Sulit mendefinisikan cinta apalagi mendefinisikan bukti cinta-cinta itu ibarat tahi kucing serasa coklat, begitu disebut nama atau berjumpa dengan buah hatinya terjadi perubahan degup jantung sebagai peristiwa emosi.semenderita apapun ia menjalani hidup bersama pasangan akan dinikmat sebagai kegembiraan bahkan ketika cinta berbalas. Itulah bukti cinta yang sesungguhnya.
Cinta yang kita bahas dalam koridor pernikahan. Sedang cinta masa pacaran atau tunangan, apalagi dalam perselingkuhan pastilah buka cinta sejati yang sedang kita bahas. Cinta sejati hanya mungkin diwujudkan dalam pernikahan sebagai pasangan normal.
Dalam konsep score of love hubungan segilima STIFIN memang tidak ada skor tertinggi akan dibahas cinta dengan skor tertinggi pula. Selalu akan ada selisih artinya,akan selalu ada bagian cinta yang tak berbalas jadi jangan berharap cinta selalu berbalas cinta. Tapi wajib menutupi kekurangan kadar cinta itu dengan rasa sayang sebagai tanggung jawab pasangnya.
Maka buktikanlah cinta anda yang sensing dengan memberi sesuatu yang tangible secara rutin. Thinking memberi tanggung jawab besar. Intuiting memberi romantisme berkelas ,feeling memberi perhatian yang banyak dan insting memberi pelayanan terbaik arti dari sakina mawaddah warahman ringkasnya adalah mengapresiasi pasangan kita sebagai titpan terindah darinya untuk bersama menuju surganya.
Perceraian memang pahit. Pada sebagian pasangan menjadi seperti tidak bisa dihindari. Stastistik perceraian semakin meningkat dari tahun ke tahun. Apa sebenarnya yang yang berlaku di tengah-tengah masyarakat. Mengapa mereka hsrus bercerai?
Pakem yang sudah di ketahui bersama adalah orang baik untuk orang baik, orang jahat..jadi perjodohan itu pada dasarnya harus sekufu (selevel). Ketikdaksekufuan akan menyebabkan terjadi perceraian. Meski sekufu pun bisa saja terjadi perceraian. Yaitu di kalangan yang tidak kuat memegang amanah kemuliaan pernikahan. Danini seharusnya tidak terjadi pada kalangan yang kuat.memgang amanah pernikahan. Pasangan-pasangan shaleh faktanya lebih sedikit mengalami percerai.
Apakah wajar jika angka perceraian tinggi? Generasi berikutnya yang generasi dari keluarga shaleh. Limpahan kasih sayang orang tua akan menyebabkan anak-anak akan tumbuh menjadi sehat. Mental sebaliknya generasi broken home akan berpeluang menghasilkan kelainan mental. Ini akan menimbulkan bom waktu biaya sosial yang tinggi. Termasuk ledakan jumlah single mom yang semakin banyak padahal bahayanya para single-mom yang di sebabkan perceraian (bukan yang ditinggal mati suaminya) akan menjadi lebih sulit karena telah ke hilangan pintu surga. Keberadaan suami menjadi pintu surga bagi para istri. Maka hindarilah terjadi perceraian kepada semuanya akan merugikan.
Hasil temuan lapangan dari para pegiat STIFIN persoalan terbesar yang menjadi sebab perceraian adalah urusan kasur yang gak beres, merembet ke komunikasi dan pembagian tugas. Semua itu akan lebih mudah dipetakan menggunakan konsep score of spouse,score of lovw,score of sex,dan score-score lainnya dalam skema STIFIN dengan demikian sebab gap vertikal (perbedaan kufu ) dan horisontal (perbedaan genetik) dapat dipetakan dengan baik untuk bisa menurunkan angka percerain.
Sebenarnya apa wajib pemimpin menyayangi rakyatnya?pengusaha menyayangi karyawannya? Atasan menyayangi bawahannya? Suami menyayangi istrinya? Orang tua menyayangi anak-anaknya? Kakak menyayangi adik-adiknya?
Kasih sayang itu kaitannya dengan turn-over. Makin banyak diberikan semakin kecil turn-overnya. Jika kemudian muncul reaksi dalam hastag : ganti pemimpin, ganti juragan, ganti atasan, ganti suami, ganti orangtua, ganti kakak… itu pertanda rasa sayangnya gak kerasa. Perceraian itu turn-over. Demikian juga anak-anak backstress pun turn-over. Kebanyakan pecandu narkoba adalah social turn-over.
Sebual rasa sayang itu diberikan muncul skema tingkat keperluan. Mana yang perlu dan mana yang tidak perlu. Mana yang banyak mana yang sedikit. Sebagiannya datang secara alami. Inilah yang disebut sebagai chemistry. Mengalir rasa sayang secara alami. Sebagian besarnya harus melakukan rekayasa mindset. Tidak mudah untuk menjadikan musuh sebagai pihak yang perlu disayangi. Orang kaya hati itu adalah orang yang ‘jangankan saudara, musuh aja disayang’. Sementara orang miskin hati adalah orang yang menarik rasa sayangnya kepada semua orang. Kalau sekarang membela hanya karena ‘demi perut’. Entar juga ditelantarkan. Biar saja utang negara numpuk yang bayar rakyat ini. Rasa sayangnya gak kerasa.
Sebaliknya kalau sudah dapat ‘pemberi kasih sayang’ yang baik, maka berlomba-lombalah menjadi pihak yang disayanginya. Jadilah prioritas dalam mindsetnya. Karena tersangkut sayangnya kepada kita itu kegembiraan. Disayang oleh pemberi sayang melimpah yang menjadi sumber kebaikan didunia dan nantinya akan memberi syafaat diakhirat.
Berilah sayang itu hingga kerasa. Dan upayakan kita mendapatkan kasih sayang dari ‘orang besar’, karena pintu rizqi dan pintu surganya besar. Saling giving.
Fatal attraction adalah sebuah judul film lama yang diperankan Glenn Close. Kisah cinta yang berakibat fatal jika tidak bisa dimiliki maka diakhiri dengan kematian.
Kegagalan cinta dan melambungnya angka perceraian adalah gagalnya interaksi. Suami tidak paham istri dan atau sebaliknya. Dimulai dengan rasa cinta diakhiri dengan rasa benci. Perkara kecil menjadi ledakan pertengkaran. Khayalan seperti tenggelam dalam penjara pernikahan bahkan kehadiran anak diketepikan karena emosi memuncak.
Tipping point dari semua itu ada diurusan kasur. Jika urusan kasur beres maka bereslah semuanya. Jika interaksi urusan kasur berlanggung indah maka ruang kasih sayang terbuka lebar. Pengorbanan dan pengabdian hadir menjadi kekuatan pertalian pasangan. Menjadi sumber energi keberhasilan.
Sehingga suami perlu berdiri tegak untuk menafkahi istrinya. Dan istri perlu banyak merunduk bersujud menghargai suaminya. Jangan terbalik, jika istri berdiri dan suami ‘merunduk’ akan hilang marwah suami. Ini menjadi biang kehancuran keluarga.
Samara pasutri dapat diperbaiki dengan mengoptimalkan score of spouse, score of love dan score of sex pasutri. Perbedaan genetika pasangan dibedah menjadi interaksi yang menyenangkan.
Namun proses memperindah percintaan itu harus dilakukan secara halal melalui intuisi pernikahan. Karena perzinahan akan membawa musibah fatal attraction.
Seorang suami pulang kerumah dan mendapati istrinya bersama seorang lelaki yang bukan mahramnya. Pasti mendidih darah suami dan wajar terucap talak. Sakit hati tidak terperikan, istri yang dicintai telah mengkhianatinya. Kawan saya tersebut akhirnya memaafkan mantan istrinya dan melupakan kejadian tersebut. Justru bikin lega dan memberi kekuatan untuk move on. Berangkat dari hati yang lapang, lisan mengucap memberi maaf, akal melupakan kejadian pilu tersebut dan diikuti tindakan move on. Terjadilah empat hal yang segaris.
Umat marah terhadap puisi kidung ibu lebih merdu dari adzan dan konde lebih indah dari kerudung, sebagai semangat pembelaan terhadap agama. Pemimpin yang baik harus memiliki kepekaan sosial terhadap semangat pembelaan tersebut. Jika ada pemimpin yang mengecam dan menuntut agar puisi itu ditarik, maka ia telah mempraktikkan empat hal segaris. Berangkat dari hati yang peka, kemudian lisan mengecam, akal memberi hujjah dan ditingkahi dengan aksi menuntut puisi ditarik.
Posisi hati yang mendorong terjadinya empat hal segaris itulah yang disebut sebagai EQ (Emotional Quotient). Yaitu memaafkan kesalahan besar dan atau memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Jika posisi hati itu menjadi sumber energi menjadikan empat hal segaris seperti pada dua kasus diatas maka hal itu menjadi ukuran seseorang memiliki EQ tinggi. Sebaiknya, disebut memiliki EQ rendah jika terjerat dalam dendam sakit hati dan sama sekali tidak memiliki kepekaan sosial.
Masyarakat indonesia yang bergenetik feeling akan cenderung melahirkan masyarakat memiliki EQ tinggi. Apa betul begitu? Takarlah pada EQ pemimpinnya. Karena pemimpin adalah cerminan masyarakat. Sudah pernah muncul pemimpin seperti itu dan menunggu lagi yang seperti itu. Tinggal tunggu waktu.
Jika sekarang belum muncul lagi pemimpin seperti itu maka berarti peradaban masyarakat belum mempraktikkan empat hal segaris tersebut
Imajinasi merupakan gambaran ideal dari suatu gagasan atau cita-cita yang diimpikan. Oleh sebab itu, salah besar jika ada orang yang mengatakan bahwa imajinasi sama halnya dengan khayalan. Perlu teman-teman ketahui bahwa imajinasi bukan sekedar angan yang mengambang-ambang di awang layaknya sebuah khayalan. Ia adalah semangat yang akan membumikan cita-cita. Di dalam imajinasi terdapat usaha, yang dapat mengatur, mengolah, menata pola pengembangan cita-cita secara terukur, sehingga memiliki parameter untuk menggapai keberhasilan dari cita-citanya tersebut, lalu Khayalan merupakan persepsi yang salah dan palsu. Secara terminologis, ilusi berarti ide, keyakinan, atau kesan tentang sesuatu yang jelas-jelas keliru. Pada dasarnya berkhayal bukan hal yang baik karena dapat membuat orang menjadi bingung dan memiliki tekanan batin atau bahkan dapat menyebabkan orang menjadi kehilangan jati dirinya dan cenderung gila2an. . Lalu, mengapa imajinasi yang diaktifkan? Mengapa bukan khayalan?
Lawan Realitas adalah Fiksi. Fiksi banyak diproses di otak kanan, sementara realitas banyak diproses di otak kiri. Jika dipersempit lagi, meskipun pengguna otak kanan adalah Intuiting dan Feeling, namun fiksi lebih banyak dieksplorasi oleh Intuiting, dan meskipun pengguna otak kiri adalah Sensing dan Thinking, namun realitas lebih banyak digunakan oleh Sensing. Dalam STIFIn, tentu saja Sensing dan Intuiting adalah tipe yang bertolak belakang. Sensing lebih banyak menggunakan realitas untuk sampai pada tujuan, dan Intuiting lebih banyak menjelajahi fiksi untuk sampai pada tujuan. Dua-duanya akan sampai pada tujuan meski dengan cara yang berbeda, dan fiksi maupun realitas dua-duanya adalah energi positif.
Di satu sisi, Intuiting juga punya kemampuan membangun fiktif (kepalsuan), dan Sensing punya kemampuan membangun fakta. Fiktif memang lawan katanya fakta. Fiksi mengaktifkan imajinasi, sementara fiktif mengaktifkan khayalan. Dari sini sudah jelas perbedaan dasar Intuiting yang imajinatif dan pengkhayal, bahwa Intuiting imajinatif adalah yang lebih banyak menggunakan energi fiksi yang bermuatan energi positif, sedangkan Intuiting pengkhayal adalah yang lebih banyak menggunakan energi fiktif yang bermuatan energi negatif.
Cita-cita adalah hasil imajinasi karena dibangun oleh fiksi. Saat ditanya “apa cita-citamu?”, kemudian otak segera membangun proses fiksi untuk memunculkan harapan dan tujuan. Lain halnya jika ditanya ”apa yang sedang kamu kerjakan saat ini?”, maka otak segera melihat pada realitas. Fiksi akan membuatnya mampu membayangkan dirinya di masa depan dengan cita-cita itu, sementara realitas tidak mungkin akan membuatnya mampu menggambarkan bayangan dirinya di masa depan. Cita-cita perlu dibangun oleh fiksi dan imajinasi, sebab jika dibangun oleh realitas maka cita-cita tidak akan pernah setinggi langit karena selalu melihat kenyataan yang ada saat ini.
Ketika cita-cita dibangun oleh realitas kemudian terus dipaksakan tanpa adanya tindakan, yang akan terjadi adalah khayalan. Ia kemudian akan memunculkan gambaran masa depannya dalam bentuk khayalan, karena proses penjelajahan ke masa depannya terikat oleh realitas. Jadi kira-kira kalau dibuat sebuah narasi: ”Apa cita-citamu?” “Cita-citaku ingin jadi pengusaha transportasi nomor satu di Indonesia, tapi sepertinya tidak mungkin, sebab realitasnya saat ini aku hanyalah tukang becak, jadi cita-cita demikian hanyalah khayalan bagiku.” Akhirnya, tidak ada aksi dari orang itu untuk menjemput cita-citanya.
Dari penjelasan di atas, maka didapat poin-poin antara lain:
Intuiting yang cerdas adalah yang imajinatif, bukan pengkhayal.
Intuiting yang imajinatif lebih sering memainkan fungsi fiksi, bukan fungsi fiktif atau kepalsuan.
Intuiting yang fiksi, akan kaya dengan imajinasi, gagasan, dan pencapaian dengan lompatan-lompatan kuantum. Intuiting yang fiktif, akan kaya dengan kepalsuan, kebohongan, mengarang cerita, dan tidak ada pencapaian besar karena ia kalah oleh realitas dan hanya berputar-putar di khayalan.
Intuiting yang imajinatif, akan memiliki cita-cita dan impian yang besar. Intuiting yang pengkhayal, akan memiliki kebingungan arah dan impian yang kerdil.
Intuiting yang imajinatif dapat dibuktikan dengan lahirnya karya-karya (misal lukisan, karya seni, buku, tulisan, teknologi, dll.) dan pemikiran atau gagasan dari dirinya. Intuiting yang pengkhayal dapat dibuktikan dengan lahirnya bualan, pandai berbohong, stagnasi hidup, hingga madness (kegilaan).
Intuiting yang imajinatif mampu menggambarkan (imagine) apa yang mungkin terjadi di masa depan (prediksi) sehingga ia mampu menjadi trendsetter dan pemicu peradaban. Intuiting yang pengkhayal hanya hidup di lorong waktu seolah-olah semua bisa terjadi, dan dia hanya menjadi follower serta tenggelam oleh peradaban.
Sekarang pertanyaannya, bagaimana agar Intuiting menjadi lebih imajinatif dan bukan pengkhayal ? Perbanyaklah bermain dengan fiksi di otaknya. Ada beberapa prinsip dasar mengoptimalkan fiksi di otaknya. Salah satu prinsip dasarnya adalah, jangan terlalu terpaku dengan realitas. Biarkan realitas jadi cara Sensing untuk mencapai tujuannya. Fokuslah pada keberanian memunculkan gagasan dan hipotesis. STIFIn mengajak manusia untuk fokus mengoptimalkan kelebihannya. Kelebihan Intuiting adalah menggunakan fiksi dan imajinasi, karena fungsi neokortek kanan memang sangat mendukungnya 100%. Biarkan anak-anak Intuiting Anda bermain dengan fiksi, jangan diredam oleh realitas-realitas dari pemikiran Anda.
Seorang gadis pasang iklan untuk dinikahi lelaki dengan penghasilan 7M setahun. Menurutnya, ia bukan materialistis tetapi realistis. Iklan seperti ini telah menjadi trend baru. Seorang lelaki menjawab sebaiknya gadis tersebut berbisnis agar berpenghasilan 7M daripada mencari suami berpenghasilan 7M. Hal yang senada saya dengar ketika sarapan disebuah hotel disurabaya. Seorang ayah memberitahu kedua putranya untuk menikahi gadis yang bisa berbisnis. Hanya bisa berbisnis. Jangan cari perempuan yang Cuma bisa menjadi surirumah (singkatan dari permaisuri dirumah atau ibu rumah tangga).
Lelaki pertama melihat gadis sebagai beban (liability) dan menghitung nilai depresiasi gadis tersebut yang terus akan menurun. Lelaki kedua melihat gadis sebagai aset yang harus diberdayakan melalui bisnis. Keduanya melihat gadis dengan kacamata sempit. Padahal pernikahan akan membuat gadis menjadi aset yang begitu berharga meski hanya sebagai surirumah.
