEELING pandai berempati, mereka memiliki banyak sahabat. Maka tunjukkan empati kita saat ia mengalami gejolak perasaan
6. Anak FEELING tidak suka konfrontasi. Hindari bergumentasi. Usahakan untuk tidak berseberangan dengannya.
7. Anak FEELING mudah sakit hati dan pendendam. Hindari sikap yang menyakiti hatinya. Barangkali munculnya emosi negatif berawal dari rasa sakit hatinya.
8. Anak FEELING kurang tegas menuntut hak. Jangan harap dia mengatakannya, maka pekalah terhadap hal itu. Barangkali emosi negatif muncul akibat dari hak yang terabaikan namun tidak eksplisit diungkapkan.
Secara khusus komunikasi pendekatan terhadap anak Insting untuk meminimalisir munculnya emosi ekstrim adalah sebagai berikut:
1. Anak INSTINCT bereaksi secara spontan. Mereka cepat merespon perintah, meleka lebih cepat marah, namun juga cepat reda. Maka berdamailah bila is sedang meledak marah. Percayalah sebentar lagi juga reda dan kita bisa membangun komunikasi nasihat kepadanya.
2. Orang INSTINCT suka membantu. Dukung ia dalam membantu sesama maka dia akan bahagia. Barangkali emosi negatifnya menjadinseting muncul karena kurangnya aktifitas yang membuat ia merasa berperan. Maka berilah ia beragam kesibukan.
4. Anak INSTINCT generalis, suka yang bersifat umum. Perluas wawasannya, hendari memaksa ia menjadi spesialis. Barangkali emosi negatifnya muncul karena kita memaksanya fokus tuntas pada satu hal, padahal ia sangat suka mencoba banyak hal.
5. Anak INSTINCT adalah pencari kebahagiaan. Buatlah ia bahagia, maka ia akan menerima kita apa adanya dan mendukung kita sepenuh jiwa. Barangkali emosi negatif mudah muncul karena ia berada dalam keluarga yang tidakemberi rasa bahagia
6. Anak INSTINCT ingin selalu terlibat, jika tidak ia akan merasa tidak berguna. Maka libatkan ia dalam aktivitas kita dan tingkatkan perannya, inya Allah ia akan bahagia. Semakin ia bahagia insya Allah semakin cerdas dalam mengelola emosinya
7. Anak INSTINCT pola bicaranya pendek. Jawablah percis sesuai pertanyaannya hindari pembicaraan bertele-tele
8. Anak INSTINCT berfikirnya simple. Berbicaralah dengan halus dan straight to the poin. Barangkali ia menjadi buas karena komunikasi kita yang memicunya.
Secara khusus komunikasi pendekatan terhadap anak Thingking untuk meminimalisir munculnya emosi ekstrim adalah sebagai berikut:
1. Anak THINKING lebih menggunakan pikirannya. Hindari terlalu sering bicara tentang perasaan dan jangan terlalu sedih bila ia mengabaikan perasaan kita. Terutama saat is marah dan keras kepalan
2. Anak THINKING keras kepala. Hindari berargumen dengannya, cukup tunjukkan data yang valid.
3. Anak THINKING berfikir sebab akibat. Untuk meyakinkan atau menasihati mereka, tunjukkan hubungan logis dari pendapat kita.
4. Anak THINKING menghargai sesuatu yang masuk akal. Yakinkan IA dengan sesuatu yang masuk akal untuk meredam emosinya.
5. Anak THINKING adil & objektif. Keputusannya murni berdasakan data valid dan argumentasi logis. Meski memiliki gejolak emosi, biasanya anak Thinking dapat lebih mudah Kita arahkan until berfikir objektif.
6. Anak THINKING terlihat tidak peka. Jadi jangan tersinggung kalau dia tidak cepat menangkap perasaan Kita. Utarakan yang jelas jangan berharap ia menebak apa yang kita rasa
7. Anak THINKING memiliki ketegasan menuntut hak. Jadi jangan merasa risih. Penuhi segera haknya, barangkali emosi negatif muncul karena ada hak yang terabaikan
9. Anak THINKING kritis terhadap segala sesuatu. Semuanya dipikirkan dan dikomentari. Maka berdamailah, kadang kita melihat itu sebagai kemarahan padahal bagi mereka itu adalah perilaku yang biasa.
Anak INTUITING dan SENSING yang berusia lebih besar mungkin tidak terlalu berpotensi menujukkan emosi ekstrim seperti ketiga tipe diatas. Anak Intuiting cenderung easy going, dan anak Sensing relatif penurut. Namun bisa jadi anak Intuiting pun menunjukkan protest dengan emosi negatif saat kebebasan berkarya mereka terhalang atau terlalu disibukkan dengan perihal kecil, detail sepele, atau sesuatu yang berulang-ulang dilakukan. Anak Sensing juga bisa protest dengan emosi negatif terutama saat produksi energi yang berlebihan tidak menemukan ruang penyaluran.
Sejalan dengan usia insya Allah anak akan semakin belajar bersikap lebih arif bijaksana. Terutama dalam menghadapi kenyataannya yang tidak seusai dengan harapan. Berikhtiar terus dalam memenuhi perhatian, cinta dan kasih sayang insya Allah anak-anak akan belajar kelembutan dari kelembutan dan belajar kebijaksanaan dari kebijaksanaan