Seorang gadis pasang iklan untuk dinikahi lelaki dengan penghasilan 7M setahun. Menurutnya, ia bukan materialistis tetapi realistis. Iklan seperti ini telah menjadi trend baru. Seorang lelaki menjawab sebaiknya gadis tersebut berbisnis agar berpenghasilan 7M daripada mencari suami berpenghasilan 7M. Hal yang senada saya dengar ketika sarapan disebuah hotel disurabaya. Seorang ayah memberitahu kedua putranya untuk menikahi gadis yang bisa berbisnis. Hanya bisa berbisnis. Jangan cari perempuan yang Cuma bisa menjadi surirumah (singkatan dari permaisuri dirumah atau ibu rumah tangga).
Lelaki pertama melihat gadis sebagai beban (liability) dan menghitung nilai depresiasi gadis tersebut yang terus akan menurun. Lelaki kedua melihat gadis sebagai aset yang harus diberdayakan melalui bisnis. Keduanya melihat gadis dengan kacamata sempit. Padahal pernikahan akan membuat gadis menjadi aset yang begitu berharga meski hanya sebagai surirumah.
Justru perempuan yang lebih banyak dirumah dan menguruskan segala urusan rumah tangga yang akan membuat suaminya naik nilai terapresiasinya secara eksponensial. Bukan hanya suami yang terurus dengan baik juga anak-anaknya akan menjadi aset-aset eksponensial berikutnya.
Seorang gadis yang bermetamorfora menjadi istri samara adalah aset yang berkilau. Menjadi harta karun yang tidak ada habisnya. Kelembutannya akan membuat hilang segala kepenatan lelaki. Pengabdian dan tanggung jawabnya dirumah membuat istana lahir batin bagi suaminya. Kasih sayang kepada anak-anaknya telah membuat suami berinvestasi terbaiik ditangan yang tepat. Pelayanan “listrik cinta”-nya telah membuat suami serasa bersama bidadari terus. Doa yang senantiasa dipanjatkannya akan membuat bisnis suami tumbuh pesat. Sungguh begitu besarnya nilai ekonomis perempuan.
Masalahnya, mau cari dimana perempuan kayak begitu? Maka carilah pasangan yang setara (keimanan dan potensinya) dengan score of spouse yang terbaik. Tentang skor terbaik ini, skema STIFIn akan sangat membantu.
Penelitian
ini bertujuan membuktikan kebenaran hipotesa STIFIn tentang “Ciri-ciri fisik
dan dominasi organ tubuh tertentu” pada kelima Mesin Kecerdasan yang terbagi
dalam 9 Personaliti Genetik.
Aplikasi
konsep STIFIn sudah berkembang sangat pesat. Sudah diterapkan di berbagai
bidang terutama bidang psikologi, sumber daya manusia, pendidikan,
pembelajaran, organisasi dan manajemen, hubungan antara manusian.
Melihat
sedemikian besar manfaat dan aplikasi STIFIn dalam kehidupan kita maka kami
mencoba mengembangkan aplikasi STIFIn di bidang kesehatan dan kedokteran.
Semoga
penelitian ini dapat menjadi pintu masuk aplikasi STIFIn di dalam bidang kesehatan
terutama di bidang kedokteran.
Besar
harapan kami konsep STIFIn ini dapat dioptimalkan untuk program preventif,
promotif, kuratif, rehabilitatif dan paliatif di bidang kesehatan.
Semoga
Allah SWT memudahkan penelitian ini dan menuntun kita dalam mengembangkan dan
mengaplikasikan STIFIn di bidang kesehatan dan kedokteran.
BAB II. HIPOTESA STIFIn TENTANG TIPOLOGI DAN ORGAN TUBUH
Berikut
ini hipotesa STIFIn tentang tipologi dan organ tubuh berdasarkan Mesin
Kecerdasan :
Sensing : organ tubuh utama bagian dalam
adalah lambung. Memiliki bentuk tubuh atletis.
Thinking : organ tubuh utama bagian dalam adalah ginjal.
Bentuk tubuh piknis.
Intuiting : organ
tubuh utama bagian dalam adalah hati. Bentuk tubuh astenis.
Feeling : organ tubuh
utama bagian dalam adalah paru-paru. Bentuk tubuh displastis.
Insting : organ tubuh
utama bagian dalam adalah jantung. Bentuk tubuh stenis.
MK
Struktur
Tubuh
Wajah
Bentuk
Organ
dominan
Sensing (S)
Organ
wajah penuh pada ruang muka sempit (simetris)
Hasil
spirometri FEV1 tertinggi (Si),
Ukuran
wajah terpanjang menurut garis vertical (S dan Se),
Angka
Trombosit tertinggi (S dan Se)
Sistim
Pencernaan
Thinking (T)
Organ wajah kecil-kecil, muka kotak
Piknis
(mesin
tubuh kecil, tulang kuat)
memiliki
tubuh paling tinggi (Te)
lingkaran dada terbesar (T dan Te)lingkar perut terbesar (T dan Te)lingkar pinggang terbesar (Te)Memiliki ukuran bagian
antero-posterior hepar terbesar (berdasarkan USG abdomen) (Te)Salah satu MK dan PG yang memiliki ukuran ginjal terbesar
(T, Ti dan Te)
Sistim
Sekresi
Intuiting
(I)
Organ
wajah panjang dan tipis-tipis, muka lonjong
Astenis
(tinggi-kurus
seperti pipa)
Ukuran bahu paling tebal (Ii)Tulang belakang terpanjang (Ie)Tulang leher terpanjang (I dan Ie)Lingkar kepala terbesar (I dan Ie)
Lingkar
pinggang terbesar (Ie)
Sistim
Sintesa dan Sistim saraf
Feeling (F)
Organ
wajah besar-besar pada ruang muka luas
(misal:
hidung jambu)
Displastis
(tinggi-besar/kecil-pendek
seperti buah apel)
Ukuran lubang hidung (Fe)Ukuran rongga dada kanan (Fi) dan
rongga dada kiri (F)Panjang bahu (Fe)Tebal bahu (F)
Extremitas
bawah terpanjang (Fe)
Tinggi badan (F)
Angka
lekosit tertinggi (Fe)
Kadar
Eritrosit tertinggi (Fi)
Angka
hematokrit tertinggi (Fe)
Memiliki
ukuran Hepar lobus kanan dan kiri terbesar (F)
Ginjal
superoinferior kanan terbesar (F dan Fe)
Sistim
Pernafasan
Insting (In)
Organ
wajah tajam-tajam/runcing
(misal:
bagian dagu dan bibir bagian bawah lebih menjorok ke depan)
Stenis
(lebar
di bagian bawah seperti buah pir, bahu datar)
Ukuran
telinga terpanjang (MK dan PG)
Ukuran
lubang hidung (MK dan PG)
Berat
badan terbesar (MK)
Eritrosit
tertinggi (MK)
Kadar Hb
tertinggi (MK dan PG)
FEV1/FVC
tertinggi (MK dan PG)
Salah satu MK yang memiliki ukuran lobus
kanan hepar terbesar
Sistim Peredaran Darah
BAB III. METODE PENELITIAN
Penelitian
ini dilakukan dengan metode deskriptif analitik. Masing-masing subyek
penelitian dideskripsikan berdasarkan ciri-ciri fisik dan dominasi organ tubuh
tertentu sesuai dengan hipotesa STIFIn.
Kesesuaian
ciri-ciri fisik dan dominasi organ tubuh tertentu pada masing-masing MK atau PG
menjadi dasar acuan untuk mendekripsikan ciri-ciri fisik MK atau PG tertentu.
BAB IV. TAHAPAN PENELITIAN
Tahapan Penelitian.
Penelitian ini dilakukan dalam 7
tahap sebagai berikut :
Tahap pertama :
menentukan subyek penelitian. Subyek penelitian adalah siswa-siswai SMPN 1
Balikpapan kelas IX (usia 13-14 tahun). Peneliti membuat kriteria subyek
penelitian adalah individu yang berusia 13 sd 14 tahun dengan asumsi subyek
perempuan sudah menstruasi dan subyek laki-laki sudah aqil baligh sebagai
parameter bahwa organ-organ tubuh subyek penelitian sudah tumbuh dengan sempurna.
Siswa-siswi
yang dipilih adalah berasal dari 3 kelas unggulan (IX-11, IX-10, IX-9) dan 3
kelas reguler (IX-8, IX-7, IX-6).
Alasan
memilih 3 kelas unggulan karena peneliti berpendapat bahwa populasi penduduk
Indonesia kebanyakan adalah F maka supaya lebih mudah mencari populasi T, S dan
I dengan prosentase yang seimbang subyek penelitian dicari pada kelompok kelas
unggulan dengan asumsi di kelas unggulan ini mayoritas T, S dan I serta disusul
F dan In.
Kemudian
peneliti menambahkan 3 kelas reguler dengan harapan bisa melengkapi jumlah
peserta sesuai kriteria subyek penelitian serta menambah jumlah F dan In.
Tahap kedua : mencari
subyek penelitian yang terbagi dalam 5 MK dan 9 PG dengan target 90 orang
subyek penelitian dengan harapan mendapatkan 10 orang mewakili masing-masing PG
atau minimal 15-20 orang mewakili masing-masing MK.
Tahap ketiga :
dilakukan pengukuran fisik dan pemeriksaan medis kepada subyek penelitian di
Prodia cabang Balikpapan.
Pengukuran fisik yang
dilakukan meliputi :
Tinggi badan
Berat badan
Lingkar kepala
Lingkar dada
Lingkar perut
Lingkar pinggang
Ukuran lubang hidung
Ukuran panjang
telinga
Panjang wajah
Lebar wajah
Panjang bahu
Tebal bahu
Panjang
tulang leher
Panjang tulang
belakang
Panjang tungkai dari
ujung tulang pinggul sampai dengan mata kaki.
Pemeriksaan medis
yang dilakukan :
Pemeriksaan
hematologi rutin.
Pemeriksaan ini untuk mengukur
kadar Hb, jumlah eritrosit, lekosit,trombosit,hematokrit.
Pemeriksaan rontgen
dada.
Untuk mengukur ukuran rongga
dada, kondisi anatomi paru-paru, ukuran jantung, kondisi anatomi jantung.
Pemeriksaan USG
perut.
Untuk mengukur hepar, ginjal.
Pemeriksaan
spirometri.
Untuk mengukur kapasitas fungsi
paru-paru.
Tahap keempat :
melakukan rekapitulasi hasil pengukuran dan mengelompokkan sesuai dengan MK dan
PG masing-masing.
Tahap kelima :
melakukan analisa hasil pengukuran.
Tahap keenam :
membuat laporan penelitian dan kesimpulan hasil penelitian.
Tahap ketujuh :
presentasi hasil penelitian.
BAB V. SUBYEK PENELITIAN
Subyek
penelitian ini adalah siswa-siswi SMPN 1 Balikpapan kelas IX tahun ajaran
2015-2016. Jumlah subyek penelitian 96 orang yang terbagi dalam 5 MK dan 9 PG.
BAB VI. PELAKSANAAN PENELITIAN
VI. 1. Waktu penelitian.
Penelitian
dilakukan dari tanggal 26 Agustus 2015 s/d 4 Desember 2015 di Laboratorium
Klinik Prodia Balikpapan.
VI. 2. Susunan team peneliti :
Penasehat : Bapak
Farid Poniman.
Ketua
: dr. Hendra Agusswarman Siahaan
Wakil
ketua : Didot Firmanto
Sekretaris : Siti
Lestari
Pengolahan
Data : H.
K. Wardani, SSi.
Bagian
Umum : Kusuma
Djaja Iskandar, M. Raihan D. Siahaan, Agendi
VI. 3. Pelaksanaan penelitian :
a. Tahap pertama tanggal 28 Agustus 2015.
Dilakukan pemilihan
secara acak kepada siswa-siswi kelas unggulan SMPN 1 Balikpapan (kelas IX 11,
IX 10, IX 9) dengan jumlah 70 orang siswa-siswi.
Dilakukan tes STIFIn
kepada siswa SMPN 1 Balikpapan yang berasal dari kelas unggulan tersebut.
Diperoleh 49 orang
peserta yang berhak mengikuti tes tahap berikutnya yaitu pengukuran fisik dan
pemeriksaan medis tgl 28 Agustus 2015 dan 12 orang peserta pd tgl 29 Agustus
2015.
Total peserta 61
orang dari kelas unggulan.
b. Tahap kedua tanggal 3 September 2015.
Dilakukan pemilihan
secara acak kepada siswa-siswi kelas reguler SMPN 1 Balikpapan (kelas IX-8,
IX-7, IX-6) dengan jumlah 70 orang siswa-siswi.
Dilakukan tes STIFIn
kepada sejumlah siswa SMPN 1 Balikpapan yang berasal dari kelas regular
tersebut.
Diperoleh 35 orang
peserta yang berhak mengikuti tes tahap berikutnya yaitu pengukuran fisik dan
pemeriksaan medis.
c. Pelaksanaan pengukuran fisik dan pemeriksaan medis di Laboratorium Klinik Prodia Balikpapan.
d. Rekapitulasi hasil pemeriksaan.
e. Pengolahan data.
f. Pembuatan laporan penelitian.
g. Kesimpulan dan presentasi hasil.
BAB VII. HASIL PENELITIAN DAN ANALISA DATA
ANALISA UKURAN LUBANG HIDUNG
MK
UKURAN LUBANG HIDUNG
S
3.47 cm
T
3.45 cm
I
3.46 cm
F
3.56 cm
In
3.56 cm
Penjelasan
: berdasarkan hasil pengukuran di atas dengan kategori MK untuk lubang hidung
terbesar dimiliki F dan In.
PG
UKURAN LUBANG HIDUNG
Si
3.48 cm
Se
3.46 cm
Ti
3.42 cm
Te
3.48 cm
Ii
3.46 cm
Ie
3.46 cm
Fi
3.55 cm
Fe
3.56 cm
In
3.56 cm
Penjelasan : berdasarkan hasil
pengukuran di atas dengan kategori PG lubang hidung terbesar dimiliki Fe dan
In.
Berdasarkan
data di atas Feeling dan Insting baik secara PG maupun MK
memiliki dominasi untuk ukuran lubang hidung.
ANALISA UKURAN RONGGA DADA
MK
RONGGA DADA KANAN
RONGGA DADA KIRI
S
13.12 CM
13.46
CM
T
13.23 CM
14.17 CM
I
13.90 CM
14.32 CM
F
13.75 CM
14.35 CM
In
13.63 CM
14.00 CM
Penjelasan
: berdasarkan hasil pengukuran di atas dengan kategori MK untuk rongga dada
kanan ukuran terbesar dimiliki oleh I, sedangkan rongga dada kiri ukuran
terbesar adalah F.
PG
RONGGA DADA KANAN
RONGGA DADA KIRI
Si
13.560 cm
13.750 cm
Se
12.670
cm
13.170
cm
Ti
12.840 cm
13.330 cm
Te
14.500 cm
15.000 cm
Ii
13.300 cm
13.800 cm
Ie
14.500 cm
14.830 cm
Fi
14.500 cm
14.700
cm
Fe
13.000 cm
14.000 cm
In
13.630 cm
14.000 cm
Penjelasan
: berdasarkan hasil pengukuran di atas dengan kategori PG untuk rongga dada
kanan ukuran terbesar dimiliki oleh Te, Ie dan Fi, sedangkan rongga dada kiri
ukuran terbesar adalah Te.
Dari data di atas secara MK F dan I sedangkan
secara PG Te, Ie dan Fi mendominasi ukuran rongga dada.
Secara keseluruhan melihat keunggulan di MK dan PG
maka Feeling memiliki dominasi lebih
untuk ukuran rongga dada.
ANALISA PANJANG BAHU
MK
PANJANG BAHU
S
14.38
T
14.14
I
14.09
F
14.36
In
13.88
Penjelasan
: berdasarkan hasil pengukuran di atas dengan kategori MK untuk panjang bahu
terpanjang dimiliki S.
PG
PANJANG BAHU
Si
14.64
Se
14.12
Ti
13.90
Te
14.38
Ii
14.00
Ie
14.18
Fi
14.00
Fe
14.71
In
13.88
Penjelasan
: berdasarkan hasil pengukuran di atas dengan kategori PG untuk panjang bahu
terpanjang dimiliki oleh Fe.
Berdasarkan
data di atas Fe secara PG dan S secara MK memiliki dominasi
untuk ukuran panjang bahu.
ANALISA TEBAL BAHU
MK
TEBAL BAHU
S
16.33
T
16.22
I
16.81
F
16.98
In
16.38
Penjelasan
: berdasarkan hasil pengukuran di atas dengan kategori MK untuk bahu paling tebal dimiliki oleh F.
PG
TEBAL BAHU
Si
16.73
Se
15.92
Ti
17.00
Te
15.44
Ii
18.62
Ie
15.00
Fi
17.00
Fe
16.96
In
16.38
Penjelasan
: berdasarkan hasil pengukuran di atas dengan kategori PG untuk bahu paling tebal dimiliki oleh Ii.
Berdasarkan data di atas Feeling secara MK dan Ii secara PG memiliki dominasi untuk ukuran tebal bahu.
ANALISA TINGGI BADAN
MK
TINGGI BADAN
S
157.89 CM
T
158.46 CM
I
157.95 CM
F
160.63 CM
In
159.69 CM
Penjelasan
: berdasarkan hasil pengukuran di atas dengan kategori MK untuk badan paling tinggi dimiliki oleh F.
PG
TINGGI BADAN
Si
158.80 cm
Se
156.98 cm
Ti
155.11 cm
Te
161.81 cm
Ii
159.85 cm
Ie
156.05 cm
Fi
160.80 cm
Fe
160.46 cm
In
159.69 cm
Penjelasan
: berdasarkan hasil pengukuran di atas dengan kategori PG untuk badan paling tinggi dimiliki oleh Te.
Berdasarkan data di atas Feeling secara MK dan Te secara PG memiliki dominasi untuk ukuran tinggi badan.
ANALISA BERAT BADAN
MK
BERAT BADAN
S
50.75 kg
T
53.38 kg
I
53.45 kg
F
53.16 kg
In
54.53 kg
Penjelasan
: berdasarkan hasil pengukuran di atas dengan kategori MK untuk badan paling berat dimiliki oleh In.
PG
BERAT BADAN
Si
53.25 kg
Se
48.24 kg
Ti
48.01 kg
Te
58.74 kg
Ii
56.45 kg
Ie
50.53 kg
Fi
51.96 kg
Fe
54.67 kg
In
54.53 kg
Penjelasan
: berdasarkan hasil pengukuran di atas dengan kategori PG untuk badan paling berat dimiliki oleh Te.
Berdasarkan data di atas In secara MK dan Te secara PG memiliki dominasi untuk ukuran berat badan.
ANALISA DENYUT NADI
MK
DENYUT NADI
S
73.77
T
75.23
I
76.31
F
75.94
In
76.38
Penjelasan
: berdasarkan hasil pengukuran di atas dengan kategori MK untuk denyut nadi tertinggi dimiliki oleh In.
PG
DENYUT NADI
Si
70.45
Se
77.08
Ti
73.20
Te
77.25
Ii
74.62
Ie
78.00
Fi
74.70
Fe
77.17
In
76.38
Penjelasan
: berdasarkan hasil pengukuran di atas dengan kategori PG untuk denyut nadi tertinggi dimiliki oleh Ie.
Berdasarkan data di atas In secara MK dan Ie secara PG memiliki dominasi untuk ukuran denyut nadi.
ANALISA UKURAN TELINGA
MK
UKURAN TELINGA
S
5.82
T
5.86
I
6.04
F
5.95
In
6.25
Penjelasan
: berdasarkan hasil pengukuran di atas dengan kategori MK untuk ukuran telinga terpanjang dimiliki oleh In.
PG
UKURAN TELINGA
Si
5.86
Se
5.77
Ti
5.70
Te
6.01
Ii
6.08
Ie
6.00
Fi
6.07
Fe
5.83
In
6.25
Penjelasan
: berdasarkan hasil pengukuran di atas dengan kategori PG untuk ukuran telinga terpanjang dimiliki oleh In.
Berdasarkan data di atas In secara MK dan PG memiliki dominasi untuk ukuran panjang telinga.
ANALISA LINGKAR DADA
MK
LINGKAR DADA
S
79.90
T
83.36
I
82.26
F
81.68
In
81.56
Penjelasan
: berdasarkan hasil pengukuran di atas dengan kategori MK untuk lingkar dada
terbesar dimiliki oleh T.
PG
LINGKAR DADA
Si
81.95
Se
77.85
Ti
79.40
Te
87.75
Ii
83.42
Ie
81.09
Fi
80.47
Fe
82.88
In
81.56
Penjelasan : berdasarkan hasil
pengukuran di atas dengan kategori PG untuk lingkar dada terbesar dimiliki oleh
Te.
Berdasarkan
data di atas T secara MK dan Te secara
PG memiliki dominasi untuk ukuran lingkar
dada.
ANALISA LINGKAR PERUT
MK
LINGKAR PERUT
S
73.20
T
76.50
I
75.64
F
75.72
In
76.06
Penjelasan
: berdasarkan hasil pengukuran di atas dengan kategori MK untuk lingkar perut
terbesar dimiliki T.
PG
LINGKAR PERUT
Si
76.09
Se
70.31
Ti
72.55
Te
80.44
Ii
78.50
Ie
72.77
Fi
75.35
Fe
76.08
In
76.06
Penjelasan
: berdasarkan hasil pengukuran di atas dengan kategori PG untuk lingkar perut
terbesar dimiliki Te.
Berdasarkan
data di atas T secara MK dan Te secara
PG memiliki dominasi untuk ukuran lingkar
perut.
ANALISA LINGKAR PINGGANG
MK
LINGKAR PINGGANG
S
81.86
T
84.15
I
83.20
F
83.67
In
84.3 8
Penjelasan
: berdasarkan hasil pengukuran di atas dengan kategori MK untuk lingkar
pinggang terbesar dimiliki In.
PG
LINGKAR PINGGANG
Si
83.94
Se
79.77
Ti
81.05
Te
87.25
Ii
86.85
Ie
79.55
Fi
83.80
Fe
83.54
In
84.38
Penjelasan
: berdasarkan hasil pengukuran di atas dengan kategori PG untuk lingkar
pinggang terbesar dimiliki Te.
Berdasarkan data di atas In secara MK dan Te secara PG memiliki dominasi untuk ukuran lingkar pinggang.
ANALISA PANJANG TULANG BELAKANG
MK
PANJANG TULANG BELAKANG
S
57.53
T
57.98
I
58.73
F
59.38
In
59.00
Penjelasan
: berdasarkan hasil pengukuran di atas dengan kategori MK untuk tulang belakang
terpanjang dimiliki F.
PG
PANJANG TULANG BELAKANG
Si
55.82
Se
59.23
Ti
54.70
Te
61.25
Ii
55.23
Ie
62.23
Fi
58.45
Fe
60.30
In
59.00
Penjelasan
: berdasarkan hasil pengukuran di atas dengan kategori PG untuk tulang belakang
terpanjang dimiliki Ie.
Berdasarkan data di atas F secara MK dan Ie secara PG memiliki dominasi untuk ukuran tulang belakang.
ANALISA PANJANG TULANG LEHER
MK
PANJANG TULANG LEHER
S
9.13
T
8.61
I
11.92
F
9.27
In
9.25
Penjelasan
: berdasarkan hasil pengukuran di atas dengan kategori MK untuk tulang
leher terpanjang dimiliki I.
PG
PANJANG TULANG LEHER
Si
9.49
Se
8.77
Ti
9.00
Te
8.21
Ii
8.46
Ie
15.38
Fi
9.45
Fe
9.08
In
9.25
Penjelasan
: berdasarkan hasil pengukuran di atas dengan kategori PG untuk tulang
leher terpanjang dimiliki Ie.
Berdasarkan data di atas I secara MK dan Ie secara PG memiliki dominasi untuk ukuran tulang leher.
ANALISA PANJANG TUNGKAI BAWAH
MK
PANJANG TUNGKAI BAWAH
S
91.80
T
92.92
I
89.58
F
92.00
In
93.25
Penjelasan
: berdasarkan hasil pengukuran di atas dengan kategori MK untuk tungkai
bawah terpanjang dimiliki In.
PG
PANJANG TUNGKAI BAWAH
Si
92.64
Se
90.96
Ti
91.20
Te
94.63
Ii
90.38
Ie
88.77
Fi
88.80
Fe
95.21
In
93.25
Penjelasan
: berdasarkan hasil pengukuran di atas dengan kategori PG untuk tungkai
bawah terpanjang dimiliki Fe.
Berdasarkan data di atas In secara MK dan Fe secara PG memiliki dominasi untuk ukuran panjang tungkai bawah.
ANALISA LINGKAR KEPALA
MK
LINGKAR KEPALA
S
54.49
T
54.38
I
54.58
F
54.41
In
54.19
Penjelasan
: berdasarkan hasil pengukuran di atas dengan kategori MK untuk lingkar kepala
terbesar dimiliki I.
PG
LINGKAR KEPALA
Si
54.36
Se
54.62
Ti
54.20
Te
54.56
Ii
54.38
Ie
54.77
Fi
54.18
Fe
54.64
In
54.19
Penjelasan
: berdasarkan hasil pengukuran di atas dengan kategori PG untuk lingkar kepala
terbesar dimiliki Ie.
Berdasarkan data di atas I secara MK dan Ie secara PG memiliki dominasi untuk ukuran lingkar kepala.
ANALISA PANJANG WAJAH
MK
PANJANG WAJAH
S
19.99
T
19.30
I
19.60
F
19.30
In
19.81
Penjelasan
: berdasarkan hasil pengukuran di atas dengan kategori MK untuk ukuran wajah terpanjang
dimiliki S.
PG
PANJANG WAJAH
Si
19.97
Se
20.00
Ti
18.90
Te
19.69
Ii
19.62
Ie
19.59
Fi
19.53
Fe
19.08
In
19.81
Penjelasan
: berdasarkan hasil pengukuran di atas dengan kategori PG untuk ukuran wajah
terpanjang dimiliki Se.
Berdasarkan data di atas S secara MK dan Se secara PG memiliki dominasi untuk ukuran panjang wajah.
ANALISA LEBAR WAJAH
MK
LEBAR WAJAH
S
25.21
T
26.08
I
25.97
F
25.89
In
26.56
Penjelasan
: berdasarkan hasil pengukuran di atas dengan kategori MK untuk ukuran wajah
terlebar dimiliki In.
PG
LEBAR WAJAH
Si
26.00
Se
24.42
Ti
25.90
Te
26.25
Ii
25.88
Ie
26.06
Fi
25.45
Fe
26.33
In
26.56
Penjelasan
: berdasarkan hasil pengukuran di atas dengan kategori PG untuk ukuran wajah
terlebar dimiliki In.
Berdasarkan data di atas In secara MK dan PG memiliki dominasi untuk ukuran lebar wajah.
ANALISA UKURAN JANTUNG
MK
UKURAN JANTUNG
S
10.99
T
12.92
I
11.35
F
11.98
In
11.63
Penjelasan
: berdasarkan hasil pengukuran di atas dengan kategori MK untuk ukuran jantung
terbesar dimiliki T.
PG
UKURAN JANTUNG
Si
11.31
Se
10.67
Ti
11.33
Te
14.5
Ii
10.7
Ie
12.00
Fi
12.2
Fe
11.75
In
11.63
Penjelasan
: berdasarkan hasil pengukuran di atas dengan kategori PG untuk ukuran jantung
terbesar dimiliki Te.
Berdasarkan data di atas T secara MK dan Te secara PG
memiliki dominasi untuk ukuran jantung.
ANALISA HEPAR
MK
LOBUS KANAN
LOBUS KIRI
S
9.88
5.70
T
10.64
6.46
I
9.73
6.25
F
10.71
7.91
In
10.71
6.42
Penjelasan
: berdasarkan hasil pengukuran di atas dengan kategori MK untuk ukuran lobus
kanan hepar terbesar dimiliki F dan In, sedangkan untuk lobus kiri dimiliki
oleh F.
PG
LOBUS KANAN
LOBUS KIRI
Si
9.65
6.06
7.86
Se
10.10
5.33
7.72
Ti
10.08
7.30
8.69
Te
11.20
5.62
8.41
Ii
9.31
5.95
7.63
Ie
10.14
6.55
8.35
Fi
11.05
7.80
9.45
Fe
10.37
8.02
9.20
In
10.71
6.42
8.57
Penjelasan
: berdasarkan hasil pengukuran di atas dengan kategori PG untuk ukuran lobus
kanan hepar terbesar dimiliki Te, sedangkan untuk lobus kiri dimiliki oleh Fe.
Berdasarkan data di atas F secara MK dan Te serta Fe
secara PG memiliki dominasi untuk ukuran hepar.
ANALISA UKURAN GINJAL
MK
SUPEROINFERIOR KANAN
SUPEROINFERIOR KIRI
ANTEROPOSTERIOR KANAN
ANTEROPOSTERIOR KIRI
S
9.33
9.36
3.85
4.67
T
9.26
7.58
4.73
4.79
I
9.1
9.88
4.22
5.06
F
9.38
9.64
3.99
4.9
In
8.85
8.85
3.84
4.59
Penjelasan
: berdasarkan hasil pengukuran di atas dengan kategori MK untuk ukuran lobus :
Superoinferior kanan
: F
Superoinferior kiri :
I
Anteroposterior kanan
: T
Anteroposterior kiri
: I
PG
SUPEROINFERIOR KANAN
SUPEROINFERIOR KIRI
ANTEROPOSTERIOR KANAN
ANTEROPOSTERIOR KIRI
Si
9.41
9.16
4.40
5.12
Se
9.24
9.55
3.30
4.21
Ti
9.42
10.09
4.70
4.52
Te
9.10
5.06
4.75
5.05
Ii
9.21
9.94
4.33
4.45
Ie
8.99
9.82
4.11
5.67
Fi
8.78
9.20
4.29
5.09
Fe
9.97
10.08
3.68
4.71
In
8.85
8.85
3.84
4.59
Penjelasan
: berdasarkan hasil pengukuran di atas dengan kategori PG untuk ukuran lobus :
Superoinferior kanan
: Fe
Superoinferior kiri :
Ti
Anteroposterior kanan
: Te
Anteroposterior kiri
: Ie
Berdasarkan data di atas terdapat variasi dominasi
beberapa MK dan PG untuk dominasi untuk
ukuran Ginjal.
Secara umum bisa diasumsikan bahwa T memiliki dominasi untuk ukuran ginjal.
ANALISA SPIROMETRI
MK
VC
FVC
FEV1
FEV1/FVC
S
84.14
78.43
80.21
101.95
T
79.95
70.60
69.79
98.93
I
93.13
85.21
83.62
97.59
F
88.60
80.07
82.02
102
In
77.98
73.94
75.67
104.67
Penjelasan
: berdasarkan hasil pengukuran di atas dengan kategori MK untuk angka
spirometri tertinggi dimiliki :
VC : I
FVC : I
FEV1 : I
FEV1/FVC : In
PG
VC
FVC
FEV1
FEV1/FVC
Si
83.62
85.02
85.14
99.34
Se
84.65
71.84
75.28
104.56
Ti
85.90
75.83
72.05
95.77
Te
74.00
65.38
67.53
102.09
Ii
93.11
85.34
84.70
98.70
Ie
93.14
85.07
82.53
96.48
Fi
85.20
79.31
82.56
103.43
Fe
92.00
80.82
81.48
100.57
In
77.98
73.94
75.67
104.67
Penjelasan
: berdasarkan hasil pengukuran di atas dengan kategori PG untuk angka
spirometri tertinggi dimiliki :
VC : Ie
FVC : Ii
FEV1 : Si
FEV1/FVC : In
Berdasarkan data di atas maka I secara MK dan PG mendominasi hasil pengukuran kapasitas paru.
Keterangan:
VC : Vital Capacity: volume
udara yang dapat dikeluarkan dengan ekspirasi maksimum setelah inspirasi
maksimum. Atau jumlah udara maksimum pada seseorang yang berpindah pada satu
tarikan napas.
FVC : Forced Vital
Capacity = Kapasitas Vital Paksa = Adalah VC yang diukur persatuan waktu.
FEV1 : Forced Expiratory Volume1
(FEV1) adalah volume udara yang dapat dikeluarkan dengan ekspirasi maksimun per
satuan detik (detik pertama)
FEV1/FVC : volume udara yang dapat
dikeluarkan dengan ekspirasi maksimun per satuan detik (detik pertama)
dibandingkan dengan volume
udara yang dapat dikeluarkan dengan ekspirasi maksimum setelah inspirasi
maksimum. Atau jumlah udara maksimum pada seseorang yang berpindah pada satu
tarikan napas per satu satuan waktu.
ANALISA HEMATOLOGI
HEMOGLOBIN (Hb)
MK
Hb
S
14.07
T
13.45
I
13.36
F
14.19
In
14.38
Penjelasan
: berdasarkan hasil pengukuran di atas dengan kategori MK untuk kadar Hb
tertinggi dimiliki In.
PG
Hb
Si
13.91
Se
14.22
Ti
13.36
Te
13.53
Ii
13.42
Ie
13.78
Fi
14.11
Fe
14.27
In
14.38
Penjelasan
: berdasarkan hasil pengukuran di atas dengan kategori PG untuk kadar Hb
tertinggi dimiliki In.
Berdasarkan data di atas maka In secara MK dan PG memiliki kadar Hb tertinggi.
ANALISA LEKOSIT
MK
LEKOSIT
S
9.127
T
8.914
I
9.206
F
8.906
In
9.225
Penjelasan
: berdasarkan hasil pengukuran di atas dengan kategori MK untuk angka lekosit
tertinggi dimiliki In.
PG
LEKOSIT
Si
9.282
Se
8.972
Ti
8.805
Te
9.023
Ii
8.849
Ie
9.563
Fi
8.232
Fe
9.579
In
9.225
Penjelasan
: berdasarkan hasil pengukuran di atas dengan kategori PG untuk angka lekosit
tertinggi dimiliki Fe.
Berdasarkan data di atas maka In secara MK dan Fe secara PG memiliki kadar Lekosit tertinggi.
ANALISA ERITOSIT
MK
ERITROSIT
S
4.995
T
4.884
I
4.913
F
5.076
In
5.116
Penjelasan
: berdasarkan hasil pengukuran di atas dengan kategori MK untuk angka eritrosit
tertinggi dimiliki In.
PG
ERITROSIT
Si
4.970
Se
5.020
Ti
4.852
Te
4.915
Ii
4.970
Ie
4.856
Fi
5.127
Fe
5.025
In
5.116
Penjelasan
: berdasarkan hasil pengukuran di atas dengan kategori PG untuk angka eritrosit
tertinggi dimiliki Fi.
Berdasarkan data di atas maka In secara MK dan Fi secara PG memiliki kadar Lekosit tertinggi.
ANALISA TROMBOSIT
MK
TROMBOSIT
S
397.250
T
286.150
I
362.950
F
356.050
In
236.200
Penjelasan
: berdasarkan hasil pengukuran di atas dengan kategori MK untuk angka trombosit
tertinggi dimiliki S.
PG
TROMBOSIT
Si
347.800
Se
446.700
Ti
317.300
Te
255.000
Ii
413.600
Ie
312.300
Fi
296.200
Fe
415.900
In
236.200
Penjelasan
: berdasarkan hasil pengukuran di atas dengan kategori PG untuk angka trombosit
tertinggi dimiliki Se.
Berdasarkan data di atas maka S secara MK dan Se secara PG memiliki kadar Trombosit tertinggi.
BAB
VIII. ANALISA HASIL BERDASARKAN MK
MK FEELING
F MEMILIKI DOMINASI SISTIM RESPIRASI (PERNAFASAN)
Berdasarkan data yang diperoleh
dari penelitian ini maka dapat digambarkan bahwa F memiliki kelebihan dalam :
Ukuran lubang hidung
(Fe)
Ukuran rongga dada
kanan (Fi) dan rongga dada kiri (F)
Panjang bahu (Fe)
Tebal bahu (F)
Extremitas bawah
terpanjang (Fe)
Tinggi badan (F)
Angka lekosit
tertinggi (Fe)
Kadar Eritrosit
tertinggi (Fi)
Angka hematokrit
tertinggi (Fe)
Memiliki
ukuran Hepar lobus kanan dan kiri terbesar (F)
Ginjal superoinferior
kanan terbesar (F dan Fe)
Kondisi di atas membuat F
memiliki dominasi dalam sistim pernafasan. Ukuran lubang hidung yang besar
memudahkan udara (oksigen) masuk dalam jumlah besar ditopang dengan ukuran
paru-paru yang cukup besar sehingga memungkinkan penyimpanan oksigen dalam
jumlah banyak.
Untuk menunjang fungsi di atas
maka F diberikan tanda fisik selain ukuran hidung dan rongga dada yang besar yaitu
bahu yang panjang dan tebal.
F juga memiliki kelebihan fisik
lain yaitu extremitas bawah (panjang kaki dari pinggul ke mata kaki) dengan
ukuran paling panjang. Hal ini membantu F untuk memaksimalkan tubuh yang tinggi
untuk mendapatkan udara lebih banyak.
Tulang yang panjang membuat
sum-sum tulang F mampu memproduksi sel-sel darah dalam jumlah banyak terutama
sel darah putih (lekosit). F memiliki jumlah lekosit (sel darah putih) paling
tinggi (dalam batas normal) sehingga F memiliki sistim pertahanan tubuh melalui
sel darah putih paling bagus.
F juga memiliki jumlah eritrosit
(sel darah merah) dan hematokrit paling tinggi (dalam batas normal) sehingga F
memiliki volume sel darah merah cukup banyak dimana eritrosit membawa nutrisi
dan oksigen ke seluruh tubuh.
Sebagai salah satu MK yang
memiliki ukuran hepar paling besar membuat F mampu memproduksi sel-sel darah
dan mensintesa seluruh komponen dari darah yang diolah di hati serta memiliki
kemampuan metabolisme racun-racun dalam tubuh dengan baik.
F memiliki kelebihan dalam ukuran
ginjal, hal ini sangat mendukung F dalam melakukan membersihkan darah dari
sisa-sisa metabolisme dan racun ke luar tubuh melalui urine.
MK THINKING sekresi
T memiliki beberapa kelebihan
berdasarkan penelitian di atas, yaitu :
memiliki tubuh paling
tinggi (Te)
berat badan paling
berat (T dan Te)
lingkaran dada
terbesar (T dan Te)
lingkar perut terbesar
(T dan Te)
lingkar pinggang
terbesar (Te)
Ukuran jantung
terbesar (T dan Te)
Memiliki ukuran
bagian antero-posterior hepar terbesar (berdasarkan USG abdomen) (Te)
Salah satu MK dan PG yang memiliki ukuran ginjal terbesar
(T, Ti dan Te).
Kelebihan
postur di atas membuat T layak dinobatkan menjadi pemimpin/komandan yang
memiliki wibawa untuk memimpin anak buahnya.
Memiliki
jantung dengan ukuran paling besar membuat T
Sebagai
salah satu MK yang memiliki ukuran Hepar terbesar membuat T mampu menetralisir
racun-racun di dalam tubuh dengan cepat.
Ukuran
ginjal yang besar membuat T memiliki kecepatan membersihkan darah dari
racun-racun sisa metabolisme dalam tubuh.
MK INTUITING
I
memiliki keunggulan sebagai berikut :
Ukuran bahu paling tebal (Ii)
Merupakan salah satu
PG yg memiliki ukuran rongga paru kanan terbesar (I)
Hasil spirometri SVC,
FVC DAN FEV1 tertinggi untuk kategori MK I
Ukuran spirometri
tertinggi kategori PG :FVC tertinggi (Ii),
SVC (Ie)
Denyut nadi tertinggi
(Ie)
Tulang belakang terpanjang
(Ie)
Tulang leher
terpanjang (I dan Ie)
Lingkar kepala
terbesar (I dan Ie)
Lingkar pinggang
terbesar (Ie)
Memiliki
kadar lekosit dan trombosit yang cukup tinggi di dalam darah.
MK SENSING
S
memiliki keunggulan dalam :
Hasil spirometri FEV1
tertinggi Si
Ukuran wajah
terpanjang menurut garis vertical (S dan Se)
Angka Trombosit
tertinggi (S dan Se)
MK INSTING
In memiliki dominasi dalam :
Ukuran telinga
terpanjang (MK dan PG)
Ukuran wajah terlebar
secara horizontal (MK dan PG)
Ukuran lubang hidung
(MK dan PG)
Berat badan terbesar
(MK)
Eritrosit tertinggi
(MK)
Kadar Hb tertinggi
(MK dan PG)
FEV1/FVC tertinggi
(MK dan PG)
Salah satu MK yang memiliki ukuran lobus kanan
hepar terbesar
BAB
IX. KESIMPULAN
Dari
data-data tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa sebagian besar temuan
karakteristik fisik dalam penelitian ini sesuai dengan ciri-ciri umum fisik STFIn.
ANALISA
PENELITI
Mencermati
hasil penelitian dan mencoba menghubungkan dengan hipotesa STIFIn maka peneliti
menyimpulkan bahwa perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dan peneliti
mengusulkan dominasi organ dijelaskan dengan konsep sebagai berikut :
Sensing memiliki dominasi pada sistim pencernaan.
Thinking memiliki dominasi pada sistim ekskresi.
Intuiting memiliki dominasi pada sistim sintesa dan saraf.
Feeling memiliki dominasi pada sistim pernafasan.
Insting memiliki dominasi pada sistim sirkulasi darah dan kesimbangan tubuh (kesimpulan berdasarkan letak mesin kecerdasan In yang berada di otak tengah yang merupakan pusat keseimbangan).
This research is expected to give a new view on the relationship of personality to job performance which is the results of previous research that using the MBTI personality type and “The Big Five Personality” provides a review of inconsistent results.
The STIFIn personality type (Sensing, Thinking, Intuiting, Feeling and Insting), the personality type was conceptualized by Poniman (2010) using an analytical psychology approach pioneered by Jung (1946), the theory of The Whole Brain Concept from Ned Herrmann (1989) and the Triune Brain theory Paul McLean’s (1990) development has been used extensively in various fields of life.
This study comprehensively investigates the effect of the practice of human resource management based on STIFIn personality (HR STIFIn) on job performance. The results of the study found a significant effect on the practice of STIFIn based HR Management, namely selection and retention, on job performance. The sampling technique in this study used purposive sampling with a sample size of 50 (response 50% rate). Data collection was done by distributing questionnaires using a 5-point Likert scale. The first proposed research framework and partial least square – structural equation modeling (PLS-SEM) were used to test the research framework.
From the results of model 1 analysis, it is found that selection, retention, task performance, and contextual performance are related to each other. Likewise with the indicators of each exogenous and endogenous variable has a significant effect.
Subsequent research can be done with a larger number of respondents so that they can see the influence of demographic factors of each intelligence machine on the relationship between HR STIFIn practices and Job performance.
Pendahuluan
Tantangan perusahaan untuk meraih keunggulan bersaing (competitive advantage) adalah konsistensinya dalam meningkatkan kinerja perusahaan. Michael Porter (1985) memberikan perspektif bahwa pengelolaan sumber daya manusia bisa mewakili sumber keunggulan kompetitif perusahaan karena bisa meraih dan mengembangkan karyawan yang lebih efektif dari pada pesaing.
Karyawan terbaik bisa menciptakan keunggulan bersaing perusahaan baik dalam kegiatan utama maupun pada aktivitas pendukung rantai nilai (value chain) perusahaan. Keunggulan bersaing sebagian besar berasal dari sumber daya manusia perusahaan (Pfeffer, 1994), penelitian M.J. Koch dan R.G. McGrath (1996) menunjukkan adanya hubungan yang nyata dan signifkan antara pengelolaan sumber daya manusia organisasi dengan produktivitas karyawannya.
Jean Marie Hiltrop (1996) menyatakan adanya bukti yang konsisten bahwa kebijakan dan praktik HRM dari sebuah organisasi memiliki pengaruh yang kuat dalam memotivasi karyawan untuk menunjukkan jenis sikap dan perilaku yang dibutuhkan untuk mendukung dan menerapkan strategi persaingan suatu organisasi.
Sistem dan praktik MSDM harus mampu mendorong dan meningkatkan kinerja pekerjaan (job performance) yang didefinisikan Campbell (1993) sebagai perilaku individu (individual behavior) yang relevan atau sejalan dengan tujuan perusahaan.
Boudreau & Ramstad (2005) mengemukakan hasil penelitiannya bahwa keberhasilan organisasi sekarang bergantung pada bagaimana mempertahankan orang-orang dan sejalan dengan dampak globalisasi yang terus meningkat, semakin dibutuhkan karyawan-karyawan berbakat.
Secara teoritis, Jackson & Schuler (1995) dan Lado & Wilson (1994), serta penelitian empiris HRM lainnya, diantaranya Huselid (1995) dan MacDuffie ( 1995) telah memberikan bukti bahwa metode yang digunakan oleh perusahaan untuk mengelola tenaga kerjanya memiliki dampak positif pada kinerja perusahaan, seperti juga hasil penelitian Becker & Huselid (1998), Delery & Shaw (2001), dan Wright & Boswell (2002).
Beberapa penelitian telah mengklarifikasi kegunaan menggunakan variabel kepribadian untuk memprediksi kinerja pekerjaan. Glaister (2016) memberikan bukti adanya fungsi mediasi talent management pada hubungan HRM dengan kinerja perusahaan.
Penelitian lain (Barrick & Mount, 1991; Hough, 1992; Salgado, 1997; Tett, Jackson, & Rothstein, 1991) telah menunjukkan bahwa konstruksi personality memang terkait dengan kinerja kerja (job performance). Namun, sangat sedikit penelitian yang meneliti mekanisme di mana sifat kepribadian mempengaruhi kinerja.
Penelitian sebelumnya yang menggunakan tipe kerpibadian MBTI dan “The Big Five Personality” pada hubungan kepribadian (personality) dengan kinerja pekerjaan (job performance) memberikan tinjauan hasil yang tidak konsisten. Penelitian ini secara komprehensif menyelidiki pengaruh praktik manajemen sumber daya manusia berbasis kepribadian STIFIn (HR STIFIn) terhadap kinerja pekerjaan (job performance).
Tipe kepribadian STIFIn (Sensing, Thinking, Intuiting, Feeling dan Insting) yang dikonsepsikan oleh Poniman (2010) dengan menggunakan pendekatan psikologi analitis yang dipelopori oleh Jung (1946), teori The Whole Brain Concept dari Ned Herrmann (1989) dan teori Triune Brain yang dikembangkan Paul McLean (1990) telah digunakan secara luas di berbagai bidang kehidupan.
Tipe Kepribadian dan Kinerja Pekerjaan
Jika perusahaan mengatur karyawannya sesuai dengan tipe kepribadian mereka dan potensi kemampuan mereka, produktivitas dan kualitas dapat ditingkatkan. Penelitian jenis kepribadian MBTI terus dilakukan sebagai prediktor terhadap kinerja pekerjaan, nampaknya cukup banyak pengaruhnya (Cunha, 2007), seperti juga penelitian Borg (1996) dengan menggunakan tipe kepribadian MBTI menunjukkan hasil bahwa tipe kepribadian memiliki pengaruh penting pada keberhasilan siswa.
Siswa yang tipe temperamennya cocok dengan temperamen instruktur kelas secara signifikan lebih baik hasil kinerjanya daripada siswa yang tipe temperamennya tidak cocok dengan instruktur. Demikian pula Bradely (1997) dan Mazni et al., (2010) memberikan bukti bahwa tipe kepribadian merupakan faktor penting dalam kinerja tim yang sukses.
Organisasi yang ingin mengembangkan tim yang efektif perlu menganalisis komposisi tipe kepribadian dari kelompok-kelompok ini dan membantu anggota tim memahami atribut pribadi mereka sendiri serta menghargai kontribusi dari anggota tim lainnya.
Namun pada penelitian lain yang dilakukan dengan berbeda budaya, seperti yang dilakukan oleh Furnham (1993), kepribadian MBTI gagal menghasilkan korelasi besar terhadap kinerja. MBTI tampaknya tidak terkait dengan ukuran kinerja manajemen yang kuat dan multi-faktorial.
Demikian pula dengan konsep kepribadian “The Big-Five Personality”, meskipun beberapa literatur membuktikan kepribadian “The Big Five” sebagai prediktor kinerja pekerjaan (job performance) (Bhatti, et al., 2013), namun oleh beberapa peneliti bahwa ukuran-ukuran kepribadian tidak memprediksi kinerja pekerjaan secara konsisten.
Seperti Barrick dan Mount (1991) dan Hurtz & Donovan (2000) yang meneliti hubungan kepribadian “The Big Five” dengan kinerja pekerjaan (job performance), menemukan hanya satu dimensi yaitu ketelitian (conscientiousness) yang berhubungan secara konsisten dengan kinerja pekerjaan (job performance).
Ada dugaan yang diajukan pada kedua konsep dan teori kepribadian tersebut bahwa pengukuran terhadap dimensi kepribadian menggunakan atribut perilaku yang bisa berubah-ubah dan bisa terbentuk oleh faktor lingkungan dimana seseorang hidup dan berinteraksi.
Konsep tipe kepribadian STIFIn (STIFIn personality) yang dikembangkan oleh Poniman (2009) dan juga merupakan aliran Jungian, menggunakan pedekatan secara otentik keterhubungan fungsi dan cara kerja otak secara alamiah dengan tindakan dan perilaku manusia yang bisa diukur dengan alat test genetika, seperti tes sidik jari, test DNA maupun test retina.
Beberapa penelitian yang dilakukan oleh Rafianti, et al., (2017), Mundiri (2017), Arifin (2017), dan Alindra (2018) telah membuktikan penggunaan kepribadian STIFIn secara konsisten bisa menghasilkan kinerja pekerjaan yang lebih baik.
Secara khusus, Poniman dan Hadiyat (2015) dalam bukunya Manajemen HR STIFIn memberikan proposisi hasil pengamatan dan pengalaman selama beberapa tahun sebagai praktisi HR, yaitu adanya pengaruh positif praktik Manajemen HR dengan menggunakan skema tipe kepribadian STIFIn dalam meningkatkan produktivitas karyawan.
Seseorang yang bekerja pada bidang apapun yang sesuai dengan cara kerja mesin kecerdasannya, akan merasa nyaman dan bisa memberikan produktivitas secara terus menerus dan lebih konsisten. Penelitian ini akan menguji proposisi tersebut yaitu bagaimana pengaruh penerapan praktik manajemen HR STIFIn terhadap kinerja karyawan.
Tinjauan Literatur
Konsep Tipe Kepribadian STIFIn
Orang-orang di perusahaan adalah kunci keberhasilan untuk pencapaian visi dan strategi perusahaan. Manusia adalah subyek yang memiliki potensi dasar dan karakternya yang dibawa sejak lahir yang akan menentukan produktivitas individual dan secara agregrat akan menentukan produktivitas perusahaan.
Ned Hermann dalam jurnalnya “The Creative Brain” tahun 1989 tentang konsep kuadran otak menjelaskan indikasi adanya karakteristik otak yang berdampak pada cara berfikir dan cara belajar. Otak sangat lunak yang hampir tidak ada kendala yang melekat. Keseluruhan otak memiliki akses ke masing-masing belahan otak dan sebagian dari otak dominan menentukan preferensi cara berfikir dan belajar.
Konsep kepribadian STIFIn fokus hanya pada satu mesin kecerdasan dominan saja, Konsep STIFIn Personality merujuk pada pandangan pakar psikologi analitis Carl Gustav Jung (1946), seorang ahli Psikologi Analitik, menyatakan bahwa diantara semua fungsi dasar manusia atau mesin kecerdasan hanya ada satu yang dominan.
Menurut Jung, fungsi dasar kepribadian manusia terbagi dalam empat jenis yaitu; fungsi penginderaan (Sensing, disingkat S), fungsi pikiran (Thinking disingkat T), fungsi perasaan (Feeling disingkat F), fungsi intuisi (Intuiting disingkat I), dan dalam Konsep STIFIn Personality (Poniman, 2009) ditambahkan adanya mesin kecerdasan Insting, disingkat In, yaitu fungsi naluriah dan spiritualitas.
Dari penelitian yang telah dilakukan selama 5 (lima) tahun yaitu pada tahun 2006 sampai dengan tahun 2010, tentang kecerdasan manusia, memberikan tesis bahwa setiap orang memiliki kecerdasan dominan tunggal yang dibawa semenjak lahir (Poniman, 2009).
Konsepnya bersandar secara ilmiah kepada pendekatan psikologi analitis yang dipelopori oleh Jung (1989), dikompilasi dengan teori The Whole Brain Concept dari Ned Herrmann dan teori Triune Brain yang dikembangkan Paul McLean.
Paradigma awal yang digunakan adalah psikologi analitis. Penempaan manusianya sendiri menggunakan pendekatan keperilakuan yang humanis. Manusia dianggap memiliki potensi genetis yang sudah luar biasa. Ketika potensi ini mendapat lingkungan dan tempaan yang tepat serta terencana, maka hasil yang keluar pada akhirnya akan menjadi ekstra luar biasa.
Tabel 1.
Kecerdasan Otak dan Tipe Kepribadian
Fungsi
DasarCarl
Gustav Jung
Jenis
KecerdasanNed
Herrman
Strata
Otak TriunePaul
MacLean
Tipe
Kepribadian STIFIn
Sensing
Limbik
Kiri
Otak
Mamalia
Sensisng
Thinking
Neokortek
Kiri
Otak
Insani
Thinking
Intuiting
Neokortek
Kanan
Otak
Insani
Intuiting
Feeling
Limbik
Kanan
Otak
Mamalia
Feeling
‒
‒
Otak
Reptilia
Insting
Sumber: Poniman (2009)
Proposisi yang diajukan (Poniman, 2009) bahwa keempat fungsi dasar Jung tersebut jika dikaitkan dengan teori pemikiran kreatif Ned Herrman tentang kuadran otak, maka keempat fungsi dasar tersebut tidak lain merupakan karakter kepribadian yang kekal, tidak berubah, yang bersumber dari belahan otak yang paling sering digunakan.
Kuadran otak besar kiri (neokortek kiri) merupakan kecerdasan sekaligus karakter kepribadian Thinking (T). Otak besar kanan (neokortek kanan) merupakan kecerdasan Intuiting (I). Kuadran otak kecil kiri (limbik kiri) merupakan kecerdasan sekaligus karakter kepribadian Sensing (S). Otak kecil kanan (limbik kanan) merupakan kecerdasan sekaligus karakter kepribadian Feeling (F).
Dengan demikian maka fungsi dasar Jung mempunyai kesamaan dengan kuadran otak Ned Herrman. Sementara itu, kecerdasan kelima yaitu Insting muncul dikarenakan ada yang tidak cenderung ke salah satu dari empat kategori karakter kepribadian yang ditawarkan Jung dan Ned Herrman ataupun peneliti-peneliti lainnya.
Kecenderungan ini dominan menggunakan belahan otak yang lain, yaitu otak naluri (Instingive) yang berada di tengah atau paling bawah (hindbrain dan midbrain) yang bersambungan langsung pada tulang belakang. Kecerdasan kelima Insting (I), terletak pada fungsi gabungan cerebellum, medulla, midbrain, pons, dan brain stem (The functional organization of the brain) yaitu cepat merespon sesuatu.
Dalam konsep STIFIn, ada yang disebut sebagai kemudi yaitu introvert dan ekstrovert. Introvert mengarahkan kecerdasan dari dalam ke luar, sebaliknya ekstrovert mengarahkan kecerdasan dari luar ke dalam.
Selain kecerdasan Insting, empat kecerdasan lainnya memiliki kemudi, yaitu, Sensing (S) terdiri dari Sensing introvert (Si) dan Sensing ekstrovert (Se); Thinking terdiri dari Thinking introvert (Ti) dan Thinking ekstrovert (Te); Intuiting dan Feeling masing-masing terdiri dari Intuiting introvert (Ii), Intuiting ekstrovert (Ie), Feeling introvert (Fi), dan Feeling ekstrovert (Fe).
Jadi ada sembilan jenis kepribadian yang berasal dari empat mesin kecerdasan setelah ditempel oleh kemudinya ditambah mesin kecerdasan Insting. Sembilan jenis kepribadian itu adalah Si, Se, Ti, Te, Ii, Ie, Fi, Fe, dan In.
Setiap jenis kepribadian memiliki ciri-ciri utama, orang yang memiliki personalitas Sensing introvert memiliki kemampuan mengingat yang melebihi delapan kepribadian lainnya. Kepribadiannya berbasis pada lima indra.
Staminanya kuat, bekerja efisien, disiplin, memperlihatkan detail, hemat, jika diminta membantu dia lebih memilih mengeluarkan tenaganya ketimbang uangnya. Hal ini terjadi mungkin karena tipe ini mengumpulkan uang sedikit demi sedikit dengan mengandalkan volume bukan dari margin.
Sedangkan Sensing ekstrovert memiliki kepribadian yang lebih dermawan dan cenderung lebih boros, lebih santai dan suka bersenang-senang, suka pamer (show off) atau demonstratif. Kemampuan mengingatnya luar biasa dan mampu memvisualisasikannya secara rinci. Menyukai hadiah atau sumber motivasinya dalam bentuk hadiah.
Adapun Thinking introvert memiliki kepribadian mandiri, fokus pada pekerjaan, memberlakukan standar yang tinggi pada hasil pekerjaan. Dia bukan tipe medioker. Jika menekuni sesuatu dia akan fokus sampai mencapai taraf ahli alias tidak mau setengah-setengah jika mengerjakan pekerjaan. Pada umumnya memiliki kemampuan analitis yang baik. Suka membaca yang pada akhirnya menguasai persoalan.
Sementara tipe Thinking ekstrovert memiliki kepribadian seperti segera bereaksi terhadap ketidakadilan, objektif menilai, menerima argumentasi orang lain dengan logika, sistematis dalam bekerja dan menyukai formalitas. Kepribadian Intuiting introvert antara lain lebih mementingkan kualitas, dari pada kuantitas, sehingga mementingkan kesempurnaan, kepuasannya pada hal-hal yang baru atau inovatif, keras kepala untuk memperjuangkan kemauannya, karena memilki pandangan optimistis.
Segala sesuatu dilihat dari kacamata manfaat. Intuiting ekstrovert memiliki personalitas berani mengambil resiko, ide-idenya banyak, romantis, dan memberi inspirasi bagi lingkungannya. Akan halnya Feeling introvert memiliki kepribadian antara lain visioner, nge-bossy, penolong, mudah bergaul, pintar berkata-kata, idealis dan cepat sakit hati.
Sementara kepribadian feeling ekstrovert antara lain, berjiwa sosial, memilki kemampuan menggembleng orang, subjektif, berani, ambil resiko, toleran, dan berempati. Terakhir, kepribadian Insting adalah tidak suka konflik, tulus berkorban untuk orang lain, jalan pikirannya simpel, sederhana, dan akomodatif.
Setiap orang memiliki kecerdasan dominan tunggal yang dibawa semenjak lahir. Manusia dianggap memiliki potensi genetis yang sudah luar biasa.
Kuadran otak besar kiri (neokortek kiri) merupakan kecerdasan sekaligus karakter kepribadian Thinking (T).
Otak besar kanan (neokortek kanan) merupakan kecerdasan Intuiting (I).
Kuadran otak kecil kiri (limbik kiri) merupakan kecerdasan sekaligus karakter kepribadian Sensing (S).
Otak kecil kanan (limbik kanan) merupakan kecerdasan sekaligus karakter kepribadian Feeling (F).
Kecerdasan kelima tidak cenderung ke salah satu dari empat kategori karakter kepribadian, tetapi dominan menggunakan belahan otak yang lain, yaitu otak naluri (Instingive) yang berada di tengah atau paling bawah (hindbrain dan midbrain) yang bersambungan langsung pada tulang belakang.
Kecerdasan kelima tersebut disebut dengan Insting (I), terletak pada fungsi gabungan cerebellum, medulla, midbrain, pons, dan, brain stem (The Functional Organization of The Brain) yaitu cepat merespon sesuatu.
Manajemen HR STIFIn dan Kinerja Pekerjaan
Telah banyak penelitian yang dilakukan tentang pengaruh sistem dam praktik manajemen HR terhadap kinerja perusahaan (firm performance) maupun terhadap kinerja karyawan.
Glaister, et al., (2016) yang meneliti strategi manajemen HR dan keselarasan bisnis business, melaporkan adanya pengaruh stretagi HR dalam meningkatkan kinerja perusahaan, tetapi tidak menjadi komponen esensial dalam kaitannya terhadap praktik manajemen talent dengan kinerja pekerjaan.
Praktik manajemen HR terhadap kinerja karyawan lebih banyak dipengaruhi oleh karakter dan kepribadian individual. Bowen dan Ostroff (2004) dalam artikelnya “Understanding HRM–Firm Performance Linkages: The role of the strength of the HR system”, melaporkan bahwa sistem manajemen HR dapat menjelaskan bagaimana akumulasi dari atributif individual karyawan berpengaruh terhadap efektifitas organisasi.
Studi tentang hubungan tipe kepribadian atau personality trait dengan kinerja pekerjaan (job performance) telah dilakukan oleh beberapa peneliti diantaranya yaitu, penelitian Lado dan Alonso (2017) yang melakukan penyelidikan hubungan antara personality traits dan job performance dengan menggunakan variabel moderasi kompleksitas kerja (job complexity), kemudian studi Leena dan Kirupa (2016); Askarian dan Eslami (2013) yang melakukan penelitian terhadap pengaruh karakter tipe kepribadian terhadap kinerja pekerjaan (job performance), dan penelitian Kim dan Han (2014) menunjukkan bahwa tingkat prestasi akademik dan kepuasan siswa itu berbeda menurut tipe kepribadian MBTI mereka.
Ciorbea dan Pasarica (2012) menyatakan bahwa memahami perbedaan karakter (big five personality traits) secara akurat berpengaruh besar dalam kinerja prestasi akademik dan secara luas berimplikasi terhadap dunia pendididikan. Penelitian lain tentang personality trait sebagai variabel moderasi “honesty-humility trait” atau Hexaco model of personality pada hubungan antara job insecurity terhadap counter-productive works behavior (Chirumbolo, 2014); dan penelitian personality traits of “The Big Five model” memoderasi hubungan antara komitmen dan kesetiaan (Palilati et al., 2016).
Namun penelitian yang dilakukan oleh Furnham (1993) pada kepribadian MBTI gagal menghasilkan korelasi besar terhadap kinerja. MBTI tampaknya tidak terkait dengan ukuran kinerja manajemen yang kuat dan multi-faktorial.
Demikian pula dengan konsep kepribadian “The Big-Five Personality”, meskipun beberapa literatur membuktikan kepribadian “The Big Five” sebagai prediktor kinerja pekerjaan (Bhatti, et al., 2013), namun oleh beberapa peneliti bahwa ukuran-ukuran kepribadian tidak memprediksi kinerja pekerjaan secara konsisten.
Seperti Barrick dan Mount (1991) dan Hurtz & Donovan (2000) yang meneliti hubungan kepribadian “The Big Five Personality” dengan kinerja pekerjaan, menemukan hanya satu dimensi yaitu ketelitian (conscientiousness) yang berhubungan secara konsisten dengan kinerja pekerjaan (job performance). Penelitian ini akan menyelidiki praktik manajemen HR yang menggunakan tipe kepribadian STIFIn (STIFIn personality) yang dikembangkan oleh Poniman (2009) terhadap peningkatan kinerja pekerjaan.
Manajemen HR berbasis tipe kepribadian STIFIn atau Manajemen HR STIFIn seperti yang didefinisikan didalam Buku Manajemen HR STIFIn (Poniman dan Hadiyat, 2015) adalah praktik pengelolaan sumber daya manusia dengan menggunakan skema tipe kepribadian STIFIn pada tiga kegiatan utama manajemen sumber daya manusia yaitu: 1)Seleksi yang dimulai dari kegiatan perencanaan tenaga kerja, kegiatan rekrutmen dan seleksi karyawan;
2)Retensi yang meliputi manajemen kinerja, manajemen imbal jasa, hubungan industrial dan kepemimpinan; dan
3)Pengembangan yang meliputi kegiatan pelatihan dan pengembangan, dan pengembangan karir.
Konsep HR STIFIn adalah menarik dan menyeleksi orang-orang terbaik, mendayagunakan dengan sistem dan program retensi terbaik, serta memberikan jalan bagi mereka untuk bisa memberkan kontribusi terbaiknya.
Pada perencanaan tenaga kerja, seluruh jenis pekerjaaan dipetakan dan dikelompokan berdasarkan sifat-sifat dari kepribadian STIFIn, agar pencarian sumber tenaga kerja disesuaikan dengan kebutuhan penempatan tenaga kerja yang telah dipetakan dengan kebutuhan tipe kepribadian STIFIn, untuk kemudian dilakukan proses seleksi dengan menggunakan skema kepribadian STIFIn pula.
Pada kegiatan utilisasi dan retensi, penerapan HR STIFIn difokusikan pada penerapan kepribadian STIFIn pada penyusunan sistem manajemen kinerja, sistem imbal jasa, pengelolaan hubungan industrial dan pengembangan kepemimpinan. Sementara itu, penerapan HR STIFIn pada kegiatan pelatihan dan pengembangan, dan pengembangan karir, difokuskan pada proses pengembangan bakat dan pengembangan karir melalui proses analisis pelatihan dan penerapan cara belajar dan metode pelatihan yang disesuaikan dengan tipe kepribadian STIFIn.
Perencanaan tenaga kerja dengan skema kepribadian STIFIn difokuskan pada analisis pekerjaan, identifikasi keterampilan (skills) dan kompetensi yang diperlukan yang kemudian dituangkan dalam uraian pekerjaan (job description) yang telah mengidentifikasi kesesuaian dengan mesin kecerdasan STIFIn yang diperlukan.
Uraian pekerjaan tersebut kemudian menjadi dasar dalam proses rekrutmen dan seleksi yang dapat meningkatkan kinerja karyawan setelah mereka masuk ke perusahaan dan bekerja di perusahaan. Dalam Praktik manajemen HR, kegiatan rekrumen dan seleksi bisa memprediksi kinerja karyawan secara signifikan (Jouda, et al., 2016).
Hasil penelitian Tabiu dan Nura (2013) juga menunjukkan pengaruh praktik HRM khususnya pada kegiatan rekrutmen dan seleksi memiliki pengaruh yang kuat terhadap kinerja karyawan. Pada penerapan tipe kepribadian STIFIn, penelitian dari Rafianti dan Pujiastuti (2017) pada 15 siswa SMA Negeri 2 Serang, Banten, membuktikan tipe kepribadian STIFIn bisa memprediksi hasil pada kemampuan matematika.
Praktik manajemen HR STIFIn pada kegiatan pendayagunaan sumber daya manusia dan program retensi adalah menyusun sistem manajemen kinerja yang berbasiskan pada skema tipe kepribadian STIFIn, menyusun sistem imbal jasa yang dikaitkan dengan tipe kepribadian STIFIn, pengelolaan hubungan industrial baik pada penciptaan hubungan antar karyawan maupun pada pembinaan hubungan industrial dengan serikat pekerja yang didasarkan pada pemetaan tipe kepribadian dan pola hubungan tipe kepribadian STIFIn, serta pengembangan kepemimpinan yang menggunakan dasar tipe kepribadian STIFIn dalam membangun hubungan pemimpin dan pengikut.
Beberapa penelitian berkaitan dengan sistem dan praktik manajemen sumber daya manusia pada kegiatan manajemen HR STIFIn ini telah membuktikan adanya pengaruh yang signifikan terhadap kinerja karyawan.
Wambua dan Karanja (2016) dalam penelitiannya memberikan bukti adanya pengaruh praktik manajemen imbal jasa, dan penilaian kinerja terhadapberpengaruh positif secara signifikan terhadap kinerja karyawan. Penelitian Tabiu dan Nura (2013) juga menunjukkan pengaruh praktik HRM pada kegiatan pendayagunaan karyawan yaitu keterlibatan kerja, sistem penggajian, manajemen kinerja dan kegiatan pemeliharaan lainnya memiliki pengaruh yang kuat terhadap kinerja pekerjaan.
Kemudian proposisi yang diajukan oleh Poniman dan Hadiyat (2015) dalam bukunya Manajemen HR STIFIn yaitu adanya pengaruh positif praktik manajemen HR STIFn terhadap peningkatan kinerja karyawan.
Strategi bisnis dan impementasinya pada manajemen sumber daya manusia tergantung pada kualitas sumber daya manusianya. Kualitas tersebut adalah menyangkut pengetahuan, keterampilan dan kemampuan karyawan terhadap pekerjaan dan tugas-tugas yang diberikan, serta perilaku dan sikap mental karyawan tentang bagaimana berperilaku sesuai dengan nilai-nilai perusahaan untuk ikut aktif mewujudkan pencapaian tujuan perusahaan.
Praktik manajemen HR STIFIn untuk kegiatan pengembangan adalah kegiatan pelatihan dan pengembangan, serta pengembangan karir karyawan. Hassan (2016) mengungkapkan bahwa ada hubungan yang positif dan signifikan antara praktik manajemen sumber daya manusia pada kompensasi, perencanaan karir, penilaian kinerja, pelatihan dan keterlibatan karyawan terhadap kinerja karyawan.
Proposisi Poniman dan Hadiyat (2015) mengajukan bahwa penerapan program pelatihan dan pengembangan, serta pengembangan karir karyawan yang didasarkan pada tipe kepribadian karyawan akan meningkatkan produktivitas dan kinerja karyawan. Pada penelitian ini, kegiatan pengembangan tidak dibuat hipotesis tersendiri, namun digabungkan kedalam kegiatan retensi.
Kinerja pekerjaan didefinisikan sebagai penyelesaian tugas dengan aplikasi pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan. Dalam artikel Ramawickrama, et al (2017) yaitu “The behavioural outcome of an employee which points out that the employee is showing positive attitudes towards his or her organization” atau dikatakan bahwa hasil perilaku seorang karyawan menunjukkan sikap positif terhadap organisasinya”.
Berdasarkan studi literatur, kinerja pekerjaan (job performance) telah banyak diteliti dan didefinisikan. Porter dan Lawler (1974) mendefinisikan kinerja pekerjaan atau job peformance sebagai fungsi dari kemampuan (ability), keterampilan (skills) dan usaha (effort) dari seseorang atau individual pada suatu situasi.
Kemudian Campbell (1990) mendefiniskkan kinerja pekerjaan (job performance) sebagai perilaku atau aksi dari seseorang yang relevan dengan tujuan organisasi, dan Opata, pada tahun 2015, mendefinisikan kinerja pekerjaan (job performance) yaitu sejauh mana karyawan melakukan tugas dan tanggung jawab yang diemban, dan hasilnya diukur dari kriteria kuantitas kerja (quantity of work) dan kualitas kerja (quality of work).
Kontruks job performance inilah yang akan digunakan dalam penelitian ini yang kemudian menggunakan dimensi dan indikator yang akan diturunkan dalam item-item dari penelitian Koopmans et al., (2014) yaitu: 1) Task Performance; dan 2) Contextual Performance. Untuk dimensi Counter-productive Work Behavior tidak digunakan pada penelitian ini dengan pertimbangan kurang cocok untuk kondisi budaya di Indonesia, dimana seseorang mungkin tidak begitu nyaman jika harus mengisi kuesioner survey yang berisi tentang pernyataan negatif, sehingga dikhawatirkan akan terjadi bias pada hasil survey tersebut.
Borman & Motowidlo (1993) mendefinisikan Task Performance didefinisikan sebagai efektivitas yang digunakan oleh pemegang jabatan untuk melakukan kegiatan yang berkontribusi pada inti teknis organisasi, baik secara langsung dengan mengimplementasikan bagian dari proses teknologinya, atau secara tidak langsung dengan menyediakan bahan atau layanan yang dibutuhkan, misalnya task performance pada pekerjaan Sales, seperti product konwlegde, closing the sale, time management.
Sedangkan contextual performance, berkaitan kontribusi pada efektivitas organisasi dengan cara yang membentuk konteks organisasi, sosial, dan psikologis yang berfungsi sebagai katalis untuk kegiatan dan proses pelaksanaan tugas.
Model Konsep dan Hipotesis Penelitian
Model konsep penelitian ini disajikan pada gambar dibawah ini yaitu Model 1 yang menyelidiki hubungan variabel pada Manajemen HR STIFIn yaitu kegiatan Seleksi (X1) dan Retensi (X2) sebagai variabel eksogen dengan variabel pada kinerja pekerjaan (job performance) yaitu Task Performance (Y1) dan Contextual Performance (Y2), sedangkan Model 2 dibuat untuk menyelidiki hubungan praktik Manajemen HR STIFIn secara keseluruhan (X1) terhadap kinerja pekerjaan secara keseluruhan juga (overall job performance) (Y1).
Pengujian pada kedua model ini diharapkan akan memberikan pandangan dan bukti empirik berbeda, yaitu melihat pengaruh praktik manajemen HR STIFIn yang dilakukan pada masing-masing kegiatan dan jika dilakukan sebagai program integrasi terhadap kinerja pekerjaan baik masing-masing terhadap dimensinya maupun terhadap kinerja pekerjaan secara keseluruhan.
Gambar 1. Model Konsep Penelitian
Sumber: Data diolah oleh peneliti, 2018
Berdasarkan kajian literatur dan model penelitian diatas, dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:
Model 1
Hipotesis 1: Seleksi berbasis HR STIFIn berpengaruh terhadap Task Performance
Hipotesis 2: Seleksi berbasis HR STIFIn berpengaruh terhadap Contextual Performance
Hipotesis 3: Retensi berbasis HR STIFIn berpengaruh terhadap Task Performance
Hipotesis 4: Retensi berbasis HR STIFIn berpengaruh terhadap Contextual Performance
Model 2
Hipotesis 5: Praktik HR STIFIn secara penuh berpengaruh terhadap Job Performance
Metode Penelitian
Pendekatan penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Teknik pengumpulan data menggunakan metode survei yaitu dengan menyebarkan kuesioner online (google survey) kepada para praktisi HR, meliputi 34 butir pernyataan tertutup, menggunakan Skala Likert poin 5, dengan1 adalah Sangat Tidak Setuju (STS) dan 5 adalah Sangat Setuju (SS). Unit analisis penelitian ini adalah karyawan secara individual pada perusahaan-perusahaan yang mempraktikkan HR STIFIn.
Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah purposive sampling yaitu perusahaan-perusahaan yang telah menerapkan Manajemen HR STIFIn. Sebanyak 50 responden dihubungi secara personal dengan media sharing Whatsapp (WA) dan diminta partisipasinya untuk mengisi kusioner online yang telah di share link-nya kepada tiap-tiap responden.
Pengukuran variabel kinerja karyawan mengadaptasi pengukuran work performance yang dikembangkan oleh Koopmans (2014), seperti “saya suka menanggung tanggung jawab ekstra” dan menambahkan item-item pernyataan baru yang sesuai dengan konteks mesin kecerdasan melalui mekanisme persetujuan ahli terhadap penyusunan kuesioner.
Contoh item tersebut yaitu “Saya dapat menggunakan potensi mesin kecerdasan yang Saya miliki untuk bekerja baik di organisasi/perusahaan ini”. Sedangkan pengukuran variabel Praktik HR STIFIn memodifikasi pengukuran High-Performance Human Resource Practice Perceptions yang dikembangkan oleh Kehoe dan Wright (2010). Contoh item tersebut adalah “Proses rekrutmen dan seleksi dilakukan dengan skema STIFIn”.
Teknik analisis data menggunakan Partial Least Square Structural Equation Modeling (PLS-SEM). Pemilihan PLS-SEM dikarenakan penelitian ini lebih bersifat memprediksi dan menjelaskan variabel laten daripada menguji suatu teori, dan jumlah sampel dalam penelitian ini tidak besar, serta mengantisipasi bila data terdistribusi tidak normal (Hair et al., 2014).
Penelitian ini menggunakan dua model penelitian, dimana model 1 bertujuan untuk memeriksa pengaruh tiap dimensi dari Praktik HR STIFIn terhadap dimensi-dimensi dari kinerja karyawan secara parsial. Sementara model 2 bertujuan untuk memeriksa pengaruh konstruk Praktik HR STIFIn secara multidimensional terhadap konstruk kinerja karyawan yang berbentuk multidimensional.
Hasil Penelitian
Karakteristik Responden
Tujuan analisis ini adalah untuk mengetahui karakteristik
responden secara umum, dimana yang menjadi responden dalam penelitian ini
adalah karyawan yang bekerja pada perusahaan-perusahaan yang telah memPraktikkan
HR STIFIn. Dari total 100 responden yang
diminta untuk mengisi kuesioner, hanya 50 orang yang bersedia mengisi (response rate 50 %), setelah di seleksi
hanya diperoleh 41 jawaban kuesioner yang layak untuk dianalisis.
Tabel 2. Statistik Profil Responden
Kategori
Karakteristik
Frekuensi
Persentase (%)
Jenis Kelamin
L
25
61
P
16
39
Tipe
Kepribadian
Sensing
8
19,5
Thinking
11
26,8
Intuiting
7
17,1
Feeling
9
22
Insting
6
14,6
Pengendali
Kepribadian
ekstrovert
26
63,4
introvert
15
36,6
Usia
< 25 tahun
9
22
26-35 tahun
13
31,7
36-45 tahun
14
34,1
46-55 tahun
5
12,2
> 55 tahun
0
0
Status
Menikah
31
75,6
Belum Menikah
10
24,4
Pendidikan
SMA
6
14,6
D3
1
2,4
S1
26
63,4
S2
8
19,5
Lama Penerapan
< 1 tahun
14
34,1
1-5 tahun
20
48,8
< 5 tahun
7
17,1
Masa Kerja
< 1 tahun
11
26,8
1-5 tahun
22
53,7
6-10 tahun
3
7,3
> 10 tahun
5
12,2
Sumber: Hasil Pengolahan Data,
2018
Berdasarkan data yang
diperoleh dari 41 responden tersebut, didapatkan karakteristik bahwa mayoritas
responden merupakan laki-laki (61%), mayoritas responden bertipe
kepribadian Thinking (26,8%), mayoritas
responden memiliki pengendali kepribadian ekstrovert (63,4%), mayoritas
responden memiliki pendidikan S1 (63,4%), mayoritas responden berusia antara 36-45 tahun (34,1%), mayoritas responden
memiliki masa kerja selama 1-5
tahun (53,7%), mayoritas responden telah menikah (75,6%), dan mayoritas
responden bekerja pada perusahaan
yang telah menerapkan HR STIFIn selama 1-5 tahun (48,8%).
Uji Validitas
Karena data yang dikumpulkan ini berupa persepsi dari karyawan yang menggunakan skala likert, maka untuk mengetahui apakah data yang dikumpulkan (instrumen penelitian) sudah benar mengukur apa yang ingin diukur dan dipahami dengan baik oleh responden, maka diperlukan uji validitas instrumen. Pada penelitian ini terdapat 2 (dua) variabel laten yaitu: kinerja karyawan dan Praktik HR STIFIn. Nilai r hitung tiap atribut pernyataan dibandingkan dengan r tabel
Dari hasil pengolahan data menunjukkan semua variabel mempunyai nilai r hitung > 0,361, sehingga semua data dinyatakan valid (berkorelasi signifikan terhadap skor total). Hal ini berarti seluruh item pernyataan pada kuesioner dapat digunakan dalam penelitian.
Uji Reliabilitas
Setelah data dinyatakan valid, maka
selanjutnya dilakukan uji reliabilitas data kuesioner. Hal ini bertujuan apakah
hasilnya relatif stabil dan konsisten. Pengujian ini menggunakan koefisien Cronbach’s Alpha sebagai koreksi. Data
dapat dikatakan reliabel jika nilai koefisiennya lebih besar dari 0,60
(Ghozali, 2009). Berdasarkan hasil uji reliabilitas yang telah dilakukan untuk
semua variabel. Didapatkan skor Cronbach’s
Alpha untuk kinerja pekerjaan sebesar 0,953 dan Praktik HR STIFIn sebesar
0,956. Jadi, instrumen dari kedua variabel tersebut dinyatakan reliabel karena nilai Cronbach’s Alpha > 0,60, sehingga
dapat dilakukan analisis lebih lanjut.
Analisis
Deskriptif
Instrumen yang
digunakan untuk mengukur konstruk adalah kuesioner yang menggunakan skal likert dalam interval 1-5. Untuk
kategori pernyataan dengan jawban sangat tidak setuju dengan nilai satu (1)
sampai dengan sangat setuju dengan nilai lima (5).
Variabel HR STIFIn
Variabel HR STIFIn terdiri dari dua (2) dimensi yang diwakili oleh 15 item pernyataan
Pada Tabel 3. Disajikan rata-rata jawaban responden dan banyaknya
responden yang memberikan jawaban ragu-ragu atau tidak tahu. Oleh karena itu,
secara keseluruhan masih ada permasalahan dalam pelakasanaan Praktik HR STIFIn
terutama dalam hal pemberian informasi saat proses rekrutmen (34,1%) dan
keterlibatan karyawan dalam improvement
team work dan problem solving (22%).
Variabel Kinerja Pekerjaan
Variabel
kinerja pekerjaan (job performance) terdiri dari dua (2) dimensi yang diwakili
oleh 19 item pernyataan.
Berdasarkan
Tabel di atas, kesimpulan yang dapat diambil adalah responden merasa kinerja
pekerjaan masih kurang terutama dalam indikator menangani tangunggjawab ekstra
(19,5%) dan menghadapi tekanan dalam pekerjaan (14,6%).
Uji Model
Model 1
Hasil Uji Outer Model
Sebelum
melakukan analisis model struktural terlebih dahulu harus melakukan pengukuran
model (measurement model), hal ini dimaksudkan untuk menguji reliabilitas dan validitas dari
indikator-indikator pembentuk konstruk laten yaitu dengan melakukan confirmatory factor analysis (CFA). Pada model 1 akan dilakukan analisis
konfirmatori first order yaitu
menguji konstruk laten dengan indikator-indikatornya. Dalam hal indicator reliability, dari 19 indikator
pada pengolahan kedua (pada pengolahan pertama terdapat 34 indikator)
kesemuanya memilki loading factor
> 0,70. Rule of thumb yang
digunakan untuk menilai faktor loading
yaitu harus lebih besar dari 0,70 untuk penelitian yang bersifat confirmatory, dan nilai faktor loading
antara 0,60-0,70 masih dapat diterima untuk penelitian yang bersifat exploratory (Latan & Ghozali, 2017).
Tabel 5 berikut menyajikan hasil analisis faktor konfirmatori first order.
Indikator
Factor Loading
Konstruk Laten
Composite Reliability
Cronbach’s Alpha
AVE
Akar Kuadrat AVE
Full collin. VIF
S1
0,844
Seleksi (HR STIFIn)
0,901
0,853
0,694
0,833
1,95
S2
0,829
S3
0,857
S4
0,801
R1
0,829
Retensi (HR STIFIn)
0,963
0,955
0,788
0,888
2,573
R3
0,871
R5
0,808
R6
0,921
P2
0,944
P3
0,924
P4
0,907
K1
0,748
Task Performance
0,890
0,835
0,670
0,818
2,998
K2
0,847
K4
0,813
K5
0,86
K11
0,879
Contextual
Performance
0,902
0,853
0,698
0,835
2,642
K12
0,885
K14
0,845
K15
0,722
Tabel 5. Analisis Faktor
Konfirmatori First Order
Sumber: Hasil Pengolahan Data, 2018
Berdasarkan hasil pengolahan data di atas, dapat dilihat bahwa seluruh item pembentuk konstruk laten adalah valid dengan nilai faktor loading yang dihasilkan > 0,7. Selanjutnya, dalam convergent validity, nilai AVE untuk setiap konstruk dimensi sangat baik yaitu > 0,5 sehingga telah memenuhi kriteria validitas konvergen. Begitu juga dengan internal consistency, nilai composite reliability yang dihasilkan setiap konstruk dimensi juga sangat baik yaitu > 0,7 dan nilai Cronbach’s Alpha (α) berada antara 0,835 - 0,955 berarti nilai reliabilitas yang dihasilkan setiap konstruk laten juga sangat baik yaitu > 0,7 sehingga memenuhi reliabilitas konsistensi internal. Nilai Full Collinearity VIF untuk setiap konstruk laten juga sangat baik yaitu < 3,3 sehingga tidak terdapat masalah collinearity di dalam model.
Selanjutnya indikator reflektif pembentuk konstruk laten dalam
penelitian juga akan diuji discriminant
validity. Salah satu cara melihat discriminant
validity dengan membandingkan korelasi antar variabel dengan square root of varianceextracted (nilai dari akar kuadrat AVE).
Tabel 6 berikut mendeskripsikan discriminantvalidity dari penelitian ini (model
1).
Tabel 6. Discriminant Validity Model 1
Seleksi
Retensi
Task Performance
Contextual Performance
Seleksi
O,833*
Retensi
0,640
0,888*
Task Performance
0,624
0,734
0,818*
Contextual Performance
0,622
0,682
0,753
0,835*
Sumber: Hasil
Pengolahan Data, 2018
Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa seluruh nilai korelasi antar variabel (konstruk laten) di bawah nilai akar kuadrat AVE (lihat dengan garis diagonal, bertanda ‘*’). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa semua variabel memenuhi kriteria discriminant validity dan dapat dikatakan model sangat baik. Nilai discriminant validity yang tinggi memberikan bukti bahwa suatu konstruk adalah unik dan benar-benar berbeda dari konstruk lainnya, serta mampu menangkap fenomena yang diukur. Singkatnya, model pengukuran berhasil melewati sejumlah analisis yang ketat yaitu validitas konvergen, validitas diskriminan, reliabilitas, dan multikolinieritas. Hasil analisis CFA mengungkapkan bahwa model tidak memiliki masalah pengukuran data karena telah memenuhi kriteria validasi data yang diterima secara luas dan dapat dianalis lebih lanjut.
Hasil Inner Model
Berdasarkan hasil output general result dari SEM-PLS dengan
menggunakan software WarpPLS 6.0 dapat
diketahui model mempunyai fit yang baik, dimana nilai P-value untuk Average Path
Coefficient (APC), Average R-squared (ARS), dan Average Adjusted R-squared (AARS) < 0,001 dengan nilai APC =
0,430, ARS = 0,608, dan nilai AARS = 0,587. Begitu juga dengan nilai Average
block VIF (AVIF) dan Average Full
Collinearity VIF (AFVIF), nilai yang dihasilkan ideal yaitu AVIF = 1,646,
dan AFVIF = 2,966 (< 3,3), yang berarti bahwa tidak ada masalah
multikolinearitas antar indikator dan antar variabel eksogen. GoF yang
dihasilkan yaitu 0,649 > 0, 36 yang berarti bahwa fit model yang baik. Untuk
indeks Symson’s Paradox (SPR), R-squared
Contribution Ratio (RSCR), Statistical Suppression Ratio (SSR), dan Nonlinear Bivariate Causality Direction
Ratio (NLBCDR) menghasilkan nilai
sama dengan 1, yang berarti tidak ada problem
kausalitas di dalam model.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Adjusted R-squared adalah 0, 658
(65,8%), hal ini berarti besar variabel laten dependen (task performance) dijelaskan sebesar
65,8 % oleh 2 variabel laten independen (seleksi dan retensi) dan sisanya 34,2
% dijelaskan oleh variabel lain diluar model. Sementara, koefisien Adjusted
R-squared untuk contextual
performance sebesar 0,516 (51,6%) yang berarti 2 variabel seleksi dan
retensi dapat menjelaskan variasi contextual
performance sebesar 51,6 % sisanya 48,4 % dijelaskan oleh variabel lain
diluar model. Nilai Q-squared (Q2) yang dihasilkan untuk setiap variabel
dependen (endogen) > 0, yaitu Q2
seleksi = 0,674 dan Q2 retensi = 0,536, yang berarti bahwa model
mempunyai predictive relevance.
Gambar 2. Analisis Model Struktural Model 1
Sumber: Hasil Pengolahan
Data, 2018
Tabel 7. Pengujian Hipotesis
Model 1
Hipotesis
Path
Path Coefficients
P-value
H1
Seleksi Task Performance
0,345
0,017*
H2
Seleksi Contextual
Performance
0,369
0,003**
H3
RetensiTask Performance
0,560
<0,001
H4
RetensiContextual
Performance
0,446
<0,001
*sig <0,05 (5 %), **sig <0,01 (1%)
Sumber:
Hasil Pengolahan Data, 2018
Gambar 2 dan Tabel
7 menerangkan hasil pengujian hipotesis (analisis jalur), dimana menunjukkan
hasil seleksi berpengaruh positif dan signifikan terhadap task performance (β = 0,345, p = 0,017), terhadap contextual performance (β = 0,369, p =
0,003) hal ini berarti mendukung hipotesis H1 dan H2. Selanjutnya, retensi
mempengaruhi task performance secara
positif dan signifikan (β = 0,369, p< 0,001) yang artinya mengkonfirmasi
hipotesis H2. Retensi berpengaruh positif dan signifikan terhadap contextual performance (β = 0,369, p<
0,001), dengan demikian hipotesis H4 juga diterima.
Model 2
Hasil Uji Outer Model
Langkah
selanjutnya, peneliti menganalisis model 2 yaitu analisis terhadap indikator
pembentuk konstruk second order.
Berarti analisis dilakukan dari konstruk laten dan kontruk dimensinya. Tabel 8 di bawah ini
adalah hasil analisis faktor konfirmatori tingkat kedua (second order CFA). Berdasarkan hasil analisis faktor konfirmatori second order di atas, dapat dilihat
bahwa indikator pembentuk (dimensi) seluruh konstruk laten adalah valid dengan
nilai faktor loading yang dihasilkan
> 0,7. Selanjutnya, nilai AVE untuk setiap konstruk laten sangat baik >
0,5 berarti telah memenuhi kriteria validitas konvergen.
Tabel 8. Analisis Faktor
Konfirmatori Second Order
Dimensi
Factor Loading
Konstruk Laten
Composite
Reliability
Cronbach’s Alpha
AVE
Akar Kuadrat AVE
Full collin. VIF
Seleksi
0,892
HR STIFIn
0,901
0,781
0,82
0,905
2,643
Retensi
0,918
Task Performance.
0,939
Job Performance
0,934
0,859
0,876
0,936
2,643
Contextual Performance
0,933
Sumber: Hasil Pengolahan Data, 2018
Begitu juga dengan nilai Composite
Reliability (CR) dan nilai Cronbach’s
Alpha (α) nilainya > 0,7, berarti nilai reliabilitas yang dihasilkan
setiap konstruk laten juga sangat baik dan memenuhi reliabilitas konsistensi
internal. Nilai Full Collinearity VIF
untuk setiap konstruk laten juga sangat baik yaitu < 3,3 sehingga tidak
terdapat masalah collinearity di
dalam model. Selanjutnya indikator reflektif pembentuk konstruk laten dalam penelitian
juga akan diuji discriminant validity.
Salah satu cara melihat discriminant
validity dengan membandingkan korelasi antar variabel dengan square root of varianceextracted (nilai dari akar kuadrat AVE).
Tabel 9 berikut mendeskripsikan discriminantvalidity Model 2 penelitian ini.
Tabel 9. Discriminant Validity Model 2
HR STIFIn
Job Performance
HR STIFIn
0,905*
Job Performance
0,788
0,936*
Sumber: Hasi Pengolahan
Data, 2018
Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa nilai korelasi antar
variabel (konstruk laten) di bawah nilai akar kuadrat AVE (lihat dengan garis
diagonal, bertanda ‘*’). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa semua variabel
memenuhi kriteria discriminant validity
dan dapat dikatakan model sangat baik.
Hasil Inner Model
Berdasarkan hasil output general result SEM-PLS dapat diketahui
model mempunyai fit yang baik, dimana
nilai P-value untuk Average Path
Coefficient (APC), Average R-squared (ARS), dan Average Adjusted R-squared (AARS) < 0,001 dengan nilai APC =
0,788, ARS = 0,622, dan nilai AARS = 0,612. Begitu juga dengan nilai Average Full Collinearity VIF (AFVIF),
nilai yang dihasilkan ideal yaitu AFVIF = 2,643 (<
3,3), yang berarti bahwa tidak ada masalah multikolinearitas. GoF yang
dihasilkan yaitu 0,726 > 0, 36 yang berarti bahwa fit model yang baik. Untuk indeks Symson’s Paradox (SPR), R-squared Contribution Ratio (RSCR),
Statistical Suppression Ratio (SSR), dan
Nonlinear Bivariate Causality Direction Ratio
(NLBCDR) menghasilkan nilai sama dengan 1, yang berarti tidak ada problem kausalitas di dalam model.
Gambar 3. Analisis Model Struktural Model 2
Sumber: Hasil Pengolahan Data, 2018
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Adjusted R-squared adalah 0, 612
(61,2%), hal ini berarti besar variabel laten dependen (job performance) dijelaskan sebesar
61,2 % oleh variabel laten independen (HR STIFIn) dan sisanya 38,8 % dijelaskan
oleh variabel lain diluar model. Nilai Q-squared
(Q2) yang dihasilkan untuk variabel dependen (endogen) > 0,
yaitu Q2 = 0,617, yang berarti bahwa model mempunyai predictive relevance.
Tabel 10. Pengujian Hipotesis
Model 2
Hipotesis
Path
Path Coefficients
P-value
H5
HR STIFIn“ Job Performance
0,788
<0,001
Sumber:
Hasil Pengolahan Data, 2018
Gambar 3 dan Tabel
10 menerangkan hasil pengujian hipotesis (analisis jalur model 2), dimana
menunjukkan hasil HR STIFIn berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja pekerjaan (job performance) (β = 0,788,
p<0,001), dengan demikian hasil ini mendukung hipotesis H5.
Kesimpulan, Implikasi dan Saran
Berdasarkan
hasil uji hipotesis H1 dan H2 menunjukkan bahwa seleksi berbasis HR STIFIn
berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja pekerjaan (jobperformance) yaitu task performance dan contextual performance. Hasil
penelitian ini sesuai dengan proposisi
yang diajukan didalam buku penerapan seleksi dengan menggunakan kepribadian STIFIn
meningkatkan kinerja pekerjaan (job
performance). Kemudian berdasarkan hasil uji hipotesis H3 dan H4 menunjukkan bahwa retensi berbasis
HR STIFIn berpengaruh positif dan signifikan terhadap job
performance (task performance dan
contextual performance). Hasil penelitian ini sejalan dengan proposisi yang diajukan didalam buku Manajemen HR STIFIn bahwa
penerapan manajemen retensi berbasis kepribadian STIFIn meningkatkan kinerja
pekerjaan (job performance). Sementara
itu, berdasarkan hasil uji hipotesis H5 menunjukkan
bahwa praktik HR STIFIn berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja pekerjaan (job performance). Hasil
penelitian ini memberikan
bukti empirik terhadap proposisi yang diajukan Poniman dan Hadiyat (2015) bahwa
praktik manajemen HR STIFIn dapat meningkatkan kinerja pekerjaan secara
keseluruhan.
Dari hasil
analisis model 1 diperoleh bahwa seleksi, retensi, task performance, dan contextual
performance mempunyai hubungan satu sama lain. Begitu juga dengan indikator
masing-masing variabel eksogen dan endogen mempunyai pengaruh yang signifikan.
Penjelasan selengkapnya adalah sebagai berikut: (1) Seleksi berbasis STIFIn
pelaksanaannya sudah cukup baik, namun ada beberapa yang harus ditingkatkan
lagi, yakni dalam hal pemberian informasi saat proses rekrutmen. (2) Retensi
erat kaitannya dengan keinginan bertahan dalam suatu perusahaan. Masih ada
sebagian responden yang menilai bahwa karyawan belum dilibatkan secara baik
dalam hal team workimprovement dan problem solving. (3) Pendapat mengenai task performance sudah cukup baik. Namun untuk hal mampu menangani
tanggung jawab ekstra masih ada yang merasa tidak mampu. (4) Pendapat mengenai contextual perfromance juga
diaktegorikan baik, hanya saja ada pendapat yang merasa tidak mampu menghadapi
tekanan dalam pekerjaan. Untuk melihat secara detail respon tiap mesin kecerdasan
terhadap item pernyataan yang diajukan dapat dilihat pada lampiran. (5)
Terbukti secara empiris seleksi berbasis HR STIFIn mempunyai pengaruh yang
signifikan terhadap task performance dan contextual performance. (6) Terbukti
secara empiris retensi berbasis HR STIFIn mempunyai pengaruh yang signifikan
terhadap task performance dan overall performance. (7) Proses
retensi memiliki pengaruh yang lebih tinggi (nilai signifikansi yang lebih
baik) dibandingkan proses seleksi dalam case
ini. Hal ini telah disampaikan secara deskriptif pada bab pembahasan, di mana
karyawan menilai masih ada kekurangan dalam hal pelaksanaan seleksi. (8)
Sementara dari hasil analisis model 2 diperoleh bahwa Praktik HR STIFIn secara
penuh berpengaruh signifikan terhadap
kinerja pekerjaan (job performance).
Dalam usaha
meningkatkan kinerja pekerjaan, maka organisasi atau perusahaan harus
benar-benar memperhatikan variabel-variabel yang mempengaruhi kinerja pekerjaan
dan dalam penelitian telah ditunjukkan bahwa praktik HR STIFIn
dapat mempengaruhi kinerja pekerjaan secara kuat. Hal ini dapat dilakukan
dengan melakukan penelitian secara berkala, sehingga dengan demikian organisasi
dapat mengantisipasi dan memperbaiki faktor-faktor yang diketahui sebagai
penyebab penurunan kinerja pekerjaan terutama ditinjau dari klasifikasi mesin
kecerdasan. Adapun hal yang dapat dilakukan adalah (1) Memberikan informasi
tentang organisasi kepada para pelamar saat proses rekrutmen, agar calon
karyawan mengetahui tujuan, visi dan misi organisasi tersebut. (2) Meningkatkan
keterlibatan karyawan dalam proses team
work improvement dan problem solving,
agar tercipta suatu iklim kerjasama yang baik meski berbeda-beda personality. (3) Mencari solusi yang
tepat sesuai dengan mesin kecerdasaan agar dapat memetakan karyawan-karyawan
mana saja yang dapat menangani pekerjaan ekstra dan kuat dalam menghadapi
tekanan.
Keterbatasan Penelitian dan Arah Penelitian
Selanjutnya
Penelitian
ini memiliki keterbatasan dalam hal jumlah responden. Penelitian berikutnya dapat
dilakukan kembali dengan jumlah responden yang lebih besar sehingga dapat
melihat pengaruh faktor demografi dari tiap-tiap mesin kecerdasan terhadap
hubungan Praktik HR STIFIn dan Job
performance. Hal ini diharapkan agar konsepnya dapat dibangun dengan lebih
matang dan sempurna di masa yang akan datang.
————— &&&
——————–
Lampiran
Tabel
3. Rata-rata Jawaban Tidak Setuju Variabel Praktik HR STFIn per indikator
Indikator
Mean Jawaban
Sangat Tidak Setuju
Tidak setuju
Kurang Setuju (Netral)
Proses
rekrutmen dan seleksi dilakukan dengan skema STIFIn (S1)
–
–
17,1%
Perusahaan
melakukan proses interview dan tes psikologi berbasis STIFIn (S2)
–
–
9,8%
Para
kandidat/pelamar mendapatkan informasi tentang organisasi/ perusahaan saat
proses rekrutmen (S3)
–
4,9%
34,1%
Organisasi/perusahaan
menjalankan proses penempatan berbasis STIFIn (S4)
–
2,4%
14,6%
Manajemen imbal
jasa di perusahaan dihubungkan dengan matriks kecerdasan (R1)
2,4%
7,3%
17,1%
Para karyawan
dilibatkan dalam proses improvement team work, problem solving, dan diksusi
kelompok (R2)
–
2,4%
22%
Karyawan dapat
mengimplementasikan ide-ide baru dalam pekerjaannya (R3)
2,4%
–
17,1%
Karyawan
menerima evaluasi kerja (R4)
4,9%
–
17,1%
Karyawan
menerima komunikasi secara formal mengenai tujuan organisasi dan target
individual (R5)
–
4,9%
14,6%
Puas dengan
model performance appraisal dengan skema STIFIn (R6)
–
4,9%
14,6%
Organisasi/perusahaan
menyusun rencana pelatihan dengan skema STIFIn (P1)
–
9,8%
12,2%
Organisasi/perusahaan
mengidentifikasi kebutuhan training berdasarkan skema STIFIn (P2)
–
7,3%
17,1%
Metode
pembelajaran dalam pelatihan disesuaikan dengan cara belajar dari
masing-masing mesin kecerdasaan (P3)
2,4%
2,4%
12,2%
Karyawan yang
berkualifikasi diberikan peluang untuk dipromosikan secara fair dan
terbuka (P4)
–
2,4%
17,1%
Organisasi/perusahaan
menanamkan konsep sukses mulia hingga akhir karir (P5)
–
–
14,6%
Sumber : Hasil Pengolahan Data, 2018
Tabel 4.
Rata-rata Jawaban Tidak Setuju Variabel Job Performance per indikator
Indikator
Mean Jawaban
Sangat Tidak
Setuju
Tidak setuju
Kurang Setuju
(Netral)
Mempertahankan
prestasi kerja dan produktivitas (K1)
–
4,9%
4,9%
Bersemangat
dalam pekerjaan (K2)
–
–
–
Menyelesaikan
tugas dengan tepat waktu (K3)
–
–
9,8%
Mengingat
target kerja yang perlu dicapai (K4)
–
–
4,9%
Dapat
menggunakan potensi mesin kecerdasan yang dimilki untuk bekerja baik di
organisasi/perusahaan ini (K5)
–
–
–
Memberikan
bantuan kepada rekan kerja ketika diminta atau dibutuhkan (K6)
–
–
4,9%
Suka menangani
tanggungjawab ekstra (K7)
–
–
19,5%
Menyampaikan
simpati dan empati kepada rekan kerja yang berada dalam kesulitan (K8)
–
–
4,9%
Aktif
berpartisipasi dalam diskusi kelompok dan rapat kerja (K9)
–
–
7,3%
Memuji rekan
kerja atas pekerjaan baik yang mereka selesaikan (K10)
–
–
2,4%
Menjaga
koordinasi yang baik dengan rekan-rekan kerja (K11)
2,4%
–
–
Berbagi pengetahuan
dan ide dengan rekan kerja (K12)
–
–
4,9%
Berkomunikasi
efektif dengan rekan kerja untuk pemecahan masalah dan pengambilan keputusan
(K13)
–
–
2,4%
Bekerja dengan
kecerdasan kolektif untuk meningkatkan kerja tim yang efektif (K14)
–
–
7,3%
Mampu
menghadapi tekanan dalam pekerjaan (K15)
–
4,9%
14,6%
Saling
pengertian dengan rekan kerja untuk mendapatkan solusi-solusi dalam pekerjaan
(K16)
–
–
–
Mampu bersabar
ketika mendapatkan kritik dari rekan kerja (K17)
–
2,4%
9,8%
Nyaman dengan fleksibilitas
pekerjaan (K18)
–
2,4%
4,9%
Dapat mengatasi
perubahan organisasi dari waktu ke waktu (K19)
(1) the description of students’ learning interests before and after being given STIFIn learning technique, (2) the description of the implementation of STIFIn learning guidance, (3) whether the STIFIn learning guidance improve students’ learning interests.
The study employed quantitative approach with quasi experiment research. The samples were the students at SMP Katolik Rajawali Makassar in South Sulawesi province with the total of 22 students who were divided into two groups, namely experiment group and control group. Data were collected by employing learning interest scale with 30 question items. Data were analyzed using descriptive analysis, Wilcoxon match pairs test and gain score.
The results of the study reveal that
(1) the average score of learning interests in experiment group in pretest is 42.16% and the posttest is 61.94%; whereas, the average score in experiment group in pretest is 65.62% and the posttest is 67.58%
(2) the implementation of STIFIn learning guidance covers preparation stage, implementation stage, and evaluation stage, and
(3) the STIFIn technique (Sensing, Thinking, Intuiting. Feeling, Insting) learning guidance gives influence to improve students’ learning interests at SMPN Katolik Rajawali Makassar in South Sulawesi province. Keywords: STIFIn learning guidance, learning interests
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui:
(1) untuk mengetahui gambaran minat belajar siswa sebelum dan sesudah diberikan teknik STIFIn Learning, (2) untuk mengetahui gambaran pelaksanaan teknik STIFIn Learning Guidance. (3). untuk mengetahui teknik STIFIn Learning Guidance meningkatkan minat belajar siswa.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif jenis penelitian quasi eksperimen. Sampel penelitian ini adalah Siswa di SMP Rajawali Makassar Provinsi Sulawesi Selatan sebanyak 22 siswa terbagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.
Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu skala minat belajar sebanyak 30 item pernyataan. Teknik analasisi data menggunakanan analsis deskriptif, uji wilcoxon match pairs test dan gaing score.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa:
(1) minat belajar pada kelompok eksperimen saat pretest rata 42,16% dan 61,94% saat posttest sedangkan pada kelompok kontrol saat pretest rata-rata 65,62% dan pada saat posttest 67,58%, (2) pelaksanaan teknik STIFIn Learning Guidance meliputi tahap persipaan, tahap pelaksanaan dan tahap evaluasi dan (3) teknik STIFIn (Sensing, Thingking, Intuiting, Feeling, Insting) Learning Guidance berpengaruh meningkatkan minat belajar siswa SMP Rajawali Makassar Provinsi Sulawesi Selatan. Kata kunci: STIFIn Learning Guidance, minat belajar
Pendahuluan
Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang mempunyai program yang sistematik dalam melaksanakan bimbingan, pengajaran, dan latihan kepada siswa agar mereka berkembang sesuai dengan potensinya.
Sekolah mempunyai andil yang sangat besar dalam mengarahkan dan membentuk siswa menjadi insan yang berkembang secara oprtimal, sebagaimana yang tertuang dalam Bab 1 Pasal 1 UU RI No. 20 tahun 2003 (Departemen Agama RI, 2007) bahwa melalui sekolah, siswa mendapatkan pendidikan untuk mengembangkan potensi kepribadian secara utuh, baik yang menyangkut aspek intelektual, emosional, moral, sosial, fisik, maupun aspek agama.
Sekolah tidak hanya berperan sebagai transformer ilmu pengetahuan, tetapi sekolah juga berperan dalam mengembangkan potensi diri siswa untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Kehadiran lembaga pendidikan beserta komponen sebagai sarana pendidikan tidak akan cukup untuk memfasilitasi tumbuh kebamag peserta didik.
Oleh sebab itu Peserta didik atau siswa diharapkan mampu terlibat aktif mengembangkan berbagai potensi yang dimiliki. Salah satu hal yang paling penting yang sangat mendukung berhasilnya siswa dalam belajar yaitu bagaimana siswa membangkitkan semangat dan minat untuk belajar.
Namun ironisnya, berbagai permasalahan yang dialami peserta didik terkait dengan kegiatan belajarnya. Berdasarkan survey awal dan studi dokumen yang dilakukan peneliti pada tanggal 4-5 November 2016 di SMP Rajawali Kotamadya Makassar Provensi Sulawesi Selatan diketahui bahwa masih terdapat terdapat siswa yang sering bolos sekolah maupun jam pelajaran.
Permasalahan minat belajar siswa yang rendah di SMP Rajawali perlu dilakukan melalui metode yang menarik. Berbagai pendekatan belajar yang dikembangkan untuk meningkatkan minat dan hasil belajar siswa. Menurut Syah (2006), faktor pendekatan belajar yaitu segala cara atau strategi yang digunakan siswa dalam menunjang keefektifan dan efisiensi proses mempelajari materi tertentu.
Penggunaan metode pengajaran tradisional tidak memberikan dampak positif terhadap minatbelajar dalam kelas reguler (Freeman, et al, 2014). Siswa yang diajar menggunakan model pembelajaran yang aktif meyenangkan memiliki minat belajar yang tinggi (Ambarini, Rosyidi & Ariyanto, 2013; Gani, 2015).
Pendapat tersebut menegaskan bahwa proses pembelajaran siswa membutuhkan strategi yang menarik dan menyenangkan bagi siswa. Salah satu strategi yang dapat dilakukan dalam proses pembelajaran yaitu STIFIn Learning yang dikembang oleh Farid Poniman. STIFIn. Badaruzaman (2013:71), mmengatakan bahwa STIFIn Learning adalah sebuah teknik belajar yang bertujuan menjadikan iii aktivitas belajar menjadi lebih mudah dan nyaman, sekaligus memberikan hasil belajar yang lebih maksimal sesuai dengan bakat alami.
Pendekatan yang sederhana, akurat dan aplikatif dapat menggunakan teknik STIFIn Learning yang memaksimalkan bakat alamiah atau cara belajar sesuai dengan mesin kecerdasan dan kepribadian. Hasil penelitian Mundiri & Zahra (2017: 201) menunjukkan bahwa metode STIFIn sangat membantu santri menghafal alQur’an dengan lebih mudah dan nyaman, karena menyesuaikan metode dengan potensi genetik masing-masing.
STIFIn digunakan untuk mengetahui dominasi kecerdasan mesin agar siswa lebih nyaman dalam proses pembelajaran yang diharapkan bisa meningkatkan daya matematis (Rafianti & Pujiastuti, 2017).
Pendapat terebut menunjukkan bahwa teknik STIFIn Learning merupakan metode pembelajaran yang menarik dan menyenangkan mampu memberi kemudahan bagi siswa dalam belajar. Beberapa penelitian tersebut menegaskan bahwa minat belajar sangat menetukan proses kegiatan belajar siswa. Minat belajar siswa sangat dipengaruhi oleh strategi pembelajaran yang dilakukan pendidik di kelas.
Dalam penelitian ini akan fokus mengkaji penggunaan teknik STIFIn Learning dalam meningkatkan minta belajar siswa. Dengan demikian, pertanyaan penelitian ini adalah apakah teknik STIFIn Learning Guidance berpengaruh terhadap peningkatan minat belajar siswa SMP Rajawali Makassar Provinsi Sulawesi Selatan.
Metode Penelitian
Pendekatan penelitian ini menggunakan kuantitatif jenis quasi eksperimental dengan PretestPosttest Control Group Design. Penelitian ini terdiri dua variabel yaitu STIFIn learning guidance sebagai variabel bebas (independen) dan minat belajar sebagai variabel terikat (dependent).
Populasi dalam penelitian ini sebanyak 88 siswa dan sampel yang digunakan 22 siswa dengan menggunakan teknik simple random sampling. Sampel dibagi menjadi dua yaitu kelompok eksperimen yang diberi perlakuan beripa teknik STIFIn Learning dan kelompok kontrol tidak diberi perlakuan.
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan skala yang berisi 30 item pernyataan terkait minat belajar siswa dengan skala penilaian 1-4. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif dan analisis uji wilcoxon Signed Ranks Test (Z) dengan taraf kesalahan ditetapkan sebesar 0,05%.
Hasil Penelitian
Kelompok Ekserimen Untuk mengetahui kecendrungan minat belajar siswa SMP Rajawali Makassar pada kelompok eksperimen dan kontrol digunakan skor rerata ideal sebagai perbandingan. yang diadopsi dari Saefuddin Azwar (2014: 147). Berikut ini merupakan klasifikasi kecendrungan minat belajar sebagai berikut.
1. bahwa terdapat 10 siswa yang memiliki kecendrungan minat belajar rendah dan 1 siswa yang memiliki kecendrungan minat belajar berkategori 1 tinggi.
2. bahwa terdapat 9 siswa yang memiliki minat belajar berkategori tinggi dan 2 siswa yang memiliki minat belajar berkategori sangat tinggi.
3. bahwa terdapat 9 siswa yang memiliki minat belajar berkategori rendah dan 2 siswa yang memiliki minat belajar berkategori tinggi.
4. bahwa terdapat 5 siswa yang memiliki minat belajar berkategori rendah dan 6 siswa yang memiliki minat belajar berkategori tinggi.
Adapaun desain treatmen STIFIn Learning Guidance yang digunakan pada kelompok eksperimen meliputi tahap persipaan, tahap pelaksanaan dan tahap evaluasi,
sedangkan pada kelompok kontrol tidak diberi perlakuan namun tetap mendapat layanan bimbingan dan konseling yang ada di SMP 0 5 10 15 sangat rendah rendah tinggi sangat tinggi Kecendrungan minat belajar siswadi SMP Rajawali Makassar jumlah 0 5 1 0 sangat rendah rendah tinggi sangat tinggi Kecendrungan minat belajar siswadi SMP Rajawali Makassar jumlah 0 2 4 6 8 10 sangat rendah rendah tinggi sangat tinggi Kecendrungan minat belajar siswadi SMP Rajawali Makassar jumlah 0 5 1 0 sangat rendah rendah tinggi sangat tinggi Kecendrungan kecendrungan minat belajar siswadi SMP Rajawali Makassar jumlah v Rajawali Makassar Provinsi Sulawesi Selatan.
Hasil analisis tersebut menunjukkan bahwa pada kelompok eksperimen, nilai nilai Z hitung lebih besar dari nilai Z tabel yaitu 2,914 > 2,262 dan nilai signikasi hitung lebih kecil dari taraf kesalahan 5% yaitu 0,003< 0,05.
Hasil analisis pada kelompok kontrol menujukkan bahwa nilai Z tabel yaitu 1,646 < 2,262 dan nilai signifikasi hitung lebih besar dari taraf kesalahan 5% yaitu 0,100 > 0,05. Berdasarkan hasil analisis tersebut dapat disimpulkan bahwa teknik STIFIn learning berpengaruh meningkatkan minat belajar siswa kelas VII di SMP Rajawali Makassar Provinsi Sulawesi Selatan.
Pembahasan
Minat belajar siswa dalam mengikuti pembelajaran merupakan sesuatu yang penting dalam kelancaran proses belajar mengajar. Minat belajar dalam adalah ketertarikan dan keinginan besar untuk berhasil dalam proses belajar yang ditandai dengan perasaan senang, kesadaran serta memberikan perhatian yang besar dalam aktivitas belajar.
Syah (2006) lebih spesifik medefinisikan minat belajar sebagai kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu yang ingin dicapai. Siswa yang mempunyai minat belajar tinggi dalam proses pembelajaran dapat menunjang proses belajar mengajar untuk semakin baik, begitupun sebaliknya minat belajar siswa yang rendah maka kualitas pembelajaran akan menurun dan akan berpengaruh pada hasil belajar.
Minat belajar siswa dapat diketahui dari pernyataan senang atau tidak senang maupun suka atau tidak suka terhadap suatu objek tertentu, tetapi dapat juga ditunjukkan melalui partisipasi aktif dalam suatu kegiatan belajar. Siswa yang memiliki minat terhadap belajar cenderung memberikan perhatian yang lebih besar dan bersungguhsungguh.
Minat dapat disebut sebagai faktor kunci/ penggerak yang mendorong siswa untuk memberikan perhatian serta terlibat hadir dalam berbagai kegiatan, sehingga adanya minat diharapkan siswa dapat berkonsentrasi dalam berbagai aktivitas belajar. Berbagai upaya yang harus dilakukan mengingat pentinganya minat belajar bagi siswa.
Salah satu metode yang dapat digunakan untuk meningkatkan minat belajar siswa yaitu melalui teknik STIFIn Learning. Badaruzaman (2013:71), mmengtakan bahwa STIFIn Learning adalah sebuah teknik belajar yang bertujuan menjadikan aktivitas belajar menjadi lebih mudah dan nyaman, sekaligus memberikan hasil belajar yang lebih maksimal sesuai dengan bakat alami.
Pendekatan yang sederhana, akurat dan aplikatif dapat menggunakan teknik STIFIn Learning yang memaksimalkan bakat alamiah atau cara belajar sesuai dengan mesin kecerdasan dan kepribadian. Hasil penelitian Mundiri & Zahra (2017: 201) menunjukkan bahwa metode STIFIn sangat membantu santri menghafal al-Qur’an dengan lebih mudah dan nyaman, karena menyesuaikan metode dengan potensi genetik masing-masing.
Hasil penelitian yang dilakukan di SMP Rajawali Makassar Provinsi Sulawesi Selatan menunjukkan bahwa teknik STIFIn learning berpengaruh meningkatkan minat belajar siswa. Wilcoxon match pairs test yang menunjukkan nilai Z hitung lebih kecil dari nilai Z tabel yaitu 1,646 < 2,262 dan nilai signikasi hitung lebih besar dari taraf kesalahan 5% yaitu 0,100 > 0,05.
Hasil uji Wilcoxon match pairs test diperkuat hasil analisis gaing score yang menunjukkan bahwa terdapat 4 siswa yang memiliki peningkatan minat belajar yang berkategori tinggi dan 7 siswa yang memiliki peningkatan minat belajar yang berkategori sedang setelah mendapakan teknik STIFIn learnin. Rata-rata skor minat belajar yang dimiliki siswa SMP Rajawali Makassar pada saat pretest yaitu 42,16%. Selanjutnya, rata-rata skor minat belajar yang dimiliki siswa SMP Rajawali Makassar pada saat saat posttest mengalami peningkatan menjadi 61,94%.
Hasil lain dari penelitian ini menunjukanan bahwa siswa di SMP Rajawali Makassar Provinsi Sulawesi Selatan yang tidak mendapat Teknik STIFIn learning menunjukkan tidak terdapat perubahan signifikan pada minat belajarnya. Wilcoxon match pairs test menunujukkan bahwa nilai Z hitung lebih kecil dari nilai Z tabel yaitu 1,646 < 2,262 dan nilai signikasi hitung lebih besar dari taraf kesalahan 5% yaitu 0,100 > 0,05.
Hasil uji Wilcoxon match pairs test diperkuat hasil analisis gaing score yang menunjukkan bahwa tidak terdapat siswa yang memiliki peningkatan minat belajar. Rata-rata skor minat belaja yang dimiliki siswa SMP Rajawali Makassar pada saat pretest yaitu 65,62%. Selanjutnya, rata-rata skor minat belajar yang dimiliki siswa SMP Rajawali Makassar pada saat saat pengukuran kedua mengalami peningkatan menjadi 67,58%.
Hasil lain dari analisis tersebut menunjukkan bahwa gain score yang pada kelompok eksperimen sebesar 0,1 dengan kategori rendah. Hasil analisis gaing score menegaskan bahwa siswa siswa kelas SMP Rajawali yang tidak mendapat perlakuan berupa teknik STIFIn learning tidak mengalami peningkatan minat belajar secara signifikan.
Hasil penelitian ini didukung oleh Nistiningtyas (2013) yang menyatakan bahwa hasil tes STIFIn di kelas VIII SMP IT Al- Amri Probolinggo mampu mengindetifikasi tujuh tipe kecerdasan yang berdampak pada peningkatan prestasi belajar. Teknik STIFIn learning mampu memberikan kenyaman, kemudahan bagi siswa dalam proses pembelajaran.
Complex domain occurs when a lot of knowledge overloads and knowledge trek phenomenon appeared with the raise of product complexity and the explosion of knowledge and information. The knowledge content of complex domain is difficult to organize.
One of the complex domain is STIFIn Fingerprint Personality Solution. However, it is difficult to organize the knowledge of STIFIn solution since it is a complex domain. Knowledge acquisition also a part of the problem because there is an only little number of STIFIn certified trainer that expert in STIFIn solution. The other circumstances are an STIFIn solution also have the possibility to be extended in future.
To solve the following problem, Structured Knowledge is used to structure the knowledge content that will be more effectively organize the content in order to enhance reusable and extendable of the knowledge model. Structured Knowledge contains a wealth information, it can effectively help to carry out the knowledge of the complex domain.
There are many ways to express the structured knowledge, Ontology is one of them. In this paper will discuss the development of STIFIn Ontology based on METHONTOLOGY approach.
The personality is hypothesized to lead to ideas associated with the conduct
[1]. In the different words, studying outer behaviors may be used to persona analysis seeing that conduct is the expression of persona. Human personality may effect on many social sports including instructional overall performance
[2], getting to know approach preference
[3] and academic motivation. With admiring to different research have located that personality to be associated with academic performance, the desire of electives, finishing university schooling, and desire of career
[4-6]. There are numerous distinct schemes of in determining character types of personality. As an example, the learning fashion stock (LSI; Kolb, 1984), the big five frameworks (Costa and McCrae, 1992), and the MBTI (Myers, 1993), and STIFIn via Farid Poniman. In this take a look at, STIFIn Fingerprint test with the aid of Farid Poniman has been selected as a complicated area. While there are lots of overloads and knowledge trek phenomenon regarded with the rise of product complexity and the explosion of understanding and facts.
The hassle in STIFIn Fingerprint check is the end result from the fingerprint test are complicated facts and information isn’t in an understanding way. Any other trouble raised does no longer have enough knowledge in this subject, so it hard to locate a knowledge. Due to lack of understanding, the understanding desires to capture the knowledge and flip it into knowledge model. Established understanding could be very popular in structuring the complex understanding. One in all a method to shape the information is Ontology.
Ontologies at the moment are central to many packages which include semantic web provider, information management, digital commerce, and medical expertise gadget. An absolutely described and well-structured technique can reduce ontology development time and increase the rate of success for an assignment. But, there exist no mature information technique fro ontology development.
METHONTOLOGY, though, has been adopted in several ontology developments because of its area independent characteristic. On this study, standards that have considered for selecting an ontology development method have been the diploma of adaptability by way of non-specialists, the ranges of information of the technique, whether to aid iterative development responsibilities, pointers for formalization, the device helps, recommended techniques, and so on.
2 Based totally on the standards, METHONTOLOGY had been observed as the most suitable method to develop an ontology. The goal of this study, primarily based on development enjoy, to analyze the ontology improvement lifestyles cycle counseled in METHONTOLOGY. Discover problems associated with the METHONTOLOGY technique, OWL-DL, and Protégé-OWL additionally discussed later. This paper is prepared as follows.
Phase 2 offers a brief overview of METHONTOLOGY, OWL-DL, and Protégé-OWL. Phase 3 describes the entire ontology development existence cycle of STIFIn ontology. Section 4 discussion lessons found out from this venture. Eventually, Section 5 summaries from the examine and indicates
2 STIFIn Ontology Development Background
2.1 METHONTOLOGY METHONTOLOGY
turned into in the beginning derived from the enjoy of developing Chemical Ontology at Polytechnic college of Madrid [7]. It became first delivered in 1999. Then, in 2004, it became accelerated and categorized into three vast strategies.
Every technique contains unique activities:
(1) the management manner consists of scheduling, manipulate and fine guarantee,
(2) the improvement technique is split into specification, conceptualization, formalization, implementation, and upkeep, and (three) the aid technique consists of 5 activities, i.e., information acquisition, evaluation, documentation, configuration management, and integration.
METHONTOLOGY adopts a few tips from the IEEE general for software program improvement (IEEE, 1996). In this paper, we mainly focus on the development process because that is the most important process in METHONTOLOGY.
2.2 OWL-DL
OWL is an ontology language for the Semantic Web, developed by W3C Web Ontology Working Group. OWL is classified into three sub-languages: OWL-Lite, OWL-DL, and OWL-Full. OWL-Lite is the syntactically simplest sub-language. OWL-DL is much more expressive than OWL-Lite and based on Description Logics (DL).
DL is a decidable fragment of the first order logic, and therefore, amenable to automated reasoning. OWL-Full is the most expressive sublanguage. However, because it is impossible to perform automated reasoning on OWL-Full sub-language, we selected OWLDL as our ontology development language. 2.3 Protege-OWL
Although METHONTOLOGY recommends WebODE as a technological framework, we selected Protégé-OWL for the subsequent reasons. First, Protégé-OWL is more harmonized with OWL-DL than other tools. Second, it is platform- unbiased in order that builders can apply it to any platform.
Third, due to the fact Protégé-OWL is a free and open ontology editor, this device has high accessibility as compared with different ontology development tools. Furthermore, Protégé-OWL supports diverse plug-ins. The most useful plug-in for our project is OntovizTab which shows an ontology with graphical perspectives.
Although the development of Protégé-OWL has been traditionally driven with the aid of biomedical applications [8], the system is area independent. Although the development of Protégé-OWL has been historically driven by biomedical applications [8], the system is domain in dependent with any other domains
3 METHONTOLOGY Development Life-Cycle
MENTHONTOLOGY were divided into three broad processes. Each process contains specific activities. The three broad processes are a Pre-development process (Scheduling and Specification), the Development process (Conceptualization, Formalization) and Post-development process (Validation). . The figure 3.1 below shows the step in developing ontology using METHONTOLOGY approach.
3.1 Pre-Development Process: Scheduling and Specification
There are two phases involved in this stage which is scheduling and specification process. The aim for the scheduling activity is to identify the essential task, organize those tasks and to allocate time and resource. During planning stage also need to decide what tools want to use, what kind of language to use and the software for the development.
This is a crucial stage where if the task not planning well, it will be caused to project delay and cost overrun. To avoid that from happening, during the pre-development process, scheduling stage must be done correctly and accurately. Meanwhile, in the specification stage, the domain and the scope of ontology are identified, which include the purpose of the ontology, the intended users, and others.
The goal of the specification phase is to produce either an informal, semi-formal or formal knowledge representation using a knowledge representation tools. Several activities had been carried out such as the search for existing knowledge ontology, domain analysis and knowledge acquisition in order to obtain an ontology specification document.
The output for this activity is the concept mapping of STIIFn knowledge using CMap tools. Cmap tools were used to described and recorded hundreds of concepts, their definitions, binary relationships between them in the form of theoretical axioms, and other contextual information
3.2 Development Process
As recommended by METHONTOLOGY, we first performed a scheduling activity in order to plan the main tasks for the STIFIn ontology development. The objective of the scheduling activity is to identify the essential tasks, to organize those tasks, and to allocate time and resources (e.g., people, a development tool, an ontology language, etc.). We chose OWL-DL as an ontology language and Protégé-OWL as a development tool.
3.2.1 Conceptualization
The focus in this stage is to arrange and structure the knowledge acquired from the exterior illustration and implementation. The conceptualization stage starts with changing informal data into semi-formal specifications using a set of intermediate representations (IRs) primarily based on tabular and graph notations supplied by using 4 METHONTOLOGY.
These IRs (i.e. concept, attributes, relations, axioms, and rules) are precious due to the fact they are easily understood by means of area expert and ontology developer The strategy used to conceptualize STIFIn knowledge is the use of a manual strategy which is embedded inside the chosen texts. The conceptualization manner started out with the identification and recording of all phrases and principles of interest.
There are five necessary concepts as the sub-ontologies underneath which other principles could be placed. These main principles included: 1) Personality, 2) Learning, 3) Career and 4) Teaching. Next, other personality-related standards had been identified and placed under their associated categories.
Cmap tools were used to described and recorded thousands of concepts, their definitions, binary relationships between them in the structure of theoretical axioms, and different contextual information about them. However, this preliminary thought mission underwent many variations as improved with conceptualization task.
3.2.2 Formalization of Conceptualization
IRS developed for STIFIn ontology during the conceptualization were finally formalized and implemented. Protégé- OWL were used to convert the formal model into an OWL-DL. This tool allows us to store the specified concepts in a class hierarchy and provides facilities for the description and definition of their properties, constraints, and their links with other concepts.
The figure below shows the hierarchy of STIFIn ontology. Protégé-OWL supports graphical representation of a class hierarchy though OWLVIZ plug-in. This visualization function helps developers and users understand the structure of the ontology more easily than merely showing a text-based ontology structure. Figure 3.2 show the hierarchy of STIFIn ontology.
Fig 3.2 Hierarchy of STIFIn Ontology The class hierarchy was developed and formalized by means of a combination of top-down and bottom-up classification strategies [8]. Using a top-down approach, it began with the creation and description of the seven specified general concepts or sub-ontologies. Each of these top-level concepts, then, integrated a few relevant middle-level concepts. Some of these middle-level concepts were defined via a top-down method.
The classified concepts of the class hierarchy were then defined and described using the object properties. Object properties represent ontological relationships which link different classes (concepts) together. Furthermore, the tools allowed to add a comment, label, definition, and other metadata to concepts and axioms and restrict their application to certain contexts.
3.3 Post-Development Process
The ontology should be validated before they are used or reused. Ontology evaluation has three types of evaluation which are ontology verification, ontology validation, and ontology assessment [3]. Ontology verification is to ensure whether the ontology is implemented correctly according to all the expected requirements. Meanwhile, ontology validation refers to whether the ontology concepts really represent the real world for which the ontology was created.
In order to ensure a workflow to be executed correctly, expert validation technique was used to validate the workflow ontology and knowledge. First, expert checked whether all individual concepts were consistent and ensured no contradictory concept could be inferred from other concept and axioms. Then, expert ascertained the classification hierarchy and disjoint knowledge to compute completeness. Finally, expert will fill the form regarding the knowledge insight in developing STIFIn ontology.
4 Discussion
In this section, we analyze METHONTOLOGY with a critical view based on our STIFIn ontologydevelopment experience in order to address some issues of METHONTOLOGY. We also discuss some problems of OWLDL and Protégé-OWL. First of all, we present several drawbacks of the METHONTOLOGY approach.
First, METHONTOLOGY does not provide specific guidelines for assigning individual developers to certain tasks. METHONTOLOGY consists of three different processes (i.e., management, development, support process). According to METHONTOLOGY, those processes are carried out simultaneously and each of them is performed by various developer groups (e.g., domain experts, ontology experts, etc).
However, it does not explain how to allocate those groups to specific tasks, how to combine those tasks together once divided works are completed, and so on. Second, one of the important motivations to adopt METHONTOLOGY is that even a domain expert is supposed to build an ontology easily without help from ontology experts. However, according to our experience, that is not the case.
Even though METHONTOLOGY could be fully understood by a domain expert, it is not easy to develop an ontology by understood by a domain expert, it is not easy to develop an ontology by the domain expert alone without help from an ontology specialist. Third, METHONTOLOGY focuses heavily on conceptualization and this could be a problem.
We found that the IRs developed during the conceptualization phase are sometimes not seamlessly codified into an ontology language. This can cause delays during the formalization and implementation stages. Fourth, METHONTOLOGY does not provide sufficient explanations about methods and techniques applied in each stage, such as a detailed technique on how to extract concepts and methods on identifying relations among concepts.
5 Conclusion
METHONTOLOGY by actually developing an ontology for real-world use since we would like to analyze the ontology development methodology, the ontology development language, and the development tool. There are numerous contributions on this research. First, despite the fact that previous studies commonly focused on the usage of in preference to the analysis of METHONTOLOGY, for the primary time, we tried to research the method with a vital view with the intention to locate its strengths and weaknesses.
Second, primarily based on an expansion of reviews, this take a look at discusses lessons found out from the development revel in and gives useful hints to practitioners who need to increase an ontology based on the METHONTOLOGY technique on their tasks. Our examine also offers a few insight to ontology technique researchers who want to accumulate a greater superior ontology development technique.
STIFIn ontology may be reused by means of other character trits or similar domain names considering that it’s far advanced based totally on standard principles usually used in the area. However, there are some obstacles of the STIFIn project. First, even though METHONTOLOGY encouraged builders to use WebODE as a building tool, we had to adopt Protégé-OWL because WebODE was no longer available.
Even though Protégé-OWL is available and one of the most broadly used ontology improvement tools, the adoption of Protégé-OWL as a substitute of WebODE would possibly influence our conclusion on the issues of METHONTOLOGY. Second, considering none of the preceding research tried to boost an ontology for the personality traits, the fine of two STIFIn ontology can’t be in contrast and evaluated.
In conclusion, this learn about provides several contributions to the ontology methodology and sensible implications in the ontology improvement research field. Therefore, we agree with that our find out about will promote further research on this area. In the future, a comparison between WebODE and Protégé-OWL ought to be made to examine their variations when adopting the METHONTOLOGY.
References
1. Corcho, O., M. Fernández-López, A. Gómez-Pérez, andA. López-Cima, Building legal ontologies with METHONTOLOGY and WebODE in Law and the Semantic Web. Legal Ontologies, Methodologies, Legal Information Retrieval, and Applications, Benjamins, V. R., Casanovas, P., Breuker, J., and Gangemi, A. (Eds.), March 2005, Springer-Verlag, LNAI 3369. pp. 142-157.
2. O. Corcho, M. F. López and A. Gómez-Pérez, “Methodologies,tools and languages for building ontologies. Where is their meeting point?,” Data and KnowledgeEngineering, vol. 46, issue 1, July 2003, pp. 41-64.
3. Fernández-López, M., A. Gómez-Pérez, and N. Juristo, METHONTOLOGY: From Ontological Art Towards Ontological Engineering, Symposium on Ontological Engineering of AAAI, Stanford (California), March , 1997.
4. M. Fernández-López, A. Gómez-Pérez, and A. Pazos-Sierra, “Building a Chemical Ontology Using Methontology and the Ontology Design Environment,” IEEE IntelligentSystems, Vol. 1(January/February), 1999, pp.37-46.
5. Gómez-Pérez, A, Some Ideas and Examples to Evaluate Ontologies, tech. report KSL-94-65, Knowledge System Laboratory, Stanford Univ, 1994.
6. A. Gómez-Pérez and J. Pazos, “Evaluation and assessment of knowledge sharing technology,” In Mars, N.J. (ed.): “Towards Very Large Knowledge Bases,” IOS Press, 1995, pp. 289-296.
7. Gómez-Pérez, A., M. Fernández-López, and O. Corcho, Ontological Engineering: with xamples from the areas of knowledge management, London: Springer-Verlan, 2004.
8. J. Gennari, M. Musen, R. Fergerson, W. Grosso, M.Crub´ezy, H. Eriksson, N. Noy, and S. Tu, The evolution of Protégé-2000: An environment for knowledgebase systems development,” International Journal ofHuman-Computer Studies, Vol. 58(1), 2003, pp. 89–123.ds1`].
Abstract—Early Childhood Education (ECE) is the stage and stage of learning era of golden age. At this time the child experiencing the process of growing the most optimal, both cognitive and mental attitudes. For that required a quality learning process that is able to grow the character. The leadership of ECE heads influences the effectiveness of character education. One STIFIn method is believed to have a formulation in character education.
The study used a qualitative approach, with a single case study design. The results showed that the principal in TK Plus Mutiara Ilmu, Pandaan was quite effective in interpersonal communication with the teacher. The principal implements a transactional leadership pattern that brings the teacher’s moral imperative in applying the child’s character development. Teachers with STIFIn methods are more open and have a positive attitude.
Based on the STIFIn circulation theory, the principal has relatively good team, and is in a strong position.In addition supported by subordinates, it also effectively affects subordinates, in addition STIFIn methods are able to provide differences and effective changes in interpersonal communication to teachers and children in growth character. Keywords—early childhood leadership, character growth, STIFIn method
I. INTRODUCTION
Since the mid-1990s the Government of Indonesia has begun to seriously respond to the existence of education for children of early ages by making policies set forth in Law No.20 of 2003 on National Education System. This certainly takes into consideration many aspects so that the existence of this long-standing education has gained a response and is part of the national education system.
Early childhood education is considered the most strategic,because it determines the quality of human resources and nation leaders in the next 30-40 years.
(Sonhadji, 2014). Considering that, it becomes very important for early childhood as the first place of character development of children that will determine in the process of its continuation.
The challenges of early childhood education in the future face obstacles, called Herawati (2016), covering:
(1) teacher education level where only 23.06% are educated strata-1 (S1), Meanwhile, according to National Education Standards should be ECE teachers both formal and non formal minimum S1 PAUD (S1 ECE), psychology, or education;
(2) the issue of the quality of ECE programs and institutions;
(3) still one-third of children aged 3-6 years who have not received ECD services;
(4) family involvement that has not been aligned with ECE institution. Whereas early childhood is the work to build the foundation of the nation and grow children develop. So all parties, including parents, should support the effort;
(5) early childhood learning that should be 80% attitude building, nowadays it focuses on academic reading-write-counting learning.
Seeing the latest problems and challenges requires leadership leadership that can foster children’s character from an early age. Leadership is the ability to influence a group of members to work to achieve goals and objectives. Hughes, Ginnet & Curphy (2012) defines leadership as the process of influencing an organized group to achieve group goals (Arifin, 2010).
Yukl (1981) defines “Leadership has been defined in terms of individual traits, behavior, influence over other people, interaction patterns, role relationships, occupation of an administrative position, and perception of other regarding legitimacy of influence.” ,
Jillian Rodd (2006) gives the definition: “Leadership is understood as a share process where effective leaders draw on a range of strategies to achieve positive and ethical outcomes for members of the group or the organization.”
Leadership is also interpreted as (1) science and art, and
(2) rational and emotional. Interpreted science as well as art emphasizes that the issue of leadership can look back in terms of theoretical and practical aspects. Likewise, when leadership involves the rational and emotional side of human experience. Leadership includes a number of actions and influences based on reason and logic and inspiration and the calling of the soul (Hughes, Ginnet, & Curphy, 2012) aspects of interacting with others. Communication will affect someone, both known and unknown at all (Arifin, 2010).
This type of interpersonal communication is a communication process This is an open access article under the CC BY-NC license, the Authors. Published by Atlantis Press. 295 Advances in Social Science, Education and Humanities Research (ASSEHR), volume 66 1st Yogyakarta International Conference on Educational Management/Administration and Pedagogy (YICEMAP 2017) that is viewed from perception of others (interpersonal).
Interpersonal communication through face-to-face meetings, allowing each culprit to capture the reactions of others directly, either verbally or non-verbally (Morissan, 2013). Effective interpersonal communication can also be explained from the perspective of The 5 Inevitable Laws of Effective Communication, namely Respect, Empathy, Audible, Clarity, and Humble (REACH).
This is relevant to the principle of interpersonal communication, ie as an effort to gain attention, recognition, love, sympathy, and positive response from others (Suranto, 2011). Meanwhile, Devito (2011), put forward five positive attitudes that need to be considered when someone is doing interpersonal communication.
The five positive attitudes, including indicators: (1) openness; (2) empathy; (3) supportiveness; (4) positiveness; And (5) equality.
The declaration of strengthening character education by Ministry of Education Affairs, Indonesia Republic brings great hope about the change of constructive and substantive educational paradigm. Constructive because forming human character is necessary human being creative and critical and will become trend setter for environment.
Human character formation process is not a short process but requires time, strategy, finance and integrated system that can support character education into a school culture and family culture Stage of education and character planting at least through four stages.
First, Knowing, at this stage children are given knowledge about good and bad behavior and norms that exist in society. Secondly, reasoning provides an understanding of the child that raises awareness and can feel. Third, feeling, feel the impact when children do good both at school and at home.
Fourth, acting where the child takes action as a manifestation of knowledge, understanding and feelings of children so that will be internalized in the child’s personality. The process of internalization of character education can not be done if it does not involve parents who have a major contribution in child growth, especially at the early childhood stage.
Early childhood education is one of the many developed strategic programs Wortham (2005) states “Assessment should involve the child and Family”. That is, the identification of the needs of early childhood education should involve parents and nursemaid as a source of information because many children spend time at home.
Pre-school, kindergarten and early primary education are more understanding of the needs and abilities of children in learning but it will be difficult if at the beginning of the lesson do not get information from parents about children’s habits, child preferences and the ability of children who conspicuous.
So the information obtained at home is developed in schools. School mother also serves as a means of communication between parents and institutions early childhood and then after the children get character education can be developed and implemented at home ECE is part of lifelong education, as a concept that has been popularized by UNESCO with the term “Life Long Education”.
This is in line with the Islamic teachings on lifelong education. The concept of Islam on this subject which has been popularized by UNESCO has been a guide in elevating human dignity, including Indonesian people.
Therefore, the children of this nation need to get coaching from an early age through education so that they will not be left behind by other nations in the world (Mulyasa, 2012). Character education for early childhood has a higher meaning than moral education because it not only deals with true-false issues but how to inculcate habits about good behaviors in life, so that children have awareness, and a high understanding, and a concern and commitment to apply Virtue in everyday life.
Since character is a natural trait for early childhood to respond to the situation morally, it must be manifested in concrete action through habituation to behave kindly, honestly, responsibly, and respectfully to others.
Character education requires the involvement of stakeholders including the components that exist within the education system itself, namely: curriculum, lesson plans, learning process, assessment mechanism, relationship quality, learning management, school management, selfdevelopment of learners, empowerment of infrastructure, Financing, and work ethic of all citizens and the school environment.
The success of character education for early childhood is dependent on the presence or absence of awareness,understanding, awareness, and commitment of various parties to education. The concept of STIFIn is built by the theories of experts in each field which then elaborated.
There are three terrors that form the basis of the STIFIn concept, namely:
(1) Basic Function Theory of pioneering analytical psychology Carl Gustav Jung who said that there are four basic human functions namely Sensing, Thinking, Feeling, Intuition. Of the four basic functions, only one of them is dominant;
(2) The Hemisphere Theory of a neuroscientist Ned Hermann who divides the brain into four quadrants of the left and right limbic, as well as the left and right cerebral; And
(3) Brain Strata Theory of Triune (three in one brain) from neuroscientist, Paul MacLean who divides the human brain based on the evolutionary results: the human brain, mammals, and reptiles (Hunt & Love, 2002; Buzan, 2005). The STIFIn concept explains many things, proving that this concept has new synthesis results. STIFIn was developed based on seven theories (Poniman, Nugroho, & Azzaini, 2003); (Poniman, 2015),
among others:
(1) The theory of crossingas superior and inferior in one package.This theory explains the cross-linkage of intelligent Intuiting and Intuiting-Thinking-Feeling interactions;
(2) The theory of slicing equations (between the quadrant and diagonal poles), ie the interconnectedness of each other, such as: Thinking – Intuiting has similarities in investigative work and analysis. In addition, compiled Sensing – Feeling in 296 Advances in Social Science, Education and Humanities Research (ASSEHR), volume 66 terms of social relationships;
(3) Theory of a five-sided social relation (STIFIn Circulation Theory). STIFIn describes the interaction of social interaction, in two conditions, namely (a) mutual support, and (b) mutual conquering relationships;
(4) The theory of alignment of body metabolism based on the machine of his intelligence. STIFIn explains the biological condition of a person in harmony between the intelligence engine with the metabolism elements of each MK,
namely: (a) Sensingorgan of the digestive system (stomach); (b) Thinking-organ excretion system (kidney); (c) Intuiting-organ synthesis system (liver) and nervous system; (d) respiratory / respiratory organisms; And (e) Instinct-organ of the circulatory system and the center of equilibrium;
(5) Calibration theory based on intelligence machine. STIFIn reveals how each intelligence engine releases its pressure and regains its best state;
(6) Genetic theory according to the machine of intelligence. Based on intelligence machines and intelligence drives,STIFIn groups personality genetics or intelligences into nine groups,
(7) the theory of the genetic strata. The concept of dividing STIFIn ranks the sequence against human genetics. Here is the sequence of genetic strata from highest to low
namely:
(a) gender; (b) machine of intelligence; (c) drive of intelligence; (d) hardware capacity; and (e) blood type.
II. RESEARCH METHODS
Research conducted by conducting experiments to the principal and some teachers. Teachers are divided according to their class groups, namely the teachers of KB1 (KB group 1), A1 (TK A group 1), A2 (TK A group 2), KB2 (KB group 2), B1 (TK B group 1). And B2 (TK B group 2).
To the principal and teachers of KB1, A1 and B1 will be treated by STIFIn method, ie by doing a test to know the PG of each teacher. Another treatment is to introduce STIFIn concepts to principals and teachers, including the effectiveness of communicating with after knowing each PG (teacher and principal).
Meanwhile, teachers of KB2, A2 and B2 will not be treated with the STIFIn method, meaning that the teachers will not recognize each other’s PG, so the principal and teacher do not know it.
To this group of teachers will not be introduced about the concept of STIFIn, as well as PG owned by the principal. So it will be left natural in terms of interacting and communicating. While the principal and the two groups of teachers are also distributed questionnaires / questionnaires and interviews to find out more about effective communication patterns developed so far including after understanding the concept and method STIFIn (teacher group 1).
III.RESULTS AND DISCUSSION
A. Personality genetic examination From the observations made by researchers during being in TK Plus Mutiara Ilmu Pandaan, and conducted examinatio of teachers, then obtained data according to the table. 1 as follows.
TABLE I. LIST OF INTELLIGENCE MACHINES – PERSONALITY GENETIC Responder Position Personality Genetic Headmaster headmaster Sensing extrovert (Se) Teacher 1 Teacher KB–A Sensing Introvert (Si) Teacher 2 Teacher TK – A1 Instinct (In) Teacher 3 Teacher TK – B1 Thinking Introvert (Ti) Teacher 4 Teacher KB–B unknown Teacher 5 Teacher TK – A2 unknown Teacher 6 Teacher TK – B2 unknown Based on the results of examination on each principal, teacher KB1, teacher A1 and teacher B1 which can be seen intable 2 the following matrix relationship.
TABLE II.
MATRIX OF MK / PG RELATIONSHIP BETWEEN PRINCIPAL AND TEACHER
Same Conquer Mendukung Teacher KB1 (Si) Sama Conquer Promote Teacher A1 (In) Conquered Conquered Supported Teacher B1 (Ti) Supported Supported Promote From the above matrix, the principal’s position is in a relatively strong area because in addition to being supported by A1 teachers and supporting teachers B1 is also a “conqueror” for KB1 teachers. This means, the principal (Se) must play some positions as a leader.
First, the principal becomes an equal partner of the KB1 (Si) teacher. Second, directing and mentoring teachers A1 (In), and thirdly, to teacher B1 (Ti), the principal becomes a facilitator and mentor for the teacher she supports.
Thus, for teachers already known to each MK / PG, the principal must adjust the pattern of interpersonal communication to each teacher of his various MK / PG.
B. Intake of Interpersonal Communication Data From interviews and interviews and questionnaires distributed to principals and teachers with results as Table 3 below. 297 Advances in Social Science, Education and Humanities Research (ASSEHR), volume 66
TABLE III.
ACCUMULATED PRINCIPAL DATA IN STIFIN TREATMENT
No Aspect Strongl y agree Agre e Ordinar y diasgre e Strongly diasgree
1 Openess 31% 46% 23% 0% 0%
2 Emphaty 23%38% 38% 0% 0%
3 Supportiness 23% 0% 31% 46% 0%
4 Possitivenes s 39% 50% 11% 0% 0%
5 Equality 61% 33% 6% 0% 0%
Percentage of data distribution 37% 35% 20% 8% 0% The data in Table 3, generally indicates that the principal is relatively open in communicating with 37%. In addition the principal is considered quite open (46%), empathy to his subordinates (38%), and always positive (50%).
The principal also has parallels with the teachers in interpersonal communication. However, the principal has no supportive attitude to subordinates in interpersonal communication. As for teachers, in the treatment group obtained the following table 4 below.
Percentage of data distribution 36% 39% 14% 11% 0% The data above shows that the tendency of teachers who already get an explanation of the concept of STIFIn has a positive value. In the openness aspect (openness) which 46% indicates that the teacher is very open in communicating.
Teachers also always think positively (possitiveness) as much as 48%, and tend to equalize as much as 50% in interpersonal communication. While in the attitude of support (41%) and have a sense of empathy (41 $%) in interpersonal communication, which it means quite well. The group of teachers who are not treated, obtained data as in table 5 below.
TABLE V.
RESULTS OF TEACHER DATA OUTSIDE STIFIN TREATMENT
No. Aspect Strongl y agree Agre e Ordinar y diasgre e Strongly diasgree
1 Openess 38% 33% 21% 5% 3%
2 Emphaty 28% 41% 26% 3% 3%
3 Supportin ess 13% 41% 31% 13% 3%
4 Possitiven ess 48% 35% 17% 0% 0%
5 Equality 37% 50% 13% 0% 0%
Percentage of data distribution 34% 40% 20% 4% 1% The data above shows that 40% of the overall data has a good tendency toward the five aspects of interpersonal communication. The openness aspect of teachers reaches 38%, emphaty 41%, supportiveness 41%, positive attitude (possitiveness) reaches 48%, and has 50% equality.
C. Results of Growth Assessment of Student Character From the results of treatment to two different groups of teachers, hen carried out the observation of the learning process students in the classroom.
In this section, observations are made by focusing on two independent character values and communication. Observations were made on the KB classes (two classes), TK A (two classes) and TK B (two classes) where each teacher taught.
The following is a table 6a and 6b on the comparison of assessment results in each class.
TABLE VIA. COMPARISON OF TREATMENT CLASSES AND NON SELF-TREATMENT VALUES
COMPARISON OF TREATMENT CLASS AND NON TREATMENT OF COMMUNICATION VALUE
Group 1 Above Average Below Average Group 2 Above Average Below Average Amou nt % Amou nt % Amou nt % Amou nt % KB1 4 5 7 3 4 3 KB2 3 4 3 4 5 7 TK A1 3 3 0 7 7 0 TK A2 6 6 0 4 4 0 TK B1 7 7 8 2 2 2 TK B2 3 4 4 6 5 6 298
Advances in Social Science, Education and Humanities Research (ASSEHR), volume 66 From the table above shows that, in general, the comparison between group / group 1 and group / group 2 in terms of achievement above the average standard of independent ability, each of 57% (Group 1) versus 45% (Group 2) .
It can be seen in more detail where each of the highest achievement is on Group 1 KB1 = 57%; TK A1 = 70%; And TK B1 = 44%. While the lowest achievement (low student score) in Group 1 occurred in the B1 TK class of 56%, while on the same level in Group 2 67%. The highest attainment (high student scores) was achieved by 60% of TK A2 class, where there was a difference of 10% compared to 70% of TK A1.
From the data it can be said that the growth of independent characters tend to occur in Group 1, the group that was given the influence STIFIn method. While on communication skills, it can be seen on the whole that the comparison between Group 1 and Group 2, each of 55% (Group 1) and 49% (Group 2).
When viewed further, then each high value achievement is in Group 1 is KB1 = 57%; TK A1 = 30%; And TK B1 = 78%. The attainment of low grades occurred in 70% of TK A1 classes, and only 40% of low-grade students in the A2 A (60% high grade group is the largest in Group 2). While the achievement of high value in Group 1 is in the class of TK B1 sebear 78%.
From the data and description it can be said that the character of communication skills for students tends to grow better in the class in Group 1 whose teachers have been treated with the STIFIn method. From the above phenomenon affirms that mutually open and mutually recognizable communication, it will facilitate a person to act and take strategic and technical decisions appropriately.
This is what happens after the teachers who already know each other including the leader (principal) so that will facilitate the teacher in carrying out learning to his students. IV.CONCLUSION From the above description can be concluded that the principal in TK Plus Mutiara Pandaan Science quite effective in interpersonal communication with teachers.
The principal implements a transactional leadership pattern that brings the teacher’s moral imperative in applying the child’s character development.
Teachers with STIFIn method are more open and have a better positive attitude compared with unknown teachers personality with STIFIn method. The ability of teachers to understand the potential behavior of children will be easy to approach and treatment to each child in the right way so that children are effective in playing while learning with the growth of character.
Based on the STIFIn circulation theory, the principal has relatively good team, and is in a strong position. Besides supported by subordinates, it also effectively affects subordinates, in addition STIFIn method is able to provide differences and effective changes in interpersonal communication to teachers and children with attitude open.
Principals should use the STIFIn concept to facilitate their leadership process in school, by conducting checks to find out the personality and intelligence of each teacher.
So that will provide an open-endedness to each other that makes the understanding of each personality is known by the principal and other teachers, and eventually will be achieved effective interpersonal communication according to the concept of Johari Window.
To facilitate the learning process and achieve effective learning, schools can perform tests / tests with STIFIn methods to be done such as: class mapping based on the intelligence group of each student, choosing the right teacher so that the teacher style can occur the same as student learning style. Teachers can make well prepared lesson plans, and soon.
REFERENCE [1] Andang. (2014). Manajemen & Kepemimpinan Kepala Sekolah. Sleman: Ar Ruzz.
[2] Arifin, I. (2010). Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Mengelola Sekolah Berprestasi: Studi Multi Kasus pada MIN Malang I, MI Mamba’ul Ulum, dan SDN Ngaglik I Batu Malang. Yogyakarta: Aditya Media
[3] Arifin, I. (2012). Kepemimpinan Kepala PAUD dalam Mengimplementasikan Pembelajaran Sentra: Studi Kasus PAUD Unggulan Nasional Anak Saleh Malang. Yogyakarta: Aditya Media.
[4] BERITASatu.com. (2016). Delapan Masalah PAUD di Indoenesia (http://www.beritasatu.com/pendidikan/353926-inidelapan-masalah-paud-di-indonesia.html). Jakarta: BERITASatu.com. Diambil kembali dari http://www.beritasatu.com/pendidikan/353926-ini-delapanmasalah-paud-di-indonesia.html
[5] Buzan, T. (2005). The Mind Set: Use Your Head, Use Your Memory, The Speed Reading Book and The Mind Map Book. London: BBC Worldwide.
[6] Crow, L., & Crow, A. (1991). Educational Psychology. San. Antonio: Texbook of Advanced Education Psychology.
[18] Piaget, J., & Inhelder, B. (2010). Psikologi Anak (Cet. 1 ed.). (M. Jannah, Penerj.) Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 299 Advances in Social Science, Education and Humanities Research (ASSEHR), volume 66
[19] Poniman, F. (2015). Penjelasan Hasil Tes STIFIn: The Nine of Genetic Personality. Jakarta: Yayasan STIFIn.
[20] Poniman, F., Nugroho, I., & Azzaini, J. (2003). Kubik Leadership. Bandung: Mizan.
[21] Robbins, S. P. (2006). Organizational Behavior: Concepts, Controversies, and Applications. Englewood Clift, New Jersey: Prentice Hall.
[22] Rodd, J. (2006). Leadership in Early Childhood (3rd ed.). Crows Nest, NSW: Allen & Unwin
[23] Sonhadji, A. (2014). Manusia, Teknologi dan Pendidikan: Menuju Peradaban Baru. Malang: UM Press.
[24] Suranto, A. (2011). Komunikasi Interpersonal. Yogyakarta: Graha Ilmu.
[25] Wortham, S. C. (2005). Assesment in Early Childhood Education. Columbus, Ohio: Merill, in Prentice Hall.
[26] Yukl, G. A. (1981). Leadership In Organizations. Englewood Cliffs, NJ: Prentice Hall, Inc.
Metode STIFIn ini merupakan penerapan dari konsep STIFIn yang mengkompilasi dari teori-teori psikologi, neuroscience, dan ilmu sumberdaya manusia.
Cara mengetahui mesin kecerdasan ini dengan STIFIn Fingerprint, sebuah tes yang dilakukan dengan cara men-scan kesepuluh ujung jari untuk mendapatkan sidik jari dengan alat fingerprint.
Sidik jari yang membawa informasi tentang komposisi susunan syaraf tersebut kemudian dianalisa dan dihubungkan dengan belahan otak tertentu yang dominan berperan sebagai sistem operasi dan sekaligus menjadi mesin kecerdasan seseorang yang diberinama STIFIn yang merupakan singkatan dari sensing (disingkat S), thinking (disingkat T), intuiting (disingkat I), feeling (disingkat F), insting (disingkat In).
Dengan menggunakan metode kajian literatur menganalisis bahwa keberadaan mesin kecerdasan dan kepribadian genetik ini mendorong pengembangan potensi kecerdasan manusia yang lebih efektif. Pandangan studi aksiologis metode STIFIn perlu dipelajari secara lebih mendalam, terutama penggunaannya dalam bidang pendidikan.
Keywords: mesin kecerdasan, kepribadian genetik, aksiologi.
1. Pendahuluan
Metode STIFIn ini merupakan penerapan dari konsep STIFIn yang mengkompilasi dari teori-teori psikologi, neuroscience, dan ilmu sumberdaya manusia. Prinsip besarnya mengacu kepada konsep kecerdasan tunggal dari Carl Gustaav Jung (Poniman, 2012).
Cara mengetahui mesin kecerdasan ini dengan STIFIn Fingerprint, sebuah tes yang dilakukan dengan cara menscan kesepuluh ujung jari. Sidik jari yang membawa informasi tentang komposisi susunan syaraf tersebut kemudian dianalisa dan dihubungkan dengan belahan otak tertentu yang dominan berperan sebagai sistem operasi dan sekaligus menjadi mesin kecerdasan seseorang.
Tes ini juga disebut tes otak karena salah satu komponen terpenting yang dianugerahkan terhadap manusia adalah otak. Ibarat sebuah mesin, otak adalah sebuah mesin yang sangat mengagumkan dan tiada tandingannya (Ramly, 2010).
Para ilmuwan menganalisis dan mempelajari otak dengan kemampuan otak mereka. Sehingga muncullah rumusan pembagian otak manusia berdasarkan dominasi kecerdasan. Kecerdasan yang paling dikenal adalah Intelligence Quotient (IQ),
yang hampir seratus tahun lalu diperkenalkan oleh William Stern telah menyita perhatian yang tidak kecil (Pasiak, 2008). Meskipun demikian, kecerdasan dalam STIFIn ini bukanlah mengenai IQ. STIFIn adalah uraian dari sensing (disingkat S), thinking (disingkat T), intuiting (disingkat I), feeling (disingkat F), insting (disingkat In).
Menurut konsep STIFIn, bukan belahan otak yang memiliki kapasitas paling besar yang dianggap dominan, melainkan yang kerap digunakan, paling aktif berfungsi, paling otomatis digunakan, dan menjadi bawah sadar manusia (Poniman, 2012).
Dalam pemanfaatannya metode STIFIn saat ini telah banyak digunakan di berbagai bidang guna pemetaan mesin kecerdasan manusia, terutama di bidang pendidikan. Namun demikian penggunaan metode STIFIn dalam berbagai bidang ternyata masih menimbulkan kontroversi.
Banyak ahli yang masih mempertanyakan keabsahan metode yang digunakan, dan meminta perbandingan dengan jenis tes kecerdasan lainnya yang telah teruji lebih dahulu, serta berbagai pertanyaan terkait dengan teknis yang masih banyak dilontarkan. Berkaitan dengan isu yang disampaikan pada paragraf sebelumnya,
maka penulis akan mengkaji perihal aksiologi metode STIFIn dalam pemetaan mesin kecerdasan manusia yang sebenarnya memiliki banyak manfaat untuk berbagai tujuan. Kajian ini diharapkan memberikan pandangan tentang kepantasan pemanfaatan metode STIFIn dalam pemetaan mesin kecerdasan dan seberapa besar potensi atau manfaat yang diperoleh dari metode STIFIn tersebut. Jurnal Filsafat Indonesia, Vol 1 No 1 2018
2. Metode
Metode yang digunakan adalah metode studi kepustakaan. Penelaahan terhadap bukubuku, literatur-literatur, dan artikel ilmiah dilakukan untuk memperkaya kajian tentang metode STIFIn. Data sekunder dari berbagai hasil penelitian atau percobaan merupakan jenis data yang kemudian disintesis hingga menjadi kesatuan dalam memberikan informasi.
3. Hasil dan Pembahasan
Sejarah perjalanan metode STIFIn dimulai tahun 1999 ketika Farid Poniman bersama rekan-rekannya mendirikan lembaga training Kubik Leadership. Lembaga training tersebut setiap memulai program trainingnya terlebih dahulu memetakan peserta training sesuai dengan jenis kecerdasannya. Sebagai konsep, STIFIn kala itu bisa dibilang masih embrio.
Perbaikan konsep dilakukan di sana-sini seiring dengan berkembangnya penyelenggaraan training Kubik Leadership. Namun, kala itu, tesis atau hipotesisnya sudah matang dan kukuh bahwa manusia memiliki kecerdasan genetik (Poniman, 2012). Teori yang Mendasari Metode STIFIn. Konsep STIFIn ini dibangun berdasarkaan teori-teori yang dielaborasi dari para ahli di masing-masing bidang.
Menurut Poniman (2012) terdapat tiga teori yang menjadi dasar pijakan konsep STIFIn,
yaitu:(1)Teori Fungsi Dasar dari perintis psikologi analitik berkebangsaan Swiss bernama Carl Gustav Jung yang mengatakan bahwa terdapat empat fungsi dasar manusia yakni fungsi penginderaan (Sensing), fungsi berpikir (Thinking), fungsi merasa (Feeling), dan fungsi intuisi (Intuition). Dari empat fungsi dasar itu, hanya salah satu diantaranya ada yang dominan,
(2) Teori Belahan Otak dari seorang neurosaintis Ned Hermann yang membagi otak menjadi empat kuadran yakni limbik kiri dan kanan, serta cerebral kiri dan kanan,
(3) Teori Strata Otak Triune (tiga kepala menyatu) dari neurosaintis lain yang,
(4) berkebangsaan Amerika, Paul MacLean yang membagi otak manusia berdasarkan hasil evolusinya: otak insani, mamalia, dan reptilia. Hasil Sintesa dari Konsep STIFIn Konsep STIFIn bukan sekedar mengubah dari 3 kotak (MacLean) menjadi 4 kotak (Jung dan Hermann) kemudian menambahkan kotak ke –lima menjadi STIFIn. Fakta bahwa STIFIn bisa menjelaskan banyak hal, membuktikan bahwa konsep ini memiliki hal-hal baru hasil sintesa.
STIFIn memiliki hal-hal berikut ini:
(1 )Teori menyilang sebagai superior dan inferior dalam satu paket. Teori ini menjelaskan tentang adanya hubungan silang antarmesin kecerdasan S – I dan T – F yang mana masing-masing memiliki sifat superior dan inferior,
(2) Teori irisan persamaan (di antara kutub perbedaan pada kuadran dan diagonal). Meski ada perbedaan pada masing-masing mesin kecerdasan, STIFIn menegaskan bahwa ada kesamaan sifat yang saling beririsan satu sama lain, seperti
(a)MK Thinking – Intuiting memiliki kesamaan irisan dalam pekerjaan investigasi (penelitian dan penyelidikan terhadap sesuatu) dan analisa. Selain itu, kedua MK ini begitu menonjol sebagai konseptor dan pelaksana konsep yang disusunnya,
(b) MK Sensing – Feeling beririsan sama dalam hal berhubungan dengan orang lain (social relationship). Sensing sangat kuat dalam berhubungan dan berinteraksi dengan orang lain, sedangkan Feeling juga sangat menonjol dalam pertemanan, persahabatan dengan orang lain,
(c).MK Thinking – Sensing sama-sama menyukai keteraturan, prosedural dan memiliki daya tahan secara fisik dibandingkan MK yang lain (Intuiting, Feeling dan Instinct),
(d). MK Intuiting – Feeling, keduanya menonjol dalam hal ide-ide artistik, dan berpikir dari global ke detil,
(e) MK Sensing – Intuiting, memiliki kesesuaian dalam hal menghasilkan suatu produk. Kduanya juga sangat cocok sebagai unsur top management, ataupun sebagai komisaris perusahaan. Jika keduanya berada pada satu perusahaan akan saling menguatkan sebagai salah satu unsur di atas.
(f) MK Feeling – Thinking, berkesesuaian dalam bidang pengelolaan organisasi. Apabila keduanya berada dalam satu organisasi dimana keduanya sama-sama mengelola maka akan sangat baik dan berjalan secara efektif sebagai tim.
(3)Teori hubungan sosial segi lima yang unik dan logis (Teori Sirkulasi STIFIn). STIFIn juga menguraikan adanya hubungan antarMK sebagai bentuk interaksi sosial, dalam dua kondisi, yaitu
(a) hubungan saling mendukung, dan (b) hubungan saling menaklukkan. |
(4)Teori keselarasan metabolisme tubuh berdasarkan mesin kecerdasannya. Konsep STIFIn yang berkaitan dengan kondisi biologis seseorang dijelaskan dalam keselarasan antara kecerdasan dengan unsur metabolisme masing-masing MK, yaitu: (a) Sensing – organ sistem pencernaan (lambung), (b) Thinking – organ sistem eksresi (ginjal), (c) Intuiting – organ sistem sintesa (hati/liver) dan sistem saraf, (d) Feeling – organis sistem respirasi/pernapasan, (e) Instinct – organ sitem peredaran darah dan pusat keseimbangan
(5) Teori kalibrasi berdasarkan mesin kecerdasannya. STIFIn mengungkap terhadap bagaimana setiap mesin kecerdasan melepaskan dari tekanan dan mendapatkan kembali kondisi terbaiknya. Berikut ini adalah masing-masing kalibrasi pada setiap mesin kecerdasan,
(6)Teori genetika sesuai mesin kecerdasannya. Berdasarkan mesin kecerdasan dan drive kecerdasan tadi, maka STIFIn mengelompokkan genetik kepribadian atau kecerdasan menjadi sembilan kelompok, yaitu: Si – Sensing introvert; Se – Sensing extrovert; Ti –Thinking introvert; Te – Thinking extrovert; Ii – Intuiting introvert; Ie – Intuiting extrovert; Fi – Feeling introvert; Fe – Feeling extrovert; In – Instinct,
(7) Teori strata genetik. Konsep STIFIn membagi membuat peringkat urutan terhadap genetik manusia. Berikut ini urutan stratea genetikan dari yang tertinggi ke rendah, yaitu: (a)Jenis kelamin; (b)Mesin kecerdasan; (c)Drive kecerdasan; (d)Kapasitas hardware; dan (e)Golongan darah. Perbandingan konsep STIFIn dengan konsep Multiple Intelligence Howard Gardner dan MBTI Menurut Gardner (2003) kecerdasan seseorang mempunyai sembilan aspek yang disebut dengan istilah Multiple Intelligence atau kecerdasan majemuk.
Kesembilan aspek itu adalah kecerdasan verbal-linguistik, kecerdasan logika-matematika, kecerdasan kinestetikbadani, kecerdasan spasial (ruang-tempat), kecerdasan bermusik, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, kecerdasan naturalis, dan kecerdasan eksistensial.
Setiap peserta didik memiliki kecerdasan majemuk, tetapi pada masing-masing mereka ada aspek-aspek yang paling menonjol. Menurut Gardner peserta didik ternyata lebih mudah belajar atau menangkap bahan yang diajarkan pendidik bila bahan itu disajikan sesuai dengan kecerdasan peserta didik yang menonjol.
Kecerdasan matematis-logis lebih berkaitan dengan penggunaan bilangan dan logika secara efektif, kepekaan pada pola logika, abstraksi, kategorisasi dan perhitungan.Kecerdasan verbal-linguistik adalah kemampuan untuk menggunakan kata-kata secara efektif baik secara oral maupun tertulis. Kemampuan ini berkaitan dengan penggunaan dan pengembangan bahasa secara umum. Kecerdasan kinestetik-badani adalah kemampuan yang berkaitan dengan kegiatan fisik atau ragawi, kemampuan memainkan peran, dan membentuk bangunan model serta keterlibatan dalam permainan olahraga.
Karya Howard Gardner ini memiliki dampak besar pada pemikiran dan praktik dalam pendidikan terutama di Amerika Serikat. Teori kecerdasan majemuk Howard Gardner belum diterima sepenuhnya dalam psikologi akademik. Namun, ia telah mendapatkan respon positif dari banyak pendidik.
Teori ini telah dianut oleh berbagai teori pendidikan dan secara signifikan, diterapkan oleh guru dan pembuat kebijakan sekolah. Sejumlah sekolah di Amerika Utara memiliki struktur kurikulum menurut kecerdasan, dan merancang ruang kelas dan bahkan seluruh sekolah untuk mencerminkan pemahaman tentang teori ini (Smith, 2002).
Beberapa perbandingan antara konsep STIFIn dengan konsep Multiple Intelligence (MI) Howard Gardner menurut Poniman & Rahman (2013) sebagai berikut:
(1)STIFIn mengacu kepada kecerdasan tunggal ala Jung, yang berarti meskipun kesemua belahan otak berfungsi tetapi secara mutlak dikendalikan oleh satu belahan otak yang aktif berperan sebagai pemimpin bagi keseluruhan otak. Sedangkan pada MI setiap belahan otak dapat berfungsi secara bersamaan secara proporsional.
(2) MI membagi kecerdasan menjadi 9, sedangkan pada STIFIn hanya 5. Pada STIFIn yang 9 itu adalah personaliti genetik (selanjutnya disebut PG),
(3) Perbandingan antara 9 PG STIFIn dengan 9 kecerdasan MI Selanjutnya, menurut Tyagi (2008) hari ini, di seluruh dunia, instrumen psikologis yang berbeda digunakan menentukan berbagai atribut kepribadian manusia. Salah satu tes untuk memahami kedalaman kepribadian adalah tes psikometri, yaitu MBTI (Myers Briggs Type Indicator). MBTI, dikembangkan pada awal 1950-an oleh Katherine Cook Briggs dan Isabel Briggs Myers, dirancang untuk membuat teori Jung lebih eksplisit dan praktis dalam penerapannya kehidupan sehari-hari. Sejak publikasi pada tahun 1955,
MBTI semakin banyak digunakan dalam pendidikan, konseling, bisnis, pemerintah dan komunitas agama (McCaulley, 1987 dalam Tyagi, 2008). Campbell dan Davis (1988 dalam Tyagi, 2008) melaporkan bahwa lebih dari 1.100 disertasi, tesis, buku, dan artikel jurnal telah dipublikasikan di MBTI. MBTI saat ini inventaris yang paling banyak digunakan jenis psikologis di dunia (Hirsh & Kummerow, 1989 dalam Tyagi, 2008). MBTI mengukur preferensi pada empat dimensi, yang telah dijelaskan oleh Hirsh dan Kummerow (1989 dalam Tyagi, 2008).
Mereka, mengklasifikasikan empat dimensi sebagai berikut: (1) Energizing: Bagaimana dan di mana anda dapatkan energi,
(2) Attending : Apa yang anda perhatikan ketika mengumpulkan informasi,
(3) Deciding: Sistem apa yang anda gunakan saat anda membuat keputusan,
(4)Living: Apa jenis kehidupan yang akan anda adopsi. Dimensi kedua dan ketiga mengacu pada kekuatan mental atau dimensi kognitif dan sering dianggap dimensi yang paling penting. Dimensi yang pertama dan keempat kategori mengacu pada sikap. Mereka menggambarkan di mana kita mendapatkan energi dan Jurnal Filsafat Indonesia,
Vol 1 No 1 2018 ISSN: E-ISSN 2620-7982, P-ISSN 2620-7990 Jurnal Filsafat Indonesia | 26 bagaimana kita berurusan dengan dunia luar. Setiap dimensi memiliki dua kutub. Dimensi yang pertama, Energizing mengacu pada orientasi seseorang terhadap dunia. Kedua kutub dimensi ini adalah introversi dan ekstroversi. Dimensi kedua, Attending,
merujuk bagaimana seseorang mempersepsikan informasi. Dua kutub dari kategori ini sensing dan intuitiv. Dimensi ketiga, Deciding, mengacu pada bagaimana seseorang membuat keputusan. Kedua kutub dimensi ini adalah feeling dan thinking. Feeling cenderung sangat selaras dengan perasaan mereka sendiri dan perasaan orang lain. Mereka mendasarkan keputusan mereka tentang apa yang penting untuk diri mereka sendiri dan orang lain.
Thinking, di sisi lain, mendasarkan keputusan mereka pada suatu tujuan, impersonal, dan analisis logis dari suatu situasi. Mereka sering fokus pada sebab-akibat hubungan dan mencari standar obyektif kebenaran.
Adapun perbandingan STIFIn dengan MBTI menurut Poniman & Rahman (2013) dapat dijelaskan sebagai berikut: MBTI terbagi dalam 16 jenis personaliti sedangkan STIFIn 9 personaliti.Pertama, ke 16 personaliti MBTI itu diukur berdasar perilaku, sedangkan STIFIn memetakan secara genetik dengan mengetahui dominasi belahan otak dan lapisan otak. Perbedaan kedua, unsur Judging dan Perceiving pada MBTI berdiri sendiri sedangkan menurut STIFIn mereka melekat pada diagonal produksi dan organisasi sehingga tidak perlu eksis sendiri.
Perbedaan ketiga, pada STIFIn fungsi introvert dan extrovert hanya sekedar drive (pengemudi) kepada fungsi dasar sedangkan pada MBTI mereka berdiri setara dengan fungsi dasar yang lain. Perbedaan keempat, pada MBTI tidak menyebutkan adanya fungsi dasar Insting (In). Berdasarkan hasil riset yang dilakukan oleh lembaga independen, dari 352 orang yang melakukan tes ulang, satu bulan setelah tes sebelumnya, hanya 3 orang yang hasilnya berubah. Dengan demikian akurasinya di atas 95%. Sedangkan berdasarkan data dari STIFIn sendiri,
sebagian besar dari 60 ribu orang lebih yang sudah melakukan tes STIFIn mengaku bahwa apa yang ditampilkan dari hasil tes itu menjelaskan secara baik apa yang mereka rasakan selama ini. Tidak kurang 95% dari mereka yang sudah menggunakan alat test STIFIn itu menyatakan ekspresi mereka setelah tes sebagai, “gua banget” atau “kok bisa pas sih” atau “jadi malu aku seperti ditelanjangi” atau “kok bisa ya?” dan berbagai komentar senada lainnya.
Maka, meski alat tes ini memiliki ruang untuk diperbaiki, namun akurasinya saat ini sudah mapan di atas 95% (Poniman, 2012).
Tes STIFIn ini mengukur unsur genetik seseorang, sesuatu yang dibawa lahir dan tidak berubah sepanjang hayat.
Sedangkan alat seperti pencil and paper test seringkali hanya bisa mengukur fenotip seseorang, sesuatu yang tampak secara lahiriah ketika tes sedang dilaksanakan. Itu sama artinya dengan tampilan yang berubah sesuai dengan kondisi lingkungan. Ahli kedokteran olahraga dari University of London, Nicola Maffulli, mengatakan faktor gen menemukan 30-60 persen keberhasilan latihan fisik orang biasa. Pada atlet, gen menentukan keberhasilan hingga 83 persen.
Sedang menurut Stephen Roth ahli genetika dari University of Maryland di Baltimore, 80 persen kemampuan fisik ditentukan oleh gen bukan oleh latihan (Koran Tempo 2 Agustus 2012 halaman A12). Rumus Fenotip 100% = Genetik 20% + Lingkungan 80% ini membuat tak sedikit manusia galau dan tak kurang pula banyaknya yang lebay.
Lingkunganlah yang menempati porsi terbesar dalam pengembangan diri. Tapi, genetik yang meski porsinya hanya sekitar 20 persen tapi sangat menentukan. Ini mirip seperti; Hukum Dari Yang Sedikit (law of the vital few) dimana yang sedikitlah yang dominan atau penentu. Setelah dilakukan riset untuk sekian lama,
menurut Poniman (2012) kini konsep STIFIn sudah cukup kokoh. Kekuatan utamanya terletak pada konsep yang simpel, akurat, dan aplikatif.
(1) Simpel,
Dikatakan simpel karena penjelasannya sederhana dan dari miliaran manusia, oleh STIFIn dikelompokkan hanya dalam 5 mesin kecerdasan dan 9 personality genetic. Sehingga tidak dipusingkan lagi dengan pengelompokan manusia dalam banyak kotak, seperti MBTI dan Socionics yang mengelompokkan dalam 16 kotak.
Lima mesin kecerdasan itu mencakup seluruh jenis kecerdasan yang ada yang dimiliki manusia di muka bumi ini. Konsep STIFIn disebut simpel karena bersifat multy-angle theory. Artinya, STIFIn dapat dipakai untuk menjelaskan teori kecerdasan dan personaliti dari disiplin ilmu yang lain.
Seperti konsep otak kiri dan otak kanan (Roger W. Sperry) atau pembagian neokortek sebagai otak atas dan limbik sebagai otak bawah (Paul Broca) atau pembagian 6 Hexagonal Holland (John Holland) juga konsep DISC (John Geier dan Thomas International) atau bahkan teori lama Hippocrates dan Galenus dapat dengan mudah dibedah menggunakan STIFIn. Uraian persamaannya sebagai berikut:
(a) Otak kiri dan otak kanan sama dengan S + T dan I + F pada STIFIn.
(b)Neokortek dan limbik sama dengan T + I dan S + F pada STIFIn,
(c) 6 Hexagonal Holland: Artistic-Realistic (identik dengan Kanan-Kiri STIFIn), Investigative-Social (identik Jurnal Filsafat Indonesia, Vol 1 No 1 2018 ISSN: E-ISSN 2620-7982, P-ISSN 2620-7990 Jurnal Filsafat Indonesia | 27 dengan Atas Bawah STIFIn), Conventional Enterprising (identik dengan diagonal OrganisasiProduksi STIFIn),
(d)D-I-S-C pada John Geier dan Thomas International identik dengan S-F-I-T pada STIFIn,
(e) Kholeris, Flegmatis, Melancolis, dan Sanguinis sama dengan S, T, I, dan F pada STIFIn. Penemuan sebuah teori kepribadian baru tidak terlepas dari teori-teori sebelumnya yang menjadi pijakan dan landasan bagi pengembangan teori-teori tersebut.
Penemu STIFIn meyakini bahwa segala hal yang melekat pada diri individu terdapat belahan otak yang bekerja paling dominan. Belahan otak tersebut yang memberikan kontribusi kepada diri individu seutuhnya. Sifat-sifat dari belahan otak tersebut kemudian membuat konstitusi tubuh menjadi selaras dengan berbagai fungsi tubuh yang melekat secara genetik pada jenis individu tertentu.
Aplikasi lain yang menarik adalah ketika konsep STIFIn digunakan untuk praktik penggemblengan diri dengan prinsip fokus-satu-hebat. Konsep kecerdasan tunggal yang dianut STIFIn lebih mampu menjelaskan realitas otak dalam keseharian.
Itulah penjelasan kenapa konsep STIFIn yang menganut kecerdasan tunggal lebih aplikatif dibandingkan konsep kecerdasan majemuk atau Multiple Intelligence (MI) yang bisa digambarkan dengan menggunakan metafora sederhana: kepemimpinan ayah dalam keluarga.
Menurut konsep STIFIn setiap orang memiliki seluruh otak, namun hanya ada satu yang memimpin (sebaliknya menurut MI ada dua, tiga, atau empat yang dominan). “A specialist in the construction of the whole” kata Daoed Joesoef.
(2) Akurat,
Metoda STIFIn menguraikan cara kerja otak berdasarkan sistem operasinya, bukan kapasitas hardware-nya. Yang dimaksud hardware adalah perangkat keras, sedangkan sistem operasi adalah yang berfungsi menghubungkan antara perangkat keras dengan aplikasi, seperti Microsoft Windows, Linux, Android, dan Macintosh.
IQ (intelligence quotient) itu adalah perangkat keras. Dengan demikian, mengukur IQ sama dengan mengukur kapasitas hardware, dan bukan untuk mengetahui jumlah sambungan denrit antarsel otak yang sesungguhnya menentukan IQ seseorang.
Berbeda dengan konsep yang lain, STIFIn menggunakan sistem operasi yang berbicara tentang jenis watak kecerdasan. Tiap jenis kecerdasan punya wataknya sendiri-sendiri.
Jenis watak kecerdasan itulah yang kemudian disebut sebagai mesin kecerdasan. Jadi, STIFIn memetakan otak bukan berdasarkan belahan otak yang paling besar volumenya, melainkan berdasarkan belahan otak yang paling kerap digunakan. Itulah yang disebut sebagai sistem operasi. Membagi otak berdasarkan belahan otak yang berperan sebagai sistem operasi inilah yang membuat STIFIn akurat.
(3) Aplikatif,
Disebut aplikatif karena konsep STIFIn bercirikan multiangle field yang kurang lebih artinya, STIFIn dapat dipakai untuk menjelaskan bidang apa saja. STIFIn dapat diaplikasikan pada bidang learning, profession, parenting, couple, politic, human resources, dan bidang-bidang lainnya.
Langkah awal adalah mengikuti tes STIFIn melalui sidik jari. Dari hasil ini setelah dianalisa menggunakan alat scan akan didapatkan informasi tentang:
(1)Belahan Otak Dominan dengan di tes STIFIn Anda akan mengetahui secara cepat, tepat, dan akurat (dalam waktu 10 menit setelah di tes) dimanakah belahan otak Anda yang paling dominan. Bisa dibelahan kiri, kanan, ataupun tengah. Dari diketahuinya belahan otak mana yang dominan pada diri Anda, maka akan diketahui apakah jenis kecerdasan Anda (Sensing, Thinking, Intuiting, Feeling, atau Insting),
(2)Lapisan Otak Dominan, Kemudian setelah diketahui dimanakah dominan belahan otak Anda, maka berikutnya kita bisa mengetahui dimanakah lapisan otak dominan Anda, apakah itu lapisan otak dalam (putih) ataupun lapisan otak luar (abu-abu). Dari lapisan otak tersebut akan menentukan Personaliti Genetik Anda apakah introvert ataukah extrovert.
Skema mesin kecerdasan STIFIn. Suriasumantri (2010) menyatakan bahwa filsafat ilmu merupakan telaahan secara filsafat yang hendak menjawab pertanyaan mengenai hakikat ilmu, baik ditinjau dari sudut ontologi, epistemologi dan aksiologi.
Aksiologi sebagai bagian dari cabang filsafat ilmu yang membahas teori penggunaan ilmu pengetahuan. Aksiologi mencakup nilai dan penilaian dari suatu objek yang berhubungan dengan etika dan estetika.
Etika membicarakan perilaku manusia, sedangkan estetika memandang karya manusia dari sudut yang baik dan buruk (Wiramihardja, 2009). Etika sangat terkait dengan filsafat moral dengan mengkaji prinsip-prinsipnya pada prilaku seseorang (Firman, 2018).
Dalam kaitannya dengan sains, etika sains berarti membahas prilaku moral yang terkait dengan hakikat sains sebagai ilmu pengetahuan. Pengetahuan semakin berkembang dengan hadirnya teknologi sebagai suplemennya.
Metode STIFIn mengakomodir teknologi dalam pengaplikasian konsep pengetahuan tentang mesin kecerdasan melalui pola sidik jari. Keberadaan mesin kecerdasan dan personality genetic seseorang akan menentukan pola perilaku, kepribadian dan kecerdasannya.
Keberadaan mesin kecerdasan dan personality genetic inilah yang mendorong terwujudnya Jurnal Filsafat Indonesia, Vol 1 No 1 2018 ISSN: E-ISSN 2620-7982, P-ISSN 2620-7990 Jurnal Filsafat Indonesia | 28 pengembangan atas seluruh aspek potensi kecerdasan manusia yang lebih efektif dan adekuat terhadap semua bidang.
Dalam praktek di dunia pendidikan, menurut Nistiningtyas (2013) terdapat beberapa alasan mengapa memilih metode STIFIn yaitu:
(1) Guru bisa dengan mudah mengenali cara belajar masing- masing peserta didik yang berbeda- beda. Mesin kecerdasan Sensing (S) bagus dalam menghafal, Thingking (T) hebat dalam menghitung, Intuiting (I) jago dalam kreatifitas, Feeling (F) senang jika berdiskusi, dan Insting (In) pembelajar serba-bisa namun memerlukan ketenangan untuk mengoptimalkan fungsi otak tengahnya (naluri),
(2) Memilih profesi secara jitu dengan mudah. Jika pilihan profesi sudah menyatu atau sesuai dengan keinginan. Maka proses pengglembengan profesi menjadi mudah dan menyenangkan meskipun digembleng dengan cara yang sangat berat (massif),
(3) Memilih Tes STIFIn sama dengan menghindari spekulasi. Bukan pelabelan atau peramalan. Pada setiap mesin kecerdasan dan personality terdapat kelebihan dan kelemahan dalam satu paket.
Tes STIFIn bukan melabelkan seseorang, karena paket kelebihan dan kelemahan seseorang itu ditemukan kesejatiannya secara meyakinkan, tidak semu dan tidak nujum, atau tilikan. Kesuksesan yang diraih dengan berusaha di jalan yang tepat menggunakan jalur mesin kecerdasan, bukanlah ramalan sukses yang datang dari garis tangan (seperti pada palmistry).
Dengan demikian, peserta didik lebih merasa nyaman dan enjoy dalam proses pembelajaran. Mereka bisa menyesuaikan gaya belajar yang sudah mereka ketahui melalui hasil test tersebut. Yang terjadi selanjutnya adalah peserta didik lebih terkonsentrasi dan menekuni mesin kecerdasan yang telah teridentifikasi pada dirinya.
Sehingga guru pun akan lebih memaklumi dan lebih menaruh perhatian yang maximal terhadap kemajemukan mesin kecerdasan tiap- tiap peserta didik. Hal ini akan berdampak pada peningkatan prestasi belajar peserta didik. Rafianti & Pujiastuti (2017) juga menyatakan dalam hasil penelitiannya dalam dunia pendidikan saat ini sudah dikenal berbagai metode untuk memenuhi tuntutan perbedaan individu, salah satunya adalah STIFIn yaitu metode untuk menentukan dominasi kecerdasan mesin untuk membuat siswa lebih nyaman dalam proses pembelajaran sehingga diharapkan dapat meningkatkan daya matematis siswa.
Seiring dengan itu, Gunadi (n.d) dalam kajian tentang pengembangan model kepemimpinan sekolah dengan pendekatan metode STIFIn dinyatakan bahwa:
(1) Mesin kecerdasan yang dimiliki oleh pemimpin/kepala sekolah dan guru/tenaga kependidikan akan menentukan gaya dalam memimpin (bentuk interaksi komunikasi) yang dilakukan,
(2)Dengan mesin kecerdasan dan personality genetic yang dimiliki kepala sekolah akan dengan mudah mengendalikan bawahannya sesuai dengan mesin kecerdasan dan personalitiy genetic,
(3)Proses interaksi – komunikasi efektif dilakukan dengan saling memahami masing-masing PG. Kepala sekolah akan melakukan proses interaksi – komunikasi kepada bawahan (guru dan tenaga kependidikan) sesuai dengan PG-nya.
Demikian, pula sebaliknya, bawahan dapat memperlakukan kepala sekolah dengan baik. Seiring dengan itu, Mundiri & Irma (2017) berpendapat yang menjadi suatu permasalahan dalam materi hapalan adalah ketika seseorang menghafal menggunakan cara yang tidak sesuai dengan sistem kinerja otak, pada akhirnya akan menyebabkan hafalan mudah lupa bahkan orang tersebut merasa tertekan selama proses menghafal.
Ini dapat disebabkan karena setiap manusia memiliki sistem kinerja otak dan kepribadian yang berbedabeda, maka memerlukan penanganan yang berbeda-beda pula sesuai dengan kinerja otak masing-masing dalam proses menghafal.
Karenanya metode STIFIn dapat membantu mengatasi permasalahan ini. Selanjutnya menurut Ratna & Ridwan (2017) dalam hasil penelitian mereka tentang aplikasi pengembangan karakter siswa, dilakukan oleh guru dengan terlebih dahulu memahami karakter pada setiap peserta didik kemudian mengenali bakatnya dan selanjutnya menyalurkan bakatnya ke dalam kegiatan pengembangan diri. Hal ini dilakukan dengan menggunakan tes STIFIN,
untuk mengenali minat, bakat, berpikir kreatif, logis, kerja otak kiri dan otak kanan seseorang, keseluruhannya ditinjau dari psikometri seseorang yang prinsipnya diketahui dengan membaca sepuluh jari seseorang. Adapun pemanfaatan metoda STIFIn di bidang yang lain seperti pada bidang managerial berbagai instansi dan lembaga.
Pola kepemimpinan dengan menggunakan metoda STIFIn dipercaya dapat membangun pola hubungan antara pimpinan dengan bawahan yang lebih efektif dan kondusif karena masing-masing pihak telah memahami karakter berdasarkan mesin kecerdasan dan personality genetic masing-masing. Sehingga iklim yang terbangun semakin kondusif untuk mencapai tujuan organisasi.
Sejauh ini memang masih banyak eksplanasi ilmiah yang masih diperlukan dari metoda STIFIn. Peluang penelitian lebih lanjut amat terbuka untuk hal ini.
Kajian ilmiah tentang kaitan pola genetika dengan kecenderungan mesin Jurnal Filsafat Indonesia, Vol 1 No 1 2018 ISSN: E-ISSN 2620-7982, P-ISSN 2620-7990 Jurnal Filsafat Indonesia | 29 kecerdasan masih sangat perlu dikembangkan. Keterlibatan neurosains yang lebih mendalam tentu akan lebih diperlukan, sehingga kajian tentang metode STIFIn yang sedang digunakan secara massif ini dapat lebih diterima secara ilmiah.
4. Simpulan Metode STIFIn ini merupakan penerapan dari konsep STIFIn yang mengkompilasi dari teori-teori psikologi, neuroscience, dan ilmu sumberdaya manusia.
Cara mengetahui mesin kecerdasan ini dengan sebuah tes yang dilakukan dengan cara men-scan kesepuluh ujung jari untuk mendapatkan sidik jari dengan alat fingerprint.
Sidik jari yang membawa informasi tentang komposisi susunan syaraf tersebut kemudian dianalisa dan dihubungkan dengan belahan otak tertentu yang dominan berperan sebagai sistem operasi dan sekaligus menjadi mesin kecerdasan seseorang yang dikelompokkan dalam lima yaitu sensing (disingkat S), thinking (disingkat T), intuiting (disingkat I), feeling (disingkat F), insting (disingkat In).
Dalam perspektif kajian filsafat ilmu, aksiologi metoda STIFIn ini dibahas dari teori penggunaan ilmu pengetahuan. Metoda yang telah melalui kajian cukup panjang dan mendasari pada teori-teori dari ahli yang terlebih dahulu membuat metoda ini menjadi hal yang layak untuk dikaji aspek pemanfaatan nya yang secara luas telah digunakan ditengah masyarakat.
Daftar Pustaka
Firman, H. 2018. Filsafat Sains. Program studi Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam, Sekolah Pascasarjana, Universitas Pendidikan Indonesia. Tidak diterbitkan. Gardner, H. 2003. Multiple Intelligences: The Theory in Practice. New York: John Wiley. Gunadi, I. n.d. Pengembangan Model Kepemimpinan Sekolah dengan Pendekatan Konsep STIFIn. https://independent.academia.edu/IkhsanGunadi1 ( Diunduh 4 April 2018) Mundiri, A & Irma Z. 2017.
Implementasi Metode STIFIn Dalam Meningkatkan Kemampuan Menghafal Al-Qur’an Di Rumah Qur’an STIFIn Paiton Probolinggo. Journal of Islamic Education Studies. Volume 5 No (2), 201-223 http://dx.doi.org/10.15642/jpai.2017.5.2.201-223 Nistiningtyas. 2013. Penggunaan Hasil Tes STIFIn dalam Mencapai Prestasi Belajar Siswa pada Mata Pelajaran Tarikh Di Kelas VIII SMP Islam Terpadu Al- Amri Probolinggo.
Skripsi. Institut Agama Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya Fakultas Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan Jurusan Pendidikan Agama Islam. Tidak Diterbitkan. Pasiak, T. 2008. Revolusi IQ/EQ / SQ Menyingkap Rahasia Kecerdasan Berdasarkan Al – Qur’an Dan Neurosains Mutakhir. Bandung: Mizan. Poniman, F. 2012. Penjelasan Hasil Tes STIFIn. Bekasi: PT. STIFIn Fingerprint Poniman, F. & Rahman, A.M. 2013. Konsep Palugada STIFIn.
Jakarta: STIFIn Institute. Rafianti, I. & Pujiastuti, H. 2017. Analysis Of Students’ Mathematical Power In Terms Of STIFIn Test. Infinity Journal of Mathematics Education, 6, (1), 29-36. https://doi.org/10.22460/infinity.v6i1.233 Ramly, N. 2010. Rahasia & Keajaiban Kekuatan Otak Tengah. Jakarta: Best Media Utama. Ratna, S.D& Ridwan. A.S. 2017. Peran Guru Fisika Dalam Penguatan Pendidikan Karakter Siswa SMA.
http://snpsunimed.com/panitia/fullpaper/(491-500)_Salwa_Dwi_Ratna.pdf (Diunduh tanggal 4 April 2018) Suriasumantri, J.S. 2010. Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Popular. Jakarta: Sinar Harapan. Smith, M.K. 2002. Howard Gardner and Multiple Intelligences. The encyclopedia of informal education. https://www.schols.smcdbs.on.ca (Diunduh 3 April 2018) Tyagi, A. 2008.
Personality Profiles Identification Using MBTI Test for Management Students: An Empirical Study. Journal of the Indian Academy of Applied Psychology, 34, (1), 151- 162. Wiramihardja, S. A. 2009. Pengantar Filsafat: Sistematika dan Sejarah Filsafat, Logika dan Filsafat Ilmu (Epistemologi), Metafisika dan Filsafat Manusia, Aksiologi. Bandung: PT. Refika Aditama
Seorang ilmuwan yang penemuannya sehebat Gallileo, Newton dan Einsteinyang berhasil membuktikan tentang keterkaitan antara Alquran dan rancang struktur tubuh manusia adalah Dr. Ahmad Khan. Dia adalah lulusan Summa Cumlaude dari Duke University . Walaupun ia ilmuwan muda yang tengah menanjak, terlihat cintanya hanya untuk Allah dan untuk penelitian genetiknya.
Ruang kerjanya yang dihiasi kaligrafi, kertas-kertas penghargaan, tumpukan buku-buku kumal dan kitab suci yang sering dibukanya, menunjukkan bahwa ia merupakan kombinasi dari ilmuwan dan pecinta kitab suci.
Salah satu penemuannya yang menggemparkan dunia ilmu pengetahuan adalah ditemukannya informasi lain selain konstruksi Polipeptida yang dibangun dari kodon DNA. Ayat pertama yang mendorong penelitiannya adalah Surat “Fussilat” ayat 53 yang juga dikuatkan dengan hasil-hasil penemuan Profesor Keith Moore ahli embriologi dari Kanada.
Penemuannya tersebut diilhami ketika Khatib pada waktu salat Jumat membacakan salah satu ayat yang ada kaitannya dengan ilmu biologi
Bunyi ayat tersebut adalah sebagai berikut: “…Sanuriihim ayatinaa filafaaqi wa fi anfusihim hatta yatabayyana lahum annahu ul-haqq…”
Yang artinya; ”Kemudian akan Kami tunjukkan tanda-tanda kekuasaan kami pada alam dan dalam diri mereka, sampai jelas bagi mereka bahwa ini adalah kebenaran”.
Hipotesis awal yang diajukan Dr. Ahmad Khan adalah kata “ayatinaa” yang memiliki makna “Ayat Allah”, dijelaskan oleh Allah bahwa tanda-tanda kekuasaanNya ada juga dalam diri manusia.
Menurut Ahmad Khan ayat-ayat Allah ada juga dalam DNA (Deoxy Nucleotida Acid) manusia. Selanjutnya ia beranggapan bahwa ada kemungkinan ayat Alquran merupakan bagian dari gen manusia.
Dalam dunia biologi dan genetika dikenal banyaknya DNA yang hadir tanpa memproduksi protein sama sekali. Area tanpa produksi ini disebut Junk DNA atau DNA sampah. Kenyataannya DNA tersebut menurut Ahmad Khan jauh sekali dari makna sampah. Menurut hasil hasil risetnya, Junk DNA tersebut merupakan untaian firman-firman Allah sebagai pencipta serta sebagai tanda kebesaran Allah bagi kaum yang berpikir.
Dalam STIFIn terdapat sebutan MK atau Mesin Kecerdasan. Antara MK dan DNA/RNA memiliki hubungan, Didalam DNA terdapat nucleobase, yaitu Adenine, Guanine, Thymine, Cytosin sedangkan RNA terdapat nucleobase Uracil. Hipotesa dari hubungan tersebut adalah sebagai berikut :
– Sensing memiliki komposisi DNA berlebih pada Adenine
– Thinking memiliki komposisi DNA berlebih pada Guanine
– Intuiting memiliki komposisi DNA berlebih pada Thymine
– Feeling memiliki komposisi DNA berlebih pada Cytosine
– Insting memiliki komposisi RNA berlebih pada Uracil
Sebagaimana disindir oleh Allah; Afala tafakaruun (apakah kalian tidak mau bertafakur atau menggunakan akal pikiran?).
Adenine milik Sensing selalu berpasangan dengan Thymine milik Intuiting, artinya ini pesan dari Allah ketika menciptakan manusia bahwa yang terbaik dipasangkan adalah yang paling berbeda, karena bersilangan itu perbedaannya lebih nyata. Sensing dan Intuiting saling berlawanan namun berpasangan karena pada konsep STIFIn keduanya sama-sama berada di diagonal produksi.
Begitu pun Antara Guanine yang Thinking berpasangan dengan Cytosine yang Feeling. Orang yang tegaan dipasangkan dengan orang yang penyayang. Prinsip ini seolah ingin menyampaikan pesan bahwa semakin berbeda semakin bagus, jangan sama-sama MK atau PG, selaras dengan rekomendasi STIFIn dalam pola hubungan segilima.
Jika kita pelajari dan pahami fungsi-fungsi setiap nucleobase tersebut ketika berproses sebagai kode DNA, ternyata memang sangat mewakili karakter-karakter S,T,I, dan F.
Bagaimana dengan RNA ? ketika Adenine berpasangan dengan Thymine, keduanya akan membentuk seperti tangga ulir atau resleting. Begitu pun ketika Guanine dan Cytosine berpasangan. Sederhananya, saat regenerasi sel, RNA polymerase dating ke untaian resleting DNA dan membuka resleting DNA.
Setelah membuka, kemudian RNA ini melengkapi kode-kode yang sudah terpisah. RNA atau Uracil ini mendatangi Adenine yang sendirian dan beradaptasi menjadi Thymine agar dapat berpasangan dengan Adenine.
Ketika Thymine sendirian, Uracil dating dan beradaptasi menjadi Adenine. Begitupun terhadap Guanine dan Cytosine. Setelah proses transkripsi itu selesai, resleting DNA menyatu kembali. Itulah mengapa, orang In (RNA) dalam hidupnya memiliki peran sebagai pelengkap, beradaptasi, dan menyatukan 4 tipe yang lain. Ia adalah sosok pengharmoni.
Setelah bekerjasama dengan adiknya yang bernama Imran, seorang yang ahli dalam analisis sistem, laboratorium genetiknya mendapatkan proyek dari pemerintah. Proyek tersebut awalnya ditujukan untuk meneliti gen kecerdasan pada manusia. Dengan kerja kerasnya Ahmad Khan berupaya untuk menemukan huruf Arab yang mungkin dibentuk dari rantai Kodon pada cromosome manusia.
Sampai kombinasi tersebut menghasilkan ayat-ayat Alquran. Akhirnya pada tanggal 2 Januari tahun 1999 pukul 2 pagi, ia menemukan ayat yang pertama “Bismillahir Rahman ir Rahiim. Iqra bismirrabbika ladzi Khalq”; “bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan” .
Ayat tersebut adalah awal dari surat Al-A’laq yang merupakan surat pertama yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad di Gua Hira. Anehnya setelah penemuan ayat pertama tersebut ayat lain muncul satu persatu secara cepat. Sampai sekarang ia telah berhasil menemukan 1/10 ayat Alquran.
Dalam wawancara yang dikutip “Ummi” edisi 6/X/99, Ahmad Khan menyatakan:
“Saya yakin penemuan ini luar biasa, dan saya mempertaruhkan karier saya untuk ini. Saya membicarakan penemuan saya dengan dua rekan saya; Clive dan Martin seorang ahli genetika yang selama ini sinis terhadap Islam. Saya menyurati dua ilmuwan lain yang selama ini selalu alergi terhadap Islam yaitu Dan Larhammar dari Uppsala University Swedia dan Aris Dreisman dari Universitas Berlin.
Ahmad Khan kemudian menghimpun penemuan-penemuanny a dalam beberapa lembar kertas yang banyak memuat kode-kode genetika rantai kodon pada cromosome manusia yaitu; T, C, G, dan A masing-masing kode Nucleotida akan menghasilkan huruf Arab yang apabila dirangkai akan menjadi firman Allah yang sangat mengagumkan.
Di akhir wawancaranya Dr. Ahmad Khan berpesan :
“Semoga penerbitan buku saya “Al-Qur’an dan Genetik”, semakin menyadarkan umat Islam, bahwa Islam adalah jalan hidup yang lengkap. Kita tidak bisa lagi memisahkanagama dari ilmu politik, pendidikan atau seni.
Demikian juga dengan ilmu-ilmu keperawatan. Penulis berharap akan datang suatu generasi yang mendalami prinsip-prinsip ilmu keperawatan yang digali dari agama Islam.
Hal ini dapat dimulai dari niat baik para pemegang kebijakan (decission maker) yang beragama Islam baik di institusi pendidikan atau pada level pemerintah. Memfasilitasi serta memberi dukungan secara moral dan finansial.
Mohd Azlan Bin Adnan Norliza Binti Abdul Razak Baha Hj Nordin
Abstrak “Sifat yang terenap dalam jiwa dan keluar secara spontan” adalah terminologi ulung al Ghazali tentang personaliti. Definisi ini sangat hampir dengan pentakrifan yang dikemukakan oleh Bapa Psikologi Moden,
Sigmund Freudmelalui Teori Psikoanalisisnya tentang “iceberg”, “conscious” dan “sub conscious” (id, ego dan superego). Lebih jauh lagi, definisi Freud tentang “iceberg” sangat menepati landasan al-Quran (alShams 91: 7-8).
Mana kala, domain sifat pula dikeluarkan oleh Carl Gustav Jung dengan menyebutnya sebagai STIF (Sensing Thingking Intuiting dan Feeling).Diperkasakan oleh Farid Poniman dengan menambah In (Insting) Luria, 1970. STIFIn adalah personaliti yang tersimpan dalam struktur psikik manusia yang terpancar apabila ia berinteraksi dengan persekitaran.
Konsep STIFIn ini diperkukuhkan dengan wahyu Allah berkaitan setiap domain STIFIn.
Membenarkan hakikat bahawa al-Quran adalah sebuah kitab yang sangat saintifik. Era STIFIn sebagai pemacu kepada kegemilangan ummah sirna kembali. STIFIn akan terus bereksperimen dengan manusia yang bersifat fitrah dan mampu melahirkan lebih banyak gagasan agung yang sangat menakjubkan.
Kata Kunci: Terminologi, Personaliti, STIF, STIFIn
PENDAHULUAN :
Memahami manusia dalam konteks personaliti akan memudahkan komunikasi dua hala berlangsung dengan sejahtera. Secara umumnya, personaliti apabila di kategorikan akan memudahkan manusia untuk berinteraksi. Ia mampu mengecilkan kepelbagaian kelompok personaliti manusia kepada beberapa orientasi utama dalam kehidupan.
Justru ujian personaliti mampu mempermudahkan manusia mengenaali lebih dekat tentang manusia. Lantaran itulah kita boleh melihat banyak ujian ujian personaliti yang wujud Seumpama MEQI, MBTI, VTI, SDS dan banyak lagi.
Semua inventori ini mengukur personaliti berdasarkan domain yang mahu diukur sahaja. Sifatnya sangat terhad. Keunikan manusia adalah berpunca dari personaliti utama (STIFIn) yang berinteraksi dengan persekitaran. Pusat kepada interaksi manusia adalah otak.
Apabila interaksi berlaku ia menghasilkan respon berupa tindak balas yang sangat kuat kecenderungannya berdasarkan personaliti. justeru STIFIn membuka ruang perbincangan dengan memahami personaliti manusia melalui orientasi otak.
Keupayaan STIFIn mengkalibrasikan teori-teori berkaitan otak menyebabkan banyak rahasia tentang manusia mampu terjawab secara saintifik, agama dan fitrah.
DALIL AL-QURAN DAN AL-HADITH Pembicaraan tentang personaliti Dalam konteks Islam telah bermula seawal pengutusan nabi Muhammad s.a.w sejak lebih daripada 14 kurun yang silam.
Justru bukanlah sesuatu yang pelik apabila sebahagian dari perbahasan cendekiawan islam berkisar tentang pembentukkan sahsiah diri, akhlak mahupun personaliti seseorang. Keadaan ini amat penting disebabkan manusia itu sendiri menlahirkan akhlak yang berinteraksi dengan persekitaran.
Lebih tegas lagi matlamat perutusan nabi Muhammad s.a.w juga sebahagiannya adalah menyempurnakan akhlak manusia.
Sebagaimana sabdanya yang terkenal yang dirakam oleh al-Imam Ahmad dalam al-Musnad;
لَخ ْلأ َ ْ َا ِ َ ََحْلِ َِّْلتمُ مع ْل م ْ َمح ُم ْلتث ْلمَّ ا Artinya: Sesunggunya sebahagian dari tujuan pengutusanKu adalah menyempurnakan akhlak yang baik.
(Al-Hadith) Apa yang menarik adalah perbahasan tentang akhlak dan personaliti ini terus berkembang sehingga zaman moden menjadi tajuk perbincangan dan kajian dalam aspekilmu psikologi. Sejajar dengan itulah juga lahirnya STIFIn sebagai satu persembahan terkini yang mengungkapkan seluruh potensi insan secara menyeluruh.
Ujian imbasan jari STIFIn Personaliti dalam konteks Islam bukanlah sesuatu yang pelikan asing. Bukan juga satu bentuk tilikan nasib yang tersasar dari ajaran Islam yang sebenar. Ataupun sesuatu yang diada-adakan tanpa sandaran langsung dari junjungan besar Nabi Muhammad s.a.w.
Namun STIFIn Personality dalam konteks pendalilan dan pembuktian dari nas-nas yang sahih terbukti sejajar dan jauh daripada penyimpangan akidah Malahan dalam konteks perbahasan oleh para cendikiawan juga telah dibuktikan dengan kajian-kajian ilmiah Justeru sandaran utama kepada ujian
imbasan dari STIFIn Personality adalah firman Allah s.w.t
di dalam al-Quran:
َمهُ َّن نَّ ۡج َمَع ِع َظا ل َ ۡۡلِن َسٰـ ُن أ يَ ۡح َس ُب ٱ َ َى أ ۥ )٣ )بَنَانَهُ َس ِو َن نُّ ٰىٰٓ أ ٰـِدِري َن َعلَ ٰى قَ بَل ۥ ) ٤َ ) Ertinya: Apakah kamu mengira Aku tidak mampu mengumpulkan tulang belulang kamu, bahkan kami mampu mengumpulkan jari jemarimu yang telah hancur.(Surah al-Qiamah: 3-4)
Ayat di atas jelas menceritakan tempelakkan Allah s.w.t kepada manusia tentang kemampuanNya mengumpul kembali tubuh manusia yang telah hancur luluh setelah kematian.
Bahkan jauh lebih penting adalah pernyataan utama Allah bahawa keupayaanNya mengumpulkan daging-daging jari yang hancur bersama tanah. Ibnu Kathir dalam tafsirnya menyebut bahawa maksud jari jemari adalah jari-jari haiwan atau binatang.
Para ahli tafsir pada kurun-kurun awal perkembangan ilmu menafsirkan hanya melihat dalam konteks apa yang berlaku di keliling mereka. Mereka membawa manusia terbanyak berfikir tentang keajaiban penciptaan Allah s.w.t.dalam kadar yang mampu difikirkan oleh manusia ketika itu.
Sangat terhad dan sungguh mudah perumpamaan dan contoh yang diambil. Mungkin setakat fungsi, perbezaan struktur, keunikan dan seumpamanya.
Cukup untuk manusia menilai erti kebesaran Allah. Hakikatnya, mukjizat Allah melalui al-Quran telah mendahului penemuan sains yang menyebut perkaitan “cap jari” dengan personaliti manusia (Mandeep Singh dan Oindri Majumdar, 2015),
sebagaimana yang telah dibuktikan dalam banyak kajian saintifik. Cap jari juga mampu memberi petunjuk kepada kecenderungan jenayah (Richard dan John, 2008), jenis penyakit (Herman dan Weinreb, 1985), isu seksualiti (Richard dan Robert, 2000), identifikasi diri (Eng. Cătălin Lupu, 2014) serta banyak tujuan yang boleh dimanfaatkan.
AKHLAK DAN PERSONALITI Akhlak dari segi bahasa : berasal dari pada perkataan ‘khulq’ yang berarti perilaku, perangai atau tabiat. Maksud ini terkandung dalam kata-kata Aisyah berkaitan akhlak Rasulullah saw yang
bermaksud
: ْرق َْ آم ْ آملم ِِ م َْ مَله َحَ “Akhlaknya (Rasulullah) adalah al-Quran.” Akhlak Rasulullah yang dimaksudkan di dalam kata-kata di atas ialah kepercayaan, keyakinan,pegangan, sikap dan tingkah laku Rasulullah saw yang semuanya merupakan pelaksanaan ajaran al-Quran.
Al-Imam al-Ghazali r.h.m dalam Ihya’Ulumuddin (1937-38) mentakrifkan akhlak adalah sifat yang terenap dalam jiwa dan keluar secara spontan.
Perkembangan teknologi moden melalui kajian sains telah membuka satu lembaran baru kepada manusia dengan penggunaan alatan “fingerprints” sebagai sumber identifikasi manusia. Cap jari menjadi satu kod yang tidak sekali-kali wujud persamaan antara manusia sejak awal kewujudan manusia.
Melalui jari jemari ini terdapat data personaliti manusia yang tersimpan erat dalam belahan otak. Struktur kontor yang terbina di jari setiap manusia tidak dijadikan oleh Allah s.w.t secara siasia.
Ia merupakan kod personaliti yang mencirikan seseorang dengan karakteristik yang tertentu.Amat menakjubkan. Kecanggihan teknologi menyebabkan manusia mampu menerobos belahan otak yang merupakan pusat kepada lahirnya trait/sifat personaliti manusia.
Setiap manusia hanya mempunyai satu trait personaliti yang dominan. Melaluinyalah manusia mengekspresikan diri mereka dalam melakukan interaksi sesama manusia. Inilah punca kerencaman manusia yang sangat unik ciptaan Allah s.w.t Yang Maha Agung. Berbillion umat manusia.
Namun tidak sesekali ada yang sama pada skala personaliti mereka.
Firman Allah: ِن فِى َجۡوفِ ِهۦ ۡي بَ ۡ ِ من قَل َر ُج لٍ۬ َل ٱ ََّّللُ ِل َجعَ َّما Maksudnya: Tidak kami jadikan pada jiwa seseorang dua personality (dalam satu ketika).
(Surah alAhzab: 4) Firman Allah ini benar-benar menginsafkan penulis. Setiap manusia Allah pasti bekalkan kepada mereka satu trait personaliti yang unggul.
Orientasi trait inilah yang akan menjadi tapak utama kepada komunikasi yang berlaku dengan persekitarannya.Sekiranya manusia mempunyai pelbagai trait personaliti dalam satu ketiga maka akan timbullah kecelaruan.
Keadaan ini jika tidak diurus dengan baik akan membawa kepada kemurungan. Kemurungan yang berpanjangan akan membawa kepada satu istilah perubatan moden yang disebut pskizofrenia. Sejenis sakit mental yang membabitkan kecelaruan.
TRAIT PERSONALITI MENURUT AL-QURAN Kalau sekiranya masih ada manusia yang mau menolak tentang kebenaran STIFIn ini. Bukankah di dalam al-Quran banyak menyebut tentang trait personaliti seperti mukmin, muslim, munafiq, musyrik, kafir dan banyak lagi.
Dalam masa yang sama juga al-Quran dan al-Sunnah menerangkan pula ciri-ciri personaliti tersebut secara lebih mendalam. Berikut adalah serba ringkas senarai trait personaliti yang dirakamkan oleh al-Quran. Antara
yang boleh disenaraikan serta seringkali menjadi
Trait personaliti muttaqin (2:3-5) trait personaliti kafirin (2:6-7) trait personaliti munafiqin (2:8-20) trait personaliti ulul albaab (3:191-194) trait personaliti mukminun berjaya (23:1- 11) trait personaliti ibadur rahmaan (25:63-74) dan banyak lagi yang di sebut dalam al-Quran.
PERSONALITI DARI PERSPEKTIF ISLAM DAN BARAT
Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin (1937-1938) mentakrifkan akhlak sebagai sifat yang terenap dalam jiwa yang keluar secara spontan. Definisi ini membawa pengertian bahawa sifat-sifat personaliti tersimpan dalam struktur psikik manusia. Sifat-sifat ini akan bertindak balas terhadap sesuatu insiden yang berlaku dengan mengeluarkan ciri-ciri sebenar tingkah laku yang mengisi diri seseorang.
Respon yang berlaku secara spontan (“unconscious mind”) inilah sebenarnya akhlak.Manakala yang dipamerkan dalam keadaan terkawal (“conscious mind”) itu bukanlah gambaran kepada sifat-sifat sebenar peribadi seseorang. Kerana ia dibawah kawalan ataupun seolah-olah manusia sedang berlakon.
Inilah teori yang mendasari gagasan besar STIFIn Personaliti yang menjadi sumber kepada Carl Gustav Jung mengemukakan teori STIF nya. Namun demikian jika dilihat perspektif Sigmund Freud dalam The Ego dan The Id (1923) mendefinisikan tingkah laku manusia adalah seumpama sebungkah ketulan ais di tengah lautan.
Bungkah ais ini terbagi kepada 3 bagian yaitu bagian yang timbul (“conscious mind”) dan tenggelam sepenuhnya (“unconscious mind”). Bagian bongkah ais yang timbul adalah tingkah laku sedar yang mewakili aktiviti harian manusia. Interaksi normal yang dikawal oleh akal sepenuhnya dalam melakukan sesuatu tindakan. Bongkah ais yang timbul hanya mewakili sebahagian kecil personaliti manusia sahaja.
Namun hanya sedikit sahaja dari pada personaliti itu terzahir secara lahiriah mana kala banyak dari pada tingkah laku manusia tersembunyi di bawah air. Tingkah laku ini berlaku tanpa kawalan dan keluar secara spontan dan semula jadi.
Ia adalah “thru color” individu terbabit. Respon yang terzahir secara spontan itulah yang menggambarkan bahawa akhlak itu telah menjadi “malakat” pada seseorang. Manakala bagian yang tenggelam sepenuhnya mewakili perkara yang tidak selesai,kisah kisah silam, dendam dan sebarang perkara yang terpendam dalam struktur psikik manusia.
Bahagian minda bawah sedar manusia ini akan bertindak balas apabila ada respon berkaitan peritiwa yang telah dialami dalam hidup manusia. Ataupun respon itu berlaku dalam bentuk pembinaan watak dan personaliti seseorang.
Inilah yang disebut sebagai sifat yang terenap oleh al Ghazali dalam pentakrifan akhlak oleh beliau. Apa yang menarik, ingin diulas adalah hakikat teoritikal barat ini sebenarnya berpaksi kepada firman Allah s.w.t:
َها ) َسَّوٰٮ َو َما س ٍ۬ ۡ َو ٧ نَف َه ( ا ) َوٰٮ ۡ َوتَق ُجو َر َها َهَمَها فُ ۡ ل فَأ ٨َ ) َ َه قَۡد ا ) أ َح َمن َز َّكٰٮ لَ ف ٩ۡ ) Maksudnya: Demi jiwa dan penyempurnaannya. Maka kami ilhamkan padanya jalan fujur dan takwa. Maka sesungguhnya telah berjayalah sesiapa yang mensucikannya dan binasalah sesiapa yang merosakannya (Surah al-Shams: 9-12)
Begitulah hakikat penciptaan jiwa yang bertarung antara dua nilai iaitu baik dan buruk. Ada kalanya jiwa akan menang. Meningkat tahap akhlak dan peribadi seseorang. Kadang kalanya jiwa akan kalah yang akan menjerumuskannya ke kancah kehinaan.Inilah dilema yang turut dikongsi oleh Freud dalam menerangkan analisis pertarungan dalam setiap personaliti.
Pertarungan antara tiga komponen utama instinct yang tersimpan dalam struktur psikik manusia iaitu id,ego dan superego.Ataupun pertarungan jiwa yang diapit oleh fenomena nafsu, baik dan jahat.
KONSEP STIF Carl Gustav Jung dalam bukunya Theory of Psychological Types (1921) menampilkan struktur otak yang mewakili 4 domain utama iaitu Sensing, Thinking, Intuiting dan Feeling.
Menurut Farid Poniman dalam bukunya STIFIn Personaliti (2012) bagi menyempurnakan penemuan STIFIn beliau menambah domain “In” atau “Instinct” yang terletak pada fungsi gabungan serebelum, medulla, mid brain, pons, dan brain stem yang dikemukakan oleh Luria A.R (1970) dalam The Functional Organisation of The Brain. Sekaligus melengkapkan konsep STIF kepada STIFIn.
Justeru, Maha Suci Allah yang menciptakan manusia dan otak sekali-kali tidak menolak hakikat bahawa semua domain yang disebut itu Allah telah ungkapkan terlebih
متمُ َِّتهل َْ ِِ ْلبتح َك َ َمت َُ مبُ مَم َ ْل ْلتر َمََِّ َُل َْ ت ْلحِِ َن ُ َِّ َِِتح َ َ م رم َْت Ertinya: Mengapa kamu menyuruh orang lain mengerjakan kebaikan? Sedangkan kamu melupakan kebajikan dirimu, padahal kamu membaca al-Kitab,Tidakkah kamu berfikir?
(Surah al-Baqarah: 44) INTUITING Firman Allah : ْلل ِِ َُّمحمِ ْلس َمِ َأل ْلا َمنَتَََ َّبرم َْ يف ََله ْل ْلنُ َع ممَلُ َم َىه َمدمتلقَِ نن ََّ نَن مَرم َْ ِ َّهَ دْلمح َ ح َّ ِِErtinya: Mereka adalah orang-orang yang mengingati Allah sambil berdiri,duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi…
Ertinya: Dan tidakkah menjadi petunjuk kepada mereka,betapa banyak umat sebelum mereka yang telah kami binasakan, sedangkan mereka sendiri berjalan di tempat tempat kediaman mereka itu. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda tanda kekuasaan Allah. Apakah mereka tidak mendengarkan
Ertinya: Dan tidakkah mereka melihat kami mengarahkan awan yang mengandungi air ke bumi yang tandus, lalu Kami tumbuhkan dengan air hujan itu,tanam-tanaman sehingga haiwan ternakan mereka dan mereka sendiri dapat makan daripadanya, maka mengapa mereka tidak mahu memperhatikannya? (Surah al-Sajdah: 27)
KESIMPULAN :
Keupayaan Farid Poniman mempersembahkan STIFIn dalam bentuk yang holistik mampu memberi sumbangan besar kepada perubahan manusia.STIFIn membuktikan penciptaan manusia yang bersifat fitrah yang sangat mudah manusia untuk kembali kepada hakikat kepelbagaian kejadian manusia itu sendiri.
Ini akan memudahkan manusia untuk membangunkan seluruh potensi insan secara maksimum.
Memang jelaslah bahawa penemuan saintifik yang ditemui oleh para ilmuan dari pelbagai bidang masa kini sama ada dalam kalangan ahli psikologi, pakar neurologi,ulama, para cendekiawan mengesahkan bahawa al-Quran adalah kitab yang bukan sekadar mengandungi ilmu berkaitan sains sosial malahan ia mencakup juga kepada ilmu sains itu sendiri.
Ini semua adalah menggambarkan kebesaran Allah dalam hal penciptaanNya. Cuma manusia seringkali menafikan kekuasaanNya. RUJUKAN Al-Quran. Al-Quran dan terjemahannya,
Jakarta: Cetakan Pustaka Maghfirah. Al-Hadith Al-Imam Ahmad, 1995. Al-Musnad Imam Ahmad (2/381), Muassasah al-Risalah, Beirut, Lubnan. Al-Ghazali, (1937-1938), Iḥyāʾ ʿulūm al-Dīn. Cairo: Lajnat Nashr al-Thaqāfa al-Islāmiyya, 1356-57.Carl G. J. (1921), (1976).Theory of Psychological Types,
Princeton University Press. Eng. Cătălin Lupu, 2014. The Beginnings Of Using Fingerprints As Biometric Characteristics For Personal Identification Purposes, Annals of the „ Constantin Brancusi” University of Targu Jiu, Engineering Series , No. 3/2014.Ştefan cel Mare University of Suceava, ROMANIA. Freud, S. (1923),
The Ego and The Id, www.SigmundFreud. net Farid Poniman & Dr Baha Hj Nordin. (2012), STIFIn Personality, Bangi, Selangor: STIFIn Bio Metriks Sdn. Bhd. Geoff Sanders, Flavie Waters, November 2001. Fingerprint Asymmetry Predicts Within Sex Differences in the Performance of Sexually Dimorphic Tasks.Personality and Individual Differences, Volume 31, Issue 7, Pages 1181–1191.
Herman J. Weinreb, MD. January 1985. Fingerprint Patterns in Alzheimer’s Disease. Arch Neurol.1985;42(1):50-54. doi:10.1001/archneur.1985.04060010056016.Ibnu Katsir, (2011). Tafsir Ibnu Katsir, Beirut, Lubnan: Al Maktaba Al Assriya. Luria. (1970), The Functional Organisation of The Brain, Sci Am. 222(3):66-72 passim. Mandeep Singh, Oindri Majumdar, April – Sep 2015. Dermatoglyphics: Blueprints of Human on Fingerprints,
Vol 6 • Number 2 pp. 124-146. DOI: 10.090592/IJCSC.2015.608 Page 124. Available at www.csjournals.com. Richard Green,
Robert Young, 1 November 2000. Fingerprint Asymmetry in Male and Female Transsexuals. Personality and Individual Differences. Volume 29, Issue 5, Pages 933–942. Richard Adderley B.Sc., John W. Bond D.Phil., January 2008. The Effects of Deprivation on the Time Spent Examining Crime Scenes and the Recovery of DNA and Fingerprints.Journals of Forensics Science.
STIFIN PERSONALITY MENURUT PERSPEKTIF ISLAM Mohd Azlan Bin Adnan Norliza Binti Abdul Razak Baha Hj Nordin Abstrak “Sifat yang terenap dalam jiwa dan keluar secara spontan” adalah terminologi ulung al Ghazali (1058-1111) tentang personaliti. Definisi ini sangat hampir dengan pentakrifan yang dikemukakan oleh Bapa Psikologi Moden, Sigmund Freud (1856-1939) melalui Teori Psikoanalisisnya tentang “iceberg”, “conscious” dan “sub conscious” (id, ego dan superego). Lebih jauh lagi, definisi Freud tentang “iceberg” ini sangat menepati landasan al-Quran (alShams 91: 7-8). Manakala, domain sifat pula dikeluarkan oleh Carl Gustav Jung (1875-1961) dengan menyebutnya sebagai STIF (Sensing Thingking Intuiting dan Feeling). Diperkasakan oleh Farid Poniman dengan menambah In (Insting) Luria, 1970. STIFIn adalah personaliti yang tersimpan dalam struktur psikik manusia yang terpancar apabila ia berinteraksi dengan persekitaran. Konsep STIFIn ini diperkukuhkan dengan wahyu Allah berkaitan setiap domain STIFIn. Membenarkan hakikat bahawa al-Quran adalah sebuah kitab yang sangat saintifik. Era STIFIn sebagai pemacu kepada kegemilangan ummah sirna kembali. STIFIn akan terus bereksperimen dengan manusia yang bersifat fitrah dan mampu melahirkan lebih banyak gagasan agung yang sangat menakjubkan. Kata Kunci: Terminologi, Personaliti, STIF, STIFIn PENDAHULUAN Memahami manusia dalam konteks personaliti akan memudahkan komunikasi dua hala berlangsung dengan sejahtera. Secara umumnya, personaliti apabila di kategorikan akan memudahkan manusia untuk berinteraksi. Ia mampu mengecilkan kepelbagaian kelompok personaliti manusia kepada beberapa orientasi utama dalam kehidupan. Justeru ujian personaliti mampu mempermudahkan manusia mengenaali lebih dekat tentang manusia. Lantaran itulah kita boleh melihat banyak ujianujian personaliti yang wujud seumpama MEQI, MBTI, VTI, SDS dan banyak lagi. Semua inventori ini mengukur personaliti berdasarkan domain yang mahu diukur sahaja. Sifatnya sangat terhad. Keunikan manusia adalah berpunca dari personaliti utama (STIFIn) yang berinteraksi dengan persekitaran. Pusat kepada interaksi manusia adalah otak. Apabila interaksi berlaku ia menghasilkan respon berupa tindak balas yang sangat kuat kecenderungannya berdasarkan personaliti. Justeru STIFIn membuka ruang perbincangan dengan memahami personaliti manusia melalui orientasi otak. Keupayaan STIFIn mengkalibrasikan teori-teori berkaitan otak menyebabkan banyak rahsia tentang manusia mampu terjawab secara saintifik, agama dan fitrah. DALIL AL-QURAN DAN AL-HADITH Pembicaraan tentang personaliti dalam konteks Islam telah bermula seawal pengutusan nabi Muhammad s.a.w sejak lebih daripada 14 kurun yang silam. Justeru bukanlah sesuatu yang pelik apabila sebahagian dari perbahasan cendekiawan Islam berkisar tentang pembentukkan sahsiah diri, akhlak mahupun personaliti seseorang. Keadaan ini amat penting disebabkan manusia itu sendiri menzahirkan akhlak yang berinteraksi dengan persekitaran. Lebih tegas lagi matlamat perutusan nabi Muhammad s.a.w juga sebahagiannya adalah menyempurnakan akhlak manusia. Sebagaimana sabdanya yang terkenal yang dirakam oleh al-Imam Ahmad dalam al-Musnad; ISBN 978-967-0582-48-9 451 َْلَخ ْلأ َ ْ َا ِ َ ََحْلِ َِّْلتمُ مع ْل م ْ َمح ُم ْلتث ْلمَّ ا Ertinya: Sesunggunya sebahagian dari tujuan pengutusanKu adalah menyempurnakan akhlak yang baik. (Al-Hadith) Apa yang menarik adalah perbahasan tentang akhlak dan personaliti ini terus berkembang sehingga zaman moden menjadi tajuk perbincangan dan kajian dalam aspek ilmu psikologi. Sejajar dengan itulah juga lahirnya STIFIn sebagai satu persembahan terkini yang mengungkapkan seluruh potensi insan secara menyeluruh. Ujian imbasan jari STIFIn Personaliti dalam konteks Islam bukanlah sesuatu yang pelik dan asing. Bukan juga satu bentuk tilikan nasib yang tersasar dari ajaran Islam yang sebenar. Ataupun sesuatu yang diada-adakan tanpa sandaran langsung dari junjungan besar Nabi Muhammad s.a.w. Namun STIFIn Personality dalam konteks pendalilan dan pembuktian dari nas-nas yang sahih terbukti sejajar dan jauh daripada penyimpangan akidah. Malahan dalam konteks perbahasan oleh para cendikiawan juga telah dibuktikan dengan kajian-kajian ilmiah. Justeru sandaran utama kepada ujian imbasan jari STIFIn Personality adalah firman Allah s.w.t di dalam al-Quran: َمهُ َّن نَّ ۡج َمَع ِع َظا ل َ ۡۡلِن َسٰـ ُن أ يَ ۡح َس ُب ٱ َ َى أ ۥ )٣ )بَنَانَهُ َس ِو َن نُّ ٰىٰٓ أ ٰـِدِري َن َعلَ ٰى قَ بَل ۥ )٤َ ) Ertinya:Apakah kamu mengira Aku tidak mampu mengumpulkan tulang belulang kamu, bahkan kami mampu mengumpulkan jari jemarimu yang telah hancur. (Surah al-Qiamah: 3-4) Ayat di atas jelas menceritakan tempelakkan Allah s.w.t kepada manusia tentang kemampuanNya mengumpul kembali tubuh manusia yang telah hancur luluh setelah kematian. Bahkan jauh lebih penting adalah pernyataan utama Allah bahawa keupayaanNya mengumpulkan daging-daging jari yang hancur bersama tanah. Ibnu Kathir dalam tafsirnya menyebut bahawa maksud jari jemari adalah jari-jari haiwan atau binatang. Para ahli tafsir pada kurun-kurun awal perkembangan ilmu menafsirkan hanya melihat dalam konteks apa yang berlaku di keliling mereka. Mereka membawa manusia terbanyak berfikir tentang keajaiban penciptaan Allah s.w.t.dalam kadar yang mampu difikirkan oleh manusia ketika itu. Sangat terhad dan sungguh mudah perumpamaan dan contoh yang diambil. Mungkin setakat fungsi, perbezaan struktur, keunikan dan seumpamanya. Cukup untuk manusia menilai erti kebesaran Allah. Hakikatnya, mukjizat Allah melalui al-Quran telah mendahului penemuan sains yang menyebut perkaitan “cap jari” dengan personaliti manusia (Mandeep Singh dan Oindri Majumdar, 2015), sebagaimana yang telah dibuktikan dalam banyak kajian saintifik. Cap jari juga mampu memberi petunjuk kepada kecenderungan jenayah (Richard dan John, 2008), jenis penyakit (Herman dan Weinreb, 1985), isu seksualiti (Richard dan Robert, 2000), identifikasi diri (Eng. Cătălin Lupu, 2014) serta banyak tujuan yang boleh dimanfaatkan. AKHLAK DAN PERSONALITI Akhlak dari segi bahasa : berasal daripada perkataan ‘khulq’ yang bererti perilaku, perangai atau tabiat. Maksud ni terkandung dalam kata-kata Aisyah berkaitan akhlak Rasulullah saw yang bermaksud : ْرق َْ آم ْ آملم ِِ م َْ مَله َحَ “Akhlaknya (Rasulullah) adalah al-Quran.” Akhlak Rasulullah yang dimaksudkan di dalam kata-kata di atas ialah kepercayaan, keyakinan, pegangan, sikap dan tingkah laku Rasulullah saw yang semuanya merupakan pelaksanaan ajaran al-Quran. Al-Imam al-Ghazali r.h.m dalam Ihya’Ulumuddin (1937-38) mentakrifkan akhlak adalah sifat yang terenap dalam jiwa dan keluar secara spontan. ISBN 978-967-0582-48-9 452 Perkembangan teknologi moden melalui kajian sains telah membuka satu lembaran baru kepada manusia dengan penggunaan alatan “fingerprints” sebagai sumber identifikasi manusia. Cap jari menjadi satu kod yang tidak sekali-kali wujud persamaan antara manusia sejak awal kewujudan manusia. Melalui jari jemari ini terdapat data personaliti manusia yang tersimpan erat dalam belahan otak. Struktur kontor yang terbina di jari setiap manusia tidak dijadikan oleh Allah s.w.t secara siasia. Ia merupakan kod personaliti yang mencirikan seseorang dengan karakteristik yang tertentu. Amat menakjubkan. Kecanggihan teknologi menyebabkan manusia mampu menerobos belahan otak yang merupakan pusat kepada lahirnya trait/sifat personaliti manusia. Setiap manusia hanya mempunyai satu trait personaliti yang dominan. Melaluinyalah manusia mengekspresikan diri mereka dalam melakukan interaksi sesama manusia. Inilah punca kerencaman manusia yang sangat unik ciptaan Allah s.w.t Yang Maha Agung. Berbillion umat manusia. Namun tidak sesekali ada yang sama pada skala personaliti mereka. Firman Allah: ِن فِى َجۡوفِ ِهۦ ۡي بَ ۡ ِ من قَل َر ُج لٍ۬ َل ٱ ََّّللُ ِل َجعَ َّما Maksudnya: Tidak kami jadikan pada jiwa seseorang dua personality (dalam satu ketika). (Surah alAhzab: 4) Firman Allah ini benar-benar menginsafkan penulis. Setiap manusia Allah pasti bekalkan kepada mereka satu trait personaliti yang unggul. Orientasi trait inilah yang akan menjadi tapak utama kepada komunikasi yang berlaku dengan persekitarannya. Sekiranya manusia mempunyai pelbagai trait personaliti dalam satu ketiga maka akan timbullah kecelaruan. Keadaan ini jika tidak diurus dengan baik akan membawa kepada kemurungan. Kemurungan yang berpanjangan akan membawa kepada satu istilah perubatan moden yang disebut pskizofrenia. Sejenis sakit mental yang membabitkan kecelaruan. TRAIT PERSONALITI MENURUT AL-QURAN Kalau sekiranya masih ada manusia yang mahu menolak tentang kebenaran STIFIn ini. Bukankah di dalam al-Quran banyak menyebut tentang trait personaliti seperti mukmin, muslim, munafiq, musyrik, kafir dan banyak lagi. Dalam masa yang sama juga al-Quran dan al-Sunnah menerangkan pula ciri-ciri personaliti tersebut secara lebih mendalam. Berikut adalah serba ringkas senarai trait personaliti yang dirakamkan oleh al-Quran. Antara yang boleh disenaraikan serta seringkali menjadi Trait personaliti muttaqin (2:3-5) trait personaliti kafirin (2:6-7) trait personaliti munafiqin (2:8-20) trait personaliti ulul albaab (3:191-194) trait personaliti mukminun berjaya (23:1- 11) trait personaliti ibadur rahmaan (25:63-74) dan banyak lagi yang di sebut dalam al-Quran. PERSONALITI DARI PERSPEKTIF ISLAM DAN BARAT Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin (1937-1938) mentakrifkan akhlak sebagai sifat yang terenap dalam jiwa yang keluar secara spontan. Definisi ini membawa pengertian bahawa sifat-sifat personaliti tersimpan dalam struktur psikik manusia. Sifat-sifat ini akan bertindakbalas terhadap sesuatu insiden yang berlaku dengan mengeluarkan ciri-ciri sebenar tingkahlaku yang mengisi diri seseorang. Respon yang berlaku secara spontan (“unconscious mind”) inilah sebenarnya akhlak. Manakala yang dipamerkan dalam keadaan terkawal (“conscious mind”) itu bukanlah gambaran kepada sifat-sifat sebenar peribadi seseorang. Kerana ia dibawah kawalan ataupun seolah-olah manusia sedang berlakon. Inilah teori yang mendasari gagasan besar STIFIn Personaliti yang menjadi sumber kepada Carl Gustav Jung mengemukakan teori STIF nya. ISBN 978-967-0582-48-9 453 Namun demikian jika dilihat perspektif Sigmund Freud dalam The Ego dan The Id (1923) mendefinisikan tingkahlaku manusia adalah seumpama sebungkah ketulan ais di tengah lautan. Bungkah ais ini terbahagi kepada 3 bahagian iaitu bahagian yang timbul (“conscious mind”) dan tenggelam sepenuhnya (“unconscious mind”). Bahagian bongkah ais yang timbul adalah tingkahlaku sedar yang mewakili aktiviti harian manusia. Interaksi normal yang dikawal oleh akal sepenuhnya dalam melakukan sesuatu tindakan. Bongkah ais yang timbul hanya mewakili sebahagian kecil personaliti manusia sahaja. Namun hanya sedikit sahaja daripada personaliti itu terzahir secara lahiriah manakala banyak daripada tingkahlaku manusia tersembunyi di bawah air. Tingkahlaku ini berlaku tanpa kawalan dan keluar secara spontan dan semulajadi. Ia adalah “thru color” individu terbabit. Respon yang terzahir secara spontan itulah yang menggambarkan bahawa akhlak itu telah menjadi “malakat” pada seseorang. Manakala bahagian yang tenggelam sepenuhnya mewakili perkara yang tidak selesai, kisahkisah silam, dendam dan sebarang perkara yang terpendam dalam struktur psikik manusia. Bahagian minda bawah sedar manusia ini akan bertindak balas apabila ada respon berkaitan peritiwa yang telah dialami dalam hidup manusia. Ataupun respon itu berlaku dalam bentuk pembinaan watak dan personaliti seseorang. Inilah yang disebut sebagai sifat yang terenap oleh al Ghazali dalam pentakrifan akhlak oleh beliau. Apa yang menarik, ingin diulas adalah hakikat teoritikal barat ini sebenarnya berpaksi kepada firman Allah s.w.t: َها ) َسَّوٰٮ َو َما س ٍ۬ ۡ َو ٧ نَف َه ( ا ) َوٰٮ ۡ َوتَق ُجو َر َها َهَمَها فُ ۡ ل فَأ ٨َ ) َ َه قَۡد ا ) أ َح َمن َز َّكٰٮ لَ ف ٩ۡ ) Maksudnya: Demi jiwa dan penyempurnaannya. Maka kami ilhamkan padanya jalan fujur dan takwa. Maka sesungguhnya telah berjayalah sesiapa yang mensucikannya dan binasalah sesiapa yang merosakannya. (Surah al-Shams: 9-12) Begitulah hakikat penciptaan jiwa yang bertarung antara dua nilai iaitu baik dan buruk. Ada kalanya jiwa akan menang. Meningkat tahap akhlak dan peribadi seseorang. Kadang kalanya jiwa akan kalah yang akan menjerumuskannya ke kancah kehinaan. Inilah dilema yang turut dikongsi oleh Freud dalam menerangkan analisis pertarungan dalam setiap personaliti. Pertarungan antara tiga komponen utama instinct yang tersimpan dalam struktur psikik manusia iaitu id, ego dan superego. Ataupun pertarungan jiwa yang diapit oleh fenomena nafsu, baik dan jahat. KONSEP STIF Carl Gustav Jung dalam bukunya Theory of Psychological Types (1921) menampilkan struktur otak yang mewakili 4 domain utama iaitu Sensing, Thinking, Intuiting dan Feeling. Menurut Farid Poniman dalam bukunya STIFIn Personaliti (2012) bagi menyempurnakan penemuan STIFIn beliau menambah domain “In” atau “Instinct” yang terletak pada fungsi gabungan serebelum, medulla, mid brain, pons, dan brain stem yang dikemukakan oleh Luria A.R (1970) dalam The Functional Organisation of The Brain. Sekaligus melengkapkan konsep STIF kepada STIFIn. Justeru, Maha Suci Allah yang menciptakan manusia dan otak sekali-kali tidak menolak hakikat bahawa semua domain yang disebut itu Allah telah ungkapkan terlebih dahulu di dalam ayatayat al-Quran. Antaranya: SENSING Firman Allah: َف ُخِلقَ ۡت ) ِ ِل َڪۡي ۡۡلِب لَى ٱ ِ ُظ ُرو َن إ فَ ََل يَن أ ٧٧َ ) ISBN 978-967-0582-48-9 454 Ertinya: Maka tidakkah mereka memerhatikan unta bagaimana diciptakan? (Surah al-Ghasiyyah: 17) THINKING Firman Allah: متمُ َِّتهل َْ ِِ ْلبتح َك َ َمت َُ مبُ مَم َ ْل ْلتر َمََِّ َُل َْ ت ْلحِِ َن ُ َِّ َِِتح َ َ م رم َْت Ertinya: Mengapa kamu menyuruh orang lain mengerjakan kebaikan? Sedangkan kamu melupakan kebajikan dirimu, padahal kamu membaca al-Kitab,Tidakkah kamu berfikir? (Surah al-Baqarah: 44) INTUITING Firman Allah: ْلل ِِ َُّمحمِ ْلس َمِ َأل ْلا َمنَتَََ َّبرم َْ يف ََله ْل ْلنُ َع ممَلُ َم َىه َمدمتلقَِ نن ََّ نَن مَرم َْ ِ َّهَ دْلمح َ ح َّ ِِ Ertinya: Mereka adalah orang-orang yang mengingati Allah sambil berdiri,duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi… (Surah Aali Imran: 191) FEELING Firman Allah: ِهۡم ُرو ِن يَۡم ُشو َن فِى َم َسٰـ ِكنِ قُ ۡ ِهم ِ م َن ٱل َۡهلَ ۡڪنَا ِمن قَۡبِل ُهۡم َكۡم أ ۡم يَۡهِد لَ َولَ أ يَٰـ ت َ َّن فِى ََلِل ََ َََ فَ ََل يَ ۡس َم إ عُو َن ) ِ أ ٦٢َ ) Ertinya: Dan tidakkah menjadi petunjuk kepada mereka, betapa banyak umat sebelum mereka yang telah kami binasakan, sedangkan mereka sendiri berjalan di tempattempat kediaman mereka itu. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tandatanda kekuasaan Allah. Apakah mereka tidak mendengarkan. (Surah al-Sajdah: 26) INSTINCT Firman Allah: لَ َخ نموِ ْلُ مرم َْ (٢٧( َ مُمنوُ ت مَم َ َمت موتََم مممنومْلمَولم َ مڪ مأ ۦ ت و ْل ْلل ََِّ حُ مُ مرْلِ لََم ورْلر من َِوأل َىً۬ و وأل ْلا ِِ و َ َِع ِ ْل َۡ ا َمحم و مَّح مَ مُل مأ ِِ َ ت ْ وُ نَ َرومِ َمَِ َ ت Ertinya: Dan tidakkah mereka melihat kami mengarahkan awan yang mengandungi air ke bumi yang tandus, lalu Kami tumbuhkan dengan air hujan itu, tanam-tanaman sehingga haiwan ternakan mereka dan mereka sendiri dapat makan daripadanya, maka mengapa mereka tidak mahu memperhatikannya? (Surah al-Sajdah: 27) KESIMPULAN Keupayaan Farid Poniman mempersembahkan STIFIn dalam bentuk yang holistik mampu memberi sumbangan besar kepada perubahan manusia. STIFIn membuktikan penciptaan manusia yang bersifat fitrah yang sangat mudah manusia untuk kembali kepada hakikat kepelbagaian kejadian manusia itu sendiri. Ini akan memudahkan manusia untuk membangunkan seluruh potensi insan secara maksimum. Memang jelaslah bahawa penemuan saintifik yang ditemui oleh para ilmuan dari pelbagai bidang masa kini sama ada dalam kalangan ahli psikologi, pakar neurologi, ulama, para cendekiawan mengesahkan bahawa al-Quran adalah kitab yang bukan sekadar mengandungi ilmu berkaitan sains sosial malahan ia mencakup juga kepada ilmu sains itu sendiri. Ini semua adalah menggambarkan kebesaran Allah dalam hal penciptaanNya. Cuma manusia seringkali menafikan kekuasaanNya. RUJUKAN Al-Quran. Al-Quran dan terjemahannya, Jakarta: Cetakan Pustaka Maghfirah. ISBN 978-967-0582-48-9 455 Al-Hadith Al-Imam Ahmad, 1995. Al-Musnad Imam Ahmad (2/381), Muassasah al-Risalah, Beirut, Lubnan. Al-Ghazali, (1937-1938), Iḥyāʾ ʿulūm al-Dīn. Cairo: Lajnat Nashr al-Thaqāfa al-Islāmiyya, 1356-57. Carl G. J. (1921), (1976).Theory of Psychological Types, Princeton University Press. Eng. Cătălin Lupu, 2014. The Beginnings Of Using Fingerprints As Biometric Characteristics For Personal Identification Purposes, Annals of the „Constantin Brancusi” University of Targu Jiu, Engineering Series , No. 3/2014. Ştefan cel Mare University of Suceava, ROMANIA. Freud, S. (1923), The Ego and The Id, www.SigmundFreud.net Farid Poniman & Dr Baha Hj Nordin. (2012), STIFIn Personality, Bangi, Selangor: STIFIn Bio Metriks Sdn. Bhd. Geoff Sanders, , Flavie Waters, November 2001. Fingerprint Asymmetry Predicts Within Sex Differences in the Performance of Sexually Dimorphic Tasks. Personality and Individual Differences, Volume 31, Issue 7, Pages 1181–1191. Herman J. Weinreb, MD. January 1985. Fingerprint Patterns in Alzheimer’s Disease. Arch Neurol. 1985;42(1):50-54. doi:10.1001/archneur.1985.04060010056016. Ibnu Katsir, (2011). Tafsir Ibnu Katsir, Beirut, Lubnan: Al Maktaba Al Assriya. Luria. (1970), The Functional Organisation of The Brain, Sci Am.222(3):66-72 passim. Mandeep Singh, Oindri Majumdar, April – Sep 2015. Dermatoglyphics: Blueprints of Human on Fingerprints, Vol 6 • Number 2 pp. 124-146. DOI: 10.090592/IJCSC.2015.608 Page | 124. Available at www.csjournals.com. Richard Green, Robert Young, 1 November 2000. Fingerprint Asymmetry in Male and Female Transsexuals. Personality and Individual Differences. Volume 29, Issue 5, Pages 933–942. Richard Adderley B.Sc., John W. Bond D.Phil., January 2008. The Effects of Deprivation on the Time Spent Examining Crime Scenes and the Recovery of DNA and Fingerprint