Justru perempuan yang lebih banyak dirumah dan menguruskan segala urusan rumah tangga yang akan membuat suaminya naik nilai terapresiasinya secara eksponensial. Bukan hanya suami yang terurus dengan baik juga anak-anaknya akan menjadi aset-aset eksponensial berikutnya.
Seorang gadis yang bermetamorfora menjadi istri samara adalah aset yang berkilau. Menjadi harta karun yang tidak ada habisnya. Kelembutannya akan membuat hilang segala kepenatan lelaki. Pengabdian dan tanggung jawabnya dirumah membuat istana lahir batin bagi suaminya. Kasih sayang kepada anak-anaknya telah membuat suami berinvestasi terbaiik ditangan yang tepat. Pelayanan “listrik cinta”-nya telah membuat suami serasa bersama bidadari terus. Doa yang senantiasa dipanjatkannya akan membuat bisnis suami tumbuh pesat. Sungguh begitu besarnya nilai ekonomis perempuan.
Masalahnya, mau cari dimana perempuan kayak begitu? Maka carilah pasangan yang setara (keimanan dan potensinya) dengan score of spouse yang terbaik. Tentang skor terbaik ini, skema STIFIn akan sangat membantu.
Penelitian
ini bertujuan membuktikan kebenaran hipotesa STIFIn tentang “Ciri-ciri fisik
dan dominasi organ tubuh tertentu” pada kelima Mesin Kecerdasan yang terbagi
dalam 9 Personaliti Genetik.
Aplikasi
konsep STIFIn sudah berkembang sangat pesat. Sudah diterapkan di berbagai
bidang terutama bidang psikologi, sumber daya manusia, pendidikan,
pembelajaran, organisasi dan manajemen, hubungan antara manusian.
Melihat
sedemikian besar manfaat dan aplikasi STIFIn dalam kehidupan kita maka kami
mencoba mengembangkan aplikasi STIFIn di bidang kesehatan dan kedokteran.
Semoga
penelitian ini dapat menjadi pintu masuk aplikasi STIFIn di dalam bidang kesehatan
terutama di bidang kedokteran.
Besar
harapan kami konsep STIFIn ini dapat dioptimalkan untuk program preventif,
promotif, kuratif, rehabilitatif dan paliatif di bidang kesehatan.
Semoga
Allah SWT memudahkan penelitian ini dan menuntun kita dalam mengembangkan dan
mengaplikasikan STIFIn di bidang kesehatan dan kedokteran.
BAB II. HIPOTESA STIFIn TENTANG TIPOLOGI DAN ORGAN TUBUH
Berikut
ini hipotesa STIFIn tentang tipologi dan organ tubuh berdasarkan Mesin
Kecerdasan :
Sensing : organ tubuh utama bagian dalam
adalah lambung. Memiliki bentuk tubuh atletis.
Thinking : organ tubuh utama bagian dalam adalah ginjal.
Bentuk tubuh piknis.
Intuiting : organ
tubuh utama bagian dalam adalah hati. Bentuk tubuh astenis.
Feeling : organ tubuh
utama bagian dalam adalah paru-paru. Bentuk tubuh displastis.
Insting : organ tubuh
utama bagian dalam adalah jantung. Bentuk tubuh stenis.
MK
Struktur
Tubuh
Wajah
Bentuk
Organ
dominan
Sensing (S)
Organ
wajah penuh pada ruang muka sempit (simetris)
Hasil
spirometri FEV1 tertinggi (Si),
Ukuran
wajah terpanjang menurut garis vertical (S dan Se),
Angka
Trombosit tertinggi (S dan Se)
Sistim
Pencernaan
Thinking (T)
Organ wajah kecil-kecil, muka kotak
Piknis
(mesin
tubuh kecil, tulang kuat)
memiliki
tubuh paling tinggi (Te)
lingkaran dada terbesar (T dan Te)lingkar perut terbesar (T dan Te)lingkar pinggang terbesar (Te)Memiliki ukuran bagian
antero-posterior hepar terbesar (berdasarkan USG abdomen) (Te)Salah satu MK dan PG yang memiliki ukuran ginjal terbesar
(T, Ti dan Te)
Sistim
Sekresi
Intuiting
(I)
Organ
wajah panjang dan tipis-tipis, muka lonjong
Astenis
(tinggi-kurus
seperti pipa)
Ukuran bahu paling tebal (Ii)Tulang belakang terpanjang (Ie)Tulang leher terpanjang (I dan Ie)Lingkar kepala terbesar (I dan Ie)
Lingkar
pinggang terbesar (Ie)
Sistim
Sintesa dan Sistim saraf
Feeling (F)
Organ
wajah besar-besar pada ruang muka luas
(misal:
hidung jambu)
Displastis
(tinggi-besar/kecil-pendek
seperti buah apel)
Ukuran lubang hidung (Fe)Ukuran rongga dada kanan (Fi) dan
rongga dada kiri (F)Panjang bahu (Fe)Tebal bahu (F)
Extremitas
bawah terpanjang (Fe)
Tinggi badan (F)
Angka
lekosit tertinggi (Fe)
Kadar
Eritrosit tertinggi (Fi)
Angka
hematokrit tertinggi (Fe)
Memiliki
ukuran Hepar lobus kanan dan kiri terbesar (F)
Ginjal
superoinferior kanan terbesar (F dan Fe)
Sistim
Pernafasan
Insting (In)
Organ
wajah tajam-tajam/runcing
(misal:
bagian dagu dan bibir bagian bawah lebih menjorok ke depan)
Stenis
(lebar
di bagian bawah seperti buah pir, bahu datar)
Ukuran
telinga terpanjang (MK dan PG)
Ukuran
lubang hidung (MK dan PG)
Berat
badan terbesar (MK)
Eritrosit
tertinggi (MK)
Kadar Hb
tertinggi (MK dan PG)
FEV1/FVC
tertinggi (MK dan PG)
Salah satu MK yang memiliki ukuran lobus
kanan hepar terbesar
Sistim Peredaran Darah
BAB III. METODE PENELITIAN
Penelitian
ini dilakukan dengan metode deskriptif analitik. Masing-masing subyek
penelitian dideskripsikan berdasarkan ciri-ciri fisik dan dominasi organ tubuh
tertentu sesuai dengan hipotesa STIFIn.
Kesesuaian
ciri-ciri fisik dan dominasi organ tubuh tertentu pada masing-masing MK atau PG
menjadi dasar acuan untuk mendekripsikan ciri-ciri fisik MK atau PG tertentu.
BAB IV. TAHAPAN PENELITIAN
Tahapan Penelitian.
Penelitian ini dilakukan dalam 7
tahap sebagai berikut :
Tahap pertama :
menentukan subyek penelitian. Subyek penelitian adalah siswa-siswai SMPN 1
Balikpapan kelas IX (usia 13-14 tahun). Peneliti membuat kriteria subyek
penelitian adalah individu yang berusia 13 sd 14 tahun dengan asumsi subyek
perempuan sudah menstruasi dan subyek laki-laki sudah aqil baligh sebagai
parameter bahwa organ-organ tubuh subyek penelitian sudah tumbuh dengan sempurna.
Siswa-siswi
yang dipilih adalah berasal dari 3 kelas unggulan (IX-11, IX-10, IX-9) dan 3
kelas reguler (IX-8, IX-7, IX-6).
Alasan
memilih 3 kelas unggulan karena peneliti berpendapat bahwa populasi penduduk
Indonesia kebanyakan adalah F maka supaya lebih mudah mencari populasi T, S dan
I dengan prosentase yang seimbang subyek penelitian dicari pada kelompok kelas
unggulan dengan asumsi di kelas unggulan ini mayoritas T, S dan I serta disusul
F dan In.
Kemudian
peneliti menambahkan 3 kelas reguler dengan harapan bisa melengkapi jumlah
peserta sesuai kriteria subyek penelitian serta menambah jumlah F dan In.
Tahap kedua : mencari
subyek penelitian yang terbagi dalam 5 MK dan 9 PG dengan target 90 orang
subyek penelitian dengan harapan mendapatkan 10 orang mewakili masing-masing PG
atau minimal 15-20 orang mewakili masing-masing MK.
Tahap ketiga :
dilakukan pengukuran fisik dan pemeriksaan medis kepada subyek penelitian di
Prodia cabang Balikpapan.
Pengukuran fisik yang
dilakukan meliputi :
Tinggi badan
Berat badan
Lingkar kepala
Lingkar dada
Lingkar perut
Lingkar pinggang
Ukuran lubang hidung
Ukuran panjang
telinga
Panjang wajah
Lebar wajah
Panjang bahu
Tebal bahu
Panjang
tulang leher
Panjang tulang
belakang
Panjang tungkai dari
ujung tulang pinggul sampai dengan mata kaki.
Pemeriksaan medis
yang dilakukan :
Pemeriksaan
hematologi rutin.
Pemeriksaan ini untuk mengukur
kadar Hb, jumlah eritrosit, lekosit,trombosit,hematokrit.
Pemeriksaan rontgen
dada.
Untuk mengukur ukuran rongga
dada, kondisi anatomi paru-paru, ukuran jantung, kondisi anatomi jantung.
Pemeriksaan USG
perut.
Untuk mengukur hepar, ginjal.
Pemeriksaan
spirometri.
Untuk mengukur kapasitas fungsi
paru-paru.
Tahap keempat :
melakukan rekapitulasi hasil pengukuran dan mengelompokkan sesuai dengan MK dan
PG masing-masing.
Tahap kelima :
melakukan analisa hasil pengukuran.
Tahap keenam :
membuat laporan penelitian dan kesimpulan hasil penelitian.
Tahap ketujuh :
presentasi hasil penelitian.
BAB V. SUBYEK PENELITIAN
Subyek
penelitian ini adalah siswa-siswi SMPN 1 Balikpapan kelas IX tahun ajaran
2015-2016. Jumlah subyek penelitian 96 orang yang terbagi dalam 5 MK dan 9 PG.
BAB VI. PELAKSANAAN PENELITIAN
VI. 1. Waktu penelitian.
Penelitian
dilakukan dari tanggal 26 Agustus 2015 s/d 4 Desember 2015 di Laboratorium
Klinik Prodia Balikpapan.
VI. 2. Susunan team peneliti :
Penasehat : Bapak
Farid Poniman.
Ketua
: dr. Hendra Agusswarman Siahaan
Wakil
ketua : Didot Firmanto
Sekretaris : Siti
Lestari
Pengolahan
Data : H.
K. Wardani, SSi.
Bagian
Umum : Kusuma
Djaja Iskandar, M. Raihan D. Siahaan, Agendi
VI. 3. Pelaksanaan penelitian :
a. Tahap pertama tanggal 28 Agustus 2015.
Dilakukan pemilihan
secara acak kepada siswa-siswi kelas unggulan SMPN 1 Balikpapan (kelas IX 11,
IX 10, IX 9) dengan jumlah 70 orang siswa-siswi.
Dilakukan tes STIFIn
kepada siswa SMPN 1 Balikpapan yang berasal dari kelas unggulan tersebut.
Diperoleh 49 orang
peserta yang berhak mengikuti tes tahap berikutnya yaitu pengukuran fisik dan
pemeriksaan medis tgl 28 Agustus 2015 dan 12 orang peserta pd tgl 29 Agustus
2015.
Total peserta 61
orang dari kelas unggulan.
b. Tahap kedua tanggal 3 September 2015.
Dilakukan pemilihan
secara acak kepada siswa-siswi kelas reguler SMPN 1 Balikpapan (kelas IX-8,
IX-7, IX-6) dengan jumlah 70 orang siswa-siswi.
Dilakukan tes STIFIn
kepada sejumlah siswa SMPN 1 Balikpapan yang berasal dari kelas regular
tersebut.
Diperoleh 35 orang
peserta yang berhak mengikuti tes tahap berikutnya yaitu pengukuran fisik dan
pemeriksaan medis.
c. Pelaksanaan pengukuran fisik dan pemeriksaan medis di Laboratorium Klinik Prodia Balikpapan.
d. Rekapitulasi hasil pemeriksaan.
e. Pengolahan data.
f. Pembuatan laporan penelitian.
g. Kesimpulan dan presentasi hasil.
BAB VII. HASIL PENELITIAN DAN ANALISA DATA
ANALISA UKURAN LUBANG HIDUNG
MK
UKURAN LUBANG HIDUNG
S
3.47 cm
T
3.45 cm
I
3.46 cm
F
3.56 cm
In
3.56 cm
Penjelasan
: berdasarkan hasil pengukuran di atas dengan kategori MK untuk lubang hidung
terbesar dimiliki F dan In.
PG
UKURAN LUBANG HIDUNG
Si
3.48 cm
Se
3.46 cm
Ti
3.42 cm
Te
3.48 cm
Ii
3.46 cm
Ie
3.46 cm
Fi
3.55 cm
Fe
3.56 cm
In
3.56 cm
Penjelasan : berdasarkan hasil
pengukuran di atas dengan kategori PG lubang hidung terbesar dimiliki Fe dan
In.
Berdasarkan
data di atas Feeling dan Insting baik secara PG maupun MK
memiliki dominasi untuk ukuran lubang hidung.
ANALISA UKURAN RONGGA DADA
MK
RONGGA DADA KANAN
RONGGA DADA KIRI
S
13.12 CM
13.46
CM
T
13.23 CM
14.17 CM
I
13.90 CM
14.32 CM
F
13.75 CM
14.35 CM
In
13.63 CM
14.00 CM
Penjelasan
: berdasarkan hasil pengukuran di atas dengan kategori MK untuk rongga dada
kanan ukuran terbesar dimiliki oleh I, sedangkan rongga dada kiri ukuran
terbesar adalah F.
PG
RONGGA DADA KANAN
RONGGA DADA KIRI
Si
13.560 cm
13.750 cm
Se
12.670
cm
13.170
cm
Ti
12.840 cm
13.330 cm
Te
14.500 cm
15.000 cm
Ii
13.300 cm
13.800 cm
Ie
14.500 cm
14.830 cm
Fi
14.500 cm
14.700
cm
Fe
13.000 cm
14.000 cm
In
13.630 cm
14.000 cm
Penjelasan
: berdasarkan hasil pengukuran di atas dengan kategori PG untuk rongga dada
kanan ukuran terbesar dimiliki oleh Te, Ie dan Fi, sedangkan rongga dada kiri
ukuran terbesar adalah Te.
Dari data di atas secara MK F dan I sedangkan
secara PG Te, Ie dan Fi mendominasi ukuran rongga dada.
Secara keseluruhan melihat keunggulan di MK dan PG
maka Feeling memiliki dominasi lebih
untuk ukuran rongga dada.
ANALISA PANJANG BAHU
MK
PANJANG BAHU
S
14.38
T
14.14
I
14.09
F
14.36
In
13.88
Penjelasan
: berdasarkan hasil pengukuran di atas dengan kategori MK untuk panjang bahu
terpanjang dimiliki S.
PG
PANJANG BAHU
Si
14.64
Se
14.12
Ti
13.90
Te
14.38
Ii
14.00
Ie
14.18
Fi
14.00
Fe
14.71
In
13.88
Penjelasan
: berdasarkan hasil pengukuran di atas dengan kategori PG untuk panjang bahu
terpanjang dimiliki oleh Fe.
Berdasarkan
data di atas Fe secara PG dan S secara MK memiliki dominasi
untuk ukuran panjang bahu.
ANALISA TEBAL BAHU
MK
TEBAL BAHU
S
16.33
T
16.22
I
16.81
F
16.98
In
16.38
Penjelasan
: berdasarkan hasil pengukuran di atas dengan kategori MK untuk bahu paling tebal dimiliki oleh F.
PG
TEBAL BAHU
Si
16.73
Se
15.92
Ti
17.00
Te
15.44
Ii
18.62
Ie
15.00
Fi
17.00
Fe
16.96
In
16.38
Penjelasan
: berdasarkan hasil pengukuran di atas dengan kategori PG untuk bahu paling tebal dimiliki oleh Ii.
Berdasarkan data di atas Feeling secara MK dan Ii secara PG memiliki dominasi untuk ukuran tebal bahu.
ANALISA TINGGI BADAN
MK
TINGGI BADAN
S
157.89 CM
T
158.46 CM
I
157.95 CM
F
160.63 CM
In
159.69 CM
Penjelasan
: berdasarkan hasil pengukuran di atas dengan kategori MK untuk badan paling tinggi dimiliki oleh F.
PG
TINGGI BADAN
Si
158.80 cm
Se
156.98 cm
Ti
155.11 cm
Te
161.81 cm
Ii
159.85 cm
Ie
156.05 cm
Fi
160.80 cm
Fe
160.46 cm
In
159.69 cm
Penjelasan
: berdasarkan hasil pengukuran di atas dengan kategori PG untuk badan paling tinggi dimiliki oleh Te.
Berdasarkan data di atas Feeling secara MK dan Te secara PG memiliki dominasi untuk ukuran tinggi badan.
ANALISA BERAT BADAN
MK
BERAT BADAN
S
50.75 kg
T
53.38 kg
I
53.45 kg
F
53.16 kg
In
54.53 kg
Penjelasan
: berdasarkan hasil pengukuran di atas dengan kategori MK untuk badan paling berat dimiliki oleh In.
PG
BERAT BADAN
Si
53.25 kg
Se
48.24 kg
Ti
48.01 kg
Te
58.74 kg
Ii
56.45 kg
Ie
50.53 kg
Fi
51.96 kg
Fe
54.67 kg
In
54.53 kg
Penjelasan
: berdasarkan hasil pengukuran di atas dengan kategori PG untuk badan paling berat dimiliki oleh Te.
Berdasarkan data di atas In secara MK dan Te secara PG memiliki dominasi untuk ukuran berat badan.
ANALISA DENYUT NADI
MK
DENYUT NADI
S
73.77
T
75.23
I
76.31
F
75.94
In
76.38
Penjelasan
: berdasarkan hasil pengukuran di atas dengan kategori MK untuk denyut nadi tertinggi dimiliki oleh In.
PG
DENYUT NADI
Si
70.45
Se
77.08
Ti
73.20
Te
77.25
Ii
74.62
Ie
78.00
Fi
74.70
Fe
77.17
In
76.38
Penjelasan
: berdasarkan hasil pengukuran di atas dengan kategori PG untuk denyut nadi tertinggi dimiliki oleh Ie.
Berdasarkan data di atas In secara MK dan Ie secara PG memiliki dominasi untuk ukuran denyut nadi.
ANALISA UKURAN TELINGA
MK
UKURAN TELINGA
S
5.82
T
5.86
I
6.04
F
5.95
In
6.25
Penjelasan
: berdasarkan hasil pengukuran di atas dengan kategori MK untuk ukuran telinga terpanjang dimiliki oleh In.
PG
UKURAN TELINGA
Si
5.86
Se
5.77
Ti
5.70
Te
6.01
Ii
6.08
Ie
6.00
Fi
6.07
Fe
5.83
In
6.25
Penjelasan
: berdasarkan hasil pengukuran di atas dengan kategori PG untuk ukuran telinga terpanjang dimiliki oleh In.
Berdasarkan data di atas In secara MK dan PG memiliki dominasi untuk ukuran panjang telinga.
ANALISA LINGKAR DADA
MK
LINGKAR DADA
S
79.90
T
83.36
I
82.26
F
81.68
In
81.56
Penjelasan
: berdasarkan hasil pengukuran di atas dengan kategori MK untuk lingkar dada
terbesar dimiliki oleh T.
PG
LINGKAR DADA
Si
81.95
Se
77.85
Ti
79.40
Te
87.75
Ii
83.42
Ie
81.09
Fi
80.47
Fe
82.88
In
81.56
Penjelasan : berdasarkan hasil
pengukuran di atas dengan kategori PG untuk lingkar dada terbesar dimiliki oleh
Te.
Berdasarkan
data di atas T secara MK dan Te secara
PG memiliki dominasi untuk ukuran lingkar
dada.
ANALISA LINGKAR PERUT
MK
LINGKAR PERUT
S
73.20
T
76.50
I
75.64
F
75.72
In
76.06
Penjelasan
: berdasarkan hasil pengukuran di atas dengan kategori MK untuk lingkar perut
terbesar dimiliki T.
PG
LINGKAR PERUT
Si
76.09
Se
70.31
Ti
72.55
Te
80.44
Ii
78.50
Ie
72.77
Fi
75.35
Fe
76.08
In
76.06
Penjelasan
: berdasarkan hasil pengukuran di atas dengan kategori PG untuk lingkar perut
terbesar dimiliki Te.
Berdasarkan
data di atas T secara MK dan Te secara
PG memiliki dominasi untuk ukuran lingkar
perut.
ANALISA LINGKAR PINGGANG
MK
LINGKAR PINGGANG
S
81.86
T
84.15
I
83.20
F
83.67
In
84.3 8
Penjelasan
: berdasarkan hasil pengukuran di atas dengan kategori MK untuk lingkar
pinggang terbesar dimiliki In.
PG
LINGKAR PINGGANG
Si
83.94
Se
79.77
Ti
81.05
Te
87.25
Ii
86.85
Ie
79.55
Fi
83.80
Fe
83.54
In
84.38
Penjelasan
: berdasarkan hasil pengukuran di atas dengan kategori PG untuk lingkar
pinggang terbesar dimiliki Te.
Berdasarkan data di atas In secara MK dan Te secara PG memiliki dominasi untuk ukuran lingkar pinggang.
ANALISA PANJANG TULANG BELAKANG
MK
PANJANG TULANG BELAKANG
S
57.53
T
57.98
I
58.73
F
59.38
In
59.00
Penjelasan
: berdasarkan hasil pengukuran di atas dengan kategori MK untuk tulang belakang
terpanjang dimiliki F.
PG
PANJANG TULANG BELAKANG
Si
55.82
Se
59.23
Ti
54.70
Te
61.25
Ii
55.23
Ie
62.23
Fi
58.45
Fe
60.30
In
59.00
Penjelasan
: berdasarkan hasil pengukuran di atas dengan kategori PG untuk tulang belakang
terpanjang dimiliki Ie.
Berdasarkan data di atas F secara MK dan Ie secara PG memiliki dominasi untuk ukuran tulang belakang.
ANALISA PANJANG TULANG LEHER
MK
PANJANG TULANG LEHER
S
9.13
T
8.61
I
11.92
F
9.27
In
9.25
Penjelasan
: berdasarkan hasil pengukuran di atas dengan kategori MK untuk tulang
leher terpanjang dimiliki I.
PG
PANJANG TULANG LEHER
Si
9.49
Se
8.77
Ti
9.00
Te
8.21
Ii
8.46
Ie
15.38
Fi
9.45
Fe
9.08
In
9.25
Penjelasan
: berdasarkan hasil pengukuran di atas dengan kategori PG untuk tulang
leher terpanjang dimiliki Ie.
Berdasarkan data di atas I secara MK dan Ie secara PG memiliki dominasi untuk ukuran tulang leher.
ANALISA PANJANG TUNGKAI BAWAH
MK
PANJANG TUNGKAI BAWAH
S
91.80
T
92.92
I
89.58
F
92.00
In
93.25
Penjelasan
: berdasarkan hasil pengukuran di atas dengan kategori MK untuk tungkai
bawah terpanjang dimiliki In.
PG
PANJANG TUNGKAI BAWAH
Si
92.64
Se
90.96
Ti
91.20
Te
94.63
Ii
90.38
Ie
88.77
Fi
88.80
Fe
95.21
In
93.25
Penjelasan
: berdasarkan hasil pengukuran di atas dengan kategori PG untuk tungkai
bawah terpanjang dimiliki Fe.
Berdasarkan data di atas In secara MK dan Fe secara PG memiliki dominasi untuk ukuran panjang tungkai bawah.
ANALISA LINGKAR KEPALA
MK
LINGKAR KEPALA
S
54.49
T
54.38
I
54.58
F
54.41
In
54.19
Penjelasan
: berdasarkan hasil pengukuran di atas dengan kategori MK untuk lingkar kepala
terbesar dimiliki I.
PG
LINGKAR KEPALA
Si
54.36
Se
54.62
Ti
54.20
Te
54.56
Ii
54.38
Ie
54.77
Fi
54.18
Fe
54.64
In
54.19
Penjelasan
: berdasarkan hasil pengukuran di atas dengan kategori PG untuk lingkar kepala
terbesar dimiliki Ie.
Berdasarkan data di atas I secara MK dan Ie secara PG memiliki dominasi untuk ukuran lingkar kepala.
ANALISA PANJANG WAJAH
MK
PANJANG WAJAH
S
19.99
T
19.30
I
19.60
F
19.30
In
19.81
Penjelasan
: berdasarkan hasil pengukuran di atas dengan kategori MK untuk ukuran wajah terpanjang
dimiliki S.
PG
PANJANG WAJAH
Si
19.97
Se
20.00
Ti
18.90
Te
19.69
Ii
19.62
Ie
19.59
Fi
19.53
Fe
19.08
In
19.81
Penjelasan
: berdasarkan hasil pengukuran di atas dengan kategori PG untuk ukuran wajah
terpanjang dimiliki Se.
Berdasarkan data di atas S secara MK dan Se secara PG memiliki dominasi untuk ukuran panjang wajah.
ANALISA LEBAR WAJAH
MK
LEBAR WAJAH
S
25.21
T
26.08
I
25.97
F
25.89
In
26.56
Penjelasan
: berdasarkan hasil pengukuran di atas dengan kategori MK untuk ukuran wajah
terlebar dimiliki In.
PG
LEBAR WAJAH
Si
26.00
Se
24.42
Ti
25.90
Te
26.25
Ii
25.88
Ie
26.06
Fi
25.45
Fe
26.33
In
26.56
Penjelasan
: berdasarkan hasil pengukuran di atas dengan kategori PG untuk ukuran wajah
terlebar dimiliki In.
Berdasarkan data di atas In secara MK dan PG memiliki dominasi untuk ukuran lebar wajah.
ANALISA UKURAN JANTUNG
MK
UKURAN JANTUNG
S
10.99
T
12.92
I
11.35
F
11.98
In
11.63
Penjelasan
: berdasarkan hasil pengukuran di atas dengan kategori MK untuk ukuran jantung
terbesar dimiliki T.
PG
UKURAN JANTUNG
Si
11.31
Se
10.67
Ti
11.33
Te
14.5
Ii
10.7
Ie
12.00
Fi
12.2
Fe
11.75
In
11.63
Penjelasan
: berdasarkan hasil pengukuran di atas dengan kategori PG untuk ukuran jantung
terbesar dimiliki Te.
Berdasarkan data di atas T secara MK dan Te secara PG
memiliki dominasi untuk ukuran jantung.
ANALISA HEPAR
MK
LOBUS KANAN
LOBUS KIRI
S
9.88
5.70
T
10.64
6.46
I
9.73
6.25
F
10.71
7.91
In
10.71
6.42
Penjelasan
: berdasarkan hasil pengukuran di atas dengan kategori MK untuk ukuran lobus
kanan hepar terbesar dimiliki F dan In, sedangkan untuk lobus kiri dimiliki
oleh F.
PG
LOBUS KANAN
LOBUS KIRI
Si
9.65
6.06
7.86
Se
10.10
5.33
7.72
Ti
10.08
7.30
8.69
Te
11.20
5.62
8.41
Ii
9.31
5.95
7.63
Ie
10.14
6.55
8.35
Fi
11.05
7.80
9.45
Fe
10.37
8.02
9.20
In
10.71
6.42
8.57
Penjelasan
: berdasarkan hasil pengukuran di atas dengan kategori PG untuk ukuran lobus
kanan hepar terbesar dimiliki Te, sedangkan untuk lobus kiri dimiliki oleh Fe.
Berdasarkan data di atas F secara MK dan Te serta Fe
secara PG memiliki dominasi untuk ukuran hepar.
ANALISA UKURAN GINJAL
MK
SUPEROINFERIOR KANAN
SUPEROINFERIOR KIRI
ANTEROPOSTERIOR KANAN
ANTEROPOSTERIOR KIRI
S
9.33
9.36
3.85
4.67
T
9.26
7.58
4.73
4.79
I
9.1
9.88
4.22
5.06
F
9.38
9.64
3.99
4.9
In
8.85
8.85
3.84
4.59
Penjelasan
: berdasarkan hasil pengukuran di atas dengan kategori MK untuk ukuran lobus :
Superoinferior kanan
: F
Superoinferior kiri :
I
Anteroposterior kanan
: T
Anteroposterior kiri
: I
PG
SUPEROINFERIOR KANAN
SUPEROINFERIOR KIRI
ANTEROPOSTERIOR KANAN
ANTEROPOSTERIOR KIRI
Si
9.41
9.16
4.40
5.12
Se
9.24
9.55
3.30
4.21
Ti
9.42
10.09
4.70
4.52
Te
9.10
5.06
4.75
5.05
Ii
9.21
9.94
4.33
4.45
Ie
8.99
9.82
4.11
5.67
Fi
8.78
9.20
4.29
5.09
Fe
9.97
10.08
3.68
4.71
In
8.85
8.85
3.84
4.59
Penjelasan
: berdasarkan hasil pengukuran di atas dengan kategori PG untuk ukuran lobus :
Superoinferior kanan
: Fe
Superoinferior kiri :
Ti
Anteroposterior kanan
: Te
Anteroposterior kiri
: Ie
Berdasarkan data di atas terdapat variasi dominasi
beberapa MK dan PG untuk dominasi untuk
ukuran Ginjal.
Secara umum bisa diasumsikan bahwa T memiliki dominasi untuk ukuran ginjal.
ANALISA SPIROMETRI
MK
VC
FVC
FEV1
FEV1/FVC
S
84.14
78.43
80.21
101.95
T
79.95
70.60
69.79
98.93
I
93.13
85.21
83.62
97.59
F
88.60
80.07
82.02
102
In
77.98
73.94
75.67
104.67
Penjelasan
: berdasarkan hasil pengukuran di atas dengan kategori MK untuk angka
spirometri tertinggi dimiliki :
VC : I
FVC : I
FEV1 : I
FEV1/FVC : In
PG
VC
FVC
FEV1
FEV1/FVC
Si
83.62
85.02
85.14
99.34
Se
84.65
71.84
75.28
104.56
Ti
85.90
75.83
72.05
95.77
Te
74.00
65.38
67.53
102.09
Ii
93.11
85.34
84.70
98.70
Ie
93.14
85.07
82.53
96.48
Fi
85.20
79.31
82.56
103.43
Fe
92.00
80.82
81.48
100.57
In
77.98
73.94
75.67
104.67
Penjelasan
: berdasarkan hasil pengukuran di atas dengan kategori PG untuk angka
spirometri tertinggi dimiliki :
VC : Ie
FVC : Ii
FEV1 : Si
FEV1/FVC : In
Berdasarkan data di atas maka I secara MK dan PG mendominasi hasil pengukuran kapasitas paru.
Keterangan:
VC : Vital Capacity: volume
udara yang dapat dikeluarkan dengan ekspirasi maksimum setelah inspirasi
maksimum. Atau jumlah udara maksimum pada seseorang yang berpindah pada satu
tarikan napas.
FVC : Forced Vital
Capacity = Kapasitas Vital Paksa = Adalah VC yang diukur persatuan waktu.
FEV1 : Forced Expiratory Volume1
(FEV1) adalah volume udara yang dapat dikeluarkan dengan ekspirasi maksimun per
satuan detik (detik pertama)
FEV1/FVC : volume udara yang dapat
dikeluarkan dengan ekspirasi maksimun per satuan detik (detik pertama)
dibandingkan dengan volume
udara yang dapat dikeluarkan dengan ekspirasi maksimum setelah inspirasi
maksimum. Atau jumlah udara maksimum pada seseorang yang berpindah pada satu
tarikan napas per satu satuan waktu.
ANALISA HEMATOLOGI
HEMOGLOBIN (Hb)
MK
Hb
S
14.07
T
13.45
I
13.36
F
14.19
In
14.38
Penjelasan
: berdasarkan hasil pengukuran di atas dengan kategori MK untuk kadar Hb
tertinggi dimiliki In.
PG
Hb
Si
13.91
Se
14.22
Ti
13.36
Te
13.53
Ii
13.42
Ie
13.78
Fi
14.11
Fe
14.27
In
14.38
Penjelasan
: berdasarkan hasil pengukuran di atas dengan kategori PG untuk kadar Hb
tertinggi dimiliki In.
Berdasarkan data di atas maka In secara MK dan PG memiliki kadar Hb tertinggi.
ANALISA LEKOSIT
MK
LEKOSIT
S
9.127
T
8.914
I
9.206
F
8.906
In
9.225
Penjelasan
: berdasarkan hasil pengukuran di atas dengan kategori MK untuk angka lekosit
tertinggi dimiliki In.
PG
LEKOSIT
Si
9.282
Se
8.972
Ti
8.805
Te
9.023
Ii
8.849
Ie
9.563
Fi
8.232
Fe
9.579
In
9.225
Penjelasan
: berdasarkan hasil pengukuran di atas dengan kategori PG untuk angka lekosit
tertinggi dimiliki Fe.
Berdasarkan data di atas maka In secara MK dan Fe secara PG memiliki kadar Lekosit tertinggi.
ANALISA ERITOSIT
MK
ERITROSIT
S
4.995
T
4.884
I
4.913
F
5.076
In
5.116
Penjelasan
: berdasarkan hasil pengukuran di atas dengan kategori MK untuk angka eritrosit
tertinggi dimiliki In.
PG
ERITROSIT
Si
4.970
Se
5.020
Ti
4.852
Te
4.915
Ii
4.970
Ie
4.856
Fi
5.127
Fe
5.025
In
5.116
Penjelasan
: berdasarkan hasil pengukuran di atas dengan kategori PG untuk angka eritrosit
tertinggi dimiliki Fi.
Berdasarkan data di atas maka In secara MK dan Fi secara PG memiliki kadar Lekosit tertinggi.
ANALISA TROMBOSIT
MK
TROMBOSIT
S
397.250
T
286.150
I
362.950
F
356.050
In
236.200
Penjelasan
: berdasarkan hasil pengukuran di atas dengan kategori MK untuk angka trombosit
tertinggi dimiliki S.
PG
TROMBOSIT
Si
347.800
Se
446.700
Ti
317.300
Te
255.000
Ii
413.600
Ie
312.300
Fi
296.200
Fe
415.900
In
236.200
Penjelasan
: berdasarkan hasil pengukuran di atas dengan kategori PG untuk angka trombosit
tertinggi dimiliki Se.
Berdasarkan data di atas maka S secara MK dan Se secara PG memiliki kadar Trombosit tertinggi.
BAB
VIII. ANALISA HASIL BERDASARKAN MK
MK FEELING
F MEMILIKI DOMINASI SISTIM RESPIRASI (PERNAFASAN)
Berdasarkan data yang diperoleh
dari penelitian ini maka dapat digambarkan bahwa F memiliki kelebihan dalam :
Ukuran lubang hidung
(Fe)
Ukuran rongga dada
kanan (Fi) dan rongga dada kiri (F)
Panjang bahu (Fe)
Tebal bahu (F)
Extremitas bawah
terpanjang (Fe)
Tinggi badan (F)
Angka lekosit
tertinggi (Fe)
Kadar Eritrosit
tertinggi (Fi)
Angka hematokrit
tertinggi (Fe)
Memiliki
ukuran Hepar lobus kanan dan kiri terbesar (F)
Ginjal superoinferior
kanan terbesar (F dan Fe)
Kondisi di atas membuat F
memiliki dominasi dalam sistim pernafasan. Ukuran lubang hidung yang besar
memudahkan udara (oksigen) masuk dalam jumlah besar ditopang dengan ukuran
paru-paru yang cukup besar sehingga memungkinkan penyimpanan oksigen dalam
jumlah banyak.
Untuk menunjang fungsi di atas
maka F diberikan tanda fisik selain ukuran hidung dan rongga dada yang besar yaitu
bahu yang panjang dan tebal.
F juga memiliki kelebihan fisik
lain yaitu extremitas bawah (panjang kaki dari pinggul ke mata kaki) dengan
ukuran paling panjang. Hal ini membantu F untuk memaksimalkan tubuh yang tinggi
untuk mendapatkan udara lebih banyak.
Tulang yang panjang membuat
sum-sum tulang F mampu memproduksi sel-sel darah dalam jumlah banyak terutama
sel darah putih (lekosit). F memiliki jumlah lekosit (sel darah putih) paling
tinggi (dalam batas normal) sehingga F memiliki sistim pertahanan tubuh melalui
sel darah putih paling bagus.
F juga memiliki jumlah eritrosit
(sel darah merah) dan hematokrit paling tinggi (dalam batas normal) sehingga F
memiliki volume sel darah merah cukup banyak dimana eritrosit membawa nutrisi
dan oksigen ke seluruh tubuh.
Sebagai salah satu MK yang
memiliki ukuran hepar paling besar membuat F mampu memproduksi sel-sel darah
dan mensintesa seluruh komponen dari darah yang diolah di hati serta memiliki
kemampuan metabolisme racun-racun dalam tubuh dengan baik.
F memiliki kelebihan dalam ukuran
ginjal, hal ini sangat mendukung F dalam melakukan membersihkan darah dari
sisa-sisa metabolisme dan racun ke luar tubuh melalui urine.
MK THINKING sekresi
T memiliki beberapa kelebihan
berdasarkan penelitian di atas, yaitu :
memiliki tubuh paling
tinggi (Te)
berat badan paling
berat (T dan Te)
lingkaran dada
terbesar (T dan Te)
lingkar perut terbesar
(T dan Te)
lingkar pinggang
terbesar (Te)
Ukuran jantung
terbesar (T dan Te)
Memiliki ukuran
bagian antero-posterior hepar terbesar (berdasarkan USG abdomen) (Te)
Salah satu MK dan PG yang memiliki ukuran ginjal terbesar
(T, Ti dan Te).
Kelebihan
postur di atas membuat T layak dinobatkan menjadi pemimpin/komandan yang
memiliki wibawa untuk memimpin anak buahnya.
Memiliki
jantung dengan ukuran paling besar membuat T
Sebagai
salah satu MK yang memiliki ukuran Hepar terbesar membuat T mampu menetralisir
racun-racun di dalam tubuh dengan cepat.
Ukuran
ginjal yang besar membuat T memiliki kecepatan membersihkan darah dari
racun-racun sisa metabolisme dalam tubuh.
MK INTUITING
I
memiliki keunggulan sebagai berikut :
Ukuran bahu paling tebal (Ii)
Merupakan salah satu
PG yg memiliki ukuran rongga paru kanan terbesar (I)
Hasil spirometri SVC,
FVC DAN FEV1 tertinggi untuk kategori MK I
Ukuran spirometri
tertinggi kategori PG :FVC tertinggi (Ii),
SVC (Ie)
Denyut nadi tertinggi
(Ie)
Tulang belakang terpanjang
(Ie)
Tulang leher
terpanjang (I dan Ie)
Lingkar kepala
terbesar (I dan Ie)
Lingkar pinggang
terbesar (Ie)
Memiliki
kadar lekosit dan trombosit yang cukup tinggi di dalam darah.
MK SENSING
S
memiliki keunggulan dalam :
Hasil spirometri FEV1
tertinggi Si
Ukuran wajah
terpanjang menurut garis vertical (S dan Se)
Angka Trombosit
tertinggi (S dan Se)
MK INSTING
In memiliki dominasi dalam :
Ukuran telinga
terpanjang (MK dan PG)
Ukuran wajah terlebar
secara horizontal (MK dan PG)
Ukuran lubang hidung
(MK dan PG)
Berat badan terbesar
(MK)
Eritrosit tertinggi
(MK)
Kadar Hb tertinggi
(MK dan PG)
FEV1/FVC tertinggi
(MK dan PG)
Salah satu MK yang memiliki ukuran lobus kanan
hepar terbesar
BAB
IX. KESIMPULAN
Dari
data-data tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa sebagian besar temuan
karakteristik fisik dalam penelitian ini sesuai dengan ciri-ciri umum fisik STFIn.
ANALISA
PENELITI
Mencermati
hasil penelitian dan mencoba menghubungkan dengan hipotesa STIFIn maka peneliti
menyimpulkan bahwa perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dan peneliti
mengusulkan dominasi organ dijelaskan dengan konsep sebagai berikut :
Sensing memiliki dominasi pada sistim pencernaan.
Thinking memiliki dominasi pada sistim ekskresi.
Intuiting memiliki dominasi pada sistim sintesa dan saraf.
Feeling memiliki dominasi pada sistim pernafasan.
Insting memiliki dominasi pada sistim sirkulasi darah dan kesimbangan tubuh (kesimpulan berdasarkan letak mesin kecerdasan In yang berada di otak tengah yang merupakan pusat keseimbangan).
This research is expected to give a new view on the relationship of personality to job performance which is the results of previous research that using the MBTI personality type and “The Big Five Personality” provides a review of inconsistent results.
The STIFIn personality type (Sensing, Thinking, Intuiting, Feeling and Insting), the personality type was conceptualized by Poniman (2010) using an analytical psychology approach pioneered by Jung (1946), the theory of The Whole Brain Concept from Ned Herrmann (1989) and the Triune Brain theory Paul McLean’s (1990) development has been used extensively in various fields of life.
This study comprehensively investigates the effect of the practice of human resource management based on STIFIn personality (HR STIFIn) on job performance. The results of the study found a significant effect on the practice of STIFIn based HR Management, namely selection and retention, on job performance. The sampling technique in this study used purposive sampling with a sample size of 50 (response 50% rate). Data collection was done by distributing questionnaires using a 5-point Likert scale. The first proposed research framework and partial least square – structural equation modeling (PLS-SEM) were used to test the research framework.
From the results of model 1 analysis, it is found that selection, retention, task performance, and contextual performance are related to each other. Likewise with the indicators of each exogenous and endogenous variable has a significant effect.
Subsequent research can be done with a larger number of respondents so that they can see the influence of demographic factors of each intelligence machine on the relationship between HR STIFIn practices and Job performance.
Pendahuluan
Tantangan perusahaan untuk meraih keunggulan bersaing (competitive advantage) adalah konsistensinya dalam meningkatkan kinerja perusahaan. Michael Porter (1985) memberikan perspektif bahwa pengelolaan sumber daya manusia bisa mewakili sumber keunggulan kompetitif perusahaan karena bisa meraih dan mengembangkan karyawan yang lebih efektif dari pada pesaing.
Karyawan terbaik bisa menciptakan keunggulan bersaing perusahaan baik dalam kegiatan utama maupun pada aktivitas pendukung rantai nilai (value chain) perusahaan. Keunggulan bersaing sebagian besar berasal dari sumber daya manusia perusahaan (Pfeffer, 1994), penelitian M.J. Koch dan R.G. McGrath (1996) menunjukkan adanya hubungan yang nyata dan signifkan antara pengelolaan sumber daya manusia organisasi dengan produktivitas karyawannya.
Jean Marie Hiltrop (1996) menyatakan adanya bukti yang konsisten bahwa kebijakan dan praktik HRM dari sebuah organisasi memiliki pengaruh yang kuat dalam memotivasi karyawan untuk menunjukkan jenis sikap dan perilaku yang dibutuhkan untuk mendukung dan menerapkan strategi persaingan suatu organisasi.
Sistem dan praktik MSDM harus mampu mendorong dan meningkatkan kinerja pekerjaan (job performance) yang didefinisikan Campbell (1993) sebagai perilaku individu (individual behavior) yang relevan atau sejalan dengan tujuan perusahaan.
Boudreau & Ramstad (2005) mengemukakan hasil penelitiannya bahwa keberhasilan organisasi sekarang bergantung pada bagaimana mempertahankan orang-orang dan sejalan dengan dampak globalisasi yang terus meningkat, semakin dibutuhkan karyawan-karyawan berbakat.
Secara teoritis, Jackson & Schuler (1995) dan Lado & Wilson (1994), serta penelitian empiris HRM lainnya, diantaranya Huselid (1995) dan MacDuffie ( 1995) telah memberikan bukti bahwa metode yang digunakan oleh perusahaan untuk mengelola tenaga kerjanya memiliki dampak positif pada kinerja perusahaan, seperti juga hasil penelitian Becker & Huselid (1998), Delery & Shaw (2001), dan Wright & Boswell (2002).
Beberapa penelitian telah mengklarifikasi kegunaan menggunakan variabel kepribadian untuk memprediksi kinerja pekerjaan. Glaister (2016) memberikan bukti adanya fungsi mediasi talent management pada hubungan HRM dengan kinerja perusahaan.
Penelitian lain (Barrick & Mount, 1991; Hough, 1992; Salgado, 1997; Tett, Jackson, & Rothstein, 1991) telah menunjukkan bahwa konstruksi personality memang terkait dengan kinerja kerja (job performance). Namun, sangat sedikit penelitian yang meneliti mekanisme di mana sifat kepribadian mempengaruhi kinerja.
Penelitian sebelumnya yang menggunakan tipe kerpibadian MBTI dan “The Big Five Personality” pada hubungan kepribadian (personality) dengan kinerja pekerjaan (job performance) memberikan tinjauan hasil yang tidak konsisten. Penelitian ini secara komprehensif menyelidiki pengaruh praktik manajemen sumber daya manusia berbasis kepribadian STIFIn (HR STIFIn) terhadap kinerja pekerjaan (job performance).
Tipe kepribadian STIFIn (Sensing, Thinking, Intuiting, Feeling dan Insting) yang dikonsepsikan oleh Poniman (2010) dengan menggunakan pendekatan psikologi analitis yang dipelopori oleh Jung (1946), teori The Whole Brain Concept dari Ned Herrmann (1989) dan teori Triune Brain yang dikembangkan Paul McLean (1990) telah digunakan secara luas di berbagai bidang kehidupan.
Tipe Kepribadian dan Kinerja Pekerjaan
Jika perusahaan mengatur karyawannya sesuai dengan tipe kepribadian mereka dan potensi kemampuan mereka, produktivitas dan kualitas dapat ditingkatkan. Penelitian jenis kepribadian MBTI terus dilakukan sebagai prediktor terhadap kinerja pekerjaan, nampaknya cukup banyak pengaruhnya (Cunha, 2007), seperti juga penelitian Borg (1996) dengan menggunakan tipe kepribadian MBTI menunjukkan hasil bahwa tipe kepribadian memiliki pengaruh penting pada keberhasilan siswa.
Siswa yang tipe temperamennya cocok dengan temperamen instruktur kelas secara signifikan lebih baik hasil kinerjanya daripada siswa yang tipe temperamennya tidak cocok dengan instruktur. Demikian pula Bradely (1997) dan Mazni et al., (2010) memberikan bukti bahwa tipe kepribadian merupakan faktor penting dalam kinerja tim yang sukses.
Organisasi yang ingin mengembangkan tim yang efektif perlu menganalisis komposisi tipe kepribadian dari kelompok-kelompok ini dan membantu anggota tim memahami atribut pribadi mereka sendiri serta menghargai kontribusi dari anggota tim lainnya.
Namun pada penelitian lain yang dilakukan dengan berbeda budaya, seperti yang dilakukan oleh Furnham (1993), kepribadian MBTI gagal menghasilkan korelasi besar terhadap kinerja. MBTI tampaknya tidak terkait dengan ukuran kinerja manajemen yang kuat dan multi-faktorial.
Demikian pula dengan konsep kepribadian “The Big-Five Personality”, meskipun beberapa literatur membuktikan kepribadian “The Big Five” sebagai prediktor kinerja pekerjaan (job performance) (Bhatti, et al., 2013), namun oleh beberapa peneliti bahwa ukuran-ukuran kepribadian tidak memprediksi kinerja pekerjaan secara konsisten.
Seperti Barrick dan Mount (1991) dan Hurtz & Donovan (2000) yang meneliti hubungan kepribadian “The Big Five” dengan kinerja pekerjaan (job performance), menemukan hanya satu dimensi yaitu ketelitian (conscientiousness) yang berhubungan secara konsisten dengan kinerja pekerjaan (job performance).
Ada dugaan yang diajukan pada kedua konsep dan teori kepribadian tersebut bahwa pengukuran terhadap dimensi kepribadian menggunakan atribut perilaku yang bisa berubah-ubah dan bisa terbentuk oleh faktor lingkungan dimana seseorang hidup dan berinteraksi.
Konsep tipe kepribadian STIFIn (STIFIn personality) yang dikembangkan oleh Poniman (2009) dan juga merupakan aliran Jungian, menggunakan pedekatan secara otentik keterhubungan fungsi dan cara kerja otak secara alamiah dengan tindakan dan perilaku manusia yang bisa diukur dengan alat test genetika, seperti tes sidik jari, test DNA maupun test retina.
Beberapa penelitian yang dilakukan oleh Rafianti, et al., (2017), Mundiri (2017), Arifin (2017), dan Alindra (2018) telah membuktikan penggunaan kepribadian STIFIn secara konsisten bisa menghasilkan kinerja pekerjaan yang lebih baik.
Secara khusus, Poniman dan Hadiyat (2015) dalam bukunya Manajemen HR STIFIn memberikan proposisi hasil pengamatan dan pengalaman selama beberapa tahun sebagai praktisi HR, yaitu adanya pengaruh positif praktik Manajemen HR dengan menggunakan skema tipe kepribadian STIFIn dalam meningkatkan produktivitas karyawan.
Seseorang yang bekerja pada bidang apapun yang sesuai dengan cara kerja mesin kecerdasannya, akan merasa nyaman dan bisa memberikan produktivitas secara terus menerus dan lebih konsisten. Penelitian ini akan menguji proposisi tersebut yaitu bagaimana pengaruh penerapan praktik manajemen HR STIFIn terhadap kinerja karyawan.
Tinjauan Literatur
Konsep Tipe Kepribadian STIFIn
Orang-orang di perusahaan adalah kunci keberhasilan untuk pencapaian visi dan strategi perusahaan. Manusia adalah subyek yang memiliki potensi dasar dan karakternya yang dibawa sejak lahir yang akan menentukan produktivitas individual dan secara agregrat akan menentukan produktivitas perusahaan.
Ned Hermann dalam jurnalnya “The Creative Brain” tahun 1989 tentang konsep kuadran otak menjelaskan indikasi adanya karakteristik otak yang berdampak pada cara berfikir dan cara belajar. Otak sangat lunak yang hampir tidak ada kendala yang melekat. Keseluruhan otak memiliki akses ke masing-masing belahan otak dan sebagian dari otak dominan menentukan preferensi cara berfikir dan belajar.
Konsep kepribadian STIFIn fokus hanya pada satu mesin kecerdasan dominan saja, Konsep STIFIn Personality merujuk pada pandangan pakar psikologi analitis Carl Gustav Jung (1946), seorang ahli Psikologi Analitik, menyatakan bahwa diantara semua fungsi dasar manusia atau mesin kecerdasan hanya ada satu yang dominan.
Menurut Jung, fungsi dasar kepribadian manusia terbagi dalam empat jenis yaitu; fungsi penginderaan (Sensing, disingkat S), fungsi pikiran (Thinking disingkat T), fungsi perasaan (Feeling disingkat F), fungsi intuisi (Intuiting disingkat I), dan dalam Konsep STIFIn Personality (Poniman, 2009) ditambahkan adanya mesin kecerdasan Insting, disingkat In, yaitu fungsi naluriah dan spiritualitas.
Dari penelitian yang telah dilakukan selama 5 (lima) tahun yaitu pada tahun 2006 sampai dengan tahun 2010, tentang kecerdasan manusia, memberikan tesis bahwa setiap orang memiliki kecerdasan dominan tunggal yang dibawa semenjak lahir (Poniman, 2009).
Konsepnya bersandar secara ilmiah kepada pendekatan psikologi analitis yang dipelopori oleh Jung (1989), dikompilasi dengan teori The Whole Brain Concept dari Ned Herrmann dan teori Triune Brain yang dikembangkan Paul McLean.
Paradigma awal yang digunakan adalah psikologi analitis. Penempaan manusianya sendiri menggunakan pendekatan keperilakuan yang humanis. Manusia dianggap memiliki potensi genetis yang sudah luar biasa. Ketika potensi ini mendapat lingkungan dan tempaan yang tepat serta terencana, maka hasil yang keluar pada akhirnya akan menjadi ekstra luar biasa.
Tabel 1.
Kecerdasan Otak dan Tipe Kepribadian
Fungsi
DasarCarl
Gustav Jung
Jenis
KecerdasanNed
Herrman
Strata
Otak TriunePaul
MacLean
Tipe
Kepribadian STIFIn
Sensing
Limbik
Kiri
Otak
Mamalia
Sensisng
Thinking
Neokortek
Kiri
Otak
Insani
Thinking
Intuiting
Neokortek
Kanan
Otak
Insani
Intuiting
Feeling
Limbik
Kanan
Otak
Mamalia
Feeling
‒
‒
Otak
Reptilia
Insting
Sumber: Poniman (2009)
Proposisi yang diajukan (Poniman, 2009) bahwa keempat fungsi dasar Jung tersebut jika dikaitkan dengan teori pemikiran kreatif Ned Herrman tentang kuadran otak, maka keempat fungsi dasar tersebut tidak lain merupakan karakter kepribadian yang kekal, tidak berubah, yang bersumber dari belahan otak yang paling sering digunakan.
Kuadran otak besar kiri (neokortek kiri) merupakan kecerdasan sekaligus karakter kepribadian Thinking (T). Otak besar kanan (neokortek kanan) merupakan kecerdasan Intuiting (I). Kuadran otak kecil kiri (limbik kiri) merupakan kecerdasan sekaligus karakter kepribadian Sensing (S). Otak kecil kanan (limbik kanan) merupakan kecerdasan sekaligus karakter kepribadian Feeling (F).
Dengan demikian maka fungsi dasar Jung mempunyai kesamaan dengan kuadran otak Ned Herrman. Sementara itu, kecerdasan kelima yaitu Insting muncul dikarenakan ada yang tidak cenderung ke salah satu dari empat kategori karakter kepribadian yang ditawarkan Jung dan Ned Herrman ataupun peneliti-peneliti lainnya.
Kecenderungan ini dominan menggunakan belahan otak yang lain, yaitu otak naluri (Instingive) yang berada di tengah atau paling bawah (hindbrain dan midbrain) yang bersambungan langsung pada tulang belakang. Kecerdasan kelima Insting (I), terletak pada fungsi gabungan cerebellum, medulla, midbrain, pons, dan brain stem (The functional organization of the brain) yaitu cepat merespon sesuatu.
Dalam konsep STIFIn, ada yang disebut sebagai kemudi yaitu introvert dan ekstrovert. Introvert mengarahkan kecerdasan dari dalam ke luar, sebaliknya ekstrovert mengarahkan kecerdasan dari luar ke dalam.
Selain kecerdasan Insting, empat kecerdasan lainnya memiliki kemudi, yaitu, Sensing (S) terdiri dari Sensing introvert (Si) dan Sensing ekstrovert (Se); Thinking terdiri dari Thinking introvert (Ti) dan Thinking ekstrovert (Te); Intuiting dan Feeling masing-masing terdiri dari Intuiting introvert (Ii), Intuiting ekstrovert (Ie), Feeling introvert (Fi), dan Feeling ekstrovert (Fe).
Jadi ada sembilan jenis kepribadian yang berasal dari empat mesin kecerdasan setelah ditempel oleh kemudinya ditambah mesin kecerdasan Insting. Sembilan jenis kepribadian itu adalah Si, Se, Ti, Te, Ii, Ie, Fi, Fe, dan In.
Setiap jenis kepribadian memiliki ciri-ciri utama, orang yang memiliki personalitas Sensing introvert memiliki kemampuan mengingat yang melebihi delapan kepribadian lainnya. Kepribadiannya berbasis pada lima indra.
Staminanya kuat, bekerja efisien, disiplin, memperlihatkan detail, hemat, jika diminta membantu dia lebih memilih mengeluarkan tenaganya ketimbang uangnya. Hal ini terjadi mungkin karena tipe ini mengumpulkan uang sedikit demi sedikit dengan mengandalkan volume bukan dari margin.
Sedangkan Sensing ekstrovert memiliki kepribadian yang lebih dermawan dan cenderung lebih boros, lebih santai dan suka bersenang-senang, suka pamer (show off) atau demonstratif. Kemampuan mengingatnya luar biasa dan mampu memvisualisasikannya secara rinci. Menyukai hadiah atau sumber motivasinya dalam bentuk hadiah.
Adapun Thinking introvert memiliki kepribadian mandiri, fokus pada pekerjaan, memberlakukan standar yang tinggi pada hasil pekerjaan. Dia bukan tipe medioker. Jika menekuni sesuatu dia akan fokus sampai mencapai taraf ahli alias tidak mau setengah-setengah jika mengerjakan pekerjaan. Pada umumnya memiliki kemampuan analitis yang baik. Suka membaca yang pada akhirnya menguasai persoalan.
Sementara tipe Thinking ekstrovert memiliki kepribadian seperti segera bereaksi terhadap ketidakadilan, objektif menilai, menerima argumentasi orang lain dengan logika, sistematis dalam bekerja dan menyukai formalitas. Kepribadian Intuiting introvert antara lain lebih mementingkan kualitas, dari pada kuantitas, sehingga mementingkan kesempurnaan, kepuasannya pada hal-hal yang baru atau inovatif, keras kepala untuk memperjuangkan kemauannya, karena memilki pandangan optimistis.
Segala sesuatu dilihat dari kacamata manfaat. Intuiting ekstrovert memiliki personalitas berani mengambil resiko, ide-idenya banyak, romantis, dan memberi inspirasi bagi lingkungannya. Akan halnya Feeling introvert memiliki kepribadian antara lain visioner, nge-bossy, penolong, mudah bergaul, pintar berkata-kata, idealis dan cepat sakit hati.
Sementara kepribadian feeling ekstrovert antara lain, berjiwa sosial, memilki kemampuan menggembleng orang, subjektif, berani, ambil resiko, toleran, dan berempati. Terakhir, kepribadian Insting adalah tidak suka konflik, tulus berkorban untuk orang lain, jalan pikirannya simpel, sederhana, dan akomodatif.
Setiap orang memiliki kecerdasan dominan tunggal yang dibawa semenjak lahir. Manusia dianggap memiliki potensi genetis yang sudah luar biasa.
Kuadran otak besar kiri (neokortek kiri) merupakan kecerdasan sekaligus karakter kepribadian Thinking (T).
Otak besar kanan (neokortek kanan) merupakan kecerdasan Intuiting (I).
Kuadran otak kecil kiri (limbik kiri) merupakan kecerdasan sekaligus karakter kepribadian Sensing (S).
Otak kecil kanan (limbik kanan) merupakan kecerdasan sekaligus karakter kepribadian Feeling (F).
Kecerdasan kelima tidak cenderung ke salah satu dari empat kategori karakter kepribadian, tetapi dominan menggunakan belahan otak yang lain, yaitu otak naluri (Instingive) yang berada di tengah atau paling bawah (hindbrain dan midbrain) yang bersambungan langsung pada tulang belakang.
Kecerdasan kelima tersebut disebut dengan Insting (I), terletak pada fungsi gabungan cerebellum, medulla, midbrain, pons, dan, brain stem (The Functional Organization of The Brain) yaitu cepat merespon sesuatu.
Manajemen HR STIFIn dan Kinerja Pekerjaan
Telah banyak penelitian yang dilakukan tentang pengaruh sistem dam praktik manajemen HR terhadap kinerja perusahaan (firm performance) maupun terhadap kinerja karyawan.
Glaister, et al., (2016) yang meneliti strategi manajemen HR dan keselarasan bisnis business, melaporkan adanya pengaruh stretagi HR dalam meningkatkan kinerja perusahaan, tetapi tidak menjadi komponen esensial dalam kaitannya terhadap praktik manajemen talent dengan kinerja pekerjaan.
Praktik manajemen HR terhadap kinerja karyawan lebih banyak dipengaruhi oleh karakter dan kepribadian individual. Bowen dan Ostroff (2004) dalam artikelnya “Understanding HRM–Firm Performance Linkages: The role of the strength of the HR system”, melaporkan bahwa sistem manajemen HR dapat menjelaskan bagaimana akumulasi dari atributif individual karyawan berpengaruh terhadap efektifitas organisasi.
Studi tentang hubungan tipe kepribadian atau personality trait dengan kinerja pekerjaan (job performance) telah dilakukan oleh beberapa peneliti diantaranya yaitu, penelitian Lado dan Alonso (2017) yang melakukan penyelidikan hubungan antara personality traits dan job performance dengan menggunakan variabel moderasi kompleksitas kerja (job complexity), kemudian studi Leena dan Kirupa (2016); Askarian dan Eslami (2013) yang melakukan penelitian terhadap pengaruh karakter tipe kepribadian terhadap kinerja pekerjaan (job performance), dan penelitian Kim dan Han (2014) menunjukkan bahwa tingkat prestasi akademik dan kepuasan siswa itu berbeda menurut tipe kepribadian MBTI mereka.
Ciorbea dan Pasarica (2012) menyatakan bahwa memahami perbedaan karakter (big five personality traits) secara akurat berpengaruh besar dalam kinerja prestasi akademik dan secara luas berimplikasi terhadap dunia pendididikan. Penelitian lain tentang personality trait sebagai variabel moderasi “honesty-humility trait” atau Hexaco model of personality pada hubungan antara job insecurity terhadap counter-productive works behavior (Chirumbolo, 2014); dan penelitian personality traits of “The Big Five model” memoderasi hubungan antara komitmen dan kesetiaan (Palilati et al., 2016).
Namun penelitian yang dilakukan oleh Furnham (1993) pada kepribadian MBTI gagal menghasilkan korelasi besar terhadap kinerja. MBTI tampaknya tidak terkait dengan ukuran kinerja manajemen yang kuat dan multi-faktorial.
Demikian pula dengan konsep kepribadian “The Big-Five Personality”, meskipun beberapa literatur membuktikan kepribadian “The Big Five” sebagai prediktor kinerja pekerjaan (Bhatti, et al., 2013), namun oleh beberapa peneliti bahwa ukuran-ukuran kepribadian tidak memprediksi kinerja pekerjaan secara konsisten.
Seperti Barrick dan Mount (1991) dan Hurtz & Donovan (2000) yang meneliti hubungan kepribadian “The Big Five Personality” dengan kinerja pekerjaan, menemukan hanya satu dimensi yaitu ketelitian (conscientiousness) yang berhubungan secara konsisten dengan kinerja pekerjaan (job performance). Penelitian ini akan menyelidiki praktik manajemen HR yang menggunakan tipe kepribadian STIFIn (STIFIn personality) yang dikembangkan oleh Poniman (2009) terhadap peningkatan kinerja pekerjaan.
Manajemen HR berbasis tipe kepribadian STIFIn atau Manajemen HR STIFIn seperti yang didefinisikan didalam Buku Manajemen HR STIFIn (Poniman dan Hadiyat, 2015) adalah praktik pengelolaan sumber daya manusia dengan menggunakan skema tipe kepribadian STIFIn pada tiga kegiatan utama manajemen sumber daya manusia yaitu: 1)Seleksi yang dimulai dari kegiatan perencanaan tenaga kerja, kegiatan rekrutmen dan seleksi karyawan;
2)Retensi yang meliputi manajemen kinerja, manajemen imbal jasa, hubungan industrial dan kepemimpinan; dan
3)Pengembangan yang meliputi kegiatan pelatihan dan pengembangan, dan pengembangan karir.
Konsep HR STIFIn adalah menarik dan menyeleksi orang-orang terbaik, mendayagunakan dengan sistem dan program retensi terbaik, serta memberikan jalan bagi mereka untuk bisa memberkan kontribusi terbaiknya.
Pada perencanaan tenaga kerja, seluruh jenis pekerjaaan dipetakan dan dikelompokan berdasarkan sifat-sifat dari kepribadian STIFIn, agar pencarian sumber tenaga kerja disesuaikan dengan kebutuhan penempatan tenaga kerja yang telah dipetakan dengan kebutuhan tipe kepribadian STIFIn, untuk kemudian dilakukan proses seleksi dengan menggunakan skema kepribadian STIFIn pula.
Pada kegiatan utilisasi dan retensi, penerapan HR STIFIn difokusikan pada penerapan kepribadian STIFIn pada penyusunan sistem manajemen kinerja, sistem imbal jasa, pengelolaan hubungan industrial dan pengembangan kepemimpinan. Sementara itu, penerapan HR STIFIn pada kegiatan pelatihan dan pengembangan, dan pengembangan karir, difokuskan pada proses pengembangan bakat dan pengembangan karir melalui proses analisis pelatihan dan penerapan cara belajar dan metode pelatihan yang disesuaikan dengan tipe kepribadian STIFIn.
Perencanaan tenaga kerja dengan skema kepribadian STIFIn difokuskan pada analisis pekerjaan, identifikasi keterampilan (skills) dan kompetensi yang diperlukan yang kemudian dituangkan dalam uraian pekerjaan (job description) yang telah mengidentifikasi kesesuaian dengan mesin kecerdasan STIFIn yang diperlukan.
Uraian pekerjaan tersebut kemudian menjadi dasar dalam proses rekrutmen dan seleksi yang dapat meningkatkan kinerja karyawan setelah mereka masuk ke perusahaan dan bekerja di perusahaan. Dalam Praktik manajemen HR, kegiatan rekrumen dan seleksi bisa memprediksi kinerja karyawan secara signifikan (Jouda, et al., 2016).
Hasil penelitian Tabiu dan Nura (2013) juga menunjukkan pengaruh praktik HRM khususnya pada kegiatan rekrutmen dan seleksi memiliki pengaruh yang kuat terhadap kinerja karyawan. Pada penerapan tipe kepribadian STIFIn, penelitian dari Rafianti dan Pujiastuti (2017) pada 15 siswa SMA Negeri 2 Serang, Banten, membuktikan tipe kepribadian STIFIn bisa memprediksi hasil pada kemampuan matematika.
Praktik manajemen HR STIFIn pada kegiatan pendayagunaan sumber daya manusia dan program retensi adalah menyusun sistem manajemen kinerja yang berbasiskan pada skema tipe kepribadian STIFIn, menyusun sistem imbal jasa yang dikaitkan dengan tipe kepribadian STIFIn, pengelolaan hubungan industrial baik pada penciptaan hubungan antar karyawan maupun pada pembinaan hubungan industrial dengan serikat pekerja yang didasarkan pada pemetaan tipe kepribadian dan pola hubungan tipe kepribadian STIFIn, serta pengembangan kepemimpinan yang menggunakan dasar tipe kepribadian STIFIn dalam membangun hubungan pemimpin dan pengikut.
Beberapa penelitian berkaitan dengan sistem dan praktik manajemen sumber daya manusia pada kegiatan manajemen HR STIFIn ini telah membuktikan adanya pengaruh yang signifikan terhadap kinerja karyawan.
Wambua dan Karanja (2016) dalam penelitiannya memberikan bukti adanya pengaruh praktik manajemen imbal jasa, dan penilaian kinerja terhadapberpengaruh positif secara signifikan terhadap kinerja karyawan. Penelitian Tabiu dan Nura (2013) juga menunjukkan pengaruh praktik HRM pada kegiatan pendayagunaan karyawan yaitu keterlibatan kerja, sistem penggajian, manajemen kinerja dan kegiatan pemeliharaan lainnya memiliki pengaruh yang kuat terhadap kinerja pekerjaan.
Kemudian proposisi yang diajukan oleh Poniman dan Hadiyat (2015) dalam bukunya Manajemen HR STIFIn yaitu adanya pengaruh positif praktik manajemen HR STIFn terhadap peningkatan kinerja karyawan.
Strategi bisnis dan impementasinya pada manajemen sumber daya manusia tergantung pada kualitas sumber daya manusianya. Kualitas tersebut adalah menyangkut pengetahuan, keterampilan dan kemampuan karyawan terhadap pekerjaan dan tugas-tugas yang diberikan, serta perilaku dan sikap mental karyawan tentang bagaimana berperilaku sesuai dengan nilai-nilai perusahaan untuk ikut aktif mewujudkan pencapaian tujuan perusahaan.
Praktik manajemen HR STIFIn untuk kegiatan pengembangan adalah kegiatan pelatihan dan pengembangan, serta pengembangan karir karyawan. Hassan (2016) mengungkapkan bahwa ada hubungan yang positif dan signifikan antara praktik manajemen sumber daya manusia pada kompensasi, perencanaan karir, penilaian kinerja, pelatihan dan keterlibatan karyawan terhadap kinerja karyawan.
Proposisi Poniman dan Hadiyat (2015) mengajukan bahwa penerapan program pelatihan dan pengembangan, serta pengembangan karir karyawan yang didasarkan pada tipe kepribadian karyawan akan meningkatkan produktivitas dan kinerja karyawan. Pada penelitian ini, kegiatan pengembangan tidak dibuat hipotesis tersendiri, namun digabungkan kedalam kegiatan retensi.
Kinerja pekerjaan didefinisikan sebagai penyelesaian tugas dengan aplikasi pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan. Dalam artikel Ramawickrama, et al (2017) yaitu “The behavioural outcome of an employee which points out that the employee is showing positive attitudes towards his or her organization” atau dikatakan bahwa hasil perilaku seorang karyawan menunjukkan sikap positif terhadap organisasinya”.
Berdasarkan studi literatur, kinerja pekerjaan (job performance) telah banyak diteliti dan didefinisikan. Porter dan Lawler (1974) mendefinisikan kinerja pekerjaan atau job peformance sebagai fungsi dari kemampuan (ability), keterampilan (skills) dan usaha (effort) dari seseorang atau individual pada suatu situasi.
Kemudian Campbell (1990) mendefiniskkan kinerja pekerjaan (job performance) sebagai perilaku atau aksi dari seseorang yang relevan dengan tujuan organisasi, dan Opata, pada tahun 2015, mendefinisikan kinerja pekerjaan (job performance) yaitu sejauh mana karyawan melakukan tugas dan tanggung jawab yang diemban, dan hasilnya diukur dari kriteria kuantitas kerja (quantity of work) dan kualitas kerja (quality of work).
Kontruks job performance inilah yang akan digunakan dalam penelitian ini yang kemudian menggunakan dimensi dan indikator yang akan diturunkan dalam item-item dari penelitian Koopmans et al., (2014) yaitu: 1) Task Performance; dan 2) Contextual Performance. Untuk dimensi Counter-productive Work Behavior tidak digunakan pada penelitian ini dengan pertimbangan kurang cocok untuk kondisi budaya di Indonesia, dimana seseorang mungkin tidak begitu nyaman jika harus mengisi kuesioner survey yang berisi tentang pernyataan negatif, sehingga dikhawatirkan akan terjadi bias pada hasil survey tersebut.
Borman & Motowidlo (1993) mendefinisikan Task Performance didefinisikan sebagai efektivitas yang digunakan oleh pemegang jabatan untuk melakukan kegiatan yang berkontribusi pada inti teknis organisasi, baik secara langsung dengan mengimplementasikan bagian dari proses teknologinya, atau secara tidak langsung dengan menyediakan bahan atau layanan yang dibutuhkan, misalnya task performance pada pekerjaan Sales, seperti product konwlegde, closing the sale, time management.
Sedangkan contextual performance, berkaitan kontribusi pada efektivitas organisasi dengan cara yang membentuk konteks organisasi, sosial, dan psikologis yang berfungsi sebagai katalis untuk kegiatan dan proses pelaksanaan tugas.
Model Konsep dan Hipotesis Penelitian
Model konsep penelitian ini disajikan pada gambar dibawah ini yaitu Model 1 yang menyelidiki hubungan variabel pada Manajemen HR STIFIn yaitu kegiatan Seleksi (X1) dan Retensi (X2) sebagai variabel eksogen dengan variabel pada kinerja pekerjaan (job performance) yaitu Task Performance (Y1) dan Contextual Performance (Y2), sedangkan Model 2 dibuat untuk menyelidiki hubungan praktik Manajemen HR STIFIn secara keseluruhan (X1) terhadap kinerja pekerjaan secara keseluruhan juga (overall job performance) (Y1).
Pengujian pada kedua model ini diharapkan akan memberikan pandangan dan bukti empirik berbeda, yaitu melihat pengaruh praktik manajemen HR STIFIn yang dilakukan pada masing-masing kegiatan dan jika dilakukan sebagai program integrasi terhadap kinerja pekerjaan baik masing-masing terhadap dimensinya maupun terhadap kinerja pekerjaan secara keseluruhan.
Gambar 1. Model Konsep Penelitian
Sumber: Data diolah oleh peneliti, 2018
Berdasarkan kajian literatur dan model penelitian diatas, dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:
Model 1
Hipotesis 1: Seleksi berbasis HR STIFIn berpengaruh terhadap Task Performance
Hipotesis 2: Seleksi berbasis HR STIFIn berpengaruh terhadap Contextual Performance
Hipotesis 3: Retensi berbasis HR STIFIn berpengaruh terhadap Task Performance
Hipotesis 4: Retensi berbasis HR STIFIn berpengaruh terhadap Contextual Performance
Model 2
Hipotesis 5: Praktik HR STIFIn secara penuh berpengaruh terhadap Job Performance
Metode Penelitian
Pendekatan penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Teknik pengumpulan data menggunakan metode survei yaitu dengan menyebarkan kuesioner online (google survey) kepada para praktisi HR, meliputi 34 butir pernyataan tertutup, menggunakan Skala Likert poin 5, dengan1 adalah Sangat Tidak Setuju (STS) dan 5 adalah Sangat Setuju (SS). Unit analisis penelitian ini adalah karyawan secara individual pada perusahaan-perusahaan yang mempraktikkan HR STIFIn.
Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah purposive sampling yaitu perusahaan-perusahaan yang telah menerapkan Manajemen HR STIFIn. Sebanyak 50 responden dihubungi secara personal dengan media sharing Whatsapp (WA) dan diminta partisipasinya untuk mengisi kusioner online yang telah di share link-nya kepada tiap-tiap responden.
Pengukuran variabel kinerja karyawan mengadaptasi pengukuran work performance yang dikembangkan oleh Koopmans (2014), seperti “saya suka menanggung tanggung jawab ekstra” dan menambahkan item-item pernyataan baru yang sesuai dengan konteks mesin kecerdasan melalui mekanisme persetujuan ahli terhadap penyusunan kuesioner.
Contoh item tersebut yaitu “Saya dapat menggunakan potensi mesin kecerdasan yang Saya miliki untuk bekerja baik di organisasi/perusahaan ini”. Sedangkan pengukuran variabel Praktik HR STIFIn memodifikasi pengukuran High-Performance Human Resource Practice Perceptions yang dikembangkan oleh Kehoe dan Wright (2010). Contoh item tersebut adalah “Proses rekrutmen dan seleksi dilakukan dengan skema STIFIn”.
Teknik analisis data menggunakan Partial Least Square Structural Equation Modeling (PLS-SEM). Pemilihan PLS-SEM dikarenakan penelitian ini lebih bersifat memprediksi dan menjelaskan variabel laten daripada menguji suatu teori, dan jumlah sampel dalam penelitian ini tidak besar, serta mengantisipasi bila data terdistribusi tidak normal (Hair et al., 2014).
Penelitian ini menggunakan dua model penelitian, dimana model 1 bertujuan untuk memeriksa pengaruh tiap dimensi dari Praktik HR STIFIn terhadap dimensi-dimensi dari kinerja karyawan secara parsial. Sementara model 2 bertujuan untuk memeriksa pengaruh konstruk Praktik HR STIFIn secara multidimensional terhadap konstruk kinerja karyawan yang berbentuk multidimensional.
Hasil Penelitian
Karakteristik Responden
Tujuan analisis ini adalah untuk mengetahui karakteristik
responden secara umum, dimana yang menjadi responden dalam penelitian ini
adalah karyawan yang bekerja pada perusahaan-perusahaan yang telah memPraktikkan
HR STIFIn. Dari total 100 responden yang
diminta untuk mengisi kuesioner, hanya 50 orang yang bersedia mengisi (response rate 50 %), setelah di seleksi
hanya diperoleh 41 jawaban kuesioner yang layak untuk dianalisis.
Tabel 2. Statistik Profil Responden
Kategori
Karakteristik
Frekuensi
Persentase (%)
Jenis Kelamin
L
25
61
P
16
39
Tipe
Kepribadian
Sensing
8
19,5
Thinking
11
26,8
Intuiting
7
17,1
Feeling
9
22
Insting
6
14,6
Pengendali
Kepribadian
ekstrovert
26
63,4
introvert
15
36,6
Usia
< 25 tahun
9
22
26-35 tahun
13
31,7
36-45 tahun
14
34,1
46-55 tahun
5
12,2
> 55 tahun
0
0
Status
Menikah
31
75,6
Belum Menikah
10
24,4
Pendidikan
SMA
6
14,6
D3
1
2,4
S1
26
63,4
S2
8
19,5
Lama Penerapan
< 1 tahun
14
34,1
1-5 tahun
20
48,8
< 5 tahun
7
17,1
Masa Kerja
< 1 tahun
11
26,8
1-5 tahun
22
53,7
6-10 tahun
3
7,3
> 10 tahun
5
12,2
Sumber: Hasil Pengolahan Data,
2018
Berdasarkan data yang
diperoleh dari 41 responden tersebut, didapatkan karakteristik bahwa mayoritas
responden merupakan laki-laki (61%), mayoritas responden bertipe
kepribadian Thinking (26,8%), mayoritas
responden memiliki pengendali kepribadian ekstrovert (63,4%), mayoritas
responden memiliki pendidikan S1 (63,4%), mayoritas responden berusia antara 36-45 tahun (34,1%), mayoritas responden
memiliki masa kerja selama 1-5
tahun (53,7%), mayoritas responden telah menikah (75,6%), dan mayoritas
responden bekerja pada perusahaan
yang telah menerapkan HR STIFIn selama 1-5 tahun (48,8%).
Uji Validitas
Karena data yang dikumpulkan ini berupa persepsi dari karyawan yang menggunakan skala likert, maka untuk mengetahui apakah data yang dikumpulkan (instrumen penelitian) sudah benar mengukur apa yang ingin diukur dan dipahami dengan baik oleh responden, maka diperlukan uji validitas instrumen. Pada penelitian ini terdapat 2 (dua) variabel laten yaitu: kinerja karyawan dan Praktik HR STIFIn. Nilai r hitung tiap atribut pernyataan dibandingkan dengan r tabel
Dari hasil pengolahan data menunjukkan semua variabel mempunyai nilai r hitung > 0,361, sehingga semua data dinyatakan valid (berkorelasi signifikan terhadap skor total). Hal ini berarti seluruh item pernyataan pada kuesioner dapat digunakan dalam penelitian.
Uji Reliabilitas
Setelah data dinyatakan valid, maka
selanjutnya dilakukan uji reliabilitas data kuesioner. Hal ini bertujuan apakah
hasilnya relatif stabil dan konsisten. Pengujian ini menggunakan koefisien Cronbach’s Alpha sebagai koreksi. Data
dapat dikatakan reliabel jika nilai koefisiennya lebih besar dari 0,60
(Ghozali, 2009). Berdasarkan hasil uji reliabilitas yang telah dilakukan untuk
semua variabel. Didapatkan skor Cronbach’s
Alpha untuk kinerja pekerjaan sebesar 0,953 dan Praktik HR STIFIn sebesar
0,956. Jadi, instrumen dari kedua variabel tersebut dinyatakan reliabel karena nilai Cronbach’s Alpha > 0,60, sehingga
dapat dilakukan analisis lebih lanjut.
Analisis
Deskriptif
Instrumen yang
digunakan untuk mengukur konstruk adalah kuesioner yang menggunakan skal likert dalam interval 1-5. Untuk
kategori pernyataan dengan jawban sangat tidak setuju dengan nilai satu (1)
sampai dengan sangat setuju dengan nilai lima (5).
Variabel HR STIFIn
Variabel HR STIFIn terdiri dari dua (2) dimensi yang diwakili oleh 15 item pernyataan
Pada Tabel 3. Disajikan rata-rata jawaban responden dan banyaknya
responden yang memberikan jawaban ragu-ragu atau tidak tahu. Oleh karena itu,
secara keseluruhan masih ada permasalahan dalam pelakasanaan Praktik HR STIFIn
terutama dalam hal pemberian informasi saat proses rekrutmen (34,1%) dan
keterlibatan karyawan dalam improvement
team work dan problem solving (22%).
Variabel Kinerja Pekerjaan
Variabel
kinerja pekerjaan (job performance) terdiri dari dua (2) dimensi yang diwakili
oleh 19 item pernyataan.
Berdasarkan
Tabel di atas, kesimpulan yang dapat diambil adalah responden merasa kinerja
pekerjaan masih kurang terutama dalam indikator menangani tangunggjawab ekstra
(19,5%) dan menghadapi tekanan dalam pekerjaan (14,6%).
Uji Model
Model 1
Hasil Uji Outer Model
Sebelum
melakukan analisis model struktural terlebih dahulu harus melakukan pengukuran
model (measurement model), hal ini dimaksudkan untuk menguji reliabilitas dan validitas dari
indikator-indikator pembentuk konstruk laten yaitu dengan melakukan confirmatory factor analysis (CFA). Pada model 1 akan dilakukan analisis
konfirmatori first order yaitu
menguji konstruk laten dengan indikator-indikatornya. Dalam hal indicator reliability, dari 19 indikator
pada pengolahan kedua (pada pengolahan pertama terdapat 34 indikator)
kesemuanya memilki loading factor
> 0,70. Rule of thumb yang
digunakan untuk menilai faktor loading
yaitu harus lebih besar dari 0,70 untuk penelitian yang bersifat confirmatory, dan nilai faktor loading
antara 0,60-0,70 masih dapat diterima untuk penelitian yang bersifat exploratory (Latan & Ghozali, 2017).
Tabel 5 berikut menyajikan hasil analisis faktor konfirmatori first order.
Indikator
Factor Loading
Konstruk Laten
Composite Reliability
Cronbach’s Alpha
AVE
Akar Kuadrat AVE
Full collin. VIF
S1
0,844
Seleksi (HR STIFIn)
0,901
0,853
0,694
0,833
1,95
S2
0,829
S3
0,857
S4
0,801
R1
0,829
Retensi (HR STIFIn)
0,963
0,955
0,788
0,888
2,573
R3
0,871
R5
0,808
R6
0,921
P2
0,944
P3
0,924
P4
0,907
K1
0,748
Task Performance
0,890
0,835
0,670
0,818
2,998
K2
0,847
K4
0,813
K5
0,86
K11
0,879
Contextual
Performance
0,902
0,853
0,698
0,835
2,642
K12
0,885
K14
0,845
K15
0,722
Tabel 5. Analisis Faktor
Konfirmatori First Order
Sumber: Hasil Pengolahan Data, 2018
Berdasarkan hasil pengolahan data di atas, dapat dilihat bahwa seluruh item pembentuk konstruk laten adalah valid dengan nilai faktor loading yang dihasilkan > 0,7. Selanjutnya, dalam convergent validity, nilai AVE untuk setiap konstruk dimensi sangat baik yaitu > 0,5 sehingga telah memenuhi kriteria validitas konvergen. Begitu juga dengan internal consistency, nilai composite reliability yang dihasilkan setiap konstruk dimensi juga sangat baik yaitu > 0,7 dan nilai Cronbach’s Alpha (α) berada antara 0,835 - 0,955 berarti nilai reliabilitas yang dihasilkan setiap konstruk laten juga sangat baik yaitu > 0,7 sehingga memenuhi reliabilitas konsistensi internal. Nilai Full Collinearity VIF untuk setiap konstruk laten juga sangat baik yaitu < 3,3 sehingga tidak terdapat masalah collinearity di dalam model.
Selanjutnya indikator reflektif pembentuk konstruk laten dalam
penelitian juga akan diuji discriminant
validity. Salah satu cara melihat discriminant
validity dengan membandingkan korelasi antar variabel dengan square root of varianceextracted (nilai dari akar kuadrat AVE).
Tabel 6 berikut mendeskripsikan discriminantvalidity dari penelitian ini (model
1).
Tabel 6. Discriminant Validity Model 1
Seleksi
Retensi
Task Performance
Contextual Performance
Seleksi
O,833*
Retensi
0,640
0,888*
Task Performance
0,624
0,734
0,818*
Contextual Performance
0,622
0,682
0,753
0,835*
Sumber: Hasil
Pengolahan Data, 2018
Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa seluruh nilai korelasi antar variabel (konstruk laten) di bawah nilai akar kuadrat AVE (lihat dengan garis diagonal, bertanda ‘*’). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa semua variabel memenuhi kriteria discriminant validity dan dapat dikatakan model sangat baik. Nilai discriminant validity yang tinggi memberikan bukti bahwa suatu konstruk adalah unik dan benar-benar berbeda dari konstruk lainnya, serta mampu menangkap fenomena yang diukur. Singkatnya, model pengukuran berhasil melewati sejumlah analisis yang ketat yaitu validitas konvergen, validitas diskriminan, reliabilitas, dan multikolinieritas. Hasil analisis CFA mengungkapkan bahwa model tidak memiliki masalah pengukuran data karena telah memenuhi kriteria validasi data yang diterima secara luas dan dapat dianalis lebih lanjut.
Hasil Inner Model
Berdasarkan hasil output general result dari SEM-PLS dengan
menggunakan software WarpPLS 6.0 dapat
diketahui model mempunyai fit yang baik, dimana nilai P-value untuk Average Path
Coefficient (APC), Average R-squared (ARS), dan Average Adjusted R-squared (AARS) < 0,001 dengan nilai APC =
0,430, ARS = 0,608, dan nilai AARS = 0,587. Begitu juga dengan nilai Average
block VIF (AVIF) dan Average Full
Collinearity VIF (AFVIF), nilai yang dihasilkan ideal yaitu AVIF = 1,646,
dan AFVIF = 2,966 (< 3,3), yang berarti bahwa tidak ada masalah
multikolinearitas antar indikator dan antar variabel eksogen. GoF yang
dihasilkan yaitu 0,649 > 0, 36 yang berarti bahwa fit model yang baik. Untuk
indeks Symson’s Paradox (SPR), R-squared
Contribution Ratio (RSCR), Statistical Suppression Ratio (SSR), dan Nonlinear Bivariate Causality Direction
Ratio (NLBCDR) menghasilkan nilai
sama dengan 1, yang berarti tidak ada problem
kausalitas di dalam model.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Adjusted R-squared adalah 0, 658
(65,8%), hal ini berarti besar variabel laten dependen (task performance) dijelaskan sebesar
65,8 % oleh 2 variabel laten independen (seleksi dan retensi) dan sisanya 34,2
% dijelaskan oleh variabel lain diluar model. Sementara, koefisien Adjusted
R-squared untuk contextual
performance sebesar 0,516 (51,6%) yang berarti 2 variabel seleksi dan
retensi dapat menjelaskan variasi contextual
performance sebesar 51,6 % sisanya 48,4 % dijelaskan oleh variabel lain
diluar model. Nilai Q-squared (Q2) yang dihasilkan untuk setiap variabel
dependen (endogen) > 0, yaitu Q2
seleksi = 0,674 dan Q2 retensi = 0,536, yang berarti bahwa model
mempunyai predictive relevance.
Gambar 2. Analisis Model Struktural Model 1
Sumber: Hasil Pengolahan
Data, 2018
Tabel 7. Pengujian Hipotesis
Model 1
Hipotesis
Path
Path Coefficients
P-value
H1
Seleksi Task Performance
0,345
0,017*
H2
Seleksi Contextual
Performance
0,369
0,003**
H3
RetensiTask Performance
0,560
<0,001
H4
RetensiContextual
Performance
0,446
<0,001
*sig <0,05 (5 %), **sig <0,01 (1%)
Sumber:
Hasil Pengolahan Data, 2018
Gambar 2 dan Tabel
7 menerangkan hasil pengujian hipotesis (analisis jalur), dimana menunjukkan
hasil seleksi berpengaruh positif dan signifikan terhadap task performance (β = 0,345, p = 0,017), terhadap contextual performance (β = 0,369, p =
0,003) hal ini berarti mendukung hipotesis H1 dan H2. Selanjutnya, retensi
mempengaruhi task performance secara
positif dan signifikan (β = 0,369, p< 0,001) yang artinya mengkonfirmasi
hipotesis H2. Retensi berpengaruh positif dan signifikan terhadap contextual performance (β = 0,369, p<
0,001), dengan demikian hipotesis H4 juga diterima.
Model 2
Hasil Uji Outer Model
Langkah
selanjutnya, peneliti menganalisis model 2 yaitu analisis terhadap indikator
pembentuk konstruk second order.
Berarti analisis dilakukan dari konstruk laten dan kontruk dimensinya. Tabel 8 di bawah ini
adalah hasil analisis faktor konfirmatori tingkat kedua (second order CFA). Berdasarkan hasil analisis faktor konfirmatori second order di atas, dapat dilihat
bahwa indikator pembentuk (dimensi) seluruh konstruk laten adalah valid dengan
nilai faktor loading yang dihasilkan
> 0,7. Selanjutnya, nilai AVE untuk setiap konstruk laten sangat baik >
0,5 berarti telah memenuhi kriteria validitas konvergen.
Tabel 8. Analisis Faktor
Konfirmatori Second Order
Dimensi
Factor Loading
Konstruk Laten
Composite
Reliability
Cronbach’s Alpha
AVE
Akar Kuadrat AVE
Full collin. VIF
Seleksi
0,892
HR STIFIn
0,901
0,781
0,82
0,905
2,643
Retensi
0,918
Task Performance.
0,939
Job Performance
0,934
0,859
0,876
0,936
2,643
Contextual Performance
0,933
Sumber: Hasil Pengolahan Data, 2018
Begitu juga dengan nilai Composite
Reliability (CR) dan nilai Cronbach’s
Alpha (α) nilainya > 0,7, berarti nilai reliabilitas yang dihasilkan
setiap konstruk laten juga sangat baik dan memenuhi reliabilitas konsistensi
internal. Nilai Full Collinearity VIF
untuk setiap konstruk laten juga sangat baik yaitu < 3,3 sehingga tidak
terdapat masalah collinearity di
dalam model. Selanjutnya indikator reflektif pembentuk konstruk laten dalam penelitian
juga akan diuji discriminant validity.
Salah satu cara melihat discriminant
validity dengan membandingkan korelasi antar variabel dengan square root of varianceextracted (nilai dari akar kuadrat AVE).
Tabel 9 berikut mendeskripsikan discriminantvalidity Model 2 penelitian ini.
Tabel 9. Discriminant Validity Model 2
HR STIFIn
Job Performance
HR STIFIn
0,905*
Job Performance
0,788
0,936*
Sumber: Hasi Pengolahan
Data, 2018
Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa nilai korelasi antar
variabel (konstruk laten) di bawah nilai akar kuadrat AVE (lihat dengan garis
diagonal, bertanda ‘*’). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa semua variabel
memenuhi kriteria discriminant validity
dan dapat dikatakan model sangat baik.
Hasil Inner Model
Berdasarkan hasil output general result SEM-PLS dapat diketahui
model mempunyai fit yang baik, dimana
nilai P-value untuk Average Path
Coefficient (APC), Average R-squared (ARS), dan Average Adjusted R-squared (AARS) < 0,001 dengan nilai APC =
0,788, ARS = 0,622, dan nilai AARS = 0,612. Begitu juga dengan nilai Average Full Collinearity VIF (AFVIF),
nilai yang dihasilkan ideal yaitu AFVIF = 2,643 (<
3,3), yang berarti bahwa tidak ada masalah multikolinearitas. GoF yang
dihasilkan yaitu 0,726 > 0, 36 yang berarti bahwa fit model yang baik. Untuk indeks Symson’s Paradox (SPR), R-squared Contribution Ratio (RSCR),
Statistical Suppression Ratio (SSR), dan
Nonlinear Bivariate Causality Direction Ratio
(NLBCDR) menghasilkan nilai sama dengan 1, yang berarti tidak ada problem kausalitas di dalam model.
Gambar 3. Analisis Model Struktural Model 2
Sumber: Hasil Pengolahan Data, 2018
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Adjusted R-squared adalah 0, 612
(61,2%), hal ini berarti besar variabel laten dependen (job performance) dijelaskan sebesar
61,2 % oleh variabel laten independen (HR STIFIn) dan sisanya 38,8 % dijelaskan
oleh variabel lain diluar model. Nilai Q-squared
(Q2) yang dihasilkan untuk variabel dependen (endogen) > 0,
yaitu Q2 = 0,617, yang berarti bahwa model mempunyai predictive relevance.
Tabel 10. Pengujian Hipotesis
Model 2
Hipotesis
Path
Path Coefficients
P-value
H5
HR STIFIn“ Job Performance
0,788
<0,001
Sumber:
Hasil Pengolahan Data, 2018
Gambar 3 dan Tabel
10 menerangkan hasil pengujian hipotesis (analisis jalur model 2), dimana
menunjukkan hasil HR STIFIn berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja pekerjaan (job performance) (β = 0,788,
p<0,001), dengan demikian hasil ini mendukung hipotesis H5.
Kesimpulan, Implikasi dan Saran
Berdasarkan
hasil uji hipotesis H1 dan H2 menunjukkan bahwa seleksi berbasis HR STIFIn
berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja pekerjaan (jobperformance) yaitu task performance dan contextual performance. Hasil
penelitian ini sesuai dengan proposisi
yang diajukan didalam buku penerapan seleksi dengan menggunakan kepribadian STIFIn
meningkatkan kinerja pekerjaan (job
performance). Kemudian berdasarkan hasil uji hipotesis H3 dan H4 menunjukkan bahwa retensi berbasis
HR STIFIn berpengaruh positif dan signifikan terhadap job
performance (task performance dan
contextual performance). Hasil penelitian ini sejalan dengan proposisi yang diajukan didalam buku Manajemen HR STIFIn bahwa
penerapan manajemen retensi berbasis kepribadian STIFIn meningkatkan kinerja
pekerjaan (job performance). Sementara
itu, berdasarkan hasil uji hipotesis H5 menunjukkan
bahwa praktik HR STIFIn berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja pekerjaan (job performance). Hasil
penelitian ini memberikan
bukti empirik terhadap proposisi yang diajukan Poniman dan Hadiyat (2015) bahwa
praktik manajemen HR STIFIn dapat meningkatkan kinerja pekerjaan secara
keseluruhan.
Dari hasil
analisis model 1 diperoleh bahwa seleksi, retensi, task performance, dan contextual
performance mempunyai hubungan satu sama lain. Begitu juga dengan indikator
masing-masing variabel eksogen dan endogen mempunyai pengaruh yang signifikan.
Penjelasan selengkapnya adalah sebagai berikut: (1) Seleksi berbasis STIFIn
pelaksanaannya sudah cukup baik, namun ada beberapa yang harus ditingkatkan
lagi, yakni dalam hal pemberian informasi saat proses rekrutmen. (2) Retensi
erat kaitannya dengan keinginan bertahan dalam suatu perusahaan. Masih ada
sebagian responden yang menilai bahwa karyawan belum dilibatkan secara baik
dalam hal team workimprovement dan problem solving. (3) Pendapat mengenai task performance sudah cukup baik. Namun untuk hal mampu menangani
tanggung jawab ekstra masih ada yang merasa tidak mampu. (4) Pendapat mengenai contextual perfromance juga
diaktegorikan baik, hanya saja ada pendapat yang merasa tidak mampu menghadapi
tekanan dalam pekerjaan. Untuk melihat secara detail respon tiap mesin kecerdasan
terhadap item pernyataan yang diajukan dapat dilihat pada lampiran. (5)
Terbukti secara empiris seleksi berbasis HR STIFIn mempunyai pengaruh yang
signifikan terhadap task performance dan contextual performance. (6) Terbukti
secara empiris retensi berbasis HR STIFIn mempunyai pengaruh yang signifikan
terhadap task performance dan overall performance. (7) Proses
retensi memiliki pengaruh yang lebih tinggi (nilai signifikansi yang lebih
baik) dibandingkan proses seleksi dalam case
ini. Hal ini telah disampaikan secara deskriptif pada bab pembahasan, di mana
karyawan menilai masih ada kekurangan dalam hal pelaksanaan seleksi. (8)
Sementara dari hasil analisis model 2 diperoleh bahwa Praktik HR STIFIn secara
penuh berpengaruh signifikan terhadap
kinerja pekerjaan (job performance).
Dalam usaha
meningkatkan kinerja pekerjaan, maka organisasi atau perusahaan harus
benar-benar memperhatikan variabel-variabel yang mempengaruhi kinerja pekerjaan
dan dalam penelitian telah ditunjukkan bahwa praktik HR STIFIn
dapat mempengaruhi kinerja pekerjaan secara kuat. Hal ini dapat dilakukan
dengan melakukan penelitian secara berkala, sehingga dengan demikian organisasi
dapat mengantisipasi dan memperbaiki faktor-faktor yang diketahui sebagai
penyebab penurunan kinerja pekerjaan terutama ditinjau dari klasifikasi mesin
kecerdasan. Adapun hal yang dapat dilakukan adalah (1) Memberikan informasi
tentang organisasi kepada para pelamar saat proses rekrutmen, agar calon
karyawan mengetahui tujuan, visi dan misi organisasi tersebut. (2) Meningkatkan
keterlibatan karyawan dalam proses team
work improvement dan problem solving,
agar tercipta suatu iklim kerjasama yang baik meski berbeda-beda personality. (3) Mencari solusi yang
tepat sesuai dengan mesin kecerdasaan agar dapat memetakan karyawan-karyawan
mana saja yang dapat menangani pekerjaan ekstra dan kuat dalam menghadapi
tekanan.
Keterbatasan Penelitian dan Arah Penelitian
Selanjutnya
Penelitian
ini memiliki keterbatasan dalam hal jumlah responden. Penelitian berikutnya dapat
dilakukan kembali dengan jumlah responden yang lebih besar sehingga dapat
melihat pengaruh faktor demografi dari tiap-tiap mesin kecerdasan terhadap
hubungan Praktik HR STIFIn dan Job
performance. Hal ini diharapkan agar konsepnya dapat dibangun dengan lebih
matang dan sempurna di masa yang akan datang.
————— &&&
——————–
Lampiran
Tabel
3. Rata-rata Jawaban Tidak Setuju Variabel Praktik HR STFIn per indikator
Indikator
Mean Jawaban
Sangat Tidak Setuju
Tidak setuju
Kurang Setuju (Netral)
Proses
rekrutmen dan seleksi dilakukan dengan skema STIFIn (S1)
–
–
17,1%
Perusahaan
melakukan proses interview dan tes psikologi berbasis STIFIn (S2)
–
–
9,8%
Para
kandidat/pelamar mendapatkan informasi tentang organisasi/ perusahaan saat
proses rekrutmen (S3)
–
4,9%
34,1%
Organisasi/perusahaan
menjalankan proses penempatan berbasis STIFIn (S4)
–
2,4%
14,6%
Manajemen imbal
jasa di perusahaan dihubungkan dengan matriks kecerdasan (R1)
2,4%
7,3%
17,1%
Para karyawan
dilibatkan dalam proses improvement team work, problem solving, dan diksusi
kelompok (R2)
–
2,4%
22%
Karyawan dapat
mengimplementasikan ide-ide baru dalam pekerjaannya (R3)
2,4%
–
17,1%
Karyawan
menerima evaluasi kerja (R4)
4,9%
–
17,1%
Karyawan
menerima komunikasi secara formal mengenai tujuan organisasi dan target
individual (R5)
–
4,9%
14,6%
Puas dengan
model performance appraisal dengan skema STIFIn (R6)
–
4,9%
14,6%
Organisasi/perusahaan
menyusun rencana pelatihan dengan skema STIFIn (P1)
–
9,8%
12,2%
Organisasi/perusahaan
mengidentifikasi kebutuhan training berdasarkan skema STIFIn (P2)
–
7,3%
17,1%
Metode
pembelajaran dalam pelatihan disesuaikan dengan cara belajar dari
masing-masing mesin kecerdasaan (P3)
2,4%
2,4%
12,2%
Karyawan yang
berkualifikasi diberikan peluang untuk dipromosikan secara fair dan
terbuka (P4)
–
2,4%
17,1%
Organisasi/perusahaan
menanamkan konsep sukses mulia hingga akhir karir (P5)
–
–
14,6%
Sumber : Hasil Pengolahan Data, 2018
Tabel 4.
Rata-rata Jawaban Tidak Setuju Variabel Job Performance per indikator
Indikator
Mean Jawaban
Sangat Tidak
Setuju
Tidak setuju
Kurang Setuju
(Netral)
Mempertahankan
prestasi kerja dan produktivitas (K1)
–
4,9%
4,9%
Bersemangat
dalam pekerjaan (K2)
–
–
–
Menyelesaikan
tugas dengan tepat waktu (K3)
–
–
9,8%
Mengingat
target kerja yang perlu dicapai (K4)
–
–
4,9%
Dapat
menggunakan potensi mesin kecerdasan yang dimilki untuk bekerja baik di
organisasi/perusahaan ini (K5)
–
–
–
Memberikan
bantuan kepada rekan kerja ketika diminta atau dibutuhkan (K6)
–
–
4,9%
Suka menangani
tanggungjawab ekstra (K7)
–
–
19,5%
Menyampaikan
simpati dan empati kepada rekan kerja yang berada dalam kesulitan (K8)
–
–
4,9%
Aktif
berpartisipasi dalam diskusi kelompok dan rapat kerja (K9)
–
–
7,3%
Memuji rekan
kerja atas pekerjaan baik yang mereka selesaikan (K10)
–
–
2,4%
Menjaga
koordinasi yang baik dengan rekan-rekan kerja (K11)
2,4%
–
–
Berbagi pengetahuan
dan ide dengan rekan kerja (K12)
–
–
4,9%
Berkomunikasi
efektif dengan rekan kerja untuk pemecahan masalah dan pengambilan keputusan
(K13)
–
–
2,4%
Bekerja dengan
kecerdasan kolektif untuk meningkatkan kerja tim yang efektif (K14)
–
–
7,3%
Mampu
menghadapi tekanan dalam pekerjaan (K15)
–
4,9%
14,6%
Saling
pengertian dengan rekan kerja untuk mendapatkan solusi-solusi dalam pekerjaan
(K16)
–
–
–
Mampu bersabar
ketika mendapatkan kritik dari rekan kerja (K17)
–
2,4%
9,8%
Nyaman dengan fleksibilitas
pekerjaan (K18)
–
2,4%
4,9%
Dapat mengatasi
perubahan organisasi dari waktu ke waktu (K19)
(1) the description of students’ learning interests before and after being given STIFIn learning technique, (2) the description of the implementation of STIFIn learning guidance, (3) whether the STIFIn learning guidance improve students’ learning interests.
The study employed quantitative approach with quasi experiment research. The samples were the students at SMP Katolik Rajawali Makassar in South Sulawesi province with the total of 22 students who were divided into two groups, namely experiment group and control group. Data were collected by employing learning interest scale with 30 question items. Data were analyzed using descriptive analysis, Wilcoxon match pairs test and gain score.
The results of the study reveal that
(1) the average score of learning interests in experiment group in pretest is 42.16% and the posttest is 61.94%; whereas, the average score in experiment group in pretest is 65.62% and the posttest is 67.58%
(2) the implementation of STIFIn learning guidance covers preparation stage, implementation stage, and evaluation stage, and
(3) the STIFIn technique (Sensing, Thinking, Intuiting. Feeling, Insting) learning guidance gives influence to improve students’ learning interests at SMPN Katolik Rajawali Makassar in South Sulawesi province. Keywords: STIFIn learning guidance, learning interests
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui:
(1) untuk mengetahui gambaran minat belajar siswa sebelum dan sesudah diberikan teknik STIFIn Learning, (2) untuk mengetahui gambaran pelaksanaan teknik STIFIn Learning Guidance. (3). untuk mengetahui teknik STIFIn Learning Guidance meningkatkan minat belajar siswa.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif jenis penelitian quasi eksperimen. Sampel penelitian ini adalah Siswa di SMP Rajawali Makassar Provinsi Sulawesi Selatan sebanyak 22 siswa terbagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.
Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu skala minat belajar sebanyak 30 item pernyataan. Teknik analasisi data menggunakanan analsis deskriptif, uji wilcoxon match pairs test dan gaing score.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa:
(1) minat belajar pada kelompok eksperimen saat pretest rata 42,16% dan 61,94% saat posttest sedangkan pada kelompok kontrol saat pretest rata-rata 65,62% dan pada saat posttest 67,58%, (2) pelaksanaan teknik STIFIn Learning Guidance meliputi tahap persipaan, tahap pelaksanaan dan tahap evaluasi dan (3) teknik STIFIn (Sensing, Thingking, Intuiting, Feeling, Insting) Learning Guidance berpengaruh meningkatkan minat belajar siswa SMP Rajawali Makassar Provinsi Sulawesi Selatan. Kata kunci: STIFIn Learning Guidance, minat belajar
Pendahuluan
Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang mempunyai program yang sistematik dalam melaksanakan bimbingan, pengajaran, dan latihan kepada siswa agar mereka berkembang sesuai dengan potensinya.
Sekolah mempunyai andil yang sangat besar dalam mengarahkan dan membentuk siswa menjadi insan yang berkembang secara oprtimal, sebagaimana yang tertuang dalam Bab 1 Pasal 1 UU RI No. 20 tahun 2003 (Departemen Agama RI, 2007) bahwa melalui sekolah, siswa mendapatkan pendidikan untuk mengembangkan potensi kepribadian secara utuh, baik yang menyangkut aspek intelektual, emosional, moral, sosial, fisik, maupun aspek agama.
Sekolah tidak hanya berperan sebagai transformer ilmu pengetahuan, tetapi sekolah juga berperan dalam mengembangkan potensi diri siswa untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Kehadiran lembaga pendidikan beserta komponen sebagai sarana pendidikan tidak akan cukup untuk memfasilitasi tumbuh kebamag peserta didik.
Oleh sebab itu Peserta didik atau siswa diharapkan mampu terlibat aktif mengembangkan berbagai potensi yang dimiliki. Salah satu hal yang paling penting yang sangat mendukung berhasilnya siswa dalam belajar yaitu bagaimana siswa membangkitkan semangat dan minat untuk belajar.
Namun ironisnya, berbagai permasalahan yang dialami peserta didik terkait dengan kegiatan belajarnya. Berdasarkan survey awal dan studi dokumen yang dilakukan peneliti pada tanggal 4-5 November 2016 di SMP Rajawali Kotamadya Makassar Provensi Sulawesi Selatan diketahui bahwa masih terdapat terdapat siswa yang sering bolos sekolah maupun jam pelajaran.
Permasalahan minat belajar siswa yang rendah di SMP Rajawali perlu dilakukan melalui metode yang menarik. Berbagai pendekatan belajar yang dikembangkan untuk meningkatkan minat dan hasil belajar siswa. Menurut Syah (2006), faktor pendekatan belajar yaitu segala cara atau strategi yang digunakan siswa dalam menunjang keefektifan dan efisiensi proses mempelajari materi tertentu.
Penggunaan metode pengajaran tradisional tidak memberikan dampak positif terhadap minatbelajar dalam kelas reguler (Freeman, et al, 2014). Siswa yang diajar menggunakan model pembelajaran yang aktif meyenangkan memiliki minat belajar yang tinggi (Ambarini, Rosyidi & Ariyanto, 2013; Gani, 2015).
Pendapat tersebut menegaskan bahwa proses pembelajaran siswa membutuhkan strategi yang menarik dan menyenangkan bagi siswa. Salah satu strategi yang dapat dilakukan dalam proses pembelajaran yaitu STIFIn Learning yang dikembang oleh Farid Poniman. STIFIn. Badaruzaman (2013:71), mmengatakan bahwa STIFIn Learning adalah sebuah teknik belajar yang bertujuan menjadikan iii aktivitas belajar menjadi lebih mudah dan nyaman, sekaligus memberikan hasil belajar yang lebih maksimal sesuai dengan bakat alami.
Pendekatan yang sederhana, akurat dan aplikatif dapat menggunakan teknik STIFIn Learning yang memaksimalkan bakat alamiah atau cara belajar sesuai dengan mesin kecerdasan dan kepribadian. Hasil penelitian Mundiri & Zahra (2017: 201) menunjukkan bahwa metode STIFIn sangat membantu santri menghafal alQur’an dengan lebih mudah dan nyaman, karena menyesuaikan metode dengan potensi genetik masing-masing.
STIFIn digunakan untuk mengetahui dominasi kecerdasan mesin agar siswa lebih nyaman dalam proses pembelajaran yang diharapkan bisa meningkatkan daya matematis (Rafianti & Pujiastuti, 2017).
Pendapat terebut menunjukkan bahwa teknik STIFIn Learning merupakan metode pembelajaran yang menarik dan menyenangkan mampu memberi kemudahan bagi siswa dalam belajar. Beberapa penelitian tersebut menegaskan bahwa minat belajar sangat menetukan proses kegiatan belajar siswa. Minat belajar siswa sangat dipengaruhi oleh strategi pembelajaran yang dilakukan pendidik di kelas.
Dalam penelitian ini akan fokus mengkaji penggunaan teknik STIFIn Learning dalam meningkatkan minta belajar siswa. Dengan demikian, pertanyaan penelitian ini adalah apakah teknik STIFIn Learning Guidance berpengaruh terhadap peningkatan minat belajar siswa SMP Rajawali Makassar Provinsi Sulawesi Selatan.
Metode Penelitian
Pendekatan penelitian ini menggunakan kuantitatif jenis quasi eksperimental dengan PretestPosttest Control Group Design. Penelitian ini terdiri dua variabel yaitu STIFIn learning guidance sebagai variabel bebas (independen) dan minat belajar sebagai variabel terikat (dependent).
Populasi dalam penelitian ini sebanyak 88 siswa dan sampel yang digunakan 22 siswa dengan menggunakan teknik simple random sampling. Sampel dibagi menjadi dua yaitu kelompok eksperimen yang diberi perlakuan beripa teknik STIFIn Learning dan kelompok kontrol tidak diberi perlakuan.
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan skala yang berisi 30 item pernyataan terkait minat belajar siswa dengan skala penilaian 1-4. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif dan analisis uji wilcoxon Signed Ranks Test (Z) dengan taraf kesalahan ditetapkan sebesar 0,05%.
Hasil Penelitian
Kelompok Ekserimen Untuk mengetahui kecendrungan minat belajar siswa SMP Rajawali Makassar pada kelompok eksperimen dan kontrol digunakan skor rerata ideal sebagai perbandingan. yang diadopsi dari Saefuddin Azwar (2014: 147). Berikut ini merupakan klasifikasi kecendrungan minat belajar sebagai berikut.
1. bahwa terdapat 10 siswa yang memiliki kecendrungan minat belajar rendah dan 1 siswa yang memiliki kecendrungan minat belajar berkategori 1 tinggi.
2. bahwa terdapat 9 siswa yang memiliki minat belajar berkategori tinggi dan 2 siswa yang memiliki minat belajar berkategori sangat tinggi.
3. bahwa terdapat 9 siswa yang memiliki minat belajar berkategori rendah dan 2 siswa yang memiliki minat belajar berkategori tinggi.
4. bahwa terdapat 5 siswa yang memiliki minat belajar berkategori rendah dan 6 siswa yang memiliki minat belajar berkategori tinggi.
Adapaun desain treatmen STIFIn Learning Guidance yang digunakan pada kelompok eksperimen meliputi tahap persipaan, tahap pelaksanaan dan tahap evaluasi,
sedangkan pada kelompok kontrol tidak diberi perlakuan namun tetap mendapat layanan bimbingan dan konseling yang ada di SMP 0 5 10 15 sangat rendah rendah tinggi sangat tinggi Kecendrungan minat belajar siswadi SMP Rajawali Makassar jumlah 0 5 1 0 sangat rendah rendah tinggi sangat tinggi Kecendrungan minat belajar siswadi SMP Rajawali Makassar jumlah 0 2 4 6 8 10 sangat rendah rendah tinggi sangat tinggi Kecendrungan minat belajar siswadi SMP Rajawali Makassar jumlah 0 5 1 0 sangat rendah rendah tinggi sangat tinggi Kecendrungan kecendrungan minat belajar siswadi SMP Rajawali Makassar jumlah v Rajawali Makassar Provinsi Sulawesi Selatan.
Hasil analisis tersebut menunjukkan bahwa pada kelompok eksperimen, nilai nilai Z hitung lebih besar dari nilai Z tabel yaitu 2,914 > 2,262 dan nilai signikasi hitung lebih kecil dari taraf kesalahan 5% yaitu 0,003< 0,05.
Hasil analisis pada kelompok kontrol menujukkan bahwa nilai Z tabel yaitu 1,646 < 2,262 dan nilai signifikasi hitung lebih besar dari taraf kesalahan 5% yaitu 0,100 > 0,05. Berdasarkan hasil analisis tersebut dapat disimpulkan bahwa teknik STIFIn learning berpengaruh meningkatkan minat belajar siswa kelas VII di SMP Rajawali Makassar Provinsi Sulawesi Selatan.
Pembahasan
Minat belajar siswa dalam mengikuti pembelajaran merupakan sesuatu yang penting dalam kelancaran proses belajar mengajar. Minat belajar dalam adalah ketertarikan dan keinginan besar untuk berhasil dalam proses belajar yang ditandai dengan perasaan senang, kesadaran serta memberikan perhatian yang besar dalam aktivitas belajar.
Syah (2006) lebih spesifik medefinisikan minat belajar sebagai kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu yang ingin dicapai. Siswa yang mempunyai minat belajar tinggi dalam proses pembelajaran dapat menunjang proses belajar mengajar untuk semakin baik, begitupun sebaliknya minat belajar siswa yang rendah maka kualitas pembelajaran akan menurun dan akan berpengaruh pada hasil belajar.
Minat belajar siswa dapat diketahui dari pernyataan senang atau tidak senang maupun suka atau tidak suka terhadap suatu objek tertentu, tetapi dapat juga ditunjukkan melalui partisipasi aktif dalam suatu kegiatan belajar. Siswa yang memiliki minat terhadap belajar cenderung memberikan perhatian yang lebih besar dan bersungguhsungguh.
Minat dapat disebut sebagai faktor kunci/ penggerak yang mendorong siswa untuk memberikan perhatian serta terlibat hadir dalam berbagai kegiatan, sehingga adanya minat diharapkan siswa dapat berkonsentrasi dalam berbagai aktivitas belajar. Berbagai upaya yang harus dilakukan mengingat pentinganya minat belajar bagi siswa.
Salah satu metode yang dapat digunakan untuk meningkatkan minat belajar siswa yaitu melalui teknik STIFIn Learning. Badaruzaman (2013:71), mmengtakan bahwa STIFIn Learning adalah sebuah teknik belajar yang bertujuan menjadikan aktivitas belajar menjadi lebih mudah dan nyaman, sekaligus memberikan hasil belajar yang lebih maksimal sesuai dengan bakat alami.
Pendekatan yang sederhana, akurat dan aplikatif dapat menggunakan teknik STIFIn Learning yang memaksimalkan bakat alamiah atau cara belajar sesuai dengan mesin kecerdasan dan kepribadian. Hasil penelitian Mundiri & Zahra (2017: 201) menunjukkan bahwa metode STIFIn sangat membantu santri menghafal al-Qur’an dengan lebih mudah dan nyaman, karena menyesuaikan metode dengan potensi genetik masing-masing.
Hasil penelitian yang dilakukan di SMP Rajawali Makassar Provinsi Sulawesi Selatan menunjukkan bahwa teknik STIFIn learning berpengaruh meningkatkan minat belajar siswa. Wilcoxon match pairs test yang menunjukkan nilai Z hitung lebih kecil dari nilai Z tabel yaitu 1,646 < 2,262 dan nilai signikasi hitung lebih besar dari taraf kesalahan 5% yaitu 0,100 > 0,05.
Hasil uji Wilcoxon match pairs test diperkuat hasil analisis gaing score yang menunjukkan bahwa terdapat 4 siswa yang memiliki peningkatan minat belajar yang berkategori tinggi dan 7 siswa yang memiliki peningkatan minat belajar yang berkategori sedang setelah mendapakan teknik STIFIn learnin. Rata-rata skor minat belajar yang dimiliki siswa SMP Rajawali Makassar pada saat pretest yaitu 42,16%. Selanjutnya, rata-rata skor minat belajar yang dimiliki siswa SMP Rajawali Makassar pada saat saat posttest mengalami peningkatan menjadi 61,94%.
Hasil lain dari penelitian ini menunjukanan bahwa siswa di SMP Rajawali Makassar Provinsi Sulawesi Selatan yang tidak mendapat Teknik STIFIn learning menunjukkan tidak terdapat perubahan signifikan pada minat belajarnya. Wilcoxon match pairs test menunujukkan bahwa nilai Z hitung lebih kecil dari nilai Z tabel yaitu 1,646 < 2,262 dan nilai signikasi hitung lebih besar dari taraf kesalahan 5% yaitu 0,100 > 0,05.
Hasil uji Wilcoxon match pairs test diperkuat hasil analisis gaing score yang menunjukkan bahwa tidak terdapat siswa yang memiliki peningkatan minat belajar. Rata-rata skor minat belaja yang dimiliki siswa SMP Rajawali Makassar pada saat pretest yaitu 65,62%. Selanjutnya, rata-rata skor minat belajar yang dimiliki siswa SMP Rajawali Makassar pada saat saat pengukuran kedua mengalami peningkatan menjadi 67,58%.
Hasil lain dari analisis tersebut menunjukkan bahwa gain score yang pada kelompok eksperimen sebesar 0,1 dengan kategori rendah. Hasil analisis gaing score menegaskan bahwa siswa siswa kelas SMP Rajawali yang tidak mendapat perlakuan berupa teknik STIFIn learning tidak mengalami peningkatan minat belajar secara signifikan.
Hasil penelitian ini didukung oleh Nistiningtyas (2013) yang menyatakan bahwa hasil tes STIFIn di kelas VIII SMP IT Al- Amri Probolinggo mampu mengindetifikasi tujuh tipe kecerdasan yang berdampak pada peningkatan prestasi belajar. Teknik STIFIn learning mampu memberikan kenyaman, kemudahan bagi siswa dalam proses pembelajaran